
"Iya. Terus kamu mau menikah dengan siapa Andre?" tanya Bu Alya.
Bu Alya dan Dinda masih penasaran dengan siapa wanita yang akan dinikahi Andre. Begitu juga dengan Vino yang masih bingung dengan ayahnya.
Andre hanya tersenyum. Merasa puas sudah membuat semua orang penasaran.
"Kalian benar-benar ingin tahu?" tanya Andre sembari menatap Dinda dan Bu Alya.
"Iya. Siapa Kak?"
Ersa sejak tadi hanya diam. Dia kemudian mengambil gelas dan minum.
"Ersa," ucap Andre yang membuat semua orang terkejut termasuk Ersa sendiri.
Uhuk...uhuk...uhuk...
Ersa terbatuk-batuk. Dia kemudian mengembalikan gelas minumnya di atas meja.
"Er, kamu nggak apa-apa?" tanya Andre yang merasa khawatir dengan kondisi Ersa.
"Aku nggak apa-apa Pak," ucap Ersa sembari mengambil tissue yang ada di atas meja.
Dia kemudian mengelap wajahnya dengan tisu.
Bu Alya dan Dinda hanya bisa saling menatap. Mereka seperti masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Andre.
"Hahaha..." Tiba-tiba saja Dinda tertawa. Membuat Andre mengernyitkan alisnya bingung.
"Kakak lagi ngeprank ya. Ada-ada aja Kakak aku ini. Tapi lucu juga sih, hehe..."
Ersa diam. Dia merasa salah tingkah sendiri.
'Duh, apa maksud Pak Andre. Apakah dia benar-benar serius dengan ucapannya. Atau dia memang lagi bercanda. Tapi bercandanya nggak lucu banget' batin Ersa.
"Aku serius Dinda," ucap Andre sembari meraih tangan Ersa dan menggenggamnya erat.
"Aku dan Ersa saling mencintai. Dan aku ingin menikahinya. Aku mengajak Ersa ke sini, karena aku ingin minta doa restu dari mama."
Bu Alya diam. Dia masih syok dan masih tampak bingung dengan ucapan anaknya.
"Andre, mama sih setuju-setuju saja kalau kamu mau nikah lagi. Tapi bagaimana dengan Carisa Andre. Apakah dia akan mengizinkan?"
"Sudahlah Ma, kalau Carisa itu urusan aku. Yang penting mama. Mama merestui aku atau nggak nikah lagi?"
Bu Alya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Terserah kamu saja Andre. Kamu yang akan menjalaninya. Bukan mama. Kalau mama sih, kalau anak mama bahagia, ya mama bahagia."
Andre tersenyum dengan jawaban ibunya. Sementara Ersa sejak tadi masih menundukan kepalanya. Merasa malu dengan Andre dan keluarganya.
Setelah menghabiskan makanannya, Ersa memberanikan diri menatap Andre.
"Pak, saya mau pulang. Mama saya pasti lagi nungguin saya di rumah."
Andre menatap Ersa.
"Pulang? kamu kan baru sebentar di sini Er. Kenapa minta pulang."
"Tapi ini sudah malam Pak. Dan saya juga belum izin mama saya."
"Ya udah, kamu sekarang telpon mama kamu. Dan izin sama dia kalau sekarang kamu ada di rumah aku."
Ring ring ring...
Ponsel Ersa, tiba-tiba saja berdering.
Ersa langsung mengangkat panggilan dari ibunya.
"Halo Ma..."
__ADS_1
"Er, kamu ada di mana? kenapa kamu udah jam segini belum pulang? kamu lembur ya?"
"Em... aku... aku lagi ada di jalan Ma sekarang. Sebentar lagi aku sampai."
"Oh, macet ya jalannya?"
"Iya Ma. Sedikit."
"Ya udah. Cepat pulang ya. Mama tunggu kamu Ersa."
"Iya Ma."
Andre menatap Ersa lekat.
"Er, kenapa kamu harus bohongi Mama kamu?" tanya Andre.
Ersa menatap Bu Alya dan Dinda.
"Bu Alya, Mbak Dinda, saya harus pulang sekarang. Terima kasih ya untuk makan malamnya," ucap Ersa.
"Kamu yakin, mau pulang sekarang. Aku kan belum selesai makannya Er," ucap Andre.
"Aku mau naik taksi saja Pak Andre."
"Lho, Ersa. Kenapa nggak tunggu Kak Andre saja. Biar Kak Andre yang ngantar kamu."
"Oh tidak usah repot-repot Mbak Dinda. Aku mau pulang naik taksi aja."
Ersa bangkit dari duduknya. Dia akan melangkah pergi. Namun, buru-buru Andre mencekal tangan Ersa.
"Ersa. Jangan pulang sendiri. Kalau kamu nggak mau nungguin aku, biar adik aku aja yang antar kamu pulang," ucap Andre.
Dinda tersenyum.
"Iya Ersa. Pulang sama aku aja. Nanti aku antar kamu."
"Tapi Mbak, apa nggak ngerepotin?"
"Oh, tentu saja tidak. Aku nggak ngerasa direpotin kok. Dari pada nanti kamu kenapa-kenapa di jalan bagaimana. Tunggu sebentar ya."
Dinda bangkit berdiri. Dia kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Beberapa saat kemudian, Dinda mendekat ke arah meja makan.
"Ayo Er, kita pergi sekarang," ucap Dinda.
Ersa mengangguk. Dia kemudian mendekat ke arah Bu Alya dan mencium punggung tangan Bu Alya.
"Bu, saya pulang dulu ya," ucap Ersa.
Bu Alya mengangguk.
"Iya. Hati-hati di jalan ya."
"Iya Bu."
Ersa kemudian menatap Vino.
"Vino, Tante pulang dulu ya."
Vino yang masih asyik dengan makanannya mengangguk.
Terakhir, Ersa pamit dengan Andre.
"Pak Andre, saya pamit pulang dulu ya."
Andre tersenyum.
"Aku antar sampai depan ya," ucap Andre.
Ersa dan Dinda kemudian berjalan ke depan. Begitu juga dengan Andre yang mengikuti langkah Ersa dan adiknya.
__ADS_1
"Din, hati-hati ya bawa mobilnya. Aku nggak mau sampai Ersa kenapa-kenapa," ucap Andre.
Dinda tersenyum.
"Siap Kak."
Andre kemudian membuka pintu mobil untuk Ersa.
"Makasih Pak," ucap Ersa.
Ersa kemudian masuk ke dalam mobil Dinda. Setelah itu, Dinda pun masuk ke dalam mobilnya. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Andre.
Andre sejak tadi hanya senyam-senyum sendiri melihat kepergian mobil Dinda. Sementara di atas, Carisa masih menatap tajam ke bawah. Ternyata sejak tadi Carisa masih memperhatikan Andre.
"Benar-benar menyebalkan Mas Andre," gerutu Carisa sembari menutup gorden kamarnya.
*****
Di dalam perjalanan, Dinda masih sesekali menatap Ersa.
'Kok bisa sih, Kak Andre ingin punya dua istri. Dulu, dia itukan yang paling menentang poligami. Kenapa dia sekarang malah ingin poligami. Aneh banget deh.'
Sejak tadi, Dinda masih tidak percaya dengan ucapan-ucapan Andre. Andre lelaki yang terkenal dengan kesetiaannya bisa-bisanya ingin berpoligami.
'Apa Kak Andre fikir, punya dua istri itu enak. Apalagi istri pertamanya seperti Kak Carisa. Bisa-bisa di rumahku, akan sering ada perang dunia ke tiga.'
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Dinda mengejutkan Dinda dan Ersa.
"Mas Ardan nelepon," ucap Dinda.
Dinda kemudian mengangkat panggilan dari pacarnya.
"Halo Din. Kamu udah di kamar sekarang?"
"Eh Mas. Nggak mas. Aku lagi di jalan nih."
"Di jalan? kamu pergi sama siapa?"
"Aku pergi sama Ersa. Mau ngantar dia pulang,"
"Ersa siapa?"
"Itu, teman kakak aku. Kebetulan tadi dia main ke rumah Kakak aku. Dan Kakak aku, nyuruh aku untuk mengantarnya pulang."
"Apa! kakak kamu nyuruh kamu pergi malam-malam begini?"
"Iya Mas."
"Terus, kamu cuma berdua dengan teman kakak kamu itu?"
"Iya Mas. Emang kenapa sih?"
"Duh, kakak kamu gimana sih? kenapa dia membiarkan adiknya yang ngantar temannya. Kenapa nggak dia aja yang nganterin."
"Dia lagi sibuk. Dan di rumah juga ada anaknya. Mungkin, takut anaknya ngikut."
"Tapi aku khawatir sama kamu Dinda."
"Sudahlah Mas. Nggak apa-apa. Aku juga sudah sering kan pulang malam sendiri."
"Ya udah kalau begitu. Nanti kita telponan lagi ya."
"Iya Mas. Aku tutup dulu ya telponnya. Aku lagi nyetir nih."
"Iya Din."
Dinda kemudian menutup saluran telponnya.
__ADS_1