
Fatia tampak masih cemas memikirkan kondisi ayah mertuanya. Dia sama sekali tidak bisa tenang berada di acara pernikahannya sendiri.
"Kenapa Mas Remon, nggak nelpon-nelpon ya, di telpon juga nggak di angkat-angkat," ucap Fatia.
"Fatia, sabar. Mungkin, mereka masih berada di perjalanan ke rumah sakit," ucap Bu Dewi yang sejak tadi masih mencoba untuk menenangkan anaknya.
Erin dan Adi menghampiri Fatia. Mereka kemudian memberi selamat pada Fatia.
"Selamat ya Fatia, kamu sekarang sudah resmi menjadi istrinya Remon. Bukankah ini, yang kamu tunggu-tunggu sejak dulu," ucap Erin.
"Makasih ya Rin. Kamu udah mau datang ke acara pernikahan aku."
Erin tersenyum dan mengangguk. Sementara Fatia, menatap anak perempuan kecil yang sedang di gandeng Erin.
"Anak kamu udah gede Rin. Berapa usianya sekarang?" tanya Fatia.
"Empat tahun."
"Oh."
Beberapa saat kemudian, Risma mendekat ke arah Erin dan Fatia.
"Fatia. Aku turut prihatin ya, atas apa yang sudah menimpa ayah mertua kamu. Aku doakan semoga dia cepat mendapatkan pertolongan dokter dan cepat sembuh dari sakitnya," ucap Risma.
"Makasih ya Ris. Sudah menyempatkan diri untuk datang ke acar penting aku."
"Iya. Oh iya. Aku nggak bisa lama-lama nih Fat. Aku tadi ada telpon dari mama. Katanya aku suruh ngantar mama belanja. Aku pulang dulu ya."
"Iya Ris."
Setelah memberi selamat kepada Fatia, Risma kemudian pergi dari acara pernikahan Fatia.
Semua orang sudah memberi selamat kepada Fatia. Sekaligus, mereka semua merasa iba dengan apa yang sudah sudah menimpa tuan rumah.
Setelah acara selesai, semua orang satu persatu meninggalkan rumah Remon. Saat ini, masih ada keluarga Fatia, dan keluarga Andre yang masih setia berada di acara pernikahan Fatia dengan Remon.
Sementara keluarga besar Remon, sudah pergi dari tadi. Mereka pergi ke rumah sakit, untuk melihat kondisi Pak Wibowo.
Fatia sejak tadi masih berdiri di teras depan rumahnya. Sejak tadi, dia masih mencoba untuk menghubungi Remon. Namun, ponsel Remon sejak tadi tidak aktif. Membuat Fatia menjadi sangat cemas.
Andre dan Vino mendekat ke arah Fatia.
"Fatia," ucap Andre.
Fatia menatap Andre.
"Selamat ya, aku hanya bisa berdoa, semoga kamu dan Remon, bahagia. Agar rumah tangga kamu dan Remon, bisa menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah."
"Makasih ya Mas, untuk doanya."
"Kamu lagi ngapain berdiri di luar. Kenapa kamu nggak masuk ke dalam. Di dalam kan masih banyak orang."
"Aku lagi nelpon Mas Remon. Tapi, entah kenapa, ponsel Mas Remon nggak aktif."
"Fatia. Aku mau ngajak Vino untuk tinggal di rumah aku," ucap Andre yang membuat Fatia terkejut.
"Apa! kamu mau bawa Vino sekarang?" tanya Fatia.
__ADS_1
"Iya. Vino juga udah mau kok, ikut tinggal bersamaku."
"Mas, kamu nggak bisa seenaknya membawa Vino begitu dong Mas. Kamu harus izin dulu sama aku dan keluargaku. Dan aku juga belum mengizinkan kamu, untuk membawa Vino lagi. Bagaimana kalau Vino hilang lagi."
"Apa! untuk apa aku harus izin dulu. Kan Vino anak aku. Dia sudah lama tinggal bersama kamu. Dan sekarang, gantian dong Vino tinggal bersama aku. Kamu jangan serakah jadi orang Fatia."
Fatia tidak bisa bicara apa-apa pada Andre. Karena sekarang Andre sedang bersama Vino.
"Kata kamu, kita akan merawat dan membesarkan Vino bersama-sama, walau kita tidak bisa bersama," ucap Andre.
Andre memang lelaki egois. Jika Andre ingin membawa Vino, pasti dia akan membawanya. Walau Fatia tidak pernah mengizinkannya.
"Iya sih. Tapi, jangan sekarang dong Mas, kamu bawa Vinonya. Vino kan harus pulang ke rumah dulu untuk siap-siap. Baju-baju dia juga masih ada di rumah."
"Kalau masalah baju, aku bisa membelikan Vino baju apa saja yang dia mau."
Fatia benar-benar bingung saat ini. Dia sudah dihadapkan dengan mertuanya yang tiba-tiba pingsan, sekarang dia harus dihadapkan dengan masalah Andre yang akan membawa Vino seenaknya sendiri pulang ke rumahnya.
"Fatia. Kamu kan sekarang sudah sah menjadi istri Remon. Dan aku tidak mau, Vino mengganggu malam pertama kamu dengan Remon nanti malam. Makanya aku mau ajak dia tinggal di rumahku."
"Ya udahlah Mas. Kalau Vinonya mau, ya silahkan saja. Tapi kalau sampai ada masalah apa-apa lagi, itu tanggung jawab kamu Mas."
"Iya Fatia."
Vino mendekat ke arah Fatia dan meraih tangan Fatia. Vino kemudian menatap lekat wajah Fatia.
"Mama, mama cantik deh. Om Remon juga ganteng. Kalian pasangan yang sangat serasi. Seperti Papa, dan mama Carisa. Aku doakan, semoga mama bahagia dengan Om Remon."
Fatia tersenyum. Dia kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Vino. Dia kemudian mengelus kepala Vino.
"Makasih ya sayang."
"Kamu masih boleh tidur sama Mama dan Om Remon sayang."
"Ma, boleh nggak aku main lagi ke rumah papa?" tanya Vino.
"Terserah Vino. Kalau Vino mau tinggal sama papa, mama nggak keberatan kok. Asal, Vino nggak boleh nakal kalau ada di rumah papa."
"Iya Ma, aku janji. Aku nggak akan nakal lagi."
Fatia tersenyum. Dia kemudian memeluk Vino dengan erat. Setelah itu, Fatia mencium kening dan ke dua pipi Vino.
"Mama sayang sama Vino."
"Aku juga sayang sama mama."
****
Seorang dokter, keluar dari ruang UGD.
Bu Rima dan Remon yang sejak tadi masih menunggu di depan ruang UGD, buru-buru melangkah menghampiri dokter.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Bu Rima.
Dokter yang ditanya hanya diam. Dari raut wajahnya, dokter seperti kecewa. Sepertinya ada sesuatu dengan Pak Wibowo.
"Dokter. Ayo katakan. Papa saya baik-baik aja kan?" ucap Remon.
__ADS_1
"Bapak sama ibu, yang sabar ya. Kami para medis, sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Pak Wibowo. Tapi ternyata, Tuhan lebih sayang pada Pak Wibowo. Pak Wibowo, sudah meninggal dunia."
"Apa!" Remon dan Bu Rima terkejut saat mendengar ucapan dokter.
Di hari bahagia Remon, justru Pak Wibowo pergi meninggalkan Remon dan Bu Rima untuk selamanya.
"Nggak mungkin Dok. Suami saya nggak mungkin meninggal. Dokter pasti bohong kan. Suami saya pasti masih hidup." Bu Rima mencengkeram baju dokter kuat-kuat.
"Maaf Bu. Kami sudah melakukan yang terbaik. Namun, nyawa suami ibu sudah tidak bisa tertolong."
"Papa...Papa... hiks...hiks..." Bu Rima berteriak histeris saat mendengar kalau suaminya sudah meninggal. Dia tampak tidak percaya dengan ucapan Dokter.
Bu Rima tiba-tiba saja menyerobot masuk ke dalam ruang UGD.
"Papa...Papa...bangun Pa...hiks...hiks.."
Remon tidak tinggal diam. Sejak tadi, dia masih mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Sabar Ma. Mungkin ini sudah waktunya papa pergi dari kehidupan kita. Kita harus ikhlas Ma."
Remon meraih tubuh ibunya dan memeluknya erat. Remon dan Bu Rima menangis haru di samping jenasah Pak Wibowo
**
Malam ini, Fatia masih sendiri di kamar Remon. Semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah acara selesai.
Di rumah, Fatia hanya sama Bik Ningsih pembantu rumah Remon. Fatia masih menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Seharusnya, malam ini akan menjadi malam yang terindah untuk aku dengan Mas Remon. Tapi, kenapa cobaan datang saat aku dan Mas Remon sudah resmi menikah."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar kamar Remon terdengar. Fatia yang masih memakai kebaya pengantin segera berjalan mendekati pintu kamarnya. Fatia membuka pintu. Tampak Bik Ning yang sudah berdiri di depan pintu.
"Non Fatia. Non Fatia nggak mau makan dulu? itu bibik sudah siapkan makanan untuk Non di meja makan."
"Aku nggak mau makan Bik. Aku lagi nunggu kabar dari suamiku."
"Terus, makanannya mau di beresin aja Non?"
"Iya. Beresin aja Bik."
"Den Remon belum ngabarin Non ya dari tadi siang."
Fatia menggeleng.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel dari kamar Fatia terdengar. Fatia tersenyum saat mendengar suara itu.
"Bik Ning. Itu sepertinya suamiku nelpon."
Fatia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Ring ring ring....
Fatia mengambil ponselnya dan tersenyum saat dia melihat nama Remon dalam ponselnya.
__ADS_1
'Alhamdulilah, akhirnya Mas Remon nelpon'