Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Bertahan atau melepaskan


__ADS_3

"Ma, ada kabar gembira Ma," ucap Vino.


Fatia menoleh ke belakang. Penasaran dengan apa yang mau Vino katakan.


"Kabar gembira apa sayang?" tanya Fatia.


"Papa Andre mau nikah lagi," ucap Vino.


Fatia dan Remon terkejut saat mendengar ucapan Vino. Fatia dan Remon saling menatap.


"Apa! menikah lagi?" ucap Fatia.


"Kamu jangan ngada-ngada Vino. Mana mungkin papa kamu mau nikah lagi. Itu tidak mungkin," ucap Remon di sela-sela menyetirnya.


Remon sama sekali tidak percaya dengan ucapan Vino.


"Ayah nggak percaya, kalau sebentar lagi aku bakalan punya mama baru?" ucap Vino.


"Kalau mama sih, nggak percaya Vino, kalau papa kamu nikah lagi."


"Tapi aku serius Ma, Yah, Papa Andre itu mau nikah lagi. Dan semalam, Papa Andre membawa calon mama baru aku ke rumah."


Fatia menatap lekat wajah Vino.


"Kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Fatia penasaran.


"Iya. Aku yakin. Orang aku dengar sendiri Papa bicara sama Oma dan Tante."


"Papa kamu mau nikah sama siapa?" tanya Fatia.


Vino tersenyum.


"Menurut aku, dia cantik. Dan cocok sama papa. Dia juga kelihatan sayang sama aku. Beda dari mama Carisa."


"Iya. Siapa terus? jangan bikin Mama penasaran deh."


"Tante Ersa,"


Fatia dam Remon kembali terkejut.


"Apa! Ersa?"


"Jadi benar, kalau Mas Andre itu punya hubungan sama Ersa. Pantas aja waktu itu dia dekat banget sama Ersa, ternyata mereka punya hubungan. Dan sebentar lagi Mas Andre akan nikah dengan Ersa. Lalu, bagaimana dengan Carisa." gumam Fatia.


Remon menatap Fatia.


"Kamu kenal sama Ersa?" tanya Remon.


"Kemarin, aku sempat ketemu sama Ersa. Ersa itu sekretarisnya Mas Andre."


"Sekretaris?"


"Iya. Dulu sih sekretarisnya Mas Andre Pak Seno. Tapi Pak Seno kan sudah meninggal. Jadi Ersa yang gantiin dia. Ersa itu anaknya almarhum Pak Seno."


"Oh..." Remon manggut-manggut mengerti.


"Tapi bagaimana dengan Carisa. Apa dia ngizinin suaminya nikah lagi," ucap Fatia.

__ADS_1


"Sudahlah Fatia. Jangan mikirin orang. Kamu mikirin calon anak kita saja," ucap Remon sembari mengusap perut Fatia yang masih rata.


Ring ring ring...


Tiba-tiba saja ponsel Fatia berdering.


"Tuh ada telpon sayang," ucap Remon.


Fatia mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.


"Papanya Vino yang nelepon," ucap Fatia.


"Angkat sayang," pinta Remon.


Fatia kemudian mengangkat panggilan dari Andre.


"Halo Mas..."


"Fatia. Kamu udah jemput Vino?"


"Iya Mas."


"Kenapa kamu nggak izin sama aku sih"


"Maaf Mas. Tadi aku udah ketemu sama mama kamu. Kata Mama kamu, kamu masih tidur."


"Lagian, kamu cepat banget sih bawa Vino. Aku kan masih kangen sama dia."


"Ya kamu kan bisa nanti ketemu Vino lagi."


"Iya."


Fatia memberikan ponselnya pada Vino.


"Ini Vino. Ada telpon dari papa kamu," ucap Fatia.


Vino mengambil ponsel ibunya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari ayahnya.


"Halo Papa..."


"Vino, kamu kenapa nggak izin dulu sama papa."


"Maaf Papa. Aku nggak mau ganggu waktu papa dengan mama Carisa. Tadi sebelum pergi aku ke kamar papa. Tapi kamar papa di kunci."


"Duh sayang. Kamu kan bisa ketuk pintu dulu. Papa masih kangen nih sayang. Semalam kamu malah tidur sama Oma."


"Oma yang minta aku tidur sama dia."


"Ya udah sayang. Nanti papa gantian deh main ke rumah kamu. Papa sekarang mau berangkat kerja. Nanti kita sambung lagi ya telponnya."


"Iya Papa."


Setelah sambungan telepon itu terputus, Vino memberikan telpon itu pada mamanya.


****


Selesai mandi, Andre keluar dari kamar mandi. Dia masih bertelanjang dada dan dia masih mengenakan handuk saja yang melilit di pinggangnya. Andre menatap Carisa yang saat ini masih duduk di depan cermin.

__ADS_1


Carisa sejak tadi masih melamun.


"CK ck ck... Carisa. Mau sampai kapan kamu melamun di situ. Tata harus sekolah. Kamu nggak bangunin dia? apa kamu mau selalu merepotkan mama aku?" ucap Andre.


Carisa menoleh ke arah suaminya dan menatap suaminya tajam.


"Kalau kamu seperti ini terus, itu tandanya kamu memang sengaja mau merepotkan Bik Ijah dan mama. Sana cepat, siap-siap antar Tata sekolah. Bangunin Tata, ajak dia mandi dan antar dia sekolah!" pinta Andre.


Carisa bangkit dari duduknya dan menghadapkan tubuhnya pada Andre.


"Kamu mau ke kantor?" tanya Carisa.


"Iya," jawab Andre singkat.


"Apa kamu nggak bisa libur untuk hari ini?" Carisa melangkah mendekati suaminya.


"Libur? untuk apa aku libur. Pekerjaan aku banyak. Aku juga udah libur setiap weekend."


"Kamu ke kantor mau ketemu Ersa?" Carisa menatap lekat suaminya.


"Aku ke kantor mau kerja


lah Carisa. Kamu ini kenapa sih? aneh banget pertanyaan kamu."


"Mas, aku nggak rela kamu pergi ke kantor dan ketemu Ersa."


Andre mengernyitkan alisnya.


"Kalau aku ketemu Ersa emang kenapa? Ersa itu sekretaris aku. Setiap hari memang kita kerja di tempat yang sama dan kita setiap hari memang selalu bertemu."


"Mas. Aku ingin kamu pecat Ersa. Aku ingin kamu lupakan Ersa. Dan aku mohon sama kamu. Jangan nikah lagi Mas. Aku janji sama kamu. Kalau aku akan berubah menjadi istri yang baik untuk kamu," ucap Carisa.


Carisa ingin merayu suaminya agar suaminya mau mengurungkan niatnya untuk menikah lagi.


"Apa maksud kamu?" tanya Andre.


"Kamu ingin aku seperti apa? aku akan berubah Mas demi kamu. Aku akan menjadi istri sempurna seperti apa yang kamu mau. Aku nggak mau kamu nikah lagi. Aku ingin punya rumah tangga yang harmonis. Seperti yang sedang kita kita jalani saat ini."


"Jika pelayananku sebagai istri kurang, aku akan berusaha untuk meningkatkan pelayananku. Jika kamu memintaku untuk sayang sama Vino, aku juga akan sayang sama anak kamu seperti aku sayang sama Tata."


Andre terkejut saat tiba-tiba saja Carisa memeluknya dengan erat.


"Mas, aku mohon jangan nikah lagi. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintai kamu Mas. Hiks...hiks..."


Air mata Carisa sudah membanjiri bahu Andre. Walaupun Carisa sudah menangis-nangis di depan Andre, namun Andre tidak akan pernah merubah semua keputusannya.


Andre melepas pelukan istrinya. Dia kemudian memegang ke dua bahu Carisa.


"Carisa lihat aku...!" ucap Andre.


Carisa mencoba menatap suaminya.


"Aku nggak akan pernah memecat Ersa. Karena aku mencintainya. Walaupun kamu nangis-nangis seperti ini, itu tidak akan pernah bisa merubah semua keputusan aku untuk menikah lagi. Walau pun nanti Ersa menolak aku dan tidak mau menikah dengan lelaki beristri seperti aku. Aku akan tetap cari wanita lain yang mau jadi istri ke dua aku ...!"


"Tapi aku nggak sanggup hidup di madu Mas."


"Kalau kamu masih mau bertahan dengan ku, izinkan aku menikah lagi. Tapi kalau kamu nggak rela hidup di madu, kamu boleh gugat cerai aku dan tinggalkan rumah ini. Kalau kamu mau bawa Tata pergi, silahkan. Aku tidak akan pernah melarangnya."

__ADS_1


__ADS_2