Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Akhirnya terungkap juga


__ADS_3

Sinar mentari di pagi ini, sudah membangunkan Andre dari tidurnya. Andre terkejut saat melihat ke jendela. Sinar mentari sudah memancar sempurna.


Andre menatap ke samping. Dia terkejut saat melihat Carisa masih duduk di sisi ranjang.


Andre beringsut duduk.


"Carisa. Kamu kenapa? kamu nangis?" tanya Andre.


Carisa mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Andre.


"Aku nggak kenapa-kenapa Mas," jawab Carisa.


"Nggak mungkin kamu nggak kenapa-kenapa. Kamu jujur sama aku, kenapa kamu nangis?"


Sudah dua hari ini, Carisa merasa sangat sedih. Dia takut kehilangan Tata dan dia juga takut kehilangan suaminya karena dia tidak bisa memberikan seorang anak untuk Andre.


"Aku cuma sedih aja Mas."


"Sedih kenapa? kamu cerita dong ke aku."


"Aku sedih, bagaimana seandainya Tata dibawa ibu kandungnya?"


"Maksud kamu Alena?"


"Iya Mas. Kemarin aku ke rumahnya Alena. Tata di bawa pergi oleh dia. Untung aku tahu di mana rumah Alena. Dan aku ke sana untuk jemput Tata. Bagaimana kalau Tata tahu yang sebenarnya, kalau ibu kandung dia itu Alena."


Andre menghela nafas. Dia juga bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Tata juga sudah Andre anggap anak kandungnya sendiri. Namun, Andre juga tidak mungkin, menghalangi Alena untuk membawa Tata. Karena Alena juga berhak bersama Tata.


"Ya udahlah Carisa. Ikhlas kan saja Tata. Biarkan saja Alena membawanya. Tata juga berhak tinggal dengan ibunya."


"Nggak Mas. Kamu enak banget ngomong seperti itu. Aku nggak bisa hidup tanpa Tata. Tata itu udah aku rawat dari bayi. Udah aku besarkan dia sampai sekarang. Aku nggak mungkin melepaskan Tata begitu aja Mas."


"Tapi Carisa. Mendingan kita ikut program hamil lagi. Supaya kita bisa punya anak sendiri. Jadi, kamu nggak akan mikirin Tata lagi."


"Nggak Mas. Aku nggak mau ikut program hamil lagi. Jika Tata dibawa Alena, aku ingin kita mengadopsi anak lagi aja."


Setetes air mata Tata membasahi pipi mulus Tata. Tata menangis di depan kamar orang tuanya. Tata sudah mendengar semua obrolan Andre dan Carisa. Dia sangat sedih, karena ternyata Carisa dan Andre bukan orang tua kandungnya.


"Jadi benar, yang dikatakan Tante Lena, kalau aku bukan anak kandung Mama Carisa dan Papa Andre. Tapi aku adalah anak kandungnya Tante Lena," ucap Tata sembari berjalan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Tata kemudian duduk di sisi ranjangnya. Dia menatap ke arah jendela kamarnya. Tata masih syok saja dengan ucapan ke dua orang tuanya.


Andre turun dari ranjangnya.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku sih Carisa. Aku jadi kesiangan kan?" gerutu Andre sembari bangkit dari duduknya.


"Siapa suruh kamu begadang sampai malam. Sebenarnya, apa yang kamu lakukan sih Mas, kalau malam. Setiap malam, kamu itu pasti turun ke bawah. Yang aku lihat, kamu itu banyak berubah Mas. Dulu kamu nggak pernah seperti ini. Kalau udah pulang kerja, ya tidur. Kalau sekarang, nggak tahulah."

__ADS_1


Andre melirik istrinya.


' Mudah-mudahan saja Carisa nggak tahu, kalau aku lagi dekat dengan cewek. Sebenernya, kalau Carisa mengizinkan , aku ingin menikahi Ersa untuk jadi istri ke dua aku.' batin Andre.


Carisa menatap Andre tajam


"Kenapa malah bengong Mas? apa yang lagi kamu fikirin?" tanya Carisa. "Kenapa kamu masih berdiri aja di sini. Bukannya ke kamar mandi."


"Iya. Aku mau mandi. Setelah itu aku mau siap-siap."


Andre kemudian berjalan ke kamar mandi dan masuk ke dalam kama mandi sembari membawa handuknya.


Ring ring ring...


Ponsel Andre tiba-tiba saja berdering. Carisa yang masih duduk di sisi tempat tidurnya, bangkit dari duduknya dan mencari telpon Andre.


Carisa akhirnya menemukan ponsel Andre, ada di bawah bantal.


"Tumben amat Mas Andre nyimpen ponselnya di bawah bantal," ucap Carisa.


Carisa menatap nama Ersa di ponsel suaminya.


"Ersa, siapa Ersa. Kok, aku baru tahu, kalau ada nama Ersa di dalam kontak Mas Andre. Ersa siapa ya," gumam Carisa.


Carisa kemudian mengangkat panggilan dari Ersa.


"Halo..." ucap Carisa.


Tidak ada jawaban dari balik telpon.


"Halo... ini siapa ya? kenapa diam aja?"


"Halo... halo..."


Tut Tut Tut...


Sambungan telpon itu terputus. Sepertinya Ersa memutuskan saluran telponnya setelah dia mendengar suara Carisa.


Carisa menatap ponsel suaminya


"Aneh. Siapa sih Ersa ini. Atau jangan-jangan..." gumam Carisa.


Fikiran buruk tentang suaminya sudah berkelebatan di dalam fikiran Carisa.


'Apa jangan-jangan, selama ini suami aku udah selingkuh.' batin Carisa.


Carisa kemudian mengecek ponsel suaminya untuk memastikan kalau suaminya itu benar-benar selingkuh atau tidak.

__ADS_1


"Kok, semua chat Mas Andre kosong. Apa dia udah hapus semua chat nya. Panggilan keluar dan panggilan masuk juga kosong. Apa jangan-jangan, dugaan aku benar, kalau Mas Andre punya hubungan khusus dengan seorang wanita."


Sejak tadi Carisa tampak resah. Dia takut kalau Andre bermain wanita dibelakangnya. Carisa benar-benar tidak sanggup jika suaminya mendua. Karena Carisa sangat sayang sama Andre dan dia tidak ingin rumah tangga yang sudah lama dia bina hancur begitu saja karena orang ketiga.


"Aku harus selidiki ini," ucap Carisa.


Beberapa saat kemudian, Andre keluar dari kamarnya. Dia masih tampak melilitkan handuknya saja di pinggangnya.


"Carisa. Mana ponsel aku?" tanya Andre.


"Oh ini Mas. Tadi ada yang nelpon makanya aku angkat."


"Siapa?"


"Nggak tahu Mas. Nggak ada suaranya."


"Coba sini. Berikan padaku."


Carisa kemudian memberikan ponsel itu ke Andre.


"Carisa. Kenapa dari tadi kamu di kamar aja sih? emang kamu nggak mau turun ke bawah dan bantuin mama masak? atau kamu bangunin anak kamu Tata. Dia kan harus sekolah."


"Aku lagi nggak enak badan Mas. Biarkan saja Tata. Nggak usah di bangunin. Aku juga lagi malas ngantar dia."


"CK ck ck... kamu sekarang jadi pemalas banget ya. Ya udah, kalau kamu malas ngantar Tata, biar aku aja yang ngantar Tata ke sekolah."


"Terserah kamu Mas."


"Mana baju kerja aku? belum kamu siapkan ya?"


Carisa menggeleng.


"Dari tadi kerjaan kamu apa aja sih? dasar perempuan pemalas. Lama-lama aku muak melihat tingkah kamu Carisa."


Carisa hanya diam. Entah apa yang dia fikirkan saat ini. Dia membiarkan suaminya mengambil segala sesuatunya sendiri.


Andre ganti baju. Setelah siap, dia keluar dari kamarnya dan berjalan masuk ke dalam kamar Tata. Andre terkejut saat melihat Tata sedang menangis.


'Tata juga menangis. Kenapa dengan anak itu.'


Andre mendekati Tata dan duduk di sisi Tata.


"Tata, kamu kenapa nangis?" tanya Andre.


Tata yang ditanya hanya diam. Dia sepertinya masih syok dengan obrolan orang tuanya yang barusan dia dengar itu.


"Tata, kamu kenapa nangis sayang. Ada apa?" tanya Andre sekali lagi.

__ADS_1


Tata menatap Andre lekat.


"Papa, apa benar, kalau aku ini bukan anak kandung Mama dan papa?'" tanya Tata tiba-tiba yang membuat Andre terkejut.


__ADS_2