Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Masih perhatian


__ADS_3

Vino mendekati ibunya dan duduk di sisi ibunya.


"Mama kenapa? mama mual-mual lagi?" tanya Vino.


Fatia mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Andre kembali dengan membawa minuman hangat dan minyak angin.


Andre meletakan minuman hangat itu di atas meja.


"Kamu lagi hamil kan? aku bawakan kamu minyak angin untuk mengolesi kening dan perut kamu. Kalau orang hamil itu, nggak boleh minum obat sembarangan kan?"


Fatia heran dengan sikap Andre. Dari mana Andre tahu kalau Fatia hamil. Fatia sendiri saja belum tahu kalau dirinya hamil.


"Mas Andre. Kamu tahu dari mana kalau aku hamil? emang aku pernah cerita kalau aku lagi hamil," ucap Fatia


Andre tersenyum.


"Bukankah dulu waktu kamu hamil Vino juga seperti ini? mual-mual dan muntah-muntah terus."


"Tapi aku nggak hamil Mas. Aku saja belum cek pakai testpack atau periksa ke dokter."


"Ya nggak usah pakai tespack juga udah kelihatan kok. Wajah kamu juga pucat banget Fatia. Sekarang kamu minum teh hangat dulu ya. Biar mual kamu mereda."


Andre mengambilkan minuman hangat untuk Fatia.


"Kamu minum dulu," ucap Andre sembari menyodorkan teh hangat itu pada Fatia.


Fatia mengambil gelas itu dan meminum teh hangat dari Andre. Vino sejak tadi hanya bisa menyaksikan bagaimana ayahnya begitu perhatian pada ibunya.


'Papa sayang banget sama Mama. Kenapa mereka harus pisah. Kenapa mereka nggak bersatu lagi. Kan kalau Mama dan Papa bersatu, aku bisa kumpul sama mama dan papa. Dan aku bisa tidur bareng mereka. Kenapa harus ada ayah Remon dan Mama Carisa di kehidupan papa Andre dan mama Fatia. ' batin Vino.


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Fatia mengejutkan Fatia dan Andre.


"Sebentar Mas. Telpon aku bunyi," ucap Fatia.


Fatia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.


'Mas Remon nelpon, mau ngapain dia nelpon.' batin Fatia.


"Siapa Fatia?" tanya Andre.


"Suamiku Mas," jawab Fatia


"Angkat aja. Barang kali penting."


"Iya Mas."


Fatia kemudian mengangkat panggilan dari suaminya.


"Halo Mas..."


"Kamu ada di mana sayang?"

__ADS_1


"Aku ada di kantornya Mas Andre sama Vino."


"Udah dari tadi?"


"Baru aja sampai. Udah lima belas menitan lah."


Vino tiba-tiba saja merebut ponsel Fatia.


"Vino mau ngapain kamu?" tanya Fatia bingung saat anaknya merebut ponselnya.


"Halo ayah."


"Halo Vino. Kamu lagi di kantornya Papa Andre ya?"


"Iya ayah. Kenapa ayah nelpon?"


"Ayah cuma mau memastikan kalau kamu dan mama kamu baik-baik saja."


"Aku dan mama pasti baik-baik saja dong ayah. Kan di sini ada Papa Andre. Dia yang akan jagain aku dan mama."


"Iya. Ayah tahu Vino."


"Mama juga lagi sakit. Jadi nggak bisa buru-buru pulang ayah."


"Apa! mama kamu sakit? sakit apa?"


"Dia mual dan muntah-muntah lagi ayah."


"Mama kamu masih muntah-muntah? terus gimana?"


"Oh. Gitu ya? terus mama dan papa kamu lagi ngapain sekarang?"


"Lagi duduk berdua ayah."


Tut Tut Tut ...


Vino bingung, saat tiba-tiba saja Remon memutuskan saluran telponnya dengan sepihak.


"Halo ayah... Halo... Halo...ayah... halo ayah..."


Fatia buru-buru mengambil ponselnya yang ada pada Vino.


"Sini nak, handphon mama."


"Kok, mati Ma?" tanya Vino bingung.


"Nggak tahu. Kamu bicara apa aja sih sama ayah Remon," ucap Fatia yang sedikit kesal pada anaknya.


Fatia kemudian menekan kembali nomer Remon. Namun Remon tidak mengangkat panggilan dari Fatia. Mungkinkah kalau Remon itu marah atau cemburu dengan apa yang barusan Vino sampaikan.


****


Remon tampak resah. Sejak tadi dia masih melamun. Dia sama sekali tidak memperdulikan ponselnya yang berdering.


"Apa yang sudah Fatia lakukan di kantor Andre. Apa mungkin, kalau Andre lagi cari perhatian sama istri aku. Duh, perasaan aku kok jadi nggak enak begini ya," ucap Remon.

__ADS_1


Remon kemudian bangkit dari duduknya. Dia mengambil ponselnya dan pergi meninggalkan ruangannya.


"Kata Vino, Fatia sakit. Dia mual-mual dan muntah-muntah lagi. Aku harus ke kantor Andre untuk menjemput Fatia pulang," ucap Remon sembari berjalan ke luar dari kantornya.


Sesampainya di tempat parkiran mobil, Remon masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan kantornya. Dia sekarang akan meluncur untuk ke kantor Andre.


Sesampainya di depan kantor Andre, Remon menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Remon turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor Andre. Dia berjalan menuju ke ruangan Andre.


"Anak dan istri aku, pasti ada di dalam," ucap Remon setelah sampai di depan ruangan Andre..


Remon kemudian membuka ruangan kerja Andre. Andre, Fatia dan Vino terkejut saat melihat ke datangan Remon.


"Ayah. Ngapain ayah ke sini?" tanya Vino.


"Maaf, ayah udah ganggu waktu kamu Vino. Tapi ayah mau bawa mama kamu pulang."


"Kok pulang Yah? aku kan belum puas main sama papa Andre."


"Sayang, ini kantor. Bukan tempat main. Papa Andre juga pasti akan terganggu kalau ada kalian."


Andre menatap Remon dan bangkit berdiri. Setelah itu dia mendekat ke arah Remon.


"Kamu tenang saja. Aku nggak ngerasa terganggu kok. Aku malah seneng mereka ada di sini," ucap Andre.


Remon diam. Dia hanya bisa menatap tajam ke arah Andre. Sepertinya memang benar kalau Remon cemburu pada Andre dan istrinya.


'Itu sih menurut mu Andre. Aku tahu kalau kamu itu licik. Kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Setiap di dekat istriku, pasti kamu akan banyak tingkah. Sok perhatian lah, inilah itu lah. Tapi aku yakin, Fatia tidak akan pernah termakan oleh rayuan dan perhatian kamu'


Fatia bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke arah suaminya.


"Mas, kamu mau ngapain ke sini?" tanya Fatia.


"Aku mau jemput kamu pulang Fatia," jawab Remon.


"Kenapa harus repot-repot sih. Kan aku dan Vino bisa pulang naik taksi."


"Fatia. Aku mau ajak kamu periksa sekarang."


"Kok mendadak Mas. Katanya nanti kita periksanya."


"Fatia. Sekarang kita pulang. Kalau Vino masih ingin di sini, biarkan saja dia sama Papanya." Remon meraih tangan Fatia dan menggenggamnya erat.


"Ya udah. Kita pulang. Aku mau tanya dulu sama Vino."


Fatia mendekat ke arah Vino yang tampak masih menikmati mie ayamnya.


"Vino. Mama mau pulang. Kamu mau ikut mama, atau mau tetap di sini?" tanya Fatia.


"Aku mau di sini aja Mama. Aku mau pulang bareng papa aja."


"Ya udah. Jadi nggak apa-apa nih mama pulang sendiri."


"Iya nggak apa-apa. Mama dan ayah pulang aja."


"Ya udah. Kamu jangan nakal ya."

__ADS_1


Vino mengangguk. Sebelum pergi, Fatia mencium kening Vino. Setelah itu Fatia dan Remon pergi meninggalkan Vino di ruangan Andre sendiri.


__ADS_2