
Tata masih bermain-main di depan sekolahnya. Sejak tadi, dia masih bermain ayunan bersama teman-teman yang lain.
Alena sejak tadi masih memperhatikan Tata dari kejauhan. Tata saat ini sendiri. Karena Carisa tampak tidak ada di samping Tata. Biasanya, Carisa selalu menunggui Tata dan menemaninya di sekolah.
"Kak Carisa ke mana ya, kenapa dia nggak ada. Biasanya, dia selalu sama Tata," ucap Alena.
"Kebetulan banget deh, kalau Tata nggak ada yang nemenin. Aku bisa dekatin dia." lanjut Alena.
Alena masih menunggu Tata di depan sekolahnya sampai sekolah Tata selesai. Sudah satu minggu ini, Alena selalu datang ke sekolah Tata untuk melihat Tata.
Alena merasa sangat bersalah telah meninggalkan Tata. Dan sekarang, Alena kembali untuk membawa Tata pergi bersamanya. Namun, Alena harus pelan-pelan mendapatkan hati Tata. Karena dia tidak mau, Tata takut dengannya seperti kemarin. Kemarin Alena terlalu buru-buru mengakui kalau dia ibu kandung Tata. Sehingga membuat Tata takut dan lari.
Tata tampak masih menunggu jemputan. Namun sepertinya, Carisa belum menjemput Tata. Membuat Alena bahagia karena dia bisa leluasa mendekati Tata.
'Aku nggak boleh seperti kemarin. Aku harus bisa merebut hatinya Tata. Aku nggak boleh buru-buru ngomong kalau aku ibu kandung Tata. Karena aku nggak mau, Tata lari lagi dari aku. Aku cuma ingin dekat dengan dia sekarang'
Alena kemudian berjalan mendekati Tata.
"Hai adik cantik," sapa Alena pada Tata yang masih duduk sendiri di depan sekolahnya.
Tata tersenyum.
"Tante siapa?" tanya Tata.
'Sepertinya Tata lupa kalau dia pernah ketemu denganku.' batin Alena.
"Tante teman mama kamu," jawab Alena.
"Oh. Tante mau jemput anak Tante juga ya?"
"Nggak kok sayang. Tante nggak punya anak."
"Terus, Tante ke sini mau ngapain? Tante mau ketemu sama mama ya?"
"Tante pengin ngobrol sebentar sama kamu."
"Ya udah. Duduk aja Tante. Temani aku nunggu mama."
Alena tersenyum.
"Boleh Tante duduk di sini sayang?" tanya Alena.
"Boleh dong Tante."
Alena kemudian duduk di sisi Tata. Dia kemudian menatap Tata lekat.
'Anak ku, sekarang kamu udah gede Nak. Kamu sangat cantik. Mama nyesel Nak, sudah meninggalkan kamu. Maafkan mama. Mama ingin membawa kamu pergi dan ikut bersama mama Nak,' batin Alena.
Setetes air mata Alena membasahi pipi mulusnya. Alena buru-buru mengusapnya kasar.
"Tante. Tante kenapa nangis?" tanya Tata.
"Oh, ini sayang. Tante kelilipan tadi."
"Mau aku tiup Tan?"
"Oh, kamu bisa niup Nak?"
"Bisa Tan. Aku sering tiup mata mama saat dia kelilipan."
'Anakku, andai kamu tahu, kalau aku adalah mama kandung kamu. Seandainya aku katakan kalau aku ibu kandung kamu, kamu juga pasti tidak akan percaya.'
"Nggak perlu ditiup. Nanti juga sembuh sendiri kok."
Tata tersenyum saat melihat mobil Carisa.
"Mama, itu mama udah datang," ucap Tata.
'Duh, Kak Carisa datang. Aku harus sembunyi nih. Aku nggak mau dia tahu aku ada di sini' batin Alena.
Tanpa sepengetahuan Tata, Alena kemudian pergi meninggalkan Tata.
Tata bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menghampiri mamanya yang sudah berjalan ke arahnya.
"Mama..." Tata memeluk mamanya.
__ADS_1
"Sayang, maaf ya. Mama telat jemput kamu. Tadi jalanan macet sayang."
"Nggak apa-apa Ma."
"Kamu sendiri ya?" tanya Carisa.
"Nggak Ma, tadi aku di temani Tante itu..." Alena menunjuk ke arah di mana tadi dia duduk.
Alena terkejut saat tidak melihat siapa-siapa di kursi tempatnya duduk tadi.
"Tante siapa sayang?" tanya Carisa. Dia merasa aneh dan bingung, karena waktu anaknya menunjuk ke kursi, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kok, Tantenya pergi. Aneh banget. Ke mana ya perginya Tante itu." Tata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa bingung dengan wanita yang baru ditemuinya tadi.
"Tante siapa sih Ta? nggak ada siapa-siapa kok," ucap Carisa.
"Aku lupa nanya nama Tante itu Ma. Tapi Tante itu cantik. Katanya temannya mama."
Carisa mengernyitkan alisnya. Dia semakin bingung saja dengan ucapan anaknya.
'Sebenarnya, wanita siapa sih yang Tata maksudkan. Teman aku? teman aku yang mana. Dan untuk apa teman aku ke sekolah Tata.'
Carisa masih bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya wanita yang sudah menemui Tata. Namun, Carisa tidak terlalu mau banyak memikirkan hal itu. Dia kemudian mengajak Tata pergi meninggalkan sekolahnya.
Carisa sudah membukakan pintu mobilnya untuk Tata.
"Masuk sayang," ucap Carisa.
"Iya Ma."
Tata kemudian masuk ke dalam mobil Carisa. Setelah itu, Carisa pun mengikuti Tata masuk ke dalam mobilnya. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan sekolah Tata.
Alena yang sejak tadi masih bersembunyi. Hanya bisa menatap kepergian Carisa dan anaknya.
"Kayaknya, susah ya untuk mendapatkan anak aku kembali. Sepertinya, Kak Carisa itu sangat sayang sama Tata dan sudah menganggap Tata, anaknya sendiri. Tapi aku nggak mau menyerah. Aku harus bisa bawa Tata." ucap Alena.
Alena tampak berfikir.
"Tapi, bagaimana caranya. Apa aku bicara langsung saja ya sama Kak Carisa."
Alena tidak mau terlalu lama berada di sekolah Tata. Baginya, bertemu Tata dan ngobrol dengan Tata itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Alena.
****
"Sayang, tadi di sekolah sebenarnya kamu ketemu sama Tante siapa sih? " tanya Carisa yang masih tampak penasaran dengan ucapan Tata waktu di sekolah.
"Aku lupa nanya namanya Ma. Tapi katanya dia temannya Mama."
"Terus, kamu masih ingat nggak, ciri-cirinya Tante itu seperti apa?"
"Dia cantik Ma. Seperti mama."
Carisa terkejut saat mendengar ucapan Tata.
'Apa jangan-jangan, itu Alena. Duh, gawat kalau sampai Alena tahu sekolah Tata. Bagaimana kalau dia diam-diam ngambil Tata dari aku. Aku belum siap kehilangan Tata. Aku sudah menganggap Tata anak kandung aku sendiri.'
Suara deru mobil sudah terdengar dari luar rumah. Andre dan Vino turun dari mobilnya. Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam," ucap Carisa.
Carisa menatap Vino dan Andre tajam.
"Mas, kamu bawa anak kamu ke kantor?" tanya Carisa.
"Iya. Emang kenapa? dari pada nanti dia hilang lagi. Mending aku jemput sendiri dan aku bawa ke kantor."
"Kamu kan bisa suruh aku jemput Vino, sekalian aku jemput Tata."
"Hah, aku sudah nggak percaya lagi sama kamu Carisa."
Andre menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, berbaur bersama Carisa dan Tata.
"Vino, kalau kamu capek, kamu ke kamar aja dulu."
__ADS_1
Vino mengangguk.
"Iya Pa." Vino kemudian pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju ke kamarnya.
Andre membuka sepatunya. Setelah itu dia melepas jas dan dasinya.
"Gerah banget. Aku mau mandi dulu Carisa. Tolong kamu bawakan barang-barang aku ke kamar."
"Iya Mas."
Andre kemudian pergi meninggalkan Carisa. Dia naik ke lantai atas untuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Andre kemudian mengambil handuk dan bergegas untuk mandi.
"Tata, Tata tunggu di sini ya. Mama mau ke kamar dulu. Mau nyiapin baju-baju papa."
Tata mengangguk. Setelah itu, Carisa bangkit dari duduknya.
Carisa kemudian pergi meninggalkan Tata.
***
Carisa masih duduk di depan cermin. Sejak tadi dia tampak masih bercermin sembari menunggu Andre mandi.
Beberapa saat kemudian, Andre keluar dari kamar mandi. Dia menatap Carisa lekat.
"Carisa. Kamu udah siapin baju aku?" tanya Andre.
Carisa yang ditanya hanya diam. Dia sepertinya masih melamun. Mungkin, dia masih memikirkan dengan seorang wanita misterius yang akhir-akhir ini, sering menemui anaknya.
Andre mendekati Carisa dan menepuk bahu Carisa. Membuat Carisa terkejut.
"Eh. Mas."
"Mana baju aku? udah siap belum?" tanya Andre.
"Iya Mas. Nanti aku ambilkan."
Carisa bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah lemari untuk mengambil baju ganti Andre.
"Ini Mas, baju kamu," ucap Carisa.
"Makasih."
Carisa mengangguk. Setelah itu dia duduk di sisi ranjangnya.
"Kamu kenapa sih? akhir-akhir ini aku perhatikan sering ngelamun. Kamu lagi punya masalah apa?" tanya Andre sembari memakai celananya.
Carisa menghela nafas dalam.
"Itu Mas. Aku lagi kefikiran wanita misterius yang sering menemui Tata anak kita," ucap Carisa.
Andre mengernyitkan alisnya. Dia kemudian mendekat dan duduk di sisi istrinya.
"Wanita misterius?"
"Iya Mas. Dan aku nggak tahu dia siapa. Dia selalu menemui Tata kalau Tata lagi sendiri."
"Wanita siapa ya?" ucap Andre.
"Kalau menurut aku sih, dia itu Alena. Karena kata Tata, wanita yang ditemuinya cantik dan mirip aku. Bisa saja kan, Alena mau ngambil Tata dari aku."
Andre berdiri.
"Ya bagus dong kalau begitu."
"Kok kamu bicara begitu Mas?" Carisa menatap Andre tajam.
"Ya bagus, kalau Alena ingat lagi sama anaknya. Kalau dia mau minta anaknya kembali, kasihkan saja Tata sama Alena. Terus, biar kita fokus ngerawat Vino. Dan biar kamu fokus untuk punya anak sendiri."
Carisa tampak kesal mendengar ucapan Andre.
"Nggak Mas. Mudah banget kamu bicara seperti itu. Aku nggak akan pernah membiarkan Tata jatuh ke tangan Alena. Aku Mas, yang sudah merawat Tata dari bayi sampai dia sebesar ini. Aku sudah menganggap dia anak kandung aku sendiri. Dan aku nggak mau, Tata pergi dari kehidupan aku."
"Carisa. Mau sampai kapan Carisa, kamu repot dengan anak orang lain. Tata itu bukan anak kandung kamu. Dia juga bukan anak kandung aku. Dari pada kamu fokus ngurus Tata, mendingan kamu fokus ngurus Vino yang jelas-jelas anak kandung aku."
"Apa! aku nggak mau ya Mas, harus ngurusin anak kamu yang nakal itu. Lebih baik aku ngurus Tata, yang jelas-jelas keponakan aku sendiri. Dia juga nurut sama aku."
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Carisa pergi meninggalkan kamar Andre. Dia sepertinya sangat marah dengan suaminya.
"Carisa, Carisa. Aku sebenarnya juga sayang sama Tata. Tapi, jika Alena kembali, biarkan Tata ikut dengannya. Karena Alena itu ibu kandungnya. Dia orang yang lebih berhak mengurus dan merawat Tata dari pada kamu," ucap Andre.