Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Liontin


__ADS_3

Bulan di malam ini, terlihat sangat cerah. Di atas langit, sudah banyak bintang yang bertebaran. Remon dan Fatia masih duduk di cafe tempat langganan mereka.


Makan malam kali ini sangat berbeda dari makan malam sebelumnya. Di mana biasanya selalu ada Vino di antara mereka, namun, saat ini mereka hanya berdua.


Fatia sejak tadi masih diam. Begitu juga dengan Remon. Mereka masih tampak menikmati makanannya.


"Fatia," ucap Remon sembari meraih tangan Fatia.


"Iya Mas."


"Aku pengin memberikan sesuatu untuk kamu."


Fatia menatap Remon lekat.


"Sesuatu apa Mas?" tanya Fatia penasaran.


"Coba kamu tutup dulu mata kamu."


Fatia tersenyum."Kok tutup mata?"


"Iya. Nggak apa-apa. Ayo tutup mata kamu."


Perlahan, Fatia memejamkan matanya.


Remon bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia berjalan ke arah Fatia. Remon kemudian melingkarkan kalung berlian mahal ke leher Fatia.


"Sekarang, kamu bisa buka mata sayang," ucap Remon.


Fatia membuka matanya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat liontin cantik sudah melingkar di lehernya.


"Mas, bagus banget kalungnya. Ini pasti kalung mahal kan? bagaimana bisa, kamu memberikan aku kalung mahal seperti ini?"


"Fatia. Doain aku ya. Agar perusahaan aku semakin maju. Agar aku bisa sukses seperti mantan suami kamu itu. Biar aku bisa membahagiakan kamu dan Vino" ucap Remon sembari duduk kembali di tempat duduknya semula.


Fatia tersenyum.


"Mas, aku itu cinta sama kamu, nggak memandang harta kekayaan kamu. Aku itu tulus Mas cinta sama kamu. Kamu itu, lelaki yang paling setia dari semua lelaki. Dan kamu itu cinta sejati aku Mas. Jangan pernah, kamu merasa tersaingi dengan ayahnya Vino. Karena aku nggak pernah punya perasaan apa-apa sama dia."


Remon diam. Dia kemudian menatap Fatia.


"Tapi, kamu pernah cinta kan sama Andre?" tanya Remon yang sejak tadi masih membahas Andre.


"Tapi itu kan dulu Mas. Sekarang udah nggak lagi. Karena aku sadar, aku cuma cinta sama kamu. Dan cintaku ke Mas Andre hanya cinta sesaat."


"Tapi kalau dulu, Andre bersikap baik sama kamu, dia mau sayang sama kamu, pasti kamu juga masih bersama Andre sampai sekarang. Bisa saja, nanti kamu jatuh cinta lagi sama Andre.Karena kamu pernah cinta sama dia"


"Mas, aku dan Mas Andre itu nggak berjodoh Mas. Mungkin jodoh aku yang sebenarnya kamu. Bukan ayahnya Vino."


Remon diam. Tampaknya dia masih cemburu saja sama Andre, dan masih mencurigai Fatia kalau Fatia masih cinta sama Andre.


"Mas Remon, kita ke sini, mau membahas masalah pernikahan kita, atau membahas ayahnya Vino?" tanya Fatia.


"Ya, kita ke sini, akan membahas pernikahan kita lah," jawab Remon.

__ADS_1


"Ya udah. Kita fokus aja dulu dengan pernikahan kita. Aku sudah bilang sama papa aku Mas, kalau dia yang akan mencari tanggal yang bagus untuk acara pernikahan kita. Kalau yang lain sih, itu terserah di keluarga kamu Mas."


"Papa aku, sudah tidak bisa apa-apa lagi Fatia. Dia sudah terkena stroke dan sekarang dia hanya bisa duduk di kursi roda. Sementara mama aku, nggak pengalaman apa-apa. Jadi, aku harus bisa sendiri untuk mempersiapkan semuanya dan mengurus segala macamnya."


"Ya udah. Kita fokus dulu sama pernikahan kita. Dan Vino tiga hari lagi ulang tahun. Dia ingin ulang tahunnya itu dimeriahkan. Dia ingin mengundang semua teman-temannya," ucap Fatia.


"Ya udah. Kita persiapkan dulu pesta ulang tahun Vino. Kalau masalah biaya, beli kue atau segala macam, biar aku yang tanggung. Kamu nggak usah khawatir sayang."


"Iya Mas. Makasih ya Mas."


"Ya udah. Kita lanjutkan makan. Setelah ini, kita pulang ya."


"Iya Mas."


Setelah makan malam , Fatia dan Remon kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Mereka keluar dari cafe dan berjalan menuju ke parkiran mobil.


Remon membukakan pintu mobilnya untuk Fatia.


"Masuk sayang."


"Iya Mas."


Fatia masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Remon yang ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka berdua meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Ring ring ring...


Deringan ponsel Fatia mengejutkan Fatia dan Remon.


Fatia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari ibunya.


"Halo Ma, ada apa?"


"Fatia. Kamu di mana sekarang?"


"Aku lagi ada di jalan Ma."


"Cepat pulang. Anak kamu demam."


"Apa! demam?"


"Iya. Cepat pulang."


"Iya Ma, iya. Ini Fatia juga lagi meluncur pulang Ma."


"Ya udah. Mama tunggu ya."


"Iya Ma. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Fatia memutuskan saluran telponnya.


"Dari siapa sayang? Mama kamu bilang apa?" tanya Remon di sela-sela menyetirnya.

__ADS_1


"Mama bilang, Vino demam Mas. Dia sakit."


"Tapi perasaan tadi waktu kita tinggal, dia nggak kenapa-kenapa kok."


"Nggak tahu Mas. Kamu harus cepat sedikit Mas nyetirnya. Kita harus cepat pulang. Aku nggak mau, terjadi apa-apa sama Vino."


"Iya sayang."


Beberapa saat kemudian, Remon dan Fatia sudah sampai di depan rumahnya. Remon dan Fatia turun dari mobilnya. Mereka kemudian buru-buru masuk ke dalam rumahnya.


"Vino...! Vino...!" seru Fatia.


Hiks...hiks...hiks...


Samar-samar, Fatia dan Remon mendengar suara tangisan dari dalam kamar Vino. Fatia terkejut saat melihat ibu dan adiknya menangis.


"Ma, Ness, ada apa?" tanya Fatia.


Nessa dan Bu Dewi menoleh ke arah Fatia dan Remon.


"Fatia anak kamu. Dia demam, dan perutnya sakit. Dan tadi dia muntah-muntah terus. Kita harus bawa Vino ke rumah sakit Fatia."


"Ya ampun. Kenapa dengan Vino sih Ma. Kenapa dia bisa jadi seperti ini."


"Cepat Remon! bawa Vino ke rumah sakit!" ucap Bu Dewi.


"Iya. Saya akan bawa Vino ke rumah sakit."


Remon mendekat ke arah Vino. Dia langsung menggotong Vino dan membawanya ke luar dari rumah.


Pak Fendi, Bu Dewi, Fatia dan Nessa mengikuti Remon di belakangnya. Remon membawa Vino masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia menatap Fatia.


"Fatia. Ayo ikut!" ajak Remon.


Fatia mengangguk. "Iya Mas."


Fatia dan Remon kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


"Mas, cepat sedikit Mas!"


"Iya sayang.Ini juga udah cepat kok."


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Remon dan Fatia sampai juga di depan rumah sakit. Mereka kemudian turun dari mobilnya dan membawa Vino masuk ke dalam rumah sakit.


"Dokter...! tolong dokter...!" seru Remon sembari masih menggotong tubuh Vino.


Beberapa perawat mendatangi Remon dan Fatia. Setelah itu, mereka membawa masuk Vino ke ruang UGD.


"Kalian tunggu di sini, biarkan kami yang menangani," ucap salah satu perawat itu.


"Iya Sus."


Remon dan Fatia kemudian menunggu di ruang tunggu.

__ADS_1


__ADS_2