Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Terganggu


__ADS_3

"Mas, kamu dari mana aja sih Mas. Kenapa kamu bisa sampai pulang pagi?" runtutan pertanyaan dari Carisa sudah mulai terdengar setelah Andre masuk ke dalam kamarnya dan menemui istrinya di kamar.


Andre yang sejak tadi diomelin istrinya hanya diam. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mandi seperti biasa. Dia sama sekali tidak perduli dengan kemarahan istrinya.


Beberapa saat kemudian, Andre keluar dari kamar mandi. Dia tetap masih diam. Dia kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil baju kerjanya. Carisa sejak tadi masih menguntit di belakang Andre.


"Mas Andre. Aku ini lagi ngomong sama kamu. Kamu dengar aku nggak sih? "tanya Carisa dengan nada tinggi.


Sepertinya Carisa itu memang sangat kesal dengan Andre. Karena semalaman Andre tidak pulang dan tidak tidur di rumah.


"Jawab aku dong mas! semalam kamu dari mana aja? kamu nginap di mana? kenapa ponsel kamu matiin. Apa jangan-jangan, kamu itu semalam nginep di rumah selingkuhan kamu ya?" terka Carisa.


Setelah memakai bajunya, Andre menatap tajam ke arah Carisa.


"Carisa. Terserah kamu mau berfikiran apa tentangku. Aku masih kesal sama kamu Carisa. Karena kamu sudah membohongi aku."


"Mas, tapi kan aku udah minta maaf Mas."


"Carisa. Aku selama ini udah sabar menghadapi sikap kamu Carisa. Kamu nggak pernah sayang sama Vino, kamu nggak pernah sayang sama mama aku, dan kamu itu egois. Kamu nggak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah. Aku sabar untuk semua itu Carisa. Tapi aku nggak bisa bertahan dengan wanita yang mandul seperti kamu."


"Apa! maksud kamu bicara seperti itu apa Mas?" tanya Carisa tidak mengerti.


"Aku ingin menikah lagi. Aku ingin punya anak dari wanita yang subur seperti Fatia."


"Apa! menikah lagi? menikah dengan siapa? menikah dengan Fatia? Ingat Mas. Fatia itu sudah punya suami. Kamu kenapa sih masih mengharapkan wanita itu terus. Buka dong mata kamu Mas. Jangan hanya karena cinta membuat kamu jadi buta."


"Siapa yang masih mengharap wanita yang sudah punya suami. Aku ingin menikah tapi bukan dengan Fatia. Aku akan menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih cantik dan lebih muda dari kamu. Yang pasti dia baik dan dia bisa memberikan aku keturunan."


Carisa terkejut saat mendengar ucapan suaminya. Carisa kemudian memegang lengan suaminya dengan erat.


"Mas, kamu nggak serius kan bicara seperti itu. Kamu nggak mau menduakan aku kan. Kamu nggak akan nikah lagi kan?" tanya Carisa menatap lekat wajah suaminya.


Carisa takut, kalau perkataan Andre itu akan benar-benar terjadi. Karena yang Carisa tahu, Andre itu tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.


Andre menghela nafas dalam. Dia kemudian pergi meninggalkan Carisa di dalam kamar.


Andre turun ke bawah dan menghampiri ruang makan. Di ruang makan sudah tampak sepi. Hanya ada Bik Ning yang sedang membereskan makanan.


"Bik, ke mana orang-orang?" tanya Andre.


"Non Dinda udah berangkat ke rumah sakit Den. Kalau ibu tadi pergi ke luar. Katanya sih mau ketemu teman-teman Arisan."


"Oh..."


"Den Andre mau makan?" tanya Bik Ning.


"Nggak usah Bik. Aku mau makan di kantor aja. Udah siang."


Andre kemudian berjalan pergi meninggalkan rumahnya. Andre masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi untuk ke kantornya.


Sementara di dalam kamarnya, Carisa menangis. Dia tidak sanggup jika saja suaminya mau menikah lagi dengan wanita lain.


"Siapa sih, wanita yang sudah merebut suamiku. Kenapa aku sampai kecolongan. Sudah berapa lama Mas Andre punya hubungan sama wanita itu," ucap Carisa.

__ADS_1


Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Wanita siapa yang sekarang sedang dekat dengan Andre suaminya.


"Kenapa aku susah sekali melacak ponselnya Mas Andre. Siapa sebenarnya wanita itu," ucap Carisa.


***


Tok tok tok...


Suara ketukan dari depan ruangan Andre terdengar.


"Masuk!" seru Andre.


Beberapa saat kemudian, Ersa muncul dari balik pintu.


"Permisi Pak," ucap Ersa sembari berjalan masuk ke dalam ruangan Andre.


"Ada berkas-berkas penting yang harus bapak tanda tangani," ucap Ersa sembari menyodorkan beberapa berkas itu di atas meja kerja Andre.


"Duduk Er. Jangan berdiri aja. Nanti kamu capek," ucap Andre.


Ersa mengangguk. Dia kemudian duduk di dekat Andre. Sementara Andre mulai menandatangani berkas-berkas itu.


Ersa sejak tadi masih menatap Andre. Entah rasanya seperti mimpi saja kejadian semalam. Saat Andre mengutarakan perasaannya dengan romantis pada Ersa. Membuat Ersa masih terbayang-bayang bagaimana romantisnya seorang Andre semalam.


"Ini, udah aku tanda tangani," ucap Andre sembari mengembalikan berkas-berkas itu ke Ersa.


"Ersa, kita makan bareng di kantin ya nanti, kalau sudah jam makan siang. Aku nggak bawa bekal soalnya dan sejak pagi aku juga belum makan. Nanti temani aku makan ya."


Ersa kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan Andre. Sementara Andre hanya bisa menatap kepergian Ersa.


Jam makan siang pun tiba. Andre masih berkutat di depan layar monitornya.


Tok tok tok...


Andre tersenyum saat mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk sayang..." ucap Andre.


Beberapa saat kemudian, Fatia dan Vino masuk ke dalam ruangan Andre.


'Duh, kenapa Fatia sama Vino yang datang. Aku fikir Ersa. Mau ngapain mereka ke sini,' batin Andre


Fatia tersenyum.


"Mas Andre, kenapa terkejut gitu aku dan Vino datang," ucap Fatia.


"Fatia. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Andre.


"Aku cuma mau ngantar Vino ke sini Mas. Dia kangen sama kamu."


"Oh. Vino kangen sama papa ya?" ucap Andre sembari menatap anaknya lekat.


.

__ADS_1


Vino mengangguk.


"Kabar kamu gimana Fatia? udah mendingan sakitnya?" tanya Andre pada Fatia.


"Udah Mas. Aku udah nggak apa-apa kok. Maklumlah, orang hamil muda, jadi bawaannya gitu."


Andre tersenyum.


"Remon nggak marah, kamu ke sini nemuin aku?" tanya Andre.


"Ya nggaklah. Aku ke sini aja sama Mas Remon. Dia lagi nunggu di parkiran."


"Oh. Jadi kamu mau langsung pulang?"


"Iya Mas. Nggak apa-apa kan kalau aku titip Vino di sini. Aku mau pergi sama Mas Remon."


Andre menghela nafas dalam.


Fatia dan Vino datang di waktu yang tidak tepat. Padahal saat ini Andre mau PDKT dengan Ersa. Tapi malah ada Vino.


'Nggak apa-apa deh, kalau Vino di sini. Sekalian aku mau dekatin Vino dengan Ersa.' batin Andre.


"Ya udah Mas. Aku pergi dulu ya."


"Iya Fatia."


Fatia kemudian pergi meninggalkan ruangan Andre.


"Vino, udah makan belum?" tanya Andre.


"Belum Pa," jawab Vino.


"Nanti papa mau ajakin kamu makan di kantin kantor ya. Tapi nunggu Tante Ersa dulu."


"Iya Pa."


Beberapa saat kemudian, Ersa datang dan menghampiri ruangan Andre.


"Eh, ada Vino. Kapan Vino datang?" tanya Ersa.


."Barusan," jawab Andre.


"Vino datang sama mama ya? kemana mamanya?" tanya Ersa Pada Vino.


"Mama udah pulang duluan sama ayah Remon. Dan aku mau ikut pulang papa Andre. Aku kangen sama Tante Dinda, Oma Alya, dan Tata."


Andre tersenyum.


"Vino yakin mau ikut Papa pulang?" tanya Andre.


"Iya. Aku kan udah lama nggak main ke rumah Papa."


"Iya. Nanti Papa juga akan ajak Tante Ersa juga main ke rumah Papa."

__ADS_1


__ADS_2