
Alena menatap Tata dan tersenyum.
"Ibu..." ucap Tata.
Alena sangat bahagia saat anaknya mau memanggilnya ibu. Alena mendekat ke arah Tata dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya.
"Sayang, ibu mau pergi," ucap Alena menatap Tata lekat.
"Ibu mau pergi ke mana?" tanya Tata.
"Ibu mau ke luar kota sebentar sayang. Ibu mau menemani ayah Bram untuk ke luar kota. Karena ayah Bram ada tugas di luar kota," ucap Alena.
Bram mendekat ke arah Tata.
"Hai anak cantik," ucap Bram sembari berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Tata.
"Ini suami ibu Nak. Namanya Bram. Kamu bisa panggil dia Papa , atau ayah. Karena dia sekarang ayah kamu."
Tata tersenyum.
"Jadi sekarang aku punya dua Papa. Sama kayak Kakak Vino. Kakak vino juga punya dua mama dan dua papa," ucap Tata yang membuat semua orang tersenyum termasuk Andre.
Andre mendekat ke arah Tata.
"Tata. Udah siang Nak. Kamu harus ke sekolahkan? Papa mau ke kantor. Apakah Tata mau ikut Papa, atau mau berangkat bareng mama aja?" tanya Andre.
Tata menatap Andre.
"Aku mau berangkat bareng mama aja Papa," ucap Tata.
"Ya udah. Papa berangkat dulu ya. "
Setelah berpamitan pada Tata, Andre kemudian bergegas pergi untuk ke kantor. Dia tidak mau berlama-lama ada di rumah. Karena hari ini akan ada meeting penting di kantor.
Andre kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah itu, Bram dan Alena juga berpamitan.
"Kalau begitu saya dan Mas Bram pamit dulu ya Kak. Nanti saya akan ke sini lagi untuk bertemu Tata."
"Sering-sering saja ke sini Alena. Aku udah ngizinin kamu untuk dekat dengan Tata. Aku nggak akan ngelarang kamu lagi untuk dekat-dekat dengan Tata. Karena kamu juga berhak atas Tata. Karena sekarang Tata itu sama-sama anak kita," ucap Carisa.
Alena tersenyum dan langsung memeluk kakaknya.
"Makasih ya Kak."
Setelah berpamitan pada Carisa dan keluarga Andre, Bram dan Alena kemudian pergi meninggalkan rumah Andre. Mereka akan pergi ke luar kota untuk sementara. Mungkin setelah mereka pulang, mereka akan menemui Tata lagi.
*****
Malam ini Fatia masih berada di kamarnya bersama Vino yang selalu setia menemaninya. Sejak Fatia hamil, Vino jarang pergi jauh-jauh. Vino tahu dengan tugasnya. Kalau dia harus menjaga ibunya selama ibunya masih hamil muda.
Vino sejak tadi masih serius belajar. Sementara Fatia masih merasa pusing. Dari kemarin dia masih mual-mual terus.
"Vino. Kenapa ayah Remon nggak pulang-pulang sih," ucap Fatia.
"Aku nggak tahu Ma. Mungkin ayah lagi terjebak macet. Biasanya juga gitu kan," ucap Vino.
__ADS_1
"Vino, mana ponselnya mama sayang?" tanya Fatia.
Vino turun dari tempat tidurnya untuk mencari ponsel mamanya.
Vino mendekat ke arah nakas dan mengambil ponsel Fatia yang ada di atas nakas. Setelah itu Vino menyerahkan ponsel itu pada Fatia.
"Mama mau telpon Ayah?" tanya Vino.
"Iya. Mama pengin titip sesuatu," jawab Fatia.
Fatia kemudian menekan nomer Remon.
"Halo Mas...."
"Halo Fatia. Ada apa sayang?"
"Mas, entah kenapa, aku kok jadi pengin yang asam-asam ya."
"Yang asam-asam apa?"
"Seperti mangga muda gitu Mas."
"Mangga muda. Untuk apa mangga muda Fatia. Bukannya kamu nggak suka sama mangga?"
"Iya itu sih dulu Mas. Kan sekarang aku lagi hamil. Apa kamu lupa. Aku sepertinya lagi ngidam nih."
"Ngidam?"
"Iya. Aku ngidam. Dan aku pengin mangga yang masih muda."
"Mas, nggak bisa dong. Orang ngidam itu nggak bisa ditawar. Kalau maunya sekarang ya harus sekarang. Kalau maunya mangga muda ya harus mangga muda. Kamu nggak mau kan nanti anak kita ileran?"
"Ya nggak mau lah. Anak aku, kalau cewek harus cantik, kalau cowok harus tampan melebihi Vino. Nggak boleh ileran."
"Ya udah. Kalau gitu, belikan aku mangga muda sekarang."
"Tapi di mana belinya sayang. Di toko buah juga belum tentu ada mangga muda. Ada juga mangga matang."
"Ya aku nggak mau tahu. Dan aku nggak mau yang mateng. Aku maunya mangga yang masih muda."
"Ya udah sayang. Nanti aku cariin.'"
"Cepat ya Mas. Jangan lama-lama pulangnya. Aku nggak bisa tidur kalau kamu belum peluk aku Mas."
"Iya sayang iya... ini aku lagi dalam perjalanan. Jalanan macet banget Fatia. Entah kenapa biasanya jam segini udah senggang. Tapi ini macet parah. Sabar ya sayang."
"Iya Mas. Aku tunggu ya."
****
Remon sejak tadi masih menggerutu karena jalanan yang sangat macet. Tidak biasanya jalanan macet. Dan malam ini jalanan macet total. Sementara istrinya sejak tadi masih ngidam mangga muda.
"Duh, Fatia ngidamnya ada-ada saja sih. Mungkin kalau dia ngidamnya tadi pagi, aku bisa nanya-nanya sama karyawan aku atau aku suruh mereka nyari mangga muda. Lah, ini udah malam. Udah jam sembilan. Ada mangga muda di mana jam segini. Ada juga di pohonnya. Dan siapa yang punya pohon mangga," ucap Remon
Ring ring ring
Lagi-lagi ponsel Remon berdering. Fatia menelponnya lagi. Membuat Remon bingung. Karena sampai malam dia belum juga mendapatkan mangga mudanya.
__ADS_1
"Halo sayang..."
"Mas. Kenapa belum pulang-pulang. Kamu udah dapat mangga mudanya Mas?"
"Fatia. Aku masih di jalan. Tadi aku mampir ke kios buah Papa kamu. Tapi kios Papa kamu udah tutup. Aku ke toko buah yang lain, juga nggak ada mangga muda Fatia."
"Terus gimana dong Mas. Aku pengin banget mangga muda sekarang."
"Ya udah. Nanti aku pasti akan cariin ya. Tapi kamu tidur dulu ya. Jangan telpon lagi."
"Pokoknya, aku mau mangga muda sekarang titik. Aku nggak akan bisa tidur kalau kamu belum pulang Mas."
"Iya udah. Aku lagi nyetir nih. Aku mau fokus nyetir dulu ya. Kamu jangan telpon-telpon lagi. Nanti aku cariin."
"Iya. Cepat ya."
"Iya sayang iya."
Remon kemudian menutup saluran telponnya. Setelah itu dia mencoba mencari mangga muda untuk istrinya.
Jam sepuluh malam, Remon tampak lelah. Dia sudah muter-muter sampai dua jam untuk mencari mangga muda, tapi dia tidak mendapatkan mangga muda pesanan istrinya.
Akhirnya dengan terpaksa Remon memutuskan untuk pulang. Walau dia tidak mendapatkan mangga muda itu. Remon tampak sudah menyerah.
Remon menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Remon kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa setelah sampai di ruang tengah.
"Biarinlah, kalau anak aku ileran. Aku pasrah. Aku bingung mau nyari mangga muda di mana malam-malam begini," ucap Remon.
Remon mengurut keningnya. Dia tidak berani masuk ke dalam kamarnya. Karena pasti istrinya akan menagih mangga muda itu.
"Duh, aku harus bilang apa ke Fatia. Kalau aku nggak bisa mendapatkan mangga muda itu. malam-malam gini mau dapat mangga muda di mana.Tadi aku juga udah telpon Papanya Fatia. Katanya di sana juga nggak ada mangga muda. Ada pohon mangga juga nggak ada buahnya," ucap Remon.
Beberapa saat kemudian, Bu Rima muncul dari belakang.
"Remon, kamu baru pulang?" tanya Bu Rima setelah sampai di ruang tengah.
Bu Rima tampak heran melihat tampang Remon. Dia terlihat sangat kusut dan lusuh.
Bu Rima duduk di sisi anaknya.
"Kamu kenapa? tumben jam segini baru pulang?" tanya Bu Rima.
"Iya Ma. Aku capek banget sebenarnya. Tadi muter-muter nyari mangga muda nggak ada. Aku udah telpon mertuaku juga nggak ada mangga muda di sana "
"Mangga muda untuk apa?"
"Fatia yang pesan Ma. Katanya dia ngidam mangga muda."
"Lho, Bu Elok tetangga depan rumah kita kan punya pohon mangga. Dan sudah berbuah juga. Kenapa kamu tidak nyoba saja minta ke tetangga depan rumah kita."
"Emang boleh ya Ma."
"Ya boleh lah kalau situasi darurat begini. Tapi ya rumahnya ada anjingnya Remon. Kamu berani malam-malam begini panjat pohon untuk ngambil mangga muda. Soalnya rumah Bu Elok ada anjingnya."
"Demi Fatia, aku akan lakukan apapun Ma. Aku rela di gigit anjingnya Bu Elok. Asal aku bisa mendapatkan mangga muda itu."
__ADS_1