
Sejak tadi, Andre masih fokus menyetir. Sesekali Andre menatap ke sampingnya duduk. Andre tersenyum saat melihat Ersa. Sepertinya, Andre memang sudah mulai jatuh cinta pada gadis muda itu.
"Kamu udah makan Er?" tanya Andre di sela-sela menyetirnya.
Ersa yang ditanya hanya diam. Dia sama sekali tidak bicara dengan Andre sejak tadi. Mungkin dia masih teringat dengan nasihat ibunya tadi. Tidak boleh tergoda oleh lelaki yang sudah beristri seperti Andre.
"Er, Ersa..."
"Eh, iya Pak. Kenapa?" tanya Andre.
"Kamu dengar nggak sih tadi aku ngomong apa?"
"Emang bapak ngomong apa?"
"Kamu lagi mikirin apa sih Er? dari tadi di ajak ngobrol, kayak nggak fokus gitu."
Andre tiba-tiba saja memegang tangan Ersa. Membuat Ersa terkejut. Ersa langsung melepas tangannya.
"Maaf Er, nggak sengaja," ucap Ersa.
Ersa tersenyum.
"Ngak apa-apa Pak. Oh iya. Tadi bapak ngomong apa?" tanya Ersa.
"Kamu udah makan? kalau belum, kita mampir dulu saja ke cafe," ucap Andre.
"Aku udah makan kok Pak di rumah. Tadi pagi mama masak, jadi aku disuruh makan dulu. Kalau kita mampir ke cafe dulu, kapan kita sampai kantor. Katanya hari ini ada meeting."
"Iya sih. Kalau meeting kan, bisa ditunda dulu sampai nanti siang. Lagian, aku mau meeting dengan orang kantor saja kok. Jadi bisa kapan saja meetingnya."
"Iya sih Pak. Tapi aku mau langsung ke kantor aja. Nggak mau pergi ke mana-mana lagi."
"Ya udah."
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, Andre dan Ersa akhirnya sampai di kantor mereka. Mereka kemudian turun dari mobilnya.
"Pak, bapak duluan aja," ucap Ersa.
Dia merasa malu, karena banyak karyawan lain yang melihatnya berangkat bareng Andre.
"Kenapa kita nggak bareng aja masuknya?" tanya Andre.
"Aku nggak enak Pak. Banyak orang yang ngelihatin kita," ucap Ersa.
Andre tersenyum.
"Untuk apa difikirin. Yang penting kita masuk," ucap Andre yang reflek langsung merangkul bahu Ersa. Membuat Ersa merasa tidak nyaman.
Ersa langsung melepaskan tangan Andre.
"Maaf Pak. Jangan seperti ini, nggak enak dilihat orang-orang."
"Maaf Er. Aku khilaf. Ya udah, kalau kamu malu. Aku duluan ya."
__ADS_1
Ersa mengangguk. Setelah itu, Andre pun pergi meninggalkan Ersa. Sementara Ersa, hanya bisa menatap kepergian Andre.
Saat Ersa akan melangkah pergi dari tempat parkir, seseorang memanggilnya.
"Ersa," ucap Adi.
Ersa menoleh ke arah Adi dan tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun pada Adi.
"Kamu berangkat bareng bos?" tanya Adi.
"Iya Pak Adi. Bos yang mengajak aku berangkat bareng."
"Kalau boleh aku tahu, kamu sekarang dekat banget sama si Bos. Kalian punya hubungan khusus?" tanya Adi.
"Oh, nggak kok. Aku dan bos Andre, hanya sebatas atasan dan bawahan. Kami nggak punya hubungan apa-apa. Kecuali seorang bos dan sekretaris."
"Iya itu sih, menurut kamu. Kalau menurut aku, si bos sepertinya suka sama kamu Ersa."
Ersa terkejut saat mendengar ucapan Adi.
"Nggak kok Pak Adi. Si Bos nggak suka sama aku. Dan kami memang nggak punya hubungan apa-apa. Kebetulan aja aku sekretaris dia, jadi aku seperti dekat sama dia."
Adi tersenyum.
"Iya aku tahu kok. Tapi yang aku lihat-lihat nih, sepertinya Bos Andre itu suka sama kamu."
"Masa sih?"
"Iya, benar. Aku tahu itu, karena aku juga sama-sama cowok. Dari cara bos Andre menatap kamu, dia seperti suka sama kamu. Jangan-jangan, setiap hari memang kalian dekat," ucap Adi.
"Ya, aku kan sudah bilang. Kalau aku dan bos Andre nggak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu ngotot banget sih bilang kalau aku dan bos Andre punya hubungan," ucap Ersa meninggikan nada suaranya.
"Ye...siapa yang bilang seperti itu. Aku cuma mau bilang, hati-hati aja kamu dengan bos Andre. Bos Andre itu sudah punya istri. Dan yang aku tahu, istrinya bos Andre itu orang yang licik dan bisa melakukan segala macam cara untuk membalas orang yang dibencinya. Jangan sampai deh, kamu berurusan sama yang namanya Carisa," ucap Adi.
"Iya. Makasih, udah diingetin. Kalau begitu, saya pergi dulu ya Pak Adi."
"Iya. Silahkan."
Ersa kemudian pergi meninggalkan Adi.
Ersa kemudian masuk ke dalam kantornya dan berjalan ke arah ruangannya.
Ersa terkejut saat melihat Andre sudah berada di ruangannya.
"Kamu lama banget, ngapain aja di luar?" tanya Andre menatap tajam Ersa.
Ersa tampak gugup.
"Nggak ngapa-ngapain kok Pak. Aku cuma ketemu Pak Adi saja tadi."
"Bilang apa aja Adi sama kamu?" tanya Andre penasaran dengan apa yang diobrolkan Adi dan Ersa.
"Nggak bilang apa-apa Pak," jawab Ersa.
__ADS_1
"Dia nggak godain kamu kan?"
"Nggak kok Pak. Lagian, untuk apa Pak Adi godain aku. Kan Pak Adi sudah punya istri dan anak."
"Kalau ada yang godain, bilang sama aku. Biar aku kasih pelajaran dia."
"Iya Pak. Ngomong-ngomong, bapak ke sini mau ngapain?" tanya Ersa.
"Aku cuma mau pastikan kamu sampai di sini dengan selamat."
"Ngak perlu segitunya kali Pak."
"Nggak apa-apa sudahlah..."
"Katanya ada meeting. Kapan meetingnya Pak?" tanya Ersa.
"Aku sudah membatalkannya. Besok saja meetingnya."
"Kok begitu?"
"Karena aku lagi pengin santai d sini bersama kamu."
Ersa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Perasaannya benar-benar tidak enak saat ini. Semakin hari, Andre semakin berani saja, menunjukan perasaannya pada Ersa. Walau secara tidak langsung. Tapi tatapan Andre, perhatian Andre sudah menunjukan kalau dia memang ada rasa pada Ersa.
Andre juga terlihat cemburu jika ada yang godain Ersa.
"Ersa, kenapa kamu berdiri saja. Duduklah, dan kerja seperti biasa. Biar aku duduk di sofa temani kamu," ucap Andre.
Ersa benar-benar bingung dengan sikap Andre. Jika Andre bukan bosnya, dan Ersa tidak membutuhkan pekerjaan ini, pasti Ersa sudah pergi saja dari kantor itu.
Tapi sayangnya, Ersa tidak punya pekerjaan lagi, selain menjadi sekretaris Andre. Jika dia keluar dari perusahaan Andre, dia belum punya banyak pengalaman. Dan pasti, dia tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan sebagus pekerjaan yang sekarang.
Setelah cukup lama berdiri, akhirnya, Ersa duduk juga di tempat kerjanya. Sementara Andre hanya bisa menatap Ersa.
Ersa membuka layar monitornya. Dia kemudian membuka semua berkas-berkasnya. Dan Ersa bekerja kembali seperti biasa.
Ersa sangat tidak nyaman, saat menatap Andre. Sejak tadi, Andre masih memperhatikan Ersa. Membuat Ersa semakin tidak nyaman.
"Kenapa bapak ngelihatin aku seperti itu?" tanya Andre.
"Kenapa? nggak boleh ya, kalau aku ngelihatin kamu?"
"Ya boleh sih, tapi aku nggak enak aja Pak. Aku jadi nggak fokus kerja kalau bapak masih ada di sini."
"Ya difokusin aja Ersa."
"Ya nggak bisa dong Pak. Aku kan jadi gugup. Merasa nggak nyaman aja kerjanya. Kerja kalau di awasi terus ya, nggak enak."
Andre hanya terkekeh saat melihat ekspresi Ersa.
"Jadi aku di sini, kamu merasa terganggu ya? merasa kalau aku selalu ngawasin kamu ? Ya udahlah, aku nggak mau ngelihatin kamu lagi," ucap Andre sembari berdiri.
"Kamu kerja yang fokus. Aku mau ke ruangan aku."
__ADS_1
"Iya Pak."
Andre kemudian pergi meninggalkan ruangan Ersa.