
"Aku menangis bukan karena itu Mas, tapi aku menangis karena Tata."
Andre mengernyitkan alisnya saat Carisa mengalihkan topik pembicaraan.
"Tata? kenapa dengan Tata?"
"Ternyata Tata sudah tahu semuanya Mas. Kalau aku dan kamu bukan orang tua kandungnya."
"Ini bukan salah siapa-siapa Carisa. Tapi ini salah kamu. Kamu ingat kan, obrolan kita kemarin. Apa yang sudah kamu bicarakan ke aku. Tata dengar semua itu Carisa."
"Mas, aku takut kalau Alena akan mengambil Tata dari aku. Bagaimana kalau Tata lebih memilih untuk ikut dengan ibunya dari pada ikut denganku."
"Ya itu sih, terserah Tata. Kalau dia memang pengin ikut ibu kandungnya, biarkan saja. Kalau Tata ingin ikut terus bersama kita, ya biarkan saja. Tata juga berhak untuk memilih."
"Tapi kan Mas, seharusnya Tata itu memilih aku. Aku yang sudah merawat dan membesarkan dia sampai enam tahun."
"Ya. Tapi kita tidak bisa memaksa Tata kan? bebaskan saja Tata untuk memilih. Karena Alena yang lebih berhak untuk memiliki Tata. Bukan kita."
"Tapi kan Mas, dia sudah meninggalkan Tata waktu dia masih bayi. Aku yang sudah membesarkan dia. Dan aku nggak mau kehilangan Tata."
"Carisa. Sudahlah, udah malam. mendingan kamu tidur sekarang. Dari pada kamu memikirkan yang nggak-nggak seperti ini."
Carisa mengangguk. Setelah itu dia naik ke atas ranjangnya. Carisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Begitu juga dengan Andre yang ikut naik ke atas tempat tidur.
"Sudahlah, tidur. Nggak usah mikirin apa-apa," ucap Andre.
Carisa hanya mengangguk. Dia kemudian mencoba memejamkan matanya untuk tidur.
****
Tatapan Tata masih terfokus keluar. Dari kemarin Alena tidak ke sekolah Tata. Membuat Tata merasa kangen dengan dia. Apalagi sekarang Tata sudah tahu kalau Alena adalah ibu kandungnya.
'Tante Alena ke mana ya. Kenapa dia nggak ke sekolah aku lagi,' batin Tata.
Pandangan Bu Aini guru Tata, tiba-tiba terfokus pada Tata yang sejak tadi, masih menatap ke luar. Bu Aini berjalan dan menghampiri Tata.
"Tata, kamu lagi ngelihatin apa di luar?" tanya Bu Aini yang membuat Tata terkejut.
"Ngak kok Bu guru, aku nggak ngelihatin apa-apa," jawab Tata.
__ADS_1
"Tata, kamu yang fokus ya belajarnya. Sebentar lagi kamu mau lulus dan mau masuk SD. Kamu nggak boleh sering ngelamun seperti ini, belajarnya yang fokus ya," ucap Bu Aini.
Tata kembali menatap ke papan tulis.
"Iya Bu guru," ucap Tata.
"Kamu lagi nyariin mama kamu ya? mama kamu kan pulang dulu. Nanti dia akan jemput kamu. Kamu sama Bu guru dulu ya."
Tata hanya mengangguk.
Sejak kemarin, Tata memang berubah. Di dalam kelas, dia juga selalu murung dan tidak pernah mau fokus belajar. Guru Tata juga merasa heran dengan perubahan sikap Tata.
'Kenapa ya dengan Tata. Dia dari kemarin selalu murung. Apa Tata lagi punya masalah di dalam keluarganya. Aku harus cari tahu dan tanyakan ini sama Bu Carisa.' batin Bu Aini.
Waktu belajar Tata telah habis. Semua murid-murid Bu Aini sudah keluar meninggalkan kelas dan pulang dengan orang tua masing-masing. Tinggal Tata yang masih berada di dalam kelas menunggu Carisa menjemputnya.
"Tata, mama kamu belum jemput ya?" tanya Bu Aini.
"Belum Bu guru."
"Ayo ikut ibu keluar. Kita tunggu mama kamu di luar ya?"
Tata mengangguk. Dia menurut dengan Bu Aini. Tata dan Bu Aini kemudian keluar dari kelas. Mereka akan menunggu Carisa di luar.
Sejak tadi dia masih memikirkan Alena. Karena sudah beberapa hari ini, Alena jarang menemuinya.
Beberapa saat kemudian, suara mobil dari luar sekolah Tata terdengar.
"Itu mama kamu." Bu Aini menunjuk ke arah mobil Carisa.
Setelah sampai di depan sekolah Tata, Carisa turun dari mobilnya. Dia kemudian buru-buru berjalan menghampiri anaknya.
"Sayang," ucap Carisa saat berada di depan Tata. "Kamu udah nunggu dari tadi ya? maaf ya kalau mama telat," ucap Carisa.
Bu Aini tersenyum. Dia kemudian menatap Carisa.
"Bu Carisa. Ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu. Ini soal Tata Bu."
"Kenapa dengan Tata?" tanya Carisa.
__ADS_1
"Tata akhir-akhir ini, jadi jarang fokus pada mata pelajaran sekolahnya. Sebenarnya Tata kenapa sih Bu? apa Tata lagi punya masalah di rumah?"
Carisa menggeleng.
"Tata nggak punya masalah apa-apa kok Bu Aini. Emang Tata kenapa kalau di sekolah?"
"Begini Bu. Tata itu nggak fokus. Kadang dia melamun, kadang dia juga menatap keluar. Pokoknya Tata itu seperti orang bingung Bu. Seperti ada yang ditunggunya gitu lho Bu."
"Ya udah Bu Aini. Nanti aku bicara lagi sama Tata. Mungkin Tata sekarang jarang dapat perhatian dari ayahnya. Jadi ya gitu deh. Soalnya ayahnya itu lebih memperhatikan anaknya yang dari istri pertamanya itu dari pada perhatian sama anak kami."
"Oh, begitu ya Bu."
"Iya. Aku juga heran sama Papanya Tata. Orang sudah cerai aja, masih sering menghubungi mantan istrinya. Alasannya ya si Vino. Anaknya itu. Dia sudah merebut perhatian ayahnya Tata."
"Sabar ya Bu Carisa. Mungkin ini sudah cobaan untuk ibu. Jadi mantan istrinya Pak Andre sudah menikah?"
"Sudah. Fatia sudah menikah lagi. Sekitar satu bulan yang lalu."
"Ya kalau begitu, ibu nggak usah khawatir dong. Kan mantan istrinya Pak Andre sudah menikah. Itu artinya, dia tidak akan ganggu hubungan ibu dan Pak Andre."
"Iya sih. Tapi aku tetap sebel aja sama anaknya itu. Karena gara-gara dia, suamiku itu nggak perhatian lagi sama aku dan Tata," ucap Carisa
Bu Aini tersenyum.
"Duh, kok jadi curhat saya Bu. Maaf Bu Aini ya. Kalau begitu, saya permisi dulu Bu."
"Oh iya Bu Carisa."
Carisa bersalaman dengan Bu Aini. Setelah itu Carisa mengajak anaknya naik ke dalam mobil. Setelah itu, Carisa pun meluncur pergi meninggalkan sekolah Tata.
Tata sejak tadi masih diam.
"Tata kenapa diam aja? Tata marah ya sama mama karena mama telat jemput?" tanya Carisa.
Tata masih diam.
"Tata, mama lagi nanya sama kamu. Jawab dong. Kamu marah sama mama?"
Tata menatap Carisa lekat.
__ADS_1
"Aku nggak marah sama mama. Aku cuma kangen sama Tante Lena. Kenapa ya, sekarang Tante Lena jarang menemui aku."
'Hah, Alena lagi, Alena lagi. Untuk apa sih, Tata harus mengingat Alena. Kalau Alena bukan adik kandung aku, sudah aku lenyap kan dia sejak dulu. Benar-benar menyebalkan Alena itu. Sudah bertahun-tahun dia menghilang, kenapa sih dia harus muncul lagi dihadapan Tata dan mengakui pada Tata kalau dia ibu kandungnya.'