Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Tamparan untuk Carisa


__ADS_3

Carisa masih menatap kosong ke arah jalanan. Dia benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Carisa tidak akan diam saja saat rumah tangganya berada di ujung kehancuran.


"Aku nggak boleh menyerah. Aku harus tetap bujuk Mas Andre agar dia tidak menikah lagi dengan Ersa. Tapi bagaimana caranya aku menyingkirkan Ersa dari kehidupan Mas Andre," ucap Carisa.


Sejak tadi Carisa masih tampak berfikir. Dia ingin menghancurkan hubungan Ersa dengan Andre.


"Aku akan ke kantor Mas Andre. Aku ingin melabrak Ersa dan mempermalukan dia di depan umum. Kalau pelakor itu tidak berhak untuk dikasihani."


Beberapa saat kemudian Tata keluar dari kelasnya.


"Mama," ucap Tata.


Carisa masih diam. Sepertinya sejak tadi dia masih asyik dengan lamunannya tanpa menyadari kalau anaknya sudah berada di sisinya.


"Mama..." Tata memegang bahu ibunya yang membuat Carisa terkejut.


"Eh, sayang. Udah pulang?" tanya Carisa.


"Mama kenapa ngelamun?" tanya Tata sembari duduk di sisi ibunya


"Tata, mama nggak ngelamun kok."


"Mama lagi mikirin apa sih? mikirin papa ya?"


"Nggak kok sayang. Kepala mama cuma lagi pusing aja."


"Ya udah. Kita pulang yuk Ma."


"Iya sayang."


Carisa bangkit dari duduknya. Dia kemudian meraih tangan Tata dan menggandeng Tata sampai ke mobilnya.


Carisa membuka pintu mobil untuk anaknya.


"Masuk sayang," ucap Carisa.


"Iya Ma."


Tata kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu Carisa pun ikut masuk ke dalam mobilnya. Carisa kemudian meluncur pergi meninggalkan sekolah Tata.


"Mama, kita mau langsung pulang kan?" tanya Tata menatap lekat ke arah Carisa.


Carisa menatap sejenak anaknya sebelum pandangannya kembali ke depan.


"Mama mau ke kantor Papa dulu Nak," jawab Carisa di sela-sela menyetirnya.


"Mau ke kantor Papa? untuk apa Ma?"


"Mama kangen sama Papa Nak."


"Oh..." Tata mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.

__ADS_1


Carisa kemudian melajukan kendaraannya sampai ke kantor Andre.


Sesampai di depan kantor Andre, Carisa memarkirkan mobilnya di tempat parkir.


"Sayang, mama mau masuk ke dalam sebentar. Kamu mau tunggu di sini, atau kamu ikut mama masuk ke dalam?" tanya Carisa pada Tata.


"Aku mau ikut mama," jawab Tata.


"Ya udah, ayo turun!" pinta Carisa.


Carisa dan Tata kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu mereka masuk ke dalam kantor Andre.


Carisa menuju ke ruangan Andre bersama Tata.


Sebelum dia sampai di depan ruangan Andre, seorang lelaki menghampirinya.


"Bu Carisa ya?" ucap Lelaki itu.


Carisa tersenyum dan mengangguk. "Iya."


"Selamat siang Bu."


"Siang..."


"Ibu ke sini mau cari Pak Andre ya?"


"Iya. Mas Andrenya ada di ruangannya kan?"


"Pergi sama siapa? sama sekretarisnya ya?"


"Iya Bu. Sudah sejak tadi pagi. Katanya sih lagi meeting di luar sama klien."


Carisa menghela nafas dalam. Dia saat ini memang sangat cemburu sekali melihat kedekatan Andre dengan Ersa. Ingin rasanya Carisa untuk memaki-maki Ersa di depan umum dan menjambak-jambak rambutnya.


"Kalau ibu mau nunggu Pak Andre, masuk saja ke ruangannya. Tunggu saja Pak Andre di ruangannya. Mungkin sebentar lagi Pak Andre datang."


"Iya Pak. Makasih untuk informasinya. Biar saya tunggu di luar saja."


Carisa dan Tata kemudian berjalan keluar dari kantor Andre. Carisa dan Tata akan menunggu Andre di luar.


"Mama, kita mau ke mana?" tanya Tata yang bingung karena sejak tadi dia masih di ajak bolak-balik oleh Carisa.


"Kita mau nunggu papa di dalam mobil saja sayang," jawab Carisa.


Tata mengangguk.


Carisa kemudian menggandeng Tata sampai masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil melaju sampai ke tempat parkir. Carisa sangat hafal sekali mobil suaminya.


"Itu pasti mas Andre sama si pelakor itu," gumam Carisa.

__ADS_1


Carisa menunggu Andre dan Ersa turun dari mobilnya.


"Tata, kamu tunggu di sini ya. Mama mau keluar sebentar."


Tata mengangguk. Carisa kemudian keluar untuk menunggu keluarnya Ersa dan Andre dari dalam mobil.


***


Andre dan Ersa masih berada di dalam mobilnya. Mereka kemudian turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kantor. Sementara Carisa, sejak tadi masih mengikuti langkah suaminya.


"Auhh...Aaaahhh..." Ersa mengerang kesakitan saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang.


"Dasar pelakor. Kamu sudah berani-beraninya merebut suamiku. Aku tidak akan pernah membuat kamu merasa tenang selagi kamu masih dekat dengan suamiku," suara Carisa sudah menggema di dalam kantor.


Dia dengan lantang mengatakan kalau Ersa adalah pelakor. Dia memang sengaja ingin membuat Ersa malu di depan orang-orang.


Semua karyawan Andre yang mendengar suara Carisa saling menatap. Mereka kemudian buru-buru berjalan ke depan untuk melihat apa yang terjadi di depan kantor.


"Auh... Bu Carisa.. lepaskan rambut aku Bu ... sakit," ucap Ersa sembari memegangi tangan Carisa.


Sejak tadi Ersa masih mencoba untuk melepaskan jambakan Carisa. Namun jambakan Carisa terlalu kuat dan susah untuk dilepaskan. Jambakan Carisa sudah membuat kepala Ersa terasa perih.


"Sakit ini tidak seberapa dibandingkan sakitnya hati aku pelakor. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menang dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut suami aku," ucap Carisa.


Andre terkejut saat melihat istrinya tiba-tiba saja menyerang Ersa.


Andre menatap sekeliling. Dia sangat malu, saat semua karyawannya sudah menonton adegan istrinya yang menjambak Ersa dan ngata-ngatain Ersa macam-macam.


'Duh, benar-benar Carisa ini. Dia sudah membuat malu aku dan Ersa di depan karyawan-karyawan ku,' batin Andre.


Andre tidak tinggal diam. Dia kemudian mendekat ke arah Carisa. Dia menarik paksa Carisa dan menyeretnya keluar.


"Auh...Mas. Sakit banget Mas tangan aku," ucap Carisa saat Andre sudah menggenggam erat pergelangan tangannya dan menariknya sampai ke tempat yang sepi.


Andre menghempaskan tangan Carisa.


"Plak..." tiba-tiba saja Andre menampar pipi Carisa dengan sangat kencang. Membuat Carisa meringis kesakitan.


"Mas, kamu tega banget nampar aku," Carisa menatap tajam ke arah Andre sembari memegangi pipinya yang masih terasa sakit.


Andre menunjuk ke arah Carisa.


"Wanita sialan. Apa yang sudah kamu lakukan pada Ersa heh...! kamu sudah membuat aku dan Ersa malu Carisa. Apa sebenarnya mau kamu heh!"


"Aku akan melakukan lebih dari ini kalau sampai kamu menikahi Ersa Mas. Aku bisa saja menghabisi Ersa sekarang juga," ancam Carisa.


"Apa! kamu ngancam aku? kekuatan kamu tidak sebanding dengan kekuatan aku Carisa. Kalau kamu sampai macam-macam sama Ersa, aku bisa saja ceraikan kamu sekarang juga Carisa. Aku akan usir kamu dari rumahku. Biar sekalian kamu menjadi gembel."


Carisa terkejut saat mendengar ucapan suaminya.


"Apa! gampang banget kamu bicara seperti itu mas setelah apa yang sudah kita lewati bersama. Suka duka sudah kita lalui bersama. Bahkan sejak jaman kita masih sekolah. Aku sudah banyak berkorban untuk kamu. Tapi gara-gara wanita itu, kamu berubah. Kamu seperti bukan Mas Andre yang aku kenal. Mas Andre yang aku kenal tidak seperti ini Mas. Dia lelaki yang sangat setia," ucap Carisa panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2