Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kecurigaan Carisa.


__ADS_3

"Maaf sayang. Aku bahagia banget soalnya," ucap Remon.


"Nggak usah peluk-peluk seperti ini dong," ucap Fatia dengan menahan malu.


Dokter hanya senyam-senyum sendiri sejak tadi saat melihat tingkah Remon.


"Bu Fatia, kalau boleh saya tahu, ini kehamilan anda yang ke berapa?" tanya dokter.


"Yang ke dua Dok," jawab Fatia.


"Tapi ini anak saya yang pertama," ucap Remon.


Dokter mengernyitkan alisnya. Tampak bingung dengan jawab ke duanya.


"Maksudnya?"


"Maksudnya, begini dok. Mas Remon ini suami ke dua saya. Dan saya baru menikah satu bulan dengannya."


"Oh, jadi dengan suami yang sebelumnya juga sudah punya anak?"


"Iya. Dia sudah masuk SD."


"Oh... ya selamat ya untuk kalian berdua. Dan saya akan tuliskan resep vitamin untuk Bu Fatia."


Dokter kemudian menulis resep vitamin untuk Fatia. Setelah itu dia menyerahkan kertas resep itu pada Remon.


"Ini Pak,saya sudah tuliskan resep Vitamin untuk Bu Fatia. Anda bisa menembusnya di apotik."


"Makasih banyak ya Dok."


"Tolong dijaga ya Bu kehamilannya. Karena usai kandungan yang masih muda, biasanya masih rawan mengalami keguguran. Pokoknya perbanyak istirahat, jangan kelelahan, dan ibu hamil itu nggak boleh sampai stres. Dan jangan dulu mengangkat beban berat. Karena semua itu bisa mempengaruhi kondisi janin anda."


"Iya Dokter. Saya akan jaga kandungan saya."


Setelah berpamitan dengan dokter, Fatia dan Remon kemudian keluar dari ruangan dokter. Sebelum pergi dari klinik ,mereka menebus obat terlebih dahulu. Setelah itu mereka meluncur pulang dengan mobilnya.


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Fatia tiba-tiba saja terdengar.


"Handphon kamu bunyi sayang," ucap Remon di sela-sela menyetirnya.


Fatia mengambil ponselnya.


"Dari mama Mas."

__ADS_1


"Angkat sayang."


Fatia kemudian mengangkat panggilan dari Bu Rima.


"Halo Fatia. Kamu ada di mana? kenapa belum pulang jam segini?"


"Eh Ma. Aku baru dari klinik Ma. Kenapa emang?"


"Vino udah pulang dari tadi. Dia nangis nungguin kamu nggak pulang-pulang."


"Oh, Vino pulang ke rumah? aku fikir, dia pulang ke rumah papanya."


"Cepat kamu pulang. Kasihan Vino. Dia sendirian. Dari tadi dia nungguin kamu."


"Iya Ma, ini aku juga lagi di dalam perjalanan pulang."


"Ya udah. Cepat pulang. Mama mau tenangin Vino dulu."


"Iya Ma."


Fatia menutup saluran telponnya. Dia kemudian menatap suaminya.


"Vino sudah ada di rumah. Dia nangis nungguin kita."


"Oh, Vino udah pulang?"


"Iya Fatia."


****


Jam sepuluh malam, Andre baru sampai di rumahnya. Setelah mengajak Ersa makan malam dan mengantar Ersa sampai rumah, Andre kemudian pulang ke rumahnya. Sementara sejak tadi Carisa masih menunggu Andre di dalam kamarnya.


Andre turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Andre berjalan naik ke lantas atas untuk ke kamarnya.


Andre membuka pintu kamarnya.


"Dari mana aja kamu mas jam segini baru pulang?" tanya Carisa menatap tajam suaminya.


"Carisa. Kamu kenapa?" tanya Andre saat menatap wajah istrinya.


Carisa menghampiri Andre dan mendorong dada Andre.


"Sekarang kamu berubah Mas. Apa sih, yang membuat kamu berubah?" tanya Carisa.


"Berubah gimana sih Carisa. Apa maksud kamu bicara seperti itu?"

__ADS_1


"Mas, akhir-akhir ini kamu sering pulang malam. Setiap weekend, kamu juga jarang libur. Kamu tidak pernah punya waktu untuk aku dan anak kita. Apa yang kamu lakukan di luar sana Mas? atau jangan-jangan, benar dugaanku. Kalau kamu ada wanita lain di luar sana?" ucap Carisa yang membuat Andre terkejut.


"Carisa. Apa maksud kamu bicara seperti itu sama aku? kamu nuduh aku selingkuh?"


"Siapa yang nuduh kamu? kamu merasa tertuduh? jadi benar kalau kamu selingkuh."


"Aku nggak selingkuh Carisa. Kamu itu jangan sembarangan bicara."


"Sini, mana hape kamu. Aku yakin, kalau kamu lagi punya hubungan dengan wanita yang bernama Ersa. Aku sering banget Mas lihat panggilan masuk dan panggilan keluar dari Ersa. Walau kamu sudah hapus semua chat kamu, tapi aku tahu kalau kamu dan Ersa sering bertelponan."


"Carisa. Kamu sudah salah paham sama aku. Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Ersa."


"Ya terus siapa Ersa. Kamu menyimpan kontak wanita yang bernama Ersa. Kalau kamu nggak punya hubungan, kenapa kalian sering telponan?"


"Ya ampun Carisa. Kamu cemburu sama Ersa? Ersa itu sekretaris aku Carisa. Dan aku nggak punya hubungan apa-apa dengan dia. Kecuali hubungan di antara seorang bos dan karyawannya."


"Apa! sekretaris? kenapa kamu nggak bilang kalau sekretaris kamu itu sekarang seorang wanita."


"Untuk apa aku bilang-bilang sama kamu. Ini urusan kantor. Nggak perlukan aku menceritakan semua urusan kantor aku sama kamu."


"Mas, kamu itu sekarang udah banyak bohong. Dan dari dulu, kamu itu selalu saja bohongi aku. Kapan sih Mas, kamu bisa mencintai aku dengan tulus. Kapan Mas, kamu bisa membahagiakan aku dan Tata."


"Carisa. Aku sudah memberikan semuanya untuk kamu. Aku sudah memberikan kamu nafkah lahir batin dah kehidupan yang mewah seperti apa yang kamu inginkan. Apa lagi Carisa yang kamu inginkan dari aku?"


"Aku ingin kamu mau jujur sama aku. Kenapa sekarang kamu berubah. Siapa yang sudah membuat kamu berubah jadi dingin banget sama aku Mas? pasti sekretaris kamu itu kan yang membuat kamu jadi jauh dari aku?"


Andre tidak mau meladeni kemarahan istrinya. Karena saat ini dia sangat lelah. Pekerjaan kantornya yang banyak, membuatnya begitu lelah.


Andre meletakan tasnya di tempatnya. Dia kemudian membuka dasinya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Mas, jawab aku Mas. Kenapa kamu diam aja?" Carisa masih menatap Andre tajam.


Setelah melepas dasi dan sepatunya, Andre kemudian bangkit dari duduknya.


"Aku capek Carisa. Aku lelah. Dan aku nggak mau berantem sama kamu."


Andre berjalan untuk berjalan untuk ke kamar mandi.


Andre mencuci tangan, kaki dan wajahnya. Dia kemudian menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Apa-apaan sih Carisa. Dia kenapa nuduh aku selingkuh dengan Ersa. Aku memang suka dengan Ersa. Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Ersa ke aku. Sampai saat ini, tidak ada hubungan yang spesial di antara aku dan Ersa. Tapi kenapa Carisa tiba-tiba marah-marah nggak jelas begitu."


Andre kembali membasuh wajahnya. Setelah hatinya siap untuk menghadapi istrinya dia kemudian keluar dari kamar mandi.


Andre menatap istrinya yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang. Andre terkejut saat melihat Carisa menangis.

__ADS_1


Andre berjalan duduk di sisi Carisa.


"Kenapa kamu nangis? apa yang sedang kamu tangisi ? apakah kamu masih mau menuduh aku selingkuh? apakah kamu punya bukti perselingkuhan aku?" tanya Andre


__ADS_2