
Suara tangisan Remon terdengar dari balik telpon.
"Halo Mas. Kamu kenapa? kenapa kamu nangis?"
"Papa aku Fatia. Papa aku..."
"Kenapa dengan papa kamu?"
Remon diam. Dia hanya bisa menangis. Tidak sanggup untuk mengatakan kalau ayahnya sekarang sudah meninggal dunia.
Fatia juga mendengar suara seseorang menangis di dekat Remon yang sepertinya adalah suara Bu Rima.
"Mas, ada apa? kamu mau bicara apa Mas? papa kamu baik-baik aja kan?"
"Papa aku, sudah tidak bisa diselamatkan lagi Fatia. Dia sudah meninggal."
"Apa! ya Allah..."
Tubuh Fatia melemas saat mendengar kabar buruk dari Remon. Fatia tidak menyangka kalau ayah mertuanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan sekarang dia sudah meninggal dunia.
Fatia tiba-tiba saja menangis. Sementara ponselnya dia jatuhkan ke atas ranjangnya. Fatia duduk di sisi ranjang sembari menangis.
Bik Ning sejak tadi masih memperhatikan Fatia. Dia kemudian mendekat ke arah menantu majikannya itu.
"Non, ada apa? kenapa Non menangis?" tanya Bik Ning sembari duduk di sisi Fatia.
Fatia menatap Bik Ning dengan berderaian air mata.
"Papa Bik. Papa sudah meninggal dunia."
"Innalilahi..." ucap Bik Ning. Bik Ning sama sekali tidak menyangka kalau ternyata majikannya itu sudah meninggal dunia.
"Sabar ya Non. Ini semua sudah takdir. Jangan ditangisi Non. Lebih baik kita berdoa saja agar Pak Wibowo ditempatkan di tempat yang baik di sisi Nya."
Bik Ning, meraih kepala Fatia dan menenggelamkan kepala Fatia di dadanya. Bik Ning mencoba untuk menenangkan Fatia yang saat ini masih sangat syok.
****
Siang ini, sudah hadir banyak orang di pemakaman ayah Remon. Ayah Remon memang orang yang sangat baik semasa hidupnya. Makanya, banyak orang yang kehilangan saat dia pergi untuk selamanya meninggalkan dunia.
Bu Rima masih berdiri di dekat Remon. Sejak tadi, dia masih menangis melihat suaminya di makamkan.
Fatia juga masih berdiri di sisi Remon. Sesekali dia menabur bunga di atas pemakaman Pak Wibowo.
"Fatia. Yang sabar ya Nak," ucap Pak Fendi. Dia mendekati Fatia dan memberikan dia semangat.
Fatia mengangguk. "Iya Pa. Aku udah ikhlaskan papanya Mas Remon."
"Fatia. Papa dan mama pulang dulu ya."
__ADS_1
"Iya Pa. Hati-hati di jalan ya."
"Remon, Bu Rima. Kami pamit pulang dulu ya," ucap Bu Dewi sebelum pergi meninggalkan pemakaman Pak Wibowo.
"Iya. Hati-hati ya Bu Dewi," ucap Bu Rima.
"Hati-hati ya Ma, Pa,"
"Iya Remon. Kamu harus kuat ya. Mulai sekarang, tanggung jawab Fatia, sudah pindah ke kamu. Jaga Fatia baik-baik Remon."
"Iya Pa."
Setelah orang tua Fatia berpamitan pada Fatia dan Remon, mereka kemudian pergi meninggalkan makam.
Remon, Fatia dan Bu Rima masih berada di dekat makam
"Ma, ayo kita pulang Ma?" ucap Remon.
"Nanti dulu Remon. Mama masih ingin di sini, menemani papa kamu."
"Ma, kita harus ikhlas kan Papa Ma. Biar Papa tenang di sisiNya."
Setelah Remon membujuk ibunya, akhirnya Bu Rima mau pulang juga ikut bersama Remon dan Fatia.
****
Foto itu kenangan satu-satunya yang dia simpan sampai saat ini. Setetes air mata Andre membasahi pipi Andre. Andre kemudian mengusapnya kasar.
"Mulai saat ini, aku benar-benar akan melupakan cintaku untuk Fatia. Sudah tidak ada kesempatan untuk aku lagi, untuk balik lagi dengan Fatia. Dan semua ini, gara-gara Carisa dan Remon. Mereka berdua, yang selama ini menjadi penghalang untuk aku bisa mendapatkan Fatia," gumam Andre.
Andre kemudian membanting foto pernikahannya itu sampai bingkainya pecah berserakan di lantai. Setelah itu, dia memungut foto itu dan menyobek-nyobeknya sampai menjadi serpihan-serpihan kecil.
Dari dulu, Andre memang masih memendam rasa pada Fatia. Dan dia juga masih berharap, dia bisa berjodoh lagi dengan ibu kandungnya Vino itu.
"Papa...Papa..." seruan Vino mengejutkan Andre. Andre segera ke luar dari kamar kosong itu dan melangkah menemui anaknya.
"Papa... papa..."
Andre kemudian menghampiri Vino yang saat ini sudah berada di ruang tengah.
"Vino..." ucap Andre.
Vino menatap Andre dan tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah ayahnya.
Andre langsung menggendong Vino. Dia kemudian mengajak Vino ke luar dari rumahnya.
"Papa kenapa? kok papa matanya merah. Papa habis nangis ya?" tanya Vino saat menatap Andre.
"Oh, nggak kok. Untuk apa papa nangis. Papa cuma kelilipan aja tadi."
__ADS_1
"Oh. Kita main bola yuk Pa. Aku pengin main bola deh sama papa."
"Ayo. Kamu berani lawan papa?"
"Berani dong Pa."
Tata menatap dari kejauhan Andre dan Vino yang tampak masih asyik bermain sepak bola di halaman depan rumahnya.
"Setelah Kak Vino tinggal di sini, Papa aku jadi berubah. Dia jadi cuek sama aku. Dia jadi lebih sayang sama Kak Vino dibandingin sama aku," ucap Tata.
Sudah dua hari ini, Vino ada di rumah Andre. Waktu-waktu Andre, dia curahkan untuk Vino semua. Sampai-sampai, Andre mengabaikan pekerjaan kantornya. Andre ingin membuat Vino kerasan tinggal di rumahnya. Agar Vino tidak minta pulang lagi ke rumah Fatia. Karena Andre juga tidak rela, jika Remon memiliki Vino juga.
Tata masuk ke dalam rumah dengan tampang ditekuk. Dia kemudian mencari ibunya yang saat ini masih istirahat di kamarnya.
Tata membuka kamar ibunya dengan perlahan. Dia kemudian mendekat ke tempat tidur ibunya dan duduk di sisi tempat tidur.
"Hiks...hiks...hiks..."
Carisa yang merasakan kehadiran anaknya, segera mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap Tata yang saat ini sedang menangis di dekatnya.
"Lho, Tata. Kamu kenapa nangis?" tanya Carisa sembari beringsut duduk.
Carisa kemudian mendekat ke arah Tata.
"Anak mama kenapa, kenapa nangis sayang?" tanya Carisa.
Tata menatap ibunya dengan berderaian air mata.
"Mama, kenapa sih Papa jadi berubah sama aku, sejak kehadiran Kak Vino di rumah ini. Papa jadi cuek banget sama aku."
Carisa diam. Dia menarik nafasnya dalam.
"Mama juga nggak tahu tuh kenapa papa kamu jadi seperti itu. Mama juga kesel sebenarnya, kalau Vino tinggal di sini. Karena papa kamu jadi cuek sama kamu dan mama."
Carisa tersenyum. Saat terbersit fikiran kotor di hatinya.
"Mama punya ide sayang," ucap Carisa sembari tersenyum.
"Ide apa Ma?"
"Kita buat Kak Vino nggak betah aja tinggal di sini."
"Caranya Ma?"
"Pokoknya, kamu tenang aja. Mama bisa buat Kakak tiri kamu itu, nggak betah tinggal di sini dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya."
Carisa memang wanita licik. Seribu cara pasti akan dia lakukan demi mendapatkan apa yang dia mau. Seandainya, Carisa sudah bertindak, Vino pasti akan dalam bahaya tinggal di rumah Andre. Entah apa yang akan Carisa lakukan pada Vino.
Mungkinkah, dia akan mengerjai Vino habis-habisan di rumah itu, dan membuat Vino tidak betah.
__ADS_1