
"Apa kamu bilang Mas. Aku ibu tiri yang kejam? kamu itu memang selama ini nggak pernah bisa menghargai aku Mas. Kamu nggak pernah mau ngerti aku," ucap Carisa.
"Selama ini, aku sudah sabar dan berusaha mengerti kamu. Tapi, apa yang aku dapatkan. Aku selalu salah di mata kamu. Dan sekarang kamu bilang aku ini, ibu tiri yang kejam. Padahal aku sama sekali nggak pernah ngapa-ngapain Vino. Apalagi sampai menyiksa dia. Aku juga sayang sama Vino Mas."
Carisa sudah menatap tajam ke arah suaminya. Namun tampaknya Andre santai saja menanggapi kemarahan Carisa.
"Sudahlah Carisa. Aku mau tidur. Aku ngantuk banget Carisa. Dan aku malas harus berdebat sama kamu lagi."
Andre berbaring dan langsung memejamkan matanya. Sementara Carisa sejak tadi, masih berusaha untuk meredakan emosinya. Dia juga udah lelah dan mengantuk. Dia tidak mau memperpanjang masalahnya dengan suaminya.
Untuk saat ini, Carisa harus banyak mengalah. Karena Carisa sudah merasakan ada yang sudah berubah dalam diri Andre. Carisa tidak mau, hubungan rumah tangganya sama Andre sampai hancur hanya karena masalah sepele.
"Lama-lama, kamu ini benar-benar menyebalkan Mas," ucap Carisa.
Carisa kemudian turun dari ranjangnya. Dia membawa bantal dan selimutnya. Sepertinya dia ingin pindah tidur di kamar anaknya.
Andre yang sejak tadi masih pura-pura tidur, membuka matanya yang sebelah. Andre tersenyum saat Carisa menutup pintu kamarnya dan pergi meninggalkan Andre.
"Saatnya aku cas hape dan ngechat Ersa," ucap Andre dengan wajah berbunga-bunga.
****
Sepulang dari kantor, Remon tidak langsung pulang dulu ke rumahnya. Dia mampir dulu ke toko mainan untuk membeli mobil-mobilan untuk Vino.
Vino ingin beli mobil-mobilan lagi, karena semua mainan dia tinggal di rumah Oma Dewi. Kemarin waktu datang ke rumah Remon, Vino cuma membawa baju-bajunya saja.
Ring ring ring...
Deringan ponsel Remon mengejutkan Remon. Remon mengambil ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari Fatia.
"Halo sayang..."
"Halo Mas. Kamu ada di mana? tumben jam segini belum pulang?"
"Sayang, ini aku juga lagi meluncur pulang. Tapi aku mau mampir dulu ke toko mainan. Mau membelikan Vino mainan."
"Untuk apa Mas? mainan Vino kan udah banyak."
"Tapi itu kan di rumah Omanya. Dan itu juga, kebanyakan mainan yang dibelikan Andre semua. Aku pengin Vino itu betah tinggal dengan kita, dan aku harap Vino mau menerima aku sebagai ayahnya dan mau menganggap aku sebagai ayah kandungnya."
"Mas, nggak usah berlebihan gitu. Tanpa kamu belikan apapun, Vino memang udah mau menerima kamu. Buktinya, dia udah mau memanggil kamu ayah."
"Iya sih. Tapi, aku nggak tega aja. Di rumah aku nggak ada mainan apa-apa sayang."
__ADS_1
"Ya udahlah, terserah kamu aja Mas. Tapi, jangan lama-lama ya pulangnya."
"Iya sayang. I love you..."
"I love you too..."
Remon mematikan saluran telponnya. Setelah itu kembali fokus menyetir.
Setelah sampai di depan toko mainan, Remon turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam toko itu.
"Cari apa Pak?" tanya seorang pelayan pada Remon.
"Cari mobil yang besar. Yang ada remote nya bila perlu."
"Oh, mari Pak Silahkan pilih-pilih..."
Dulu, sewaktu Remon masih menjadi dosen, Remon belum bisa membelikan Vino banyak mainan karena Remon tidak punya banyak uang seperti sekarang.
Namun, setelah dia menjadi pengusaha menggantikan posisi ayahnya, Remon semakin sukses saja. Dan sekarang, Remon sudah bisa memanjakan istri dan anaknya dengan sering membelikan barang-barang berharga untuk mereka berdua. Remon juga tidak mau kalah bersaing dengan Andre.
Setelah membelikan mainan untuk Vino, Remon pun kemudian memutuskan untuk pulang.
****
"Ayah. Apa ayah membeli mobil-mobilan?" tanya Vino menatap Remon lekat.
Vino memang sudah memesan mobil-mobilan dari kemarin. Dan baru kali ini, Remon punya waktu untuk membelinya.
Remon tersenyum.
"Sudah dong sayang. Coba saja sana lihat, ayah belum sempat menurunkannya," ucap Remon.
Vino dengan terburu-buru, berjalan ke luar dari rumahnya. Dia kemudian mendekat ke mobil Remon. Vino tersenyum saat melihat ke dalam mobil. Remon sudah membelikan Vino banyak mainan.
"Wah, ayah baik banget. Udah membelikan aku banyak mainan. Ternyata, ayah Remon juga punya banyak uang, sama seperti papa."
Remon duduk di sofa ruang tamu. Beberapa saat, Fatia menghampirinya.
"Mas, kamu udah pulang. Vino ke mana?" tanya Fatia menatap sekeliling.
"Dia ke luar sayang. Mau melihat mainannya."
Fatia yang penasaran, langsung ke luar untuk menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Vino. Lagi ngapain kamu di sini?" tanya Fatia.
Vino menoleh ke arah Fatia.
"Ma, lihat deh. Ayah Remon, sudah membelikan aku mainan banyak," ucap Vino dengan wajah berbunga-bunga.
Fatia melihat ke dalam mobil dan terkejut.
'Apa-apaan Mas Remon. Dia membelikan Vino mainan sebegitu banyaknya untuk apa coba. Sampai semobil penuh.' batin Fatia.
Fatia terkejut saat Remon sudah berdiri di sisinya.
"Mas, untuk apa kamu beli mainan sebanyak ini?" tanya Fatia.
"Biar Vino senang dan betah tinggal di rumahku," jawab Remon.
"Nggak harus seperti ini kali Mas. Kamu itu sama aja kayak Mas Andre. Sama-sama suka memanjakan Vino." Fatia mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, jangan gitu dong. Vino itu juga anak aku. Aku ingin membahagiakan Vino sama seperti Andre."
"Bukan membahagiakan itu namanya Mas. Tapi, memanjakan. Vino bakalan manja terus, kalau kamu manjakan seperti ini."
Bukannya senang, Fatia malah tampak kesal dengan Remon.
****
Malam ini, Bu Rima, Remon dan Fatia sudah berada di ruang makan. Sementara Vino, dia tidak ikut makan bareng karena dia masih sibuk dengan mainannya di kamar.
"Vino kemana? nggak ikut makan?" tanya Bu Rima.
"Nggak Ma. Dia lagi sibuk sama mainannya. Tadi kan Mas Remon sudah membelikan Vino banyak mainan. Jadi ya, gitu deh. Lupa sama makan."
"Ya udah Fatia. Biarkan saja. Nanti kamu bujuk Vino makan kalau dia belum makan."
"Iya Ma."
Bu Rima, Fatia dan Remon kemudian makan bersama. Rumah Remon besar, namun terlihat sepi karena penghuninya sedikit.
Mungkin jika Fatia dan Vino tidak tinggal di rumah itu, hanya Bu Rima dan Remon saja yang menghuni rumah itu. Karena sekarang ayahnya Remon juga sudah meninggal.
Sebenarnya, Bu Rima ingin sekali cepat-cepat punya cucu. Karena dia ingin, suasana rumah menjadi ramai lagi. Mungkin jika ada kehadiran anak kecil di rumah itu, rumah itu akan kembali ramai oleh celoteh-celoteh mereka.
Sudah sejak dulu, rumah Bu Rima sepi. Bu Rima rindu dengan sosok anak-anak kecil di rumahnya. Maklumlah, anak Bu Rima juga cuma Remon.
__ADS_1