
Andre masih fokus menyetir. Dia menyetir sembari sesekali menatap ke arah sepion mobilnya. Andre tersenyum saat melihat Vino dan Fatia masih tampak berbincang-bincang.
"Vino. Kamu janji ya, nanti kalau di sekolah jangan buat masalah lagi. Kamu ini, sudah sering banget buat masalah Vino," ucap Fatia.
Vino yang sejak tadi masih mendapatkan nasihat dari Fatia, hanya bisa diam. Entah dia mau mendengarkan atau tidak. Dia sejak tadi, hanya menatap ke layar ponselnya untuk bermain game.
"Vino. Kamu dengar nggak mama bicara?" tanya Fatia.
"Dengar kok Ma. Aku selalu dengar nasihat mama. Kata Om Remon, aku harus nurut sama mama. Karena surga itu, ada di telapak kaki mama. Aku ingin Ma, masuk surga," ucap
Fatia tersenyum.
"Nah, kalau gitu kamu jangan nakal dan jangan bandel dong. Kamu harus nurut sama mama ya sayang."
"Iya Ma."
****
Tin tin tin...
Suara klakson mobil sudah terdengar dari luar rumah Bu Dewi. Remon sudah sampai di depan rumah Bu Dewi. Dia akan menjemput Fatia.
"Fatia ke mana ya, kok nggak keluar-keluar," ucap Remon sembari menatap ke arah pintu depan rumah Fatia.
"Biasanya, jam segini dia udah siap. Kenapa dia lama sekali. Aku turun aja kali ya," ucap Remon lagi.
Remon kemudian turun dari mobilnya. Dia berjalan menuju ke teras depan rumah Bu Dewi.
Tok tok tok ..
Remon mengetuk pintu rumah Bu Dewi. Beberapa saat kemudian, Nessa muncul dari balik pintu sembari membawa anaknya yang sudah berusia dua tahun.
"Kak Remon," ucap Nessa.
"Em, Fatianya ada?" tanya Remon.
"Kak Fatianya, udah berangkat dari tadi tuh Kak," jawab Nessa.
"Berangkat dari tadi? sama siapa?"
"Nggak tahu."
"Kok dia nggak bilang sama aku."
"Mungkin dia buru-buru kali Kak."
"Nessa. Siapa Nes...!" seruan Bu Dewi dari dalam rumah terdengar.
"Kak Remon Ma...!" seru Nessa.
Beberapa saat kemudian, Bu Dewi menghampiri Remon yang ada di teras depan.
"Eh, ada Nak Remon. Masuk yuk Nak!" Bu Dewi mempersilahkan Remon masuk.
"Oh. Tidak usah Tan. Aku ke sini, sebenarnya mau jemput Fatia."
"Fatianya udah berangkat duluan tuh," ucap Bu Dewi.
"Tumben ya Tan. Fatia cepat banget."
"Iya. Dia mau mampir ke rumahnya Andre katanya."
__ADS_1
Remon terkejut saat mendengar ucapan Bu Dewi.
"Apa! ke rumah Andre. Untuk apa?"
"Vino kan semalam ikut ayahnya ke rumah ayahnya, dan Fatia ke sana, untuk memastikan kalau Vino baik-baik saja tidur di rumah Andre."
Kenapa Fatia nggak bilang sama aku, kalau dia mau ke rumah Andre, batin Remon.
"Ya udah deh Tan, kalau begitu. Aku pergi dulu ya. Aku juga udah buru-buru mau ke kantor."
"Iya Nak. Kamu nggak mau mampir dulu, sarapan di dalam? Masakan Tante udah matang lho."
"Oh, nggak usah repot-repot Tan. Aku udah kenyang kok. Tadi di rumah udah sarapan."
Remon mencium punggung tangan Bu Dewi.
"Aku berangkat dulu ya Tan."
"Iya. Hati-hati ya Nak Remon."
"Iya Tan."
Setelah berpamitan dengan Bu Dewi, Remon kemudian pergi meninggalkan rumah Fatia. Dia tampak kecewa karena wanita yang akan dijemputnya ternyata sudah pergi duluan.
*
Setelah mengantar Vino ke sekolah, Andre kemudian mengantar Fatia ke tempat kerjanya.
Andre dan Fatia sejak tadi, masih saling diam.
"Fatia. Kenapa kamu nggak kerja di kantor aku aja? di kantor aku, banyak lowongan kerjaan lho," ucap Andre.
Fatia menatap Andre sejenak.
"Iya. Aku tahu, kerja di kantor kamu gajinya gede. Dan di sana, juga kerjanya enak. Tapi, aku nggak bisa kembali ke kantor kamu lagi Mas."
"Kenapa?"
"Aku masih kebayang-bayang aja sama masa lalu aku yang pahit di sana."
Andre meraih tangan Fatia dengan salah satu tangannya. Setelah itu Andre menggenggamnya erat.
"Maafkan aku ya Fatia. Jika tidak ada peristiwa malam itu, tidak akan pernah ada Vino di antara kita. Dan kita tidak akan sedekat ini," ucap Andre.
Fatia sebenarnya risih kalau Andre memegang tangannya. Dia juga selalu berusaha untuk menjaga perasaan Remon. Karena Fatia tidak mau Remon salah sangka dengan kedekatan Andre dan Fatia.
Fatia dengan cepat, menarik tangannya dari genggaman tangan Andre.
Ring ring ring ...
Deringan ponsel Fatia tiba-tiba saja berbunyi. Fatia langsung mengangkat telpon dari Remon.
"Halo sayang, kamu lagi ada di mana?" suara Remon sudah terdengar dari balik telpon.
"Mas Remon. Aku lagi ..."
"Kamu lagi sama Andre ya. Kenapa kamu nggak bilang dulu sama aku kalau kamu mau ketemu sama Andre. Tadi aku mampir ke rumah kamu, untuk jemput kamu. Tapi kamunya nggak ada."
"Maafkan aku ya Mas. Aku nggak izin dulu sama kamu."
"Ya nggak apa-apa. Lain kali izin dulu ya sama aku. Jadi aku nggak susah-susah ke rumah kamu dan jemput kamu."
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf ya Mas."
"Iya. Kamu udah nyampe ke tempat kerja kamu?"
"Aku masih diperjalanan Mas."
"Kamu lagi sama Andre ya."
"Iya. Tapi kamu tenang aja. Aku bisa jaga sikap kok."
"Iya. Aku percaya sayang. Aku juga mau ke kantor. Kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya Mas. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Fatia kemudian memutuskan saluran telponnya.
"Dari Remon ya. Bicara apa dia sama kamu?" tanya Andre di sela-sela menyetirnya.
"Dia nggak bicara apa-apa," jawab Fatia.
"Dia marah ya sama kamu ,karena sekarang kamu sedang sama aku."
"Nggak. Mas Remon nggak marah kok. Cuma mungkin, dia kecewa aja, karena waktu dia ke rumah aku, aku udah nggak ada."
"Oh. Ya syukurlah kalau dia nggak marah."
Beberapa saat kemudian, mobil Andre sudah sampai di depan restoran tempat di mana Fatia kerja.
"Aku turun dulu ya Mas," ucap Fatia.
Sebelum Fatia turun dari mobil Andre, Andre buru-buru mencekal lengan Fatia.
"Tunggu," ucap Andre.
Fatia menoleh ke arah Andre.
"Kamu kerja di kantor aku aja Fatia. Aku akan tempatkan kamu di posisi bagus. Dari pada kamu kerja di restoran seperti ini. Kamu juga sering banget kan di marahin bos kamu?"
"Mas, aku nggak bisa. Aku masih nyaman kerja di sini."
"Oh. Ya udahlah. Silahkan kamu turun dan selamat bekerja."
Andre sudah sering sekali membujuk Fatia agar Fatia mau kerja di kantornya. Namun, Fatia tidak pernah mau. Karena dia cuma ingin menjaga keutuhan hubungannya dengan Remon. Dan Remon juga tidak pernah membiarkan Fatia untuk dekat lagi dengan Andre. Fatia juga tidak mau, punya masalah dengan Carisa.
Fatia tersenyum dan mengangguk.
"Makasih ya Mas."
Fatia membuka pintu mobil dan turun dari mobil Andre. Fatia berjalan masuk ke dalam restoran yang tampak masih sepi.
Andre hanya bisa menatap Fatia sampai Fatia masuk ke dalam Restoran.
"Fatia, dari dulu sampai sekarang, kamu tidak pernah berubah. Semakin hari, kamu kelihatan semakin cantik. Beda dari istri aku, yang semakin hari, semakin cerewet saja. Dan dia, juga nggak bisa memberikan aku seorang anak. Andai Fatia, mau jadi istri ke dua aku. Pasti sudah aku persunting dia dari kemarin-kemarin. Jangankan istri dua, istri empat pun, aku sanggup menafkahinya," gumam Andre.
Andre sejak tadi masih senyam-senyum sendiri. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini. Mungkin Andre saat ini, sedang berkhayal jika Fatia jadi istri ke duanya.
"Andai kamu mau, jadi istri ke dua aku. Kamu tidak perlu kerja, aku pasti bisa membahagiakan kamu. Aku akan jamin kehidupan kamu dan anak kita."
Setelah Andre tersadar dari lamunannya, Andre kemudian melajukan mobilnya kembali dan meluncur pergi meninggalkan tempat kerja Fatia.
__ADS_1