
Bola itu menggelinding agak jauh dari tempat Vino dan Andre bermain.
"Yah, Papa. Bolanya..." ucap Vino.
"Vino. Ayo ambil bolanya sayang," pinta Andre.
Vino mengangguk. "Iya Pa."
Setelah itu Vino pun berlari untuk mengambil bola yang menggelinding agak jauh dari tempatnya bermain.
Setelah Vino berhasil mengambil bola itu, Andre berseru. "Vino. Ayo lempar bolanya sayang...!"
Tanpa banyak berfikir, Vino langsung melemparkan bola itu ke arah Andre. Andre dengan sigap langsung menangkap bola itu.
Vino kemudian mendekat ke arah ayahnya.
"Papa, aku haus. Pengin minum," ucap Vino.
Vino tampak lelah, setelah bermain bola dengan ayahnya.
"Ya udah. Kamu mau minum apa? air putih atau sirup?" tanya Andre.
"Terserah papa aja deh," jawab Vino.
"Ya udah. Tunggu sebentar ya. Papa ambilin."
Andre kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan Vino minuman.
"Bik Ijah..." seru Andre memanggil Bik Ijah.
Bik Ijah yang dipanggil buru-buru menghampiri majikannya.
"Iya Den. Ada apa?" tanya Bik Ijah.
"Tolong buatin minuman dingin untuk aku dan Vino. Tolong bawa ke depan ya!" pinta Andre.
"Baik Den."
Andre kemudian berjalan kembali untuk menemui Vino di depan.
"Mana airnya papa?" tanya Vino yang melihat Andre kembali dengan tangan kosong.
"Tunggu ya, Bik Ijah lagi buatin sirup untuk kita. Kita istirahat dulu ya, tunggu di sini," ucap Andre sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi.
Vino mengangguk. Dia kemudian duduk di dekat ayahnya untuk menunggu Bik Ijah.
Beberapa saat kemudian, Bik Ijah menghampiri Vino dan Andre sembari membawa dua gelas sirup pesanan Andre tadi.
"Ini buat Den Andre, dan ini buat Den Vino," ucap Bik Ijah sembari meletakan dua gelas sirup di atas meja.
"Makasih ya Bik," ucap Andre.
"Iya Den."
"Oh iya Bik. Tolong nanti bibi ke ruangan kerja aku. Bereskan tempat kerja aku yang ada di lantai atas. Tadi ada pecahan kaca yang berserakan di sana."
"Iya Den. Nanti bibi beresin. Kalau gitu, bibi ke dalam dulu ya. Ayo Den Vino. Di minum."
Vino mengangguk. Dia kemudian mengambil gelas dan meminum sirup itu. Sementara Bik Ijah kembali masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan perintah Andre untuk membersihkan bingkai foto yang dia pecahkan.
**
Pagi ini, Fatia masih berada di dalam kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela kamarnya. Sejak tadi, dia masih tampak menunggu suaminya mandi.
Beberapa saat kemudian, Remon keluar dari dalam kamar mandi. Dia masih tampak melilitkan handuknya saja di pinggangnya.
__ADS_1
Dia berjalan menghampiri Fatia. Fatia terkejut saat tiba-tiba saja, Remon memeluknya dari belakang. Sensasi dingin dari tubuh Remon, sudah menerpa tubuh Fatia saat Remon memeluknya. Hembusan nafas Remon juga sudah terasa ke tengkuk leher Fatia.
"Mas, kamu sudah mandi?" tanya Fatia.
"Iya sayang. Sekarang, giliran kamu yang mandi," ucap Remon sembari sesekali mengecup bahu dan belakang leher Fatia.
Fatia tersenyum. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Remon. Fatia mengalungkan tangannya ke leher Remon. Sementara Remon, masih memeluk pinggang Fatia dengan erat.
Kebahagiaan saat ini masih menyelimuti ke dua pengantin baru itu. Malam-malam hangat pun sudah mereka lalui beberapa malam.
"Sayang, bagaimana dengan semalam?" tanya Remon yang membuat Fatia tersipu.
Pipi Fatia mendadak merona merah, saat dia diingatkan kembali dengan waktu indah, semalam bersama suaminya.
"Apa sih Mas, ngapain kamu tanya yang semalam. Kamu juga pasti sudah tahu kan jawaban aku."
"Fatia. Jujur, aku sangat bahagia sayang, bisa bersama kamu seperti ini. Tidak ada kebahagiaan di dunia ini, yang melebihi kebahagiaanku bersamamu seperti ini."
Fatia tersenyum. Fatia juga merasa sangat bahagia. Baginya, berbagai peristiwa yang pernah dia alami sebelum pernikahannya dengan Remon, adalah ujian untuk cinta mereka. Dan akhirnya mereka bisa dipersatukan lagi karena kekuatan cinta mereka.
Fatia dan Remon, sejenak saling menatap. Mereka sudah mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling menyentuh. Mungkin, mereka sama-sama masih menginginkan untuk melanjutkan permainan mereka semalam.
Sebelum Fatia dan Remon berciuman, mereka dikejutkan oleh deringan ponsel Fatia.
"Duh, Mas. Tunggu ya, ada telpon. Nanti kita lanjut lagi," ucap Fatia.
Remon mengangguk. Dia kemudian melepas pelukannya dan membiarkan Fatia untuk mengangkat telponnya.
Fatia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
"Ih, ngapain sih Mas Andre nelpon. Ganggu orang aja," gerutu Fatia lirih.
Fatia kemudian mengangkat panggilan dari nomer Andre.
"Halo Mama. Ini aku mama."
Fatia tersenyum saat mendengar suara Vino dari balik telpon.
"Eh, sayang. Kamu udah bangun jam segini?"
"Iya. Aku kangen sama mama. Mama lagi ngapain? Mama juga udah bangun ya."
"Iya Mama udah bangun. Mama juga kangen sayang sama kamu. Kamu gimana di rumah papa? betah kan? nggak nakal kan?"
"Nggak. Tapi aku pengin ketemu sama mama."
"Ya udah, minta antar papa dong ke sini. Mama sekarang tinggal di rumahnya Om Remon."
"Boleh Ma, aku tinggal sama mama?"
"Boleh dong sayang. Terserah Vino aja itu mah."
"Asyik... makasih ya Ma. Nanti aku mau bilang sama papa."
"Iya sayang."
"Ya udah ya Ma, aku mau bangunin papa. Aku mau mandi dan mau bersiap-siap pergi ke sekolah."
"Iya Vino."
Tut Tut Tut..
Tiba-tiba saja Vino memutuskan saluran telponnya.
Remon sejak tadi masih berdiri menatap istrinya.
__ADS_1
"Sayang," ucap Remon.
Fatia menoleh ke arah Remon.
"Iya Mas."
"Siapa yang nelpon?" tanya Remon.
"Vino Mas," jawab Fatia.
"Apa yang dia bilang?"
"Katanya dia pengin tinggal sama kita."
Remon tersenyum.
"Kamu yakin, mau ngajak Vino tinggal sama kita? sebentar lagi, aku mau ngajak kamu bulan madu lho. Apa kamu mau ajak Vino juga untuk ikut bulan madu."
Fatia diam. Dia tampak berfikir.
'Benar sih, Mas Andre ngajak Vino tinggal di rumahnya. Kalau dia ada di sini, nggak kebayang deh, bagaimana Vino akan menghancurkan malam-malam indah ku bersama Mas Remon. Mending, aku titipkan saja ke Nessa kalau Mas Remon mau ngajak aku bulan madu.'
"Sayang, kenapa diam aja?" tanya Remon yang melihat istrinya sejak tadi melamun.
"Hehe... Mas. Kalau kita bulan madu, untuk apa kita harus ngajak Vino. Kita tidak akan bisa bebas dong kalau ada Vino."
"Nah itu kamu tahu."
"Kalau Vino mau ikut denganku, mending aku titipkan dia aja ke rumah orang tua aku."
"Ya itu sih terserah kamu sayang."
"Kamu yakin, mau ngajak aku bulan madu?" Fatia menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Yakin sayang."
"Kemana?"
"Kemana aja, terserah kamu. Kalau mau ke luar negeri, boleh-boleh aja."
"Tapi, biayanya Mas. Ke luar negeri kan biayanya mahal."
"Untuk apa kamu mikirin biaya. Kalau masalah biaya itu kecil untuk aku sayang."
Remon kembali mendekat ke arah Fatia. Dia kemudian memeluk erat Fatia.
"Rasanya, semalam aku masih merasa belum puas sayang. Aku ingin kita mengulangnya lagi," ucap Remon yang membuat Fatia terkejut.
"A-apa?" pekik Fatia. Fatia mendorong sedikit tubuh Remon dan menatapnya lekat.
"Tapi kamu udah mandi Mas. Dan sebentar lagi kamu juga akan berangkat ke kantor. Untuk apa kita melakukannya lagi."
Remon menempelkan telunjuknya ke bibir istrinya. Membuat Fatia diam.
"Sudah, diam aja. Nggak usah banyak bicara. Aku akan melupakan sejenak urusanku asal aku bisa bersama kamu terus."
Fatia hanya bisa diam dengan jantung yang masih berdegup kencang. Walau bukan yang pertama, namun Fatia masih saja gugup saat berada di dekat suaminya.
"Aku suka permainan mu semalam sayang. Dan belum pernah ada seorang wanita pun di dunia ini, yang pernah menyentuhku. Dan mungkin cuma kamu wanita yang paling beruntung di dunia ini, bisa mendapatkan perjaka tampan sepertiku," ucap Remon yang membuat Fatia tersenyum.
Ya, memang benar apa yang Remon katakan. Kalau dia belum pernah menyentuh seorang wanita. Waktu bersama Nessa, Remon juga belum pernah tidur bersama dengannya.
Fatia terkejut saat Remon tiba-tiba sudah menggendongnya dan membawanya kembali ke tempat tidurnya. Mungkin mereka akan melanjutkan aktifitasnya semalam.
****
__ADS_1