
Siang ini, Fatia masih berada di sekolah Vino. Fatia sudah janji sama Vino kalau dia akan mengantar Vino ketemu sama ayahnya.
Fatia tidak akan mengajak Vino untuk ketemu Andre di rumah. Tapi dia akan mengajak Vino langsung ke kantor Andre untuk bertemu Andre di sana. Karena aktifitas Andre sekarang lebih banyak di kantor dari pada di rumahnya.
Setelah pulang sekolah, Vino langsung memburu mamanya.
"Mama,kita jadikan ke tempat Papa?" tanya Vino.
Fatia tersenyum dan mengangguk .
"Iya sayang. Ayo," ajak Fatia.
Vino mengangguk. Setelah itu Fatia dan Vino pergi meninggalkan sekolah. Mereka naik taksi untuk ke kantor Andre.
"Mama, aku mau telpon Papa."
"Untuk apa sayang?" tanya Fatia.
"Aku mau ngasih tahu Papa kalau aku mau ke kantornya."
"Jangan sayang. Kita bikin kejutan aja untuk Papa."
"Kejutan?" Vino menatap mamanya.
"Iya. Jangan bilang apa-apa sama papa."
"Iya Ma."
****
"Er, kamu mau kemana?" tanya Andre.
"Aku mau ke luar Pak. Mau ke kantin."
"Jangan ke kantin. Kamu makan bareng aku aja di sini. Aku bawa banyak bekal kok. Tadi pagi, Mama aku masak dan bawain bekal lumayan banyak. Bisa untuk kita berdua."
"Mama apa istri?" tanya Ersa.
"Mama. Emang kamu fikir, istri aku bisa masak? bantu-bantu di dapur aja dia jarang banget. Beda sama istriku yang dulu. Kalau Fatia itu rajin."
Ersa mengernyitkan alisnya bingung
"Istri yang dulu siapa?" tanya Ersa.
"Mamanya Vino. Dan Vino itu anak kandung aku sama Fatia. Cuma dia ikut sama mamanya sekarang."
"Oh, sebelum sama Bu Carisa, jadi bapak pernah punya istri yang lain?"
"Yah, begitulah. Dan cuma istri pertama aku yang bisa memberikan aku anak. Cuma jodoh kita nggak panjang."
"Oh, gitu ya Pak."
"Nanti kapan-kapan, aku kenalin kamu ke Vino deh."
" Iya Pak."
Andre bangkit dari duduknya. Setelah itu dia merangkul Ersa dan mengajak Ersa duduk di dekatnya. Andre akan mengajak Ersa makan siang bersama.
"Kita sekarang makan ya?" ucap Andre setelah dia sudah membuka semua bekalnya dan meletakan di atas meja.
Ersa sudah tidak bisa menolak lagi apa yang diinginkan bosnya.
Dia akhirnya mau juga makan bareng Andre di dalam ruangan Andre.
****
Taksi yang ditumpangi Vino dan Fatia akhirnya sampai juga di depan kantor Andre. Fatia dan Vino turun dari taksi. Setelah itu mereka masuk ke dalam kantor Andre.
Seseorang mendekat ke arah Fatia.
"Mbak Fatia ya," ucap Pak Budi.
Fatia menoleh ke arah Pak Budi.
"Eh, Pak Budi. Apa kabar Pak?" tanya Fatia.
"Mau ketemu Pak Andre ya?"
__ADS_1
Fatia mengangguk "Iya. Pak Andre ada di dalam kan?"
"Oh ada Mbak. Ini siapa? anaknya ya?"
Fatia tersenyum.
"Ini Vino. Anaknya Pak Andre dan aku."
"Oh... udah gede ya. Ini anak yang bakal nerusin Pak Andre ya memimpin di perusahaan ini. Cuma ini kan Mbak, anak kandungnya Pak Andre?"
"Iya."
"Menurut yang saya dengar sih, anak perempuan yang sering ke sini dengan Bu Carisa, bukan anak kandungnya Pak Andre ya?"
"Ssstttt Pak. Jangan keras-keras bicaranya. Kalau bapak sudah tahu, diam aja. Takut kedengaran Pak Andre."
"Oh... hehe... tenang aja Mbak. Di sini nggak ada orang kok. Semuanya lagi pada makan siang di kantin."
"Ya udah. Aku ke dalam dulu ya."
"Iya Mbak Fatia."
Fatia kemudian masuk ke dalam. Dia berjalan untuk ke ruangan Andre. Fatia dan Vino terkejut saat melihat Andre sedang meniup mata Ersa.
"Gimana Er? sudah?" tanya Andre.
Ersa mengangguk sembari mengusap-usap matanya yang kelilipan.
"Iya Pak. Cuma masih sakit," ucap Ersa.
"Ya udah. Nanti kamu cuci muka ya setelah ini.
'Diakah wanita yang dimaksud Erin. Memang benar dia cantik, dan dia masih muda. Dia kah anaknya Pak Seno?' batin Fatia
"Papa... surprise..." ucap Vino yang membuat Ersa dan Andre terkejut
"Vino..." ucap Andre
Vino langsung masuk ke dalam ruangan Andre dan buru-buru memeluk Papanya. Sementara Fatia, masih berdiri di dekat pintu.
Fatia merasa tidak enak saja melihat adegan mesra Andre dan Ersa tadi.
"Em, maaf Mas. Aku udah ganggu waktu kamu. Aku cuma mau ngantar Vino aja ke sini. Vino ingin ketemu kamu katanya. Kalau begitu, aku pergi dulu."
Fatia berbalik memutar tubuhnya. Dia akan berjalan pergi, namun Andre buru-buru mencekal tangan Fatia.
"Tunggu Fatia, kamu mau ke mana?" tanya Andre.
Fatia menoleh ke arah Andre.
"Aku mau nunggu di luar Mas," jawab Fatia.
"Mau ngapain? kamu masuk aja. Kebetulan kita lagi makan siang. Kalau kamu mau makan bareng kita, makan aja. Nanti aku pesan lagi di kantin untuk kamu dan Vino."
"Oh, nggak usah Mas. Untuk Vino aja. Aku nggak usah. Aku juga lagi ngga nafsu makan."
"Oh, nggak apa-apa. Ayolah ...!"
Andre mengajak Fatia masuk ke dalam ruangannya.
"Duduk Fatia." Andre sudah mempersilahkan Fatia duduk.
"Iya Mas."
Fatia kemudian duduk di sofa ruangan Andre bersama Vino.
Andre menatap Ersa.
"Ersa, bisa kamu ke kantin untuk membelikan anak aku dan Fatia makanan?" tanya Andre.
"Bisa Pak," jawab Ersa singkat.
Andre mengambil dompet dan memberikan sejumlah uang pada Ersa. Dia menyuruh Ersa untuk membeli makanan di kantin.
"Vino, kamu mau beli apa?" tanya Andre menatap Vino.
"Terserah papa aja deh."
__ADS_1
"Kalau kamu Fatia?" tanya Andre pada Fatia.
"Samain aja sama Vino mas."
Andre kemudian menatap Ersa.
"Beliin mereka mie ayam aja Er. Sama Es teh manis," ucap Andre.
Ersa mengangguk. "Iya Pak."
Ersa kemudian keluar untuk membeli makanan untuk Vino dan Fatia.
Fatia menatap Andre.
"Tadi siapa Mas?" tanya Fatia basa-basi.
"Tadi Ersa. Sekretaris baru aku," jawab Andre
"Oh, itu sekretaris gantinya Pak Seno?"
"Iya. Dia anaknya Pak Seno Fatia."
"Oh, aku baru tahu. Cantik ya Mas."
"Iya, cantik. Seperti kamu."
Fatia diam. Dia kemudian menatap Vino.
"Vino, mama mau ke toilet dulu ya."
"Toilet di dalam juga ada Fatia. Kamu nggak usah keluar."
"Iya Mas."
Fatia kemudian berjalan dan masuk ke dalam toilet yang ada di dalam ruangan Andre.
Beberapa saat kemudian, Ersa datang dan membawa makanan pesanan Andre.
"Pak, saya ke ruangan saya dulu ya."
"Oh, iya Ersa."
Ersa yang tidak mau menganggu waktu Andre dengan keluarganya pamit untuk pergi ke ruangannya.
Hoek...Hoek...Hoek...
Suara Fatia di dalam kamar mandi, mengejutkan Vino dan Andre.
"Vino. Mama kamu kenapa? dia muntah-muntah? emang dia lagi sakit?" tanya Andre.
"Iya. Mama memang lagi sakit Pa."
"Sakit apa?"
"Kata Oma Rima, aku mau punya adik."
"Apa!" Andre terkejut saat mendengar ucapan anaknya.
Semudah itu Fatia hamil? baru satu bulan dia menikah, sudah hamil? sementara istri aku, kapan dia hamil. Fatia memang benar-benar wanita yang subur. Sayang banget dulu aku sudah menyia-nyiakan dia. Seandainya aku masih bersama Fatia, mungkin saja saat ini aku sudah punya empat atau lima anak.
Beberapa saat kemudian, Fatia keluar dari kamar mandi. Wajah Fatia tampak sangat pucat.
Andre bangkit dari duduknya dan menghampiri Fatia.
"Fatia, wajah kamu pucat banget. Kamu sakit?" tanya Andre.
"Aku nggak apa-apa Mas."
Fatia berjalan menghampiri sofa dan duduk di atas sofa. Sementara Andre sejak tadi, masih mengkhawatirkan keadaan Fatia.
"Fatia. Aku buatkan kamu teh manis hangat ya. Aku fikir, kamu lagi nggak sakit. Makanya tadi aku pesanin kamu es."
"Nggak usah Mas. Sebentar lagi aku juga mau pulang kok sama Vino."
"Tunggu ya."
Andre kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Sepertinya dia ingin mencari obat untuk Fatia atau mencari minuman hangat.
__ADS_1