Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Positif


__ADS_3

Sore ini, Vino masih berbaring di atas sofa ruangan Papanya.


Andre sejak tadi masih fokus bekerja.


Beberapa saat kemudian, Ersa datang menghampiri ruangan Andre.


"Permisi Pak Andre," ucap Ersa setelah sampai di depan pintu ruangan Andre.


Andre menatap Ersa dan tersenyum.


"Ersa, masuk!" pinta Andre.


Ersa mengangguk dan langsung masuk menghampiri Andre.


"Pak Andre, ada berkas-berkas yang harus anda tanda tangani," ucap Ersa sembari menyodorkan berkas-berkas itu ke meja Andre.


"Iya. Makasih ya."


Ersa menatap ke arah Vino.


"Anak bapak tidur ya?" tanya Ersa.


Andre tersenyum sembari menatap Vino." Iya. Capek mungkin dia Er."


"Anak bapak belum pulang?"


"Belum."


"Ke mana ibunya?"


"Fatia sudah pulang duluan. Mungkin Vino mau aku ajak pulang ke rumah aku."


"Oh."


Andre kemudian menandatangani berkas-berkas yang di bawa Ersa dan mengembalikannya ke Ersa.


"Ini Er."


Ersa mengambil berkas-berkas itu dari tangan Andre. Setelah itu dia melangkah untuk pergi. Namun Ersa terkejut saat Andre mencekal tangannya.


"Tunggu," ucap Andre.


Ersa kembali menghadap ke Andre.


"Ada apa Pak?" tanya Ersa sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andre.


"Nanti kita pulang bareng ya," ucap Andre.


Ersa tampak berfikir.


"Nggak usah banyak mikir. Tadi pagi saja kita berangkat bareng, kenapa kita nggak pulang bareng. Nanti aku antar kamu sampai rumah."


Tanpa banyak berfikir, Ersa langsung mengiyakan saja ajakan Andre untuk pulang bareng. Dia tidak enak, jika menolak ajakan Andre.


"Iya Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Andre mengangguk. Setelah itu, Ersa pun pergi meninggalkan ruangan Andre.


Beberapa saat kemudian, Vino mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah ayahnya.


"Papa masih kerja? kapan papa pulang?" tanya Vino.


Dia tampak lelah dan dia juga jenuh berada lama-lama di ruangan ayahnya.


"Papa lagi nungguin kamu bangun Vino."


"Oh, gitu ya. Maaf ya Papa, aku ketiduran." Vino bangkit duduk.

__ADS_1


"Kita mau pulang sekarang Papa?" tanya Vino.


"Iya. Tapi nunggu Tante Ersa ya."


"Tante Ersa?"


"Iya. Dia lagi siap-siap. Sebentar lagi dia ke sini."


Vino menurut dengan Andre. Dia duduk menunggu Ersa datang.


Pukul 17.00. Ersa datang dan menghampiri Andre.


"Pak, kita mau pulang sekarang?" tanya Ersa.


"Oh iya dong."


Andre menutup layar monitornya. Setelah itu dia memakai jasnya dan bangkit berdiri. Tidak lupa Andre membawa tasnya juga.


"Ayo Vino. Kita pulang!" Andre merangkul bahu Vino dan menggandengnya sampai ke luar.


Andre, Vino dan Ersa kemudian berjalan pergi meninggalkan kantor.


Di sisi lain, Adi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedekatan Ersa dan Andre.


"Semakin hari, Pak Andre dan Ersa semakin dekat aja. Kalau begini caranya, si Ersa bakalan luluh tuh sama Pak Andre. Bisa ada perang dunia ke tiga kalau sampai Bu Carisa tahu. Mudah-mudahan sih, Bu Carisa jangan sampai tahu kalau suaminya itu lagi dekat dengan sekretarisnya," ucap Adi.


Ring ring ring...


Deringan ponsel Adi mengejutkan Adi. Adi buru-buru merogoh kantong kemejanya untuk mengangkat panggilan dari istrinya.


"Halo..."


"Halo Mas. Kamu masih di kantor?"


"Iya sayang."


"Mas, aku mau nitip sesuatu. Nanti kamu mampir dulu ya ke toko."


"Buka dulu chat aku Mas. Aku udah tulis semua pesanan belanja aku."


"Iya ini nanti aku mampir. Ini aku masih di kantor."


"Ya udah ya Mas, aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah bertelponan dengan istrinya, Adi kemudian membuka chat dari istrinya. Adi terkejut saat melihat berapa banyak pesanan istrinya.


"Apa-apaan ini. Kebiasaan banget ini si Erin. Nggak tahu apa kalau uangku sudah menipis. Minta di belanjakan sebanyak ini. Kalau punya istri boros gini, kapan aku bisa buat rumah sendiri. Kapan uang gaji ku terkumpul."


Adi kemudian pergi meninggalkan kantor.


****


Di dalam mobil, Vino hanya bisa diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.


"Vino, kamu kenapa diam aja? malu ya sama Tante Ersa?" tanya Andre.


Vino yang ditanya hanya diam. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia fikirkan.


"Vino, kamu mau pulang ke rumah papa, atau ke rumah mama?" tanya Andre.


Vino masih diam.


"Vino..." Andre sedikit mengeraskan nada suaranya.


"Eh, iya Pa. Kenapa?"

__ADS_1


"Vino dengar Papa ngomong nggak sih? Vino sekarang mau pulang ke mana? ke rumah papa atau ke rumah mama?"


"Aku mau pulang ke rumah ayah Remon aja."


"Lho, kenapa?"


"Aku besok mau sekolah. Dan baju seragam aku ada di rumah ayah."


"Oh. Ya udah. Sekarang Papa antar kamu ke rumah mama ya."


"Iya Papa."


Andre melirik Ersa yang sekarang masih duduk di depan, di sisi Andre duduk.


"Er, aku mau antar Vino pulang dulu ke rumah mamanya. Kamu nggak apa-apa kan Er, pulangnya setelah aku ngantar Vino."


"Iya Pak nggak apa-apa."


Andre kemudian meluncur untuk ke rumah Remon. Setelah sampai di rumah Remon, Andre menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Vino.


"Ayo Vino. Papa antar kamu masuk ke dalam."


"Iya Papa."


Andre kemudian mengantar Vino sampai ke teras depan rumah Remon.


Andre mengetuk pintu rumah Remon. Beberapa saat kemudian, Bu Rima muncul dari balik pintu.


"Eh, Vino. Kamu udah pulang. Mana Mama kamu?" tanya Bu Rima.


"Mama kan udah pulang duluan Oma. Dari tadi siang malah."


"Pulang sama siapa?"


"Sama ayah."


"Tapi dari tadi rumah sepi kok. Mereka belum sampai rumah."


"Mungkin mereka lagi pergi Tan. Vino minta pulang ke sini, jadi aku antar ke sini. Tadinya sih pengin aku ajak pulang ke rumah aku. Tapi dia nggak mau."


"Oh, ya udah kalau begitu. Ayo Vino masuk. Mungkin mama dan ayah kamu sebentar lagi pulang."


"Iya Oma."


Vino mencium punggung tangan ayahnya sebelum dia masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Vino berjalan masuk ke dalam rumah.


"Makasih ya Andre. Sudah mengantar Vino pulang."


"Iya Tante. Kalau begitu, aku pulang dulu ya."


"Iya Andre. Hati-hati di jalan."


"Iya Tan."


Setelah berpamitan dengan Bu Rima, Andre kemudian pergi meninggalkan rumah Remon.


****


"Selamat ya Pak. Istri anda positif hamil. Dan usia kehamilannya sudah memasuki dua minggu," ucap dokter memberi selamat kepada pasangan Remon dan Fatia.


Fatia dan Remon saling menatap..


"Dokter, yang benar Dok? istri saya hamil?"


"Iya. Benar. Dan ini hasilnya," ucap Dokter sembari menyodorkan sebuah surat hasil tes hamil pada Remon.


"Alhamdulillah. Nggak nyangka kalau istriku akan hamil secepat ini," ucap Remon.

__ADS_1


Remon langsung memeluk Fatia dan mencium kening juga pipi Fatia. Membuat Fatia malu sendiri. Karena Remon melakukan itu di depan dokter.


"Mas, kamu apa-apaan sih," ucap Fatia.


__ADS_2