Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Permintaan terakhir.


__ADS_3

"Duh, Papa kenapa sih. Kenapa dia bisa sampai jatuh segala," ucap Remon di sela-sela menyetirnya.


Remon sejak tadi masih tampak panik. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah menempuh waktu beberapa menit untuk sampai ke rumahnya, akhirnya Remon sampai juga di depan rumahnya.


Remon turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar orang tuanya dan berjalan ke kamar mandi.


"Papa, papa kenapa Ma?" tanya Remon saat melihat ayahnya sudah tergeletak tak berdaya di dalam kamar mandi.


"Remon. Tolong, Papa kamu Remon. Cepat angkat dia dan bawa dia ke rumah sakit," ucap Bu Rima panik.


Remon buru-buru menghampiri ayahnya dan membawa ayahnya sampai ke mobil. Begitu juga dengan Bu Rima yang masih mengikuti Remon. Mereka kemudian meluncur pergi ke rumah sakit.


"Ma, kenapa dengan papa Ma? kenapa dia bisa sampai jatuh?" tanya Remon sembari sesekali menatap ayahnya dari kaca sepion mobilnya.


"Mama juga nggak tahu Remon. Mungkin dia terpeleset dari kamar mandi dan terjatuh," jelas Bu Rima.


"Hiks...hiks...hiks..." Sejak tadi,Bu Rima tampak masih menangis. Sementara Remon hanya bisa mengusap-usap bahu mamanya untuk menenangkannya.


"Sabar ya Ma. Remon yakin,kalau Papa, pasti akan sembuh," ucap Remon.


Bu Rima mengangguk dan mengusap air matanya. "Iya Remon."


Ring ring ring ..


Suara deringan ponsel Remon menghentikan Bu Rima dari tangisannya.


"Remon. Siapa yang nelpon. Mungkin itu Fatia," ucap Bu Rima.


Remon mengambil ponselnya yang ada di sampingnya duduk. Setelah itu dia mengangkat telpon dari Fatia.


"Halo Fatia "


"Halo Mas. Bagaimana kondisi papa kamu?"


"Aku lagi ada di jalan. Aku mau bawa papa ke rumah sakit."


"Ya ampun. Sebenarnya Papa kamu kenapa Mas?"


"Tadi dia terjatuh di dalam kamar mandi. Papa aku pingsan dan sampai sekarang belum sadarkan diri."


"Jadi kamu belum nyampe rumah sakit?"


"Belum. Ini masih di jalan."


"Ya udah. Besok aku ke sana ya Mas untuk temani kamu."


"Iya Fatia."


****


Pagi ini, Remon dan Bu Rima masih berada di rumah sakit. Mereka masih menunggui Pak Wibowo.


Pak Wibowo masih tampak terbaring lemah di rumah sakit. Remon sejak tadi, masih menatap ayahnya prihatin.


"Remon," ucap Pak Wibowo dengan nada lemah.

__ADS_1


"Iya Pa."


"Remon. Papa punya satu permintaan Remon. Tolong, kamu penuhi permintaan papa. Mungkin saja, ini adalah permintaan terakhir papa," ucap Pak Wibowo yang membuat Remon dan Bu Rima terkejut.


Remon dan Bu Rima saling menatap.


"Papa bicara apa? kenapa Papa bicara seperti itu?" tanya Bu Rima.


"Ma, Papa tidak tahu, kapan Papa akan diambil Tuhan. Papa ingin , Remon menggantikan Papa untuk mengolah perusahaan Papa. Papa ingin Remon berhenti dari pekerjaannya menjadi dosen. Papa ingin Remon menggantikan posisi papa di kantor Papa," ucap Pak Wibowo.


Dari dulu Pak Wibowo masih sangat mengharapkan Remon untuk menggantikan dia mengurus perusahaannya. Namun, Remon masih belum mau, meninggalkan pekerjaannya yang sekarang.


Pak Wibowo sangat mengharapkan Remon untuk menikah. Namun, Remon masih tetap menunggu Fatia.


Remon tampak berfikir.


Mungkinkah ini saatnya untuk aku, kerja di kantor Papa. Jika begitu, aku akan tinggalkan pekerjaanku yang sekarang, aku akan mulai bekerja di kantor Papa.


"Baiklah. Kalau itu yang papa inginkan. Aku mau meninggalkan pekerjaanku yang sekarang dan kerja di kantor Papa," ucap Remon.


Bu Rima menatap Remon.


"Kamu yakin Remon?" tanya Bu Rima.


"Iya Ma. Aku yakin."


"Remon, Papa juga ingin kamu menikah. Papa ingin melihat kamu menikah dan papa juga ingin punya cucu."


Bu Rima menatap tajam ke arah Remon.


"Remon. Bagaimana sebenarnya hubungan kamu dengan Fatia?" tanya Bu Rima.


"Kamu masih menunggu Fatia?"


"Iya Ma."


"Terus, kapan kamu dan Fatia menikah. Kalian kan sudah lama dekat. Dan Vino juga sudah dekat sama kamu."


"Tapi, Fatia belum siap Ma."


"Remon. Sampai kapan dia siap? dan sampai kapan kamu akan menunggu dia? kalau kamu kelamaan menunggu, kapan kamu bisa membangun rumah tangga dan punya anak. Mama juga sudah sangat mengharapkan cucu Remon. Kamu tahu kan , kalau kamu itu anak satu-satunya mama. Cuma kamu harapan Mama."


Remon tersenyum.


"Iya Ma. Aku akan bilang ke Fatia dan Vino. Kalau aku akan menikahi Fatia secepatnya."


Pak Wibowo tersenyum.


"Apa lagi yang kamu tunggu Remon, percepatlah pernikahan kamu dengan Fatia. Papa ingin melihat kamu menikah dan bahagia. Papa sudah tua, sudah sakit-sakitan seperti ini."


"Iya Pa. Aku akan bilang ke Fatia. Aku akan menikahi dia secepatnya."


*


Di atas tempat tidurnya, Fatia masih menatap anaknya yang masih tampak terlelap. Fatia mengusap-usap puncak kepala anaknya dan menciumnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti lelah. Seharian kamu beraktivitas dan sekarang tidur kamu nyenyak banget" ucap Fatia sembari menatap anaknya lekat.


Pagi ini Fatia sudah terbangun. Dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela. Dia membuka korden jendela kamarnya.


"Vino. Bangun yuk! kamu kan harus sekolah Nak!" ucap Fatia sembari berjalan ke arah tempat tidur.


Vino yang dibangunin hanya menggeliat.


"Sayang, ayo bangun! kamu harus sekolah Nak!" ucap Fatia.


Sejak tadi, Fatia tampak masih membangunkan anaknya. Namun, Vino sejak tadi tidak mau bangun.


"Vino. Ayo bangun! kamu harus sekolah."


"Mama, aku masih ngantuk Ma," ucap Vino.


Fatia hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah anaknya. Vino jika dibangunin memang sangat sulit.


"Ya udah. Sekarang mama kasih pilihan. Kamu mau sekolah, atau mau ikut mama."


Vino mengerjapkan matanya dan menatap Fatia lekat.


"Mama mau ke mana?" tanya Vino.


"Mama mau ke rumah sakit sayang," jawab Fatia.


"Ke rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Vino penasaran.


"Ayahnya Om Remon yang sakit. Kamu mau ikut mama atau mau ke sekolah dulu."


"Ma, aku mau ikut mama ke rumah sakit aja deh," ucap Vino.


"Kamu yakin nggak mau sekolah?" Fatia sudah menangkup wajah anaknya.


"Nggak. Aku nggak mau sekolah dulu. Aku takut." Vino menundukkan kepalanya.


"Takut apa?"


"Takut di marahi Bu guru."


"Kok takut di marahin. Emang kenapa?"


"Iya. Soalnya, aku belum ngerjain PR."


"Apa! jadi Vino belum ngerjain PR?"


"Kenapa nggak bilang sama Mama kalau Vino belum ngerjain PR? kan mama bisa bantu Vino untuk ngerjain PR."


"Kita ke rumah sakit aja Ma."


"Ya udahlah terserah kamu aja. Kita ke rumah sakit aja deh. Temui Om Remon."


Vino tersenyum. Dia tampak bahagia saat mendengar ucapan mamanya.


"Benar Ma, aku boleh ikut."

__ADS_1


"Ya udahlah. Tapi, besok kamu janji ya, besok kamu harus sekolah?"


"Iya Ma."


__ADS_2