Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Sibuk


__ADS_3

"Hai Fatia, tumben kamu pagi-pagi gini udah nyampe," ucap Risma saat melihat kedatangan Fatia.


Fatia tersenyum dan mendekat ke arah Risma yang sedang membersihkan meja-meja yang ada di restoran.


"Dapat salam tuh Fat," ucap Risma.


Fatia tersenyum.


"Salam dari siapa? pak Darwin?"


"Kok Pak Darwin. Kapan Pak Darwin mau berbaik hati sama kita. Setiap hari aja, kerjaannya cuma ngomelin kita mulu," ucap Risma bersungut-sungut.


"Terus, salam dari siapa?" Fatia menghempaskan tubuhnya di atas kursi restoran. Dia kemudian duduk dan menatap Risma.


"Dari Pak Daren," jawab Risma.


Fatia terkejut saat mendengar nama itu disebut.


"Kamu jangan bercanda deh. Mana mungkin Pak Daren nyariin aku. Kita kenal juga nggak," ucap Fatia.


"Tapi, aku serius. Si tampan itu, kemarin nanyain kamu."


"Nanyain gimana?"


"Gini katanya, 'cewek cantik yang kemarin kok nggak ada. Dia ke mana?' gitu katanya."


Fatia tertawa renyah saat mendengar ucapan sahabatnya.


"Haha... kamu ini ada-ada aja. Mana mungkin Pak Daren itu muji aku cantik."


"Tapi seriusan lho. Kata Pak Daren, gini. 'Pelayan yang kemarin mecahin gelas di sini kok nggak kelihatan. Dia nggak masuk?' gitu katanya."


"Kamu yakin?"


"Iya. Aku serius. Kemarin dia sempat nanyain kamu."


"Terus, kamu bilang apa?"


"Aku bilang, nggak masuk Pak. Gitu aja."


"Sudahlah. Nggak usah bahas Pak Daren lagi. Kita kerja aja yuk!"


"Tapi, sepertinya dia naksir sama kamu deh Fat," ucap Risma.


"Naksir sama aku? mana mungkin. Aku udah tua. Janda anak satu. Siapa yang mau sama aku."

__ADS_1


Fatia berdiri dari duduknya. Setelah itu, dia berjalan ke belakang untuk bersiap-siap kerja. Biasanya, Fatia dan Risma bersih-bersih dulu sebelum restoran buka. Setelah itu, mereka baru kerja melayani para pengunjung restoran.


Beberapa saat kemudian, Pak Darwin pemilik restoran itu, datang. Dia kemudian masuk ke dalam restoran menuju ke karyawannya yang sudah berkumpul di belakang restoran.


Para karyawan Pak Darwin sudah tampak berjejer rapi, menunggu perintah kedatangan Pak Darwin.


Pak Darwin menatap satu persatu karyawannya. Dan dia menatap tajam saat melihat Fatia.


"Fatia. Dari mana kamu kemarin nggak masuk. Kalau kamu sering bolos, aku bisa pecat kamu Fatia!" ancam Pak Darwin.


Bukan hanya kali ini saja Pak Darwin mengancam Fatia. Namun sudah berkali-kali Pak Darwin mengancam Fatia. Bukan hanya Fatia saja yang mendapatkan ancaman itu. Namun semua karyawan yang lain juga, Pak Darwin akan mengancamnya kalau mereka ceroboh


"Maaf Pak. Kemarin, saya repot. Ada urusan sama keluarga," ucap Fatia.


"Halah alasan aja kamu ini. Saya kan sudah bilang berkali-kali sama kamu Fatia. Saya bisa pecat kamu kapan pun saya mau. Karena kamu sudah berkali-kali melakukan kesalahan. Untung saja kemarin ada Pak Daren. Kalau tidak, saya sudah pecat kamu Fatia."


Fatia hanya bisa menundukan kepalanya. Mendapat ancaman dari Pak Darwin, tidak membuat Fatia lantas takut. Karena Fatia yakin, seandainya Pak Darwin memecat Fatia pun, Fatia masih bisa cari kerja di tempat lain.


"Ini juga peringatan untuk kalian semua. Kalau kalian ada yang melakukan kesalahan seperti apa yang pernah Fatia lakukan, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kalian mengerti ..!" ucap Pak Darwin menetap semua anak buahnya.


"Mengerti Pak..." ucap semua karyawan Pak Darwin kompakan.


"Ya udah, sekarang kalian kerja...! "


Semua karyawan Pak Darwin kemudian kembali bekerja. Begitu juga dengan Fatia. Walau lelah, namun Fatia harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dengan Vino.


Seandainya Fatia sudah menikah dengan Remon, mungkin Fatia bisa ikut tinggal di rumah Remon. Dan seandainya, Fatia meminta untuk dibelikan rumah oleh Andre, Andre pun pasti akan membelikannya. Namun sampai sekarang, Fatia selalu menolak pemberian dari Andre. Entah itu rumah, perhiasan, ataupun mobil.


***


Siang ini, Vino masih berada di sekolahnya. Dia sudah berdiri di depan sekolahnya. Sejak tadi, Vino masih menunggu jemputan. Tapi ayahnya, belum menjemputnya juga.


"Papa ke mana sih, kenapa papa nggak jemput aku," ucap Vino.


Vino sejak tadi masih tampak resah, karena Andre belum menjemputnya.


"Papa mau jemput aku nggak sih. Aku nggak pegang hape lagi. Aku harus bagaimana ini," ucap Vino.


Vino yang sudah menunggu lama, akhirnya berjalan pergi meninggalkan sekolahnya. Dia tidak sabar menunggu jemputan. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Vino kemudian pergi meninggalkan sekolahnya.


Di sisi lain, Andre masih tampak sibuk di ruangannya. Andre menghentikan aktifitasnya saat dia teringat dengan Vino.


"Aduh, Vino. Kenapa aku bisa lupa ya, jemput Vino. Kerjaan aku masih banyak begini lagi. Dan setelah ini, aku juga akan ada meeting penting," gumam Andre.


Andre mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Dia kemudian menelpon Carisa yang ada di rumah.

__ADS_1


"Halo..."


"Halo Carisa. Aku mau minta tolong sama kamu."


"Minta tolong apa Mas?"


"Aku masih sibuk di kantor. Apa kamu, bisa jemput Vino di sekolahnya?"


"Duh Mas, benar kan apa yang aku bilang. Kenapa kamu harus ajak dia ke rumah sih. Jadi aku kan yang repot Mas. Kenapa kamu nggak telpon Fatia aja untuk jemput Vino."


"Ya nggak bisa dong Carisa. Vino sekarang sedang tinggal di rumah aku. Aku ingin Vino di rumah aku untuk waktu yang lama. Makanya aku nyuruh kamu yang jemput. Kalau Fatia yang jemput, pasti nanti dia akan ajak pulang Vino ke rumahnya."


"Tapi Mas, aku juga lagi sibuk di rumah ngurusin Tata."


"Tata itu udah gede. Udah enam tahun. Di tinggal sama mama aku juga dia mau. Kalau dia nggak mau di tinggal, suruh aja dia ikut kamu untuk jemput Vino. Kamu nggak usah kebanyakan alasan Carisa. Karena aku nggak suka."


"Mas, tapi kan Mas."


"Kalau bukan kamu, lalu aku harus perintah siapa. Kita kan tidak punya supir sekarang. Lagian di rumah kan masih ada mobil. Kamu bisa kan nyetir mobil."


"Iya deh iya. Kebiasaan banget kamu Mas. Kalau Vino di sini, pasti aku yang selalu repot."


Tut Tut Tut...


Andre sudah langsung memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia kembali berkerja.


****


"Ta...Tata..." seru Carisa.


Carisa berjalan ke arah kamar Tata. Carisa membuka pintu kamar Tata.


"Tata, mama mau pergi. Tata mau ikut mama nggak?" tanya Carisa.


Tata menatap ibunya lekat.


"Mama mau ke mana?"


"Mama mau jemput Kak Vino ke sekolah."


Tata tersenyum.


"Aku ikut dong Ma."


"Ya udah, ayo !" ajak Carisa.

__ADS_1


Tata kemudian bersiap-siap untuk ikut ibunya pergi menjemput Vino.


__ADS_2