
"Dokter, bagaimana hasilnya Dok? apakah masih ada harapan untuk saya bisa hamil?" tanya Carisa.
"Ada sedikit masalah di rahim ibu. Kemungkinan ibu untuk hamil memang ada. Tapi itu sangat kecil Bu. Hanya sepuluh persen."
"Apa! jadi aku mandul?"
"Saya nggak mengatakan ibu mandul. Tapi ada masalah di dalam rahim ibu. Sehingga membuat ibu sangat sulit untuk hamil. Tapi ibu nggak usah khawatir, karena kemungkinan ibu untuk hamil itu ada. Walau cuma sepuluh persen."
Carisa meneteskan air matanya saat mengetahui hasil dari dokter. Dia kemudian meraba perutnya sendiri.
"Saya cuma seorang dokter yang hanya bisa memprediksi. Semua ketentuan itu, hanya Tuhan yang tahu. Banyak-banyak saja berdoa Bu."
Carisa mengambil surat hasil tes kesuburan itu dengan lemah. Dia seperti sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa memberikan seorang anak untuk suaminya. Carisa hanya bisa pasrah sekarang. Tapi Carisa tidak akan memberi tahu hasil itu pada suami dan ibu mertuanya. Biarlah hasil itu, dia dan dokter saja yang tahu.
"Ya udah Dok kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Carisa berpamitan pada Dokter.
"Iya Bu."
Carisa kemudian keluar dari ruangan dokter. Dia berjalan ke luar dari rumah sakit. Carisa memasukan surat hasil kesuburan dari dokter ke dalam tasnya. Dia kemudian berjalan ke jalan raya untuk menyetop taksi.
Setelah taksi datang, Carisa kemudian masuk ke dalam taksi dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
****
Siang ini, semua siswa TK sudah keluar dari kelasnya. Tata masih duduk menunggu Carisa menjemputnya.
Dari kejauhan, Alena menatap Tata. Dia sejak tadi masih memperhatikan anaknya.
"Tata kenapa sendirian aja. Kak Carisa ke mana. Apa dia nggak menjemput Tata?" gumam Alena.
Alena berjalan menghampiri Tata.
"Tata..." ucap Alena.
Tata menoleh ke arah Alena. Dan dia terkejut saat melihat Alena.
"Tante, kenapa Tante ke sini?" tanya Tata.
"Tante cuma pengin lihat kamu aja," jawab Alena.
"Tapi, bagaimana nanti kalau ketahuan Mama. Pasti mama bisa marah-marah lagi kayak kemarin."
"Nggak sayang. Tante cuma mau temani kamu aja. Kalau mama kamu datang, Tante akan pergi dan kamu bisa pulang dengan mama kamu. Soalnya, Tante khawatir sama kamu sayang."
"Benar, Tante mau temani aku?"
"Iya benar dong sayang. Boleh Tante duduk?" tanya Carisa.
Tata mengangguk."Boleh Tan."
Alena kemudian duduk di sisi anaknya. Dia bahagia bisa dekat dengan Tata. Walau dia tidak bisa mengajak Tata untuk tinggal bersama dengannya.
Dua jam lebih, Tata menunggu jemputan. Namun Carisa dan Andre tidak ada yang menjemput Tata.
"Kok mama lama banget ya Tan?" tanya Tata menatap lekat anaknya.
"Nggak tahu sayang. Apa kamu, mau Tante antar pulang?" tanya Alena.
"Tapi bagaimana kalau ketahuan Mama. Nanti Tante bisa dimarahin lagi oleh Mama."
"Sayang, dari pada kamu sendiri di sini, mending Tante yang antar kamu pulang. Mungkin mama kamu lagi repot di rumah, atau dia lupa kali jemput kamu."
"Mama nggak pernah seperti ini Tan sebelumnya. Dia selalu tepat waktu kalau jemput aku. Walau dia lagi sakit, dia juga tidak pernah lupa jemput aku. Karena Papa aku selalu sibuk di kantor. Kalau aku pulang bareng Tante, gimana kalau nanti mama ke sini."
"Ya terserah kamu aja deh. Tante tetap mau menemani kamu di sini, sampai mama kamu jemput. Soalnya, kalau Tante pulang terus kamu sendiri, Tante nggak tega Tata tinggalin kamu sendiri. Bagaimana nanti kalau ada orang jahat yang dekatin kamu. Terus kamu diculik?"
Tata tampak berfikir.
__ADS_1
"Ya udah deh, kita pulang sekarang aja Tan," ucap Tata yang akhirnya mau juga ikut pulang bareng Alena.
"Kamu yakin kita mau pulang sekarang? nggak mau nunggu mama dulu?" tanya Alena.
Tata menggeleng.
Setelah lama menunggu Carisa, akhirnya Tata mau pulang juga dengan Alena.
Alena kemudian mengajak Tata untuk naik ke dalam mobilnya.
"Ayo naik Tata..."
"Iya Tan."
Tata kemudian naik dan masuk ke dalam mobil Alena. Alena juga masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan sekolah Tata.
"Tante, aku nggak mau mampir ke mana-mana. Aku mau langsung pulang aja Tante," ucap Tata.
"Iya sayang."
Alena kemudian mengantarkan Tata sampai di depan rumah Andre. Alena menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah Andre.
"Tante, makasih banyak ya Tante, udah ngantar aku sampai ke rumah," ucap Tata.
"Iya Tata. Oh iya. Jangan bilang kalau Tante ya yang ngantar kamu ke rumah ya?"
"Kenapa Tan?" Tata menatap lekat Alena.
"Tante takut, mama kamu marah lagi, dan nggak membolehkan Tante untuk ketemu kamu sayang."
"Iya Tante."
"Kamu bilang aja kalau yang ngantar kamu ke rumah itu Bu Guru."
"Iya Tante."
Tata masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian berjalan sampai ke ruang tengah.
"Tata. Kamu sendiri? mana Mama kamu?" tanya Bu Alya yang sudah ada di ruang tengah sejak tadi.
"Mama nggak jemput Oma. Tadi aku pulang sama Bu Guru" ucap Tata.
"Apa! emang mama kamu ke mana? bukannya tadi dia udah pulang dari rumah sakit?"
"Aku juga nggak tahu Oma."
"Oma fikir, mama kamu udah jemput kamu. Makanya Oma santai-santai di sini. Terus, mama kamu sekarang ada di mana ya."
"Oma, aku capek. Aku mau ke kamar."
Bu Alya bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menggandeng cucunya dan mengantarkan Tata sampai ke kamar.
"Bik Ijah...! Bik Ijah ...!" seru Bu Alya dari lantai atas.
Beberapa saat kemudian, Bik Ijah naik ke lantai atas dan menghampiri majikannya.
"Iya Bu. Ada apa?"
"Bik Ijah, tolong gantikan baju Tata ya. Mamanya nggak ada," ucap Bu Alya.
"Baik Bu."
Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah. Carisa turun dari taksinya. Tadi dia baru ke sekolah Tata. Namun, Tata sudah tidak ada di sekolah. Carisa fikir, gurunya Tata yang sudah mengantar Tata sampai ke rumah. Karena waktu Carisa ke sekolah Tata, sekolah sudah tampak sepi.
"Tata...Tata... apa kamu sudah pulang Nak?" seru Carisa.
Bu Alya menuruni anak tangga dan menatap menantunya lekat.
__ADS_1
"Dari mana aja kamu Carisa?" tanya Bu Alya.
"Aku tadi ke sekolah Tata Ma. Tapi, Tata udah nggak ada di sekolahnya. Apa dia udah pulang Ma?"
"Tuh, Tata udah ada di atas. Kamu ini gimana sih? kerjaan kamu ngapain aja. Jemput anak sekolah aja sampai terlambat," celetuk Bu Alya dengan sinis.
"Maaf Ma. Aku lagi banyak urusan."
"Urusan apa? penting mana urusan kamu dengan anak kamu?"'
Carisa tidak mau meladeni ucapan Bu Alya. Dia kemudian naik ke lantai atas untuk menemui Tata.
Carisa masuk ke dalam kamar Tata.
"Tata. Kamu udah pulang?" ucap Carisa.
Tata dan Bik Ijah menatap Carisa bersamaan.
"Itu mama udah pulang. Sama mama aja ya Non. Bibik masih banyak kerjaan."
Tata mengangguk. "Iya Bik."
Carisa kemudian menghampiri anaknya. Dia duduk di sisi ranjang Tata. Sementara Bik Ijah ke luar dari kamar Tata.
"Tata, kamu pulang sama siapa Nak?" tanya Carisa.
"Pulang sama Bu Guru," bohong Tata.
"Maafin mama ya Nak, karena mama udah telat jemput kamu."
"Iya Ma. Nggak apa-apa kok."
"Boleh mama peluk kamu Nak?" tanya Carisa.
Tata hanya mengangguk. Tata kemudian mendekat ke arah Carisa dan langsung memeluk Carisa.
Carisa menangis di dalam pelukan Tata.
"Kenapa mama nangis?" tanya Tata yang tiba-tiba saja melepas pelukannya.
"Mama nggak apa-apa kok sayang," ucap Carisa sembari mengusap air matanya
"Mama beneran nggak apa-apa. Atau mama nangis karena dimarahin Papa?"
"Nggak kok sayang. Sini nak duduk. Mama ingin bicara sama Tata."
Tata kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Carisa.
"Mama mau bicara apa?" tanya Tata.
"Tata, Tata sayang apa nggak sama mama?"'
"Sayang dong Ma."
"Tata mau janji nggak sama mama?"
"Janji apa Ma?"
"Tata mau janji, kalau Tata tidak akan pernah tinggalin mama dengan apapun yang terjadi?"
Carisa mengulurkan kelingkingnya yang dibalas langsung oleh uluran kelingking Tata.
"Iya. aku sayang sama mama. Dan aku janji, aku nggak akan pernah tinggalin mama apapun yang terjadi. Karena mama Carisa adalah mama terbaik aku. Nggak akan pernah tergantikan di hati aku.
Carisa tersenyum. Ucapan Tata sudah membuat hatinya lebih tenang setelah lama dia menangisi kondisi rahimnya.
****
__ADS_1