Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Persetujuan Vino


__ADS_3

Fatia dan Vino pagi ini, pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya Remon. Fatia menyetir motor sendiri sampai ke rumah sakit.


"Ma, kita mau ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Vino di dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Iya sayang."


"Ma, kita mau bawa apa ke sana?"


"Mama mau beli buah-buahan dulu. Nanti kita mampir ke toko buah dulu ya."


"Oke Ma."


Vino tampak bersemangat sekali untuk menjenguk Pak Wibowo ke rumah sakit. Karena selama ini, Pak Wibowo dan Bu Rima sangat sayang pada Vino. Mereka sudah menganggap Vino cucu kandungnya sendiri.


*


Sesampainya di rumah sakit, Fatia dan Vino turun dari motornya. Mereka kemudian menuju ke ruang rawat Pak Wibowo.


Di dalam ruang rawat, masih tampak Bu Rima dan Pak Wibowo yang masih berada di sana. Sementara Remon, tidak ada di sana.


"Assalamualaikum," ucap Fatia sembari masuk ke dalam ruangan Pak Wibowo.


"Wa alaikum salam," ucap Bu Rima menjawab salam Fatia.


Bu Rima tersenyum saat melihat kedatangan Fatia dan Vino.


"Vino, Salim dulu sama Oma Rima," ucap Fatia.


Vino kemudian mencium punggung tangan Bu Rima.


"Halo Vino. Apa kabar sayang?" tanya Bu Rima.


"Baik Oma,"jawab Vino.


Selama ini, Vino memang sudah dekat dengan Bu Rima. Karena Bu Rima sudah menganggap Vino seperti cucu kandungnya sendiri. Sementara Vino, sekarang sudah tidak terlalu dekat lagi, dengan keluarga ayahnya.


Semenjak Andre menikah, Andre jarang sekali menemui Vino. Namun, dia tidak pernah lupa untuk memberikan jatah bulanan untuk Vino.


"Vino nggak sekolah?" tanya Bu Rima.


Vino menggeleng." Nggak Oma"


"Kenapa nggak sekolah?"


"Aku lagi malas sekolah. Soalnya aku takut di marahin sama Bu Guru karena belum ngerjain PR."


"Kenapa nggak di kerjakan PR nya."


"Aku lupa semalam Oma."


Bu Rima menatap Fatia.


"Tante Rima. Mas Remon ke kampus ya?" tanya Fatia.


Bu Rima mengangguk."Iya Fatia. Ayo duduk!"


Fatia kemudian duduk setelah Bu Rima menyuruhnya duduk.


"Tante, sebenarnya Om Remon kenapa? dan bagaimana sekarang kondisinya?" tanya Fatia tanpa banyak basa-basi lagi.

__ADS_1


"Kata dokter, Om Remon itu, terkena stroke. Kakinya sekarang lumpuh Fatia. Dia sudah tidak bisa berjalan dengan normal lagi," jelas Bu Rima.


Fatia terkejut saat mendengar ucapan Bu Rima.


"Ya ampun, kasihan banget Om Remon."


"Fatia. Ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan sama kamu."


"Apa Tan?" tanya Fatia.


"Begini, bagaimana hubungan kamu dengan Remon? yang Tante lihat, kalian itu udah sangat dekat. Apakah kalian tidak mau menikah? jangan membuat Remon menunggu lama Fatia," ucap Bu Rima tiba-tiba.


Fatia menatap Vino.


"Bagaimana ya, kalau aku sih, terserah Vino aja. Kalau Vino membolehkan aku menikah, ya insya Allah aku akan menikah. Aku hanya butuh persetujuan Vino saja," ucap Fatia.


Bu Rima menatap Vino.


"Vino," ucap Bu Rima yang membuat Vino menatapnya.


"Iya. Ada apa Oma?" Tanya Vino.


"Vino, Andre Papa kamu itu kan sekarang sudah menikah, dan apakah boleh, kalau mama Vino menikah lagi?"


"Menikah dengan siapa? aku nggak mau punya papa yang lain selain papa Andre," cetus Vino.


"Vino. Bagaimana kalau mama kamu menikahnya dengan Om Remon?" tanya Bu Rima lagi.


Vino terkejut saat mendengar ucapan Bu Rima.


"Apa! Mama mau nikah sama Om Remon?"


"Iya. Apa Vino setuju mama nikah sama Om Remon?" tanya Fatia.


"Kalau sama Om Remon, aku setuju. Soalnya Om Remon baik. Malah dia lebih baik dari Papa Andre."


Fatia dan Bu Rima tersenyum dan saling menatap.


"Vino yakin?" tanya Fatia menatap Vino dengan wajah yang tampak berbunga-bunga.


"Yakin dong Ma. Aku setuju kalau Mama mau nikah sama Om Remon."


****


Malam ini, Andre masih sendiri berada di ruang tengah. Sejak tadi, dia masih tampak serius menonton acara televisi.


Tiba-tiba saja, Andre teringat dengan Vino anaknya.


"Lagi ngapain ya Vino sekarang," ucap Andre.


Andre kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menelpon Fatia.


Beberapa saat kemudian, Fatia mengangkat telpon dari Andre.


"Halo..."


"Halo Fatia. Kamu ada di mana? Vino mana?"


"Ini Mas. Vino ada di samping aku," ucap Fatia.

__ADS_1


Fatia menatap Vino yang saat ini, masih belajar di atas tempat tidur. Vino tampak masih mencorat-coret bukunya.


"Vino. Ada telpon nih, dari papa kamu," ucap Fatia sembari menyodorkan ponselnya pada Vino.


"Tumben Ma, Papa nelpon."


"Kangen kali sama kamu."


Vino kemudian mengambil ponsel dari tangan ibunya. Dia kemudian menerima telpon dari ayahnya.


"Halo Papa."


"Halo Vino, lagi ngapain sayang?"


"Aku lagi belajar Papa."


"Belajar apa?"


"Besok ada PR papa. Jadi aku harus kerjakan."


"Wah, anak Papa sekarang jadi rajin ya."


"Iya Papa. Nanti aku di marahin mama lagi kalau nggak nurut mama."


"Iya sayang."


"Papa. Kok Papa nggak pernah main ke sini lagi. Kenapa?"


"Maaf ya sayang. Akhir-akhir ini, Papa lagi sibuk banget di kantor. Jadi, Papa nggak bisa ke rumah kamu. Tapi Papa janji, nanti kalau Vino ulang tahun, Papa akan belikan kado untuk Vino."


"Pa, boleh nggak kalau ulang tahun aku di meriahkan. Soalnya, aku pengin banget Pa, ngundang teman-teman aku. Teman-teman sekolah aku juga."


"Boleh sayang. Nanti, Papa akan atur semuanya ya."


"Asyik..."


Dari kejauhan, Carisa tampak masih menatap ke arah suaminya. Dia kemudian mendekati suaminya.


"Mas, aku cariin ternyata kamu ada di sini? lagi ngapain kamu?" tanya Carisa menatap tajam Andre.


"Carisa. Ada apa?"


"Kamu lagi telponan sama Fatia?" terka Carisa.


"Nggak. Siapa juga yang lagi telponan sama Fatia. Orang aku lagi bicara sama anak aku."


Carisa cemberut. Sepertinya dia tidak suka kalau Andre lebih sayang pada Vino dari pada sama Tata.


Carisa duduk di sisi Andre. Dia kemudian merebut telpon Andre dan mematikan saluran telpon itu dengan sepihak.


"Kok di ambil sih. Sini telpon aku."


"Pokoknya aku nggak suka ya Mas, kalau kamu masih berhubungan sama mantan istri kamu itu."


"Siapa yang berhubungan lagi dengan Fatia. Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Fatia."


"Aku nggak mau, kamu lebih sayang sama anaknya Fatia dari pada sama anaknya aku."


"Hah, Carisa. Anak kamu yang mana. Tata itu anaknya Alena bukan anak kamu. Dan aku bingung ya. Kenapa ya, sampai sekarang kamu belum punya anak juga. Padahal, aku ingin banget punya anak dari rahim kamu."

__ADS_1


"Maaf Mas. Kalau aku belum bisa ngasih kamu keturunan."


Carisa tampak sedih. Sudah empat tahun mereka menikah, namun selama itu, dia belum diberikan keturunan.


__ADS_2