Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kesiangan


__ADS_3

Sinar mentari di pagi ini, sudah menelusup masuk ke dalam celah-celah jendela kamar Fatia. Fatia dan Remon masih tampak berbaring di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.


Remon sejak tadi, belum mau beranjak turun dari tempat tidurnya. Padahal dia sudah bangun sejak tadi. Dia masih ingin menikmati waktu-waktunya bersama istri tercintanya.


Sudah setengah bulan mereka menjadi pengantin baru. Namun, Remon dan Fatia masih tampak belum puas. Mereka masih ingin menikmati waktu-waktu indah mereka. Bahkan, sampai membuat Remon satu minggu tidak pergi kantor. Dia lebih memilih mengurung diri di kamar bersama istrinya dari pada bekerja.


Fatia mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00


'Duh, benarkan kalau aku kesiangan lagi. Huh, ini gara-gara Mas Remon. Aku sebenarnya nggak enak, sama mama dan Bik Ning. Kalau aku kesiangan kan, aku nggak bisa bantuin mereka di dapur.'


"Mas, bangun Mas. Kamu nggak mau ke kantor lagi?" tanya Fatia.


Remon yang di bangunin hanya menggeliat. Dia seperti masih asyik dengan tidurnya. Fatia terkejut saat tiba-tiba saja, tangan Remon sudah merayap dan menarik tubuh Fatia hingga Fatia jatuh ke pelukannya lagi.


"Mas, jangan seperti ini. Kita harus bangun. Mau sampai kapan kamu nggak ke kantor. Dan aku nggak enak sama mama kamu. Masak iya, setiap hari aku kesiangan, gara-gara kita begadang terus semalaman."


"Sayang, aku masih ngantuk. Aku masih ingin memeluk kamu seperti ini," ucap Remon.


"Mas, ayo kita bangun!"


Remon mengerjapkan matanya. Fatia terkejut saat tiba-tiba saja, Remon menangkup wajah Fatia dengan ke dua tangannya.


"Sayang, kamu semakin cantik aja. Membuat aku, jadi nggak betah berlama-lama berada di kantor. Makanya, aku lebih milih untuk berdiam diri di rumah aja."


Remon memejamkan matanya. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Fatia. Sepertinya, dia sudah siap untuk bertempur kembali dengan istrinya. Sebelum Remon menciumnya, Fatia dengan sigap mendorong tubuh Remon dengan cepat.


Fatia juga lelah, jika setiap hari harus melayani Remon di dalam kamar. Dia tidak bebas lagi untuk ke mana-mana setelah menikah. Padahal dia sudah kangen dengan Vino.


"Sayang, kenapa?" tanya Remon yang menunjukan wajah kecewa karena Fatia menolak ciumannya.


"Maaf Mas, aku nggak bisa. Aku mau mandi dan mau ke luar."


Remon tersenyum.


"Satu kali lagi sayang,"


"Nggak! aku nggak mau. Aku capek Mas."


Fatia buru-buru turun dari ranjangnya. Setelah itu, dia mengambil handuk dan langsung menutupi tubuhnya dengan handuknya.


Sementara Remon masih menatap istrinya tanpa berkedip. Entah kenapa, sejak menikah dengan Fatia, sulit sekali Remon untuk mengendalikan hasratnya.


"Aku mau mandi Mas," ucap Fatia.


"Ya, silahkan sayang."


Fatia kemudian bergegas menuju ke kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dan mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Remon mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Dia kemudian mengaktifkan ponselnya lagi setelah semalaman dia mematikan ponselnya. Banyak chat dari orang kantor yang belum Remon baca dan balas.


Selesai mandi, Fatia keluar dari kamar mandi. Dia menatap suaminya yang saat ini masih serius dengan ponselnya.

__ADS_1


Fatia mengambil bajunya dan ganti baju. Setelah itu, dia berjalan ke meja riasnya dan duduk di depan meja riasnya.


Fatia memoles sedikit wajahnya dengan make up.


Remon menatap ke arah Fatia.


"Sayang, kamu nggak mau nambah lagi?"


Fatia yang sedang memoles wajahnya dengan bedak, menghentikan aktifitasnya dan menatap Remon.


"Nambah apa?"


"Ya, sebelum aku aktif lagi ke kantor. Aku mau puas-puasin dulu bersama istri aku. Syukur-syukur bulan depan kamu hamil sayang."


"Hamil? kamu sudah ingin aku hamil Mas?"


"Iya dong sayang. Usia aku kan sudah tua gara-gara nunggu kamu kelamaan. Teman aku aja udah punya anak gede. Masak aku, belum punya anak."


"Ya insya Allah ya Mas. Mudah-mudahan saja, bulan depan aku bisa hamil. Tapi..."


Fatia menghentikan ucapannya.


"Kalau aku udah hamil, kita nggak jadi bulan madu dong."


"Kata siapa? bulan madu itu bebas sayang. Aku pengin sih, ajak kamu bulan madu sekarang. Tapi, aku masih belum tega ninggalin mama."


Fatia tiba-tiba saja teringat dengan ibu mertuanya.


"Dari semalam, mama kamu nggak keluar kamar Mas. Kenapa ya mas, dengan mama kamu?"


Fatia bangkit dari duduknya.


"Mas, aku mau ke luar dulu ya. Nggak enak, kalau aku harus ngurung diri terus di kamar."


"Iya sayang. Mungkin, besok aku juga harus ke kantor. Ini, orang kantor udah nanyain aku melulu. Kapan aku berangkat."


"Ya udahlah Mas. Besok kamu ke kantor."


Fatia berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Dia kemudian menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur.


Di dapur, tampak sepi. Namun, di meja makan, sudah tersedia berbagi macam masakan yang sudah Bik Ning masak.


Fatia tersenyum saat melihat makanan yang ada di atas meja makan.


"Bibik masaknya kebanyakan. Kemarin aja, masak segini nggak habis," ucap Fatia.


Beberapa saat kemudian, Bik Ning menghampiri Fatia.


"Eh, Non, udah bangun Non?"


"Iya Bik. Maaf ya Bik. Aku kesiangan lagi. Aku nggak bisa bantuin bibi."

__ADS_1


"Nggak apa-apa Non. Itu udah bibik masakin buat Non dan Den Remon."


"Mama ke mana Bik?"


"Dia masih di kamar Non."


"Dari semalam, emang mama nggak ke luar kamar Bik?"


"Nggak Non. Katanya ibu lagi nggak enak badan."


"Mama sakit lagi?"


"Iya. Tapi tadi bibi udah bawain makanan ke kamar ibu. Dia juga udah minum obat."


"Oh."


"Ya udah Non. Bibik mau lanjutin pekerjaan bibi duku ya Non."


"Iya Bik."


Bik Ning pergi meninggalkan Fatia. Sementara Fatia duduk di meja makan menunggu suaminya.


Beberapa saat kemudian, Remon menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke ruang makan. Dia tersenyum saat melihat istrinya sudah duduk di ruang makan.


"Fatia, kamu udah makan?" tahya Remon.


"Belum Mas. Aku lagi nunggu kamu. Kamu udah mandi?"


"Udah sayang." Remon kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Fatia.


Fatia mengambil piring untuk suaminya. Setelah itu Fatia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Remon. Tidak lupa, Fatia juga mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.


"Makan yuk Mas."


Remon mengangguk. Setelah itu, Fatia dan Remon makan bersama di ruang makan.


"Mama ke mana Fatia?" tanya Remon.


"Kata Bik Ning, mama kamu sakit Mas."


"Mama sakit lagi?"


"Iya Mas. Katanya sih gitu. Tapi kata Bik Ning dia udah minum obat kok."


"Setelah makan, nanti kita ke kamar mama ya."


Fatia mengangguk.


"Sebenarnya, Mama itu masih butuh perhatian kita Fatia. Apalagi, dia kan belum bisa melupakan papa. Karena kan belum ada sebulan papa meninggal."


"Iya. Mama pasti sedih banget Mas saat ini. Mungkin, seandainya aku jadi mama, aku juga akan sedih banget seperti mama."

__ADS_1


"Makanya, kamu cepat-cepat hamil. Biar bisa cepat memberikan mama aku cucu. Biar dia kembali ceria lagi seperti dulu"


"Iya Mas."


__ADS_2