
Andre menatap istrinya yang saat ini sudah terlelap.
Carisa. Dulu, aku sangat menggilai kamu. Dulu, aku merasa cintaku nggak bisa pindah ke lain hati. Tapi kenapa setelah kita menikah, rasa cinta itu tidak bisa hadir kembali di hatiku. Justru aku semakin lama, semakin mencintai Fatia dan tidak bisa melupakan dia.
Sebenarnya, aku ingin melupakan Fatia. Karena sekarang Fatia sudah menjadi milik Remon. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakan mamanya Vino. Untuk kembali sama dia juga, itu tidak mungkin. batin Andre.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan seorang gadis melintas di dalam fikiran Andre.
"Ersa," gumam Andre. "Gimana ya kabar dia. Dari kemarin aku sibuk, dan belum sempat ke rumah dia. Tapi, aku punya nomernya. Apa aku telpon dia aja ya. Siapa tahu, dia belum tidur."
Andre mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Setelah itu dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar dari kamar.
Andre menuruni anak tangga dan berjalan ke ruang tengah.
Andre menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia kemudian mengecek nomer Ersa yang ada di ponselnya.
"Coba deh, aku telpon Ersa. Siapa tahu dia mau angkat telpon aku," ucap Andre.
Iseng, Andre menelpon Ersa anak gadis dari Pak Seno sekretarisnya yang sudah almarhum.
Beberapa saat kemudian, suara lembut dari balik telpon terdengar. Andre langsung tersenyum saat mendengar suara Ersa.
"Halo..."
"Halo Ersa. Kamu belum tidur ya?"
"Ini siapa ya?"
"Ini aku Andre. Apa kamu lupa?"
"Oh Pak Andre. Aku fikir siapa malam-malam gini nelpon. Biasanya orang iseng. Hoaaammm..."
"Kamu udah ngantuk? maaf ya, kalau aku ganggu."
"Oh nggak kok Pak. Aku juga masih mainan hape tadi. Dan belum ngantuk."
"Udah jam sebelas lho ini. Kamu mau tidur jam berapa Ersa?"
"Nggak tahu lah Pak. Terserah mata aku aja."
"Hehe... ngomong-ngomong, apa pernah ada orang iseng yang nelpon kamu malam-malam seperti ini?"
"Banyak Pak. Sering banget malah."
"Aku tahu, palingan itu juga pengagum rahasia kamu. Kamu itu kan cantik, pasti banyak cowok yang tertarik sama kamu."
"Bapak bisa aja. Kenapa bapak jam segini belum tidur?"
"Aku ngga bisa tidur. Belum ngantuk. Kalau istri dan anak aku, sudah tidur semua."
"Oh..."
"Kabar kamu dan mama kamu gimana sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Kabar aku baik. Mama juga baik. Kami sudah ikhlas dengan kepergian papa."
"Ersa, kalau kamu butuh apa-apa, kamu datang aja ke kantor aku. Kita bisa ngobrol-ngobrol di sana. Kalau kamu sudah siap kerja, datang aja ke kantor aku."
"Iya Pak. Insya Allah nanti ya, kalau Papa saya sudah tujuh hari."
__ADS_1
"Oh iya. Aku tunggu ya Ersa."
"Iya Pak."
****
Carisa mengerjapkan matanya. Dia meraba ke sampingnya tidur. Dia terkejut saat melihat suaminya sudah tidak ada di sampingnya.
Hoaaammm...
"Ke mana Mas Andre," ucap Carisa sembari beringsut duduk.
Carisa memegang lehernya. Tampaknya, Carisa haus.
"Haus banget ya. Aku mau ambil minum ah di bawah."
Carisa kemudian turun dari tempat tidurnya. Setelah itu, dia berjalan ke luar dari kamarnya.
Carisa menuruni anak tangga.
"Mas...Mas Andre...!" seru Carisa memanggil suaminya.
Andre tampak gugup saat mendengar suara Carisa.
"Ersa, udah dulu ya. Anak aku bangun. Dia nangis Er."
Andre buru-buru mematikan saluran telponnya saat mendengar suara istrinya.
Dengan sekejap, Carisa sudah berdiri dibelakang Andre.
"Mas, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Carisa yang membuat Andre terkejut.
"Eh, sayang. Kamu kenapa bangun?" tanya Andre.
Carisa berjalan dan duduk di sisi Andre.
"Aku haus Mas. Pengin minum."
"Ya udah. Kenapa kamu malah duduk di sini. Kalau mau ambil minum, ya sana di dapur."
"Tapi, aku malas pergi ke dapur."
Carisa menatap gelas Andre yang berisi air putih.
"Boleh, aku minum air minum kamu?"
"Ya udah. Minum aja."
Carisa kemudian mengambil gelas Andre dan minum air putih milik Andre.
Andre bangkit dari duduknya.
"Mas, kamu mau ke mana?"
Andre menatap Carisa.
"Aku mau ke kamar Carisa. Aku ngantuk. Besok aku harus bangun pagi-pagi. Karena kerjaan aku banyak di kantor."
"Ya udah. Aku ikut!"
__ADS_1
Andre berjalan naik ke lantai atas. Diikuti Carisa dibelakangnya. Sesampainya di kamar, mereka naik ke atas tempat tidurnya.
Andre menyelimuti dirinya dengan selimut tebalnya. Dia kemudian memejamkan matanya untuk tidur. Sementara Carisa masih menatap Andre lekat.
"Mas, kamu mau langsung tidur?" tanya Carisa.
Andre yang sudah memejamkan matanya mengerjapkan matanya dan menatap Carisa.
"Ada apa?" tanya Andre.
"Aku kangen Mas," jawab Carisa.
Andre mengernyitkan alisnya.
"Boleh nggak, aku peluk kamu?" tanya Carisa.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Carisa merasa hubungannya dengan Andre semakin tidak harmonis. Itu semua karena Andre yang selalu saja memikirkan Vino tanpa memikirkan rumah tangganya dengan Carisa. Andre juga tidak pernah perhatian lagi dengan Tata anaknya Carisa.
"Carisa. Aku ngantuk. Dan aku lelah. Kalau kamu peluk aku, peluk aja. Tapi maaf, aku nggak bisa melakukan itu, untuk malam ini," ucap Andre.
"Aku nggak minta itu. Aku cuma mau peluk kamu aja."
Carisa kemudian memeluk Andre dengan erat. Dia mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur.
'Mas Andre sekarang berubah. Ini semua gara-gara anak sialan itu. Mas Andre kebanyakan memikirkan Vino. Sampai-sampai dia acuhkan aku dan Tata. Aku nggak mau membiarkan Vino merebut perhatian Mas Andre terus menerus. Aku harus hamil dan punya anak. Apapun caranya aku akan lakukan agar aku bisa hamil dan punya anak.'
****
Waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi. Remon dan Fatia masih terlelap di kamarnya. Sementara Vino, dia tidur di kamar, yang letaknya ada di sebelah kamar Fatia dan Remon.
Kilat dari luar sudah tampak menyambar-nyambar, suara petir sudah mulai bergemuruh. Vino mengerjapkan matanya saat mendengar suara petir itu. Dia tampak ketakutan.
"Mama...mama...aku takut ..." ucap Vino.
Vino yang merasa takut, buru-buru ke luar dari kamarnya. Dia kemudian mengetuk pintu kamar Fatia.
Tok tok tok...
Fatia mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Fatia kemudian berjalan menuju pintu untuk membuka pintu.
"Vino. Ada apa?" tanya Fatia menatap Vino lekat.
Vino langsung memeluk Fatia.
"Mama aku takut. Boleh nggak aku tidur dengan mama malam ini?" tanya Vino.
Fatia tersenyum.
"Boleh sayang. Ayo kita masuk." Fatia yang merasa iba pada Vino, langsung membawa Vino masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa di suruh, Vino langsung naik ke tempat tidur Fatia. Dia kemudian berbaring di samping Remon yang masih terlelap.
Fatia tersenyum saat menatap anaknya.
"Kenapa sayang?" tanya Fatia.
"Kamar mama dingin."
"Oh iya sayang. Mama kan pakai AC. Ayah Remon biasa tidur pakai AC. Kalau kamu dingin, mama kecilin ya AC nya."
__ADS_1