Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Terjatuh


__ADS_3

"Bagaimana aku nggak lebih sayang sama anaknya Fatia, kamu aja nggak bisa memberikan anak untuk aku sampai sekarang." Andre berucap ketus dan menatap istrinya tajam.


Sudah empat tahun, sejak pernikahan Andre dengan Carisa, namun sampai empat tahun itu, Carisa tidak kunjung hamil dan punya anak.


Padahal, Andre dan keluarganya sudah sangat mengharapkan Carisa hamil. Apalagi Bu Alya. Dia sudah sangat mengharapkan seorang cucu. Karena Vino, cucu satu-satunya yang dia punya, tidak bisa ikut bersamanya.


Sudah beberapa kali Carisa mencoba ikut program hamil. Namun, hasilnya nihil. Carisa tetap tidak bisa hamil. Mungkin, Carisa harus melakukan tes kesuburan.


Carisa menghela nafas dalam. Sebenarnya, Carisa memang tidak suka jika suaminya selalu menyebut-nyebut nama Fatia di depannya. Carisa sangat cemburu pada Fatia. Apalagi, Carisa tahu kalau suaminya itu, sampai saat ini belum sepenuhnya melupakan Fatia.


Hah, kenapa sih. Lagi-lagi wanita itu yang di puji-puji Mas Andre. Aku tuh udah muak, di banding-bandingkan dengan Fatia terus. Dan aku juga lelah berantem terus dengan Mas Andre. Kapan coba Mas Andre bisa melupakan Vino dan wanita itu. Gerutu Carisa dalam hati.


Istri mana yang tidak akan cemburu jika dia tahu, kalau suaminya masih mempunyai perasaan pada mantan istrinya.


Begitu juga dengan Carisa. Sampai saat ini, yang Carisa lihat Andre itu lebih sayang pada Fatia dan Vino ketimbang sama Tata dan Carisa. Kadang hal itu, yang membuat Carisa sering berantem sama Andre.


"Maafkan aku Mas. Tapi, kita coba sekali lagi untuk ikut program hamil. Siapa tahu, nanti kita bisa cepat punya anak," ucap Carisa mengusulkan.


"Program hamil, program hamil. Sudah berapa kali kita ikut program hamil. Tapi, nyatanya kita belum bisa dikaruniai seorang anak. Aku capek Carisa."


"Ya udah. Sabar dong Mas. Lagian, kita kan masih punya Tata. Nggak usah buru-buru punya anak lagi. Kita rawat Tata dulu sampai dia dewasa."


"Tata, Tata, Tata. Tata terus yang kamu andalkan. Dia itu bukan anak kita." Andre masih tampak emosi.


"Sssttt... Mas. Jangan bilang seperti itu. Nanti Tata dengar gimana. Dia kan tahunya kita itu orang tua kandungnya. Dia pasti sedih jika tahu yang sebenarnya kalau kita bukan orang tua kandungnya."


"Hah biarin aja. Biar sekalian dia tahu, kalau aku bukan ayah kandungnya. Untuk apa kita harus bohongi Tata lagi. Lebih baik kita jujur saja sama dia, kalau kita bukan orang tua kandungnya."


"Mas, jangan gitu dong Mas. Tata itu masih kecil. Dia nggak tahu apa-apa. Aku mohon, jangan bilang apa-apa ya sama dia. Aku nggak mau dia sedih."


"Hah! capek aku Carisa. Setiap hari, kamu selalu membuat aku kesal."


"Mas. Emang cuma kamu yang capek? aku juga lelah Mas, ngadepin kamu yang egois. Katanya kamu sudah menerima Tata. Tapi, nyatanya kamu lebih sayang dengan Vino ketimbang dengan Tata. Kamu itu pilih kasih Mas!" ucap Carisa dengan nada tinggi.


Andre bangkit berdiri. Dia sebenarnya malas jika harus berantem dengan istrinya. Setiap hari, Carisa sering sekali membuat Andre marah.


"Carisa. Bisa diam nggak kamu. Aku itu capek, baru pulang kerja, aku malas ribut terus sama kamu."


"Mas, sebenarnya aku nggak pernah mau cari ribut. Tapi kamu sendiri yang selalu bikin masalah!"


Di dalam kamarnya, Tata masih bersama Dinda. Tata gadis kecil yang baru berusia enam tahun itu, menatap Dinda.


"Tante, mama dan papa kenapa lagi sih? mereka lagi berantem ya ? kenapa mereka selalu berantem?" tanya Tata menatap lekat Dinda.


"Sayang, mungkin papa kamu lagi capek. Jadi bawaannya penginnya marah-marah melulu," ucap Dinda.


"Kasihan mama Tan. Dimarahin Papa melulu."


"Udahlah, Tata belajar aja yang rajin. Nggak usah mikir mama dan papa Tata. Biar Tante seperti Tante Dinda. Sekarang Tante Dinda udah jadi dokter. Tata bisa mengikuti jejak Tante Dinda."


Tata tersenyum.


"Iya. Aku mau nurut sama Tante Dinda aja. Biar aku bisa jadi dokter kayak Tante Dinda."


Dinda tersenyum.


Semenjak kehadiran Tata di rumah Andre, Dinda dan Bu Alya sangat sayang sekali pada Tata. Walau Tata bukan anaknya Andre dan Carisa. Tapi, Tata sangat penurut sekali. Dia juga sangat cantik.


Semenjak ditinggal pergi ibunya beberapa tahun yang lalu, Carisa yang merawat Tata sampai besar.


Carisa sudah menganggap Tata seperti anak kandungnya sendiri. Sementara, ibu kandung Tata belum ada kabar sampai saat ini. Dan Tata menganggap Andre dan Carisa itu orang tua kandungnya sendiri.


Andre yang masih tampak kesal dengan Carisa, buru-buru pergi meninggalkan Carisa. Dia berjalan untuk ke kamarnya.


"Hah, Mas Andre benar-benar menyebalkan," gerutu Carisa.


**


Vino masih cemberut sejak tadi. Gara-gara ayahnya memutuskan saluran telponnya dengan sepihak.


"Sayang, sudah dong. Jangan cemberut terus." Fatia sejak tadi masih membujuk Vino agar dia tidak cemberut terus.


Vino menatap Fatia lekat.


"Kenapa aku belum selesai bicara, papa sudah putusin telponnya Ma," ucap Vino dengan wajah yang masih ditekuk.

__ADS_1


Fatia tersenyum.


"Mungkin sinyalnya lagi jelek sayang." Fatia mencoba meyakinkan Vino.


"Mungkin kali ya Ma."


"Ya udah. Telpon Om Remon aja." Fatia memberi usul.


Vino tersenyum. "Iya deh Ma. Aku mau telpon Om Remon aja."


Vino kemudian menelpon Remon.


Tut...Tut ..Tut ..


Vino tampak kecewa, saat Remon tidak mengangkat telponnya.


"Kok, Om Remon nggak angkat telpon aku?" ucap Vino dengan wajah sendu.


"Mungkin Om Remon masih sibuk sayang. Coba sini mama yang nelpon." Fatia mengambil ponsel yang Vino pegang.


Fatia kemudian menekan nomer Remon dan menelpon Remon. Beberapa saat Fatia menelpon Remon, namun, Remon belum juga mengangkat panggilan dari Fatia.


"Nggak di angkat juga ya Ma? m" tanya Vino.


"Iya sayang." jawab Fatia.


"Yah, Om Remon kemana sih?"


"Mungkin Om Remon udah tidur. Atau masih sibuk sayang dengan pekerjaannya. Om Remon sekarang kan kerja di kantor papanya."


Vino manggut-manggut mengerti.


"Ya udah. Vino tidur aja ya. Udah malam. Atau Vino mau main sama Aya. Aya kayaknya belum tidur deh."


"Ya udah Ma. Kita ke kamar Tante Nessa aja yuk. Remon pengin main sama Aya."


"Ayo."


Vino kemudian turun dari ranjangnya. Dia menggandeng tangan Fatia untuk ke kamar Aya anaknya Nessa yang saat ini, sudah berusia dua tahun.


Remon sejak tadi masih menatap ke luar jendela kamarnya. Hari ini hari minggu. Biasanya setiap hari libur, Remon selalu menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Fatia.


Namun, tampaknya pagi ini Remon merasa tidak enak badan. Sejak ayahnya pulang dari rumah sakit, Remon sakit. Mungkin karena padatnya aktivitas membuatnya sakit.


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Remon mengejutkan Remon dari lamunannya.


Remon kemudian berjalan untuk mengambil ponsel yang ada di atas tempat tidurnya. Remon tersenyum saat melihat panggilan dari Fatia.


"Tumben pagi-pagi Fatia nelpon," ucap Remon.


Remon buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Fatia.


"Halo..."


"Halo Om. Lagi ngapain Om? kenapa tadi malam nggak angkat telpon aku?" suara Vino dari balik telpon membuat Remon tersenyum.


"Oh. Vino. Om nggak lagi ngapa-ngapain kok. Cuma Om lagi nggak enak badan aja."


"Om nggak mau main ke sini?"


"Duh, sayang. Nanti aja ya. Kalau Om sudah sehat."


"Om sakit apa?"


"Om cuma lagi flu biasa aja."


"Gimana kalau gantian aku dan mama yang ke rumah Om."


"Mau naik apa Vino ke sini?"


"Naik motor Om. Gimana."


"Ya udahlah. Emang mama kamu mau di ajak main ke sini."

__ADS_1


"Mau dong Om. Nanti aku bujuk mama deh."


"Ya udah. Terserah Vino aja."


"Ya udah ya Om. Aku mau mandi terus nanti ke rumah Om."


"Iya sayang."


***


"Ma, kita ke rumah Om Remon yuk!" aja Vino pada Fatia.


"Ke rumah Om Remon, mau ngapain?" tanya Fatia.


"Om Remon lagi sakit. Kita harus jengukin dia ma. Kalau mama dan aku sakit, Om Remon juga sering banget jengukin kita dan bawa buah-buahan."


"Iya sayang. Kita sekarang siap-siap dulu yuk."


Vino dan Fatia kemudian bersiap-siap untuk ke rumah Remon. Setelah siap, mereka kemudian ke luar dari kamarnya. Sesampainya di ruang tengah, mereka menghentikan langkahnya.


"Kalian berdua mau ke mana?" tanya Bu Dewi.


"Mau ke rumah Mas Remon Ma," jawab Fatia.


"Mau ngapain pagi-pagi begini ke sana. Kalian belum pada sarapan kan?"


"Kita mau makan di luar aja Ma."


Sebelum pergi, Fatia dan Vino mencium punggung tangan Bu Dewi dan Pak Fendi.


"Kalian mau naik apa?" tanya Pak Fendi.


"Kita mau naik motor Opa," jawab Vino.


"Ya udah. Hati-hati di jalan ya," ucap Pak Fendi.


"Iya. Kita berangkat dulu ya Ma, Pa," ucap Fatia.


Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Fatia dan Remon kemudian menuju ke depan rumahnya.


Fatia mengambil motornya. Setelah itu, dia menggunakan helmnya.


"Ayo sayang naik!" ajak Fatia pada Vino.


"Iya Ma."


Vino kemudian naik di belakang Fatia. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah untuk ke rumah Remon.


***


Tin tin tin...


Klakson mobil dari belakang Fatia mengejutkan Fatia. Mobil itu, tiba-tiba saja memepet motor Fatia hingga membuat Fatia terjatuh dari motornya. Karena Fatia tidak bisa menjaga keseimbangan.


"Aduh ... sakit Ma... Hiks...hiks..."


Fatia terkejut saat melihat Vino menangis. Sebelum menolong Vino, Fatia menatap ke arah plat nomor mobil yang hampir menyerempetnya tadi.


"Itu seperti mobil Mas Andre. Tapi, kenapa dia mau mencelakai aku dan Vino. Apa maksudnya. Atau jangan-jangan, Carisa yang menyetir mobil tadi," gumam Fatia.


Sejak tadi Fatia masih dipenuhi rasa penasaran. Siapa yang ada di dalam mobil Andre itu. Andre atau Carisa.


Fatia menatap anaknya. Dia kemudian mencoba untuk menolong anaknya yang sejak tadi masih menangis.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Fatia.


"Huhuhuhu... lutut aku sakit Ma."


"Coba sini mama lihat lukanya."


Fatia melihat luka yang ada di lutut Vino. Dia terkejut saat melihat darah sudah mengalir deras dari lutut anaknya.


"Duh, sayang. Kamu terluka. Bagaimana ini."


Fatia tampak panik. Dia kemudian menyobek bajunya dan mengikat luka Vino dengan sobekan baju itu.

__ADS_1


"Sabar ya sayang. Nanti kita obati dulu luka kamu di rumah Om Remon," ucap Fatia.


__ADS_2