Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Geram


__ADS_3

Tin tin tin ...


Klakson mobil dari luar rumah Fatia terdengar.


"Seperti ada yang datang Kak," ucap Nessa.


"Tunggu sebentar ya, kakak lihat dulu siapa yang datang." Fatia bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia berjalan untuk melihat siapa yang datang.


Sebelum membuka pintu, Fatia mengintip dari balik jendela ruang tamu.


"Seperti mobil Mas Andre," ucap Fatia.


Beberapa saat kemudian, Andre turun dari mobilnya. Dia berjalan ke teras depan rumah Fatia dan mengetuk pintu.


Tok tok tok...


"Vino...! Vino...! ini papa Vino...!" seru Andre.


Fatia buru-buru membuka pintu rumahnya.


"Mas Andre, kamu ngapain ke sini?" tanya Fatia.


"Aku mau ketemu Vino Fatia," jawab Andre.


"Bisa nggak sih, kamu kalau bertamu ngucapin salam dulu. Nggak teriak-teriak seperti ini?" Fatia menatap tajam ke arah Andre.


"Maafkan aku Fatia. Aku cuma kangen sama Vino. Aku pengin banget ketemu dia dan mau minta maaf sama dia. Karena waktu kemarin-kemarin itu, aku nggak bisa jemput dia."


"Vino nggak ada," ucap Fatia ketus.


"Fatia. Aku tahu, kalau Vino itu ada di dalam. Kemarin, aku telpon dengan ayah kamu. Dan kata ayah kamu, Vino itu udah kembali. Izinkan aku ketemu sama Vino Fatia," ucap Andre. Sejak tadi Andre masih membujuk Fatia agar Fatia mau mempertemukan dia dengan Vino.


"Nggak bisa. Aku udah nggak akan pernah membiarkan kamu ketemu sama Vino lagi. Apalagi untuk bawa dia ke rumah kamu. Aku udah nggak percaya sama kamu lagi Mas! gara-gara kamu, Vino jadi hilang!"ucap Fatia dengan nada tinggi.


"Fatia, aku minta maaf. Untuk semua kelalaian aku kemarin. Aku memang lagi sibuk. Tapi aku sudah suruh istri aku jemput Vino ke sekolahnya. Tapi, dia terlambat datang ke sekolah Vino. Maafkan aku Fatia."


"Aku udah maafin kamu Mas. Itu bukan berarti aku membolehkan kamu untuk bertemu dengan Vino.Mulai sekarang, aku nggak akan pernah ngizinin kamu untuk ketemu Vino lagi!"


Andre meraih tangan Fatia dan menggenggamnya erat.


"Fatia. Jangan begini dong Fatia. Aku juga ayahnya Vino. Bukankah kita pernah berjanji, kalau kita akan membesarkan dan merawat Vino bersama sampai dia tumbuh dewasa. Tapi, kenapa kamu nggak ngizinin aku ketemu Vino. Selama ini, aku juga sudah bertanggung jawab sama Vino. Aku sudah berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk dia," ucap Andre panjang lebar.


Dari kejauhan, Remon masih menatap Andre dan Fatia. Remon sebenarnya cemburu jika saja, melihat Andre dan Fatia berduaan. Apalagi, yang Remon lihat, Andre sudah berani memegang tangan calon istrinya.


Kurang ajar Andre. Kenapa dia berani banget pegang-pegang tangan Fatia. Ucap Remon dalam hati.


Remon turun dari mobilnya. Dia kemudian menghampiri Andre dan Fatia yang masih berpegangan tangan.

__ADS_1


Remon buru-buru melepaskan tangan Fatia dan Andre dengan kasar.


"Kalian lagi ngapain di sini? kenapa pakai acara pegang-pegangan tangan segala?" tanya Remon menatap Fatia dan Andre bergantian.


Andre dan Fatia terkejut saat melihat kedatangan Remon.


"Mas Remon. Kamu udah dari tadi sampai sini?" tanya Fatia tampak gugup.


Fatia benar-benar tidak enak sama Remon. Karena tadi, Remon sudah melihatnya berpegangan tangan dengan Andre.


Remon tidak menjawab pertanyaan Fatia. Justru dia sudah bergerak cepat mencengkeram kerah baju Andre.


"Andre. Kamu berani banget ya, pegang-pegang tangan calon istri saya. Apa maksud kamu pegang-pegang tangan Fatia heh ...!" bentak Remon.


"Em... Remon. Ka-kamu, kamu sudah salah paham Remon," ucap Andre gugup.


"Salah paham? salah paham bagaimana maksud kamu? udah jelas-jelas aku lihat kamu pegang tangannya Fatia. Kamu memang sengaja kan, mau merayu Fatia. Ingat Andre, kamu itu udah punya istri. Dan Fatia itu milik aku. Sebentar lagi, kami akan menikah," ucap Remon yang masih mencengkeram kerah baju Andre.


Andre terkejut saat mendengar ucapan Remon.


"Apa! menikah?" ucap Andre.


"Ya. Menikah. Kenapa? kenapa kamu syok begitu?" Remon masih menatap Andre.


"Oh, aku nggak syok. Kalau kalian mau nikah, ya selamat dong, Aku ikut senang dengarnya. Tapi, bisa nggak lepaskan tangan kamu, " ucap Andre.


"Mas Andre, lebih baik sekarang kamu pulang deh Mas. Karena aku nggak akan pernah ngizinin kamu untuk ketemu Vino lagi."


"Tapi kenapa Fatia. Aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku akan jaga dia baik-baik Fatia. Izinkan aku ketemu Vino Fatia!"


"Hah, sudahlah, pergi saja kamu dari sini. Percuma kamu memohon-mohon seperti ini. Karena Fatia sudah tidak percaya lagi sama kamu," ucap Remon.


Di dalam kamarnya, Vino masih bersama Nessa.


"Tan, Tante dengar nggak. Itu seperti suara papa ya." Remon menatap Nessa.


Nessa mengernyitkan alisnya.


"Masa sih. Tante nggak dengar tuh," ucap Nessa.


"Benar Tan. Itu seperti suara Papa dan mama. Mereka kayak lagi berantem."


"Hehe... salah dengar kali kamu. Mungkin itu tivi sayang. Tante lupa matiin tivinya tadi. Ayo, kamu pakai sepatunya. Nanti kesiangan. Om Remon kan sebentar lagi datang jemput kamu."


Vino mengangguk. Dia kemudian melanjutkan memakai sepatunya.


*

__ADS_1


Andre menatap Fatia dan Remon tajam.


"Baiklah. Aku akan pergi, tapi aku akan kembali lagi ke sini," ucap Andre yang sudah merasa sangat kesal karena dia sudah dikecewakan oleh Fatia.


Andre kemudian melangkah kembali ke arah mobilnya. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Fatia.


Beberapa saat kemudian, Vino muncul dari balik pintu.


"Papa...!" seru Vino.


Remon dan Fatia saling menatap.


"Vino. Kamu udah siap?" tanya Remon.


"Tadi aku dengar suara Papa. Kok, papa nggak ada? ke mana papa?" tanya Vino.


"Nggak ada papa sayang. Kamu salah dengar tadi. Orang mama lagi ngobrol dengan Om Remon kok,"


Vino tampak sedih saat tidak menemui ayahnya ada di depan.


"Vino kenapa manyun gitu?"


"Aku pengin bicara sama papa. Aku pengin ulang tahun, potong kue, tiup lilin dan ngundang semua teman-teman aku. Karena papa udah janji, kalau dia memberi aku kado.*


Fatia tersenyum.


"Vino. Om Remon juga bisa, menyiapkan pesta ulang tahun kamu," ucap Fatia.


"Iya Vino. Kamu ingin ulang tahun dan ngundang teman-teman kamu. Oke, Om akan usahakan agar nanti Vino bisa ulang tahun. Gimana?" tanya Remon .


"Boleh deh Om. Tapi, aku pengin undang Papa, Mama Carisa, Tante Dinda, Oma Alya dan Tata."


"Iya. Nanti kita undang semua ya." Remon mengusap-usap rambut Vin.


"Kamu sudah siap Vino?" tanya Fatia.


"Sudah Ma. Kok, mama belum siap-siap?" tanya Vino.


"Iya. Mama mau libur dulu kerjanya sayang. Mama lagi nggak enak badan."


"Oh. Kalau gitu minum obat dong Ma."


"Iya. Nanti ya sayang."


Vino kemudian mencium punggung tangan Fatia. Setelah itu, dia berjalan menuju ke mobil Remon dan dia masuk ke dalam mobil Remon.


"Fatia. Aku pergi dulu ya."

__ADS_1


"Iya Mas. Hati-hati di jalan ya."


__ADS_2