Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Pindah rumah


__ADS_3

"Kakak juga nggak pernah tahu, bagaimana rasanya seorang ibu merindukan anaknya. Kakak nggak pernah tahu, bagaimana rasa sakitnya hamil dan melahirkan. Karena kakak, nggak pernah hamil dan melahirkan."


Carisa diam saat disinggung soal kehamilan. Sebenarnya, Carisa juga ingin hamil dan punya anak dari rahimnya sendiri. Namun, Tuhan belum menghendakinya. Sampai saat ini, Carisa masih menunggunya. Menunggu Tuhan memberikan seorang anak untuknya.


"Bu...Bu Carisa...!" seruan guru Tata terdengar.


Carisa yang melihat Bu guru Tata mencarinya, langsung bergegas pergi untuk menemui Bu guru.


"Kenapa Bu?"


"Tata nangis."


"Kenapa dia nangis?"


"Dia mau pipis katanya. Tapi mintanya sama mamanya."


"Oh. Iya. Aku ke sana sekarang."


Carisa kemudian kembali menemui Tata di kelasnya. Sementara Alena masih menatap kepergian Carisa.


"Dari dulu sampai sekarang, Kak Carisa itu memang egois. Lihat saja, seberapa kuat dia bertahan bersama Kak Andre. Aku aja sering banget di buat sebel oleh dia. Apalagi Kak Andre," ucap Alena.


"Aku harus tetap membujuk Kak Carisa agar dia mau menyerahkan Tata sama aku."


Setelah berkata seperti itu, Alena kemudian pergi meninggalkan sekolah Tata.


Alena mencari taksi. Setelah taksi datang, Alena kemudian naik ke dalam taksi dan meluncur pergi meninggalkan sekolah Tata.


Hampir setiap hari Alena mendatangi sekolah Tata. Setelah dia merasa puas memandang Tata dari kejauhan, Alena pergi meninggalkan sekolah dan dia langsung meluncur ke tempat kerjanya.


Saat ini, Alena kerja di toko roti yang tak jauh dari sekolah Tata. Alena tahu keberadaan Tata, karena dia sering melihat Tata lewat di depan toko bersama Carisa pakai mobil. Dia juga pernah melihat Carisa dan Tata mampir ke tokonya.


****


Remon dan Fatia sejak tadi masih mengepaki baju-baju Vino dan Fatia ke dalam koper. Mereka akan memboyong Vino ke rumah Remon ayah sambungnya.


Ini semua juga karena permintaan Remon. Remon tidak mungkin tinggal di rumah Fatia. Karena dia masih punya rumah dan ibu yang harus dia jaga.


Sejak kematian Pak Wibowo, kondisi Bu Rima juga kurang baik. Dia jadi sering sakit-sakitan. Mungkin, dia masih kefikiran dengan mendiang suaminya.


"Vino, kamu sudah mau pergi?" tanya Nessa yang saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar Fatia.


Vino, Fatia, dan Remon menatap ke arah Nessa bersamaan. Setelah Nessa, Bu Dewi pun datang menghampiri kamar Fatia.


"Kalian lagi siap-siap?" Bu Dewi masuk ke dalam kamar Fatia.


"Oma." Vino tersenyum dan langsung menghampiri Omanya.


Bu Dewi berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Vino.

__ADS_1


"Oma. Aku pasti akan kangen banget sama Oma. Tapi Vino janji, Vino akan sering ke sini untuk nengokin Oma, Opa, Aya dan Tante Nessa."


Bu Dewi tersenyum dan menangkup wajah cucunya. Setelah itu dia mencium puncak kepala Vino.


Vino menatap Nessa. Dia kemudian langsung memeluk Nessa.


"Tante, aku sayang sama Tante."


Nesaa tersenyum. Walau Vino itu nakal dan bandel, tapi Nessa tetap sayang sama Vino. Dia masih bisa memaklumi kenakalan Vino. Karena Vino masih kecil. Mungkin saja, setelah besar, dia bisa berubah.


"Kalau Vino ikut ayah Remon, berarti Vino nggak bisa main bareng sama Aya lagi dong," ucap Nessa.


"Tapi kan kita bisa video call Tan."


"Oh iya. Tante pasti akan kangen banget sama Vino. Kalau Vino mau video call terus juga nggak apa-apa. Dan kapan-kapan, Tante mau main deh, ke rumah Vino."


Vino tersenyum.


Setelah mengepaki semua barang-barangnya, Vino, Remon dan Fatia kemudian pergi meninggalkan kamar mereka.


Mereka berjalan ke depan. Sampai di ruang tamu, Pak Fendi mendekat ke arah Remon.


"Remon, jaga Fatia dan cucu ku baik-baik ya. Dari dulu, Papa sudah yakin, kalau cuma kamu lelaki satu-satunya yang bisa menjaga Fatia dan mencintai dia dengan tulus. Makanya, Papa sangat setuju kalau kamu menikah dengan Fatia dan sudah dari dulu papa bela-belain menjodohkan kamu dengan salah satu anak perempuan Papa. Dan sekarang, keinginanku sudah terkabul," ucap Pak Fendi.


"Iya Pa, aku janji. Aku akan jaga Vino dan Fatia. Karena sekarang mereka adalah tanggung jawab aku."


Setelah semua siap, mereka semua pergi ke teras depan.


Remon membawa kopernya dan memasukkan koper itu ke dalam bagasi mobilnya. Begitu juga dengan barang-barang Fatia dan Vino. Semuanya sudah Remon bawa dan dia masukan ke dalam mobil.


"Ma, Pa, aku pergi dulu ya. Kalian, jaga diri baik-baik di sini sama Nessa," ucap Fatia berpamitan pada ke dua orang tuanya.


"Hati-hati ya Fatia. Sering-seringlah datang ke sini Nak," ucap Bu Dewi.


"Iya Ma. Aku pasti akan sering ke sini."


Setelah berpamitan dengan keluarganya, Remon Fatia dan Vino masuk ke dalam mobil.


Sebelum pergi, Vino dan Fatia melambaikan tangannya pada Nessa, Aya, Bu Dewi dan Pak Fendi. Setelah itu, mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah Bu Dewi.


****


"Assalamualaikum," ucap Remon dan Fatia bersamaan saat memasuki rumah Remon.


"Wa'alakiumsalam," ucap Bu Rima yang saat ini sedang duduk di ruang tengah.


"Bik Ning. Itu sepertinya Fatia dan Remon. Coba Bik, sana lihat!" ucap Bu Rima.


"Baik Bu." Bik Ning kemudian berjalan ke ruang tamu. Dia terkejut saat melihat kedatangan Remon, Fatia dan Vino.

__ADS_1


"Eh, ada Den Vino."


"Bi. Gimana kamar untuk Vino? apa sudah di bereskan?" tanya Remon.


"Udah Den."


"Ya udah. Tolong bawakan barang-barang Fatia dan Vino masuk."


"Baik Den."


Bik Ning kemudian berjalan ke luar untuk mengambil barang-barang yang dibawa Remon dan Fatia. Sementara Fatia, Remon dan Vino berjalan ke ruang tengah, di mana Bu Rima duduk.


"Ma, mama sudah sehat?" tanya Fatia sembari duduk di sisi Bu Rima.


"Udah Nak. Mama udah mendingan kok. Vino bagaimana kondisinya?" tanya Bu Rima.


"Vino juga baik-baik aja kok Ma. Cuma luka-luka ringan aja. Dan sebentar lagi juga sembuh," jawab Fatia.


"Syukurlah."


Vino mencium punggung tangan Bu Rima. Begitu juga dengan Remon dan Fatia. Untuk hari ini, mereka akan tinggal di rumah Bu Rima.


"Vino, kita ke kamar yuk? tuh Bik Ning sudah bawa semua barang-barang kamu ke kamar. Kita beres-beres kamar," ajak Fatia.


Vino mengangguk. Setelah itu Fatia membawa Vino ke lantai atas. Tempat di mana kamar Vino berada.


Sesampainya di depan kamar, Fatia membuka pintu kamar.


"Sayang, kamu nanti tidurnya di sini ya." Fatia menepuk kasur empuk yang ada di dalam kamar Vino.


"Sama mama juga?" tanya Vino.


Fatia tersenyum.


"Nggak sayang. Mama kan sekarang tidurnya sama ayah Remon. Vino kan udah gede, jadi Vino tidurnya harus sendirin. Nggak baik, tidur sama Mama terus."


"Yah, tapi nggak enak tidur sendiri Ma. Aku pengin tidur bertiga. Di rumah Papa aja, aku tidur sama Papa."


"Ya tapi, mama tidak bisa tidur bareng kamu Vino. Kan mama sekarang ada ayah Remon. Kamu nggak malu, udah gede tidurnya bertiga."


"Tata juga tidurnya sama mamanya."


"Kata siapa? Tata juga kan punya kamar sendiri. Paling, mama Carisa yang numpang tidur di kamar Tata. Terus, Kalau di rumah Oma Dewi kan rumahnya kecil. Dan nggak ada kamar lagi. Jadi, kita tidurnya bareng. Kalau di rumah ayah Remon kan rumahnya luas. Jadi, Vino udah disiapin kamar sendiri." Fatia menjelaskan.


Vino tampak sedih saat Fatia menyuruhnya untuk tidur sendiri. Karena Vino memang tidak pernah tidur sendiri dan dia juga penakut. Tapi, Vino bisa memaklumi kondisi Fatia sekarang.


"Ya udah deh. Aku mau tidur sendiri."


"Nah, gitu dong sayang."

__ADS_1


__ADS_2