
Bu Rima menatap Remon dan Fatia bergantian.
"Remon, Fatia, mama pengin kalian cepat-cepat punya anak. Usia Remon juga kan sudah sangat matang. Seharusnya, dia sudah punya anak sebesar Vino. Mama pengin, kamu cepat-cepat hamil Fatia."
Fatia dan Remon saling menatap.
Sebenarnya, Fatia juga sudah ingin punya anak lagi. Karena Vino juga sudah besar dan sudah pantas punya adik. Sementara Remon, sepertinya dia tidak mau buru-buru punya anak. Karena dia masih ingin menikmati waktu-waktu berdua dulu bersama istrinya.
Apalagi, mereka juga belum pernah merasakan bulan madu. Dan rencananya, setelah ini Remon akan mengajak Fatia ke luar negeri.
"Kalau aku sih, nggak pengin buru-buru punya anak. Aku pengin menikmati masa-masa indah ku dulu bersama Fatia. Lagian, untuk apa buru-buru. Kita kan juga masih punya Vino," ucap Remon.
"Tapi Remon. Mama itu udah pengin gendong cucu bayi. Kalau Vino kan udah gede."
"Doain aja ya Ma, biar aku cepat-cepat hamil," ucap Fatia.
"Iya Fatia. Mama akan selalu doain kamu dan Remon."
****
Siang ini, Carisa masih berada di dapur. Sementara dia membiarkan Tata bermain di luar rumahnya.
"Wah, donatnya udah matang. Pasti Tata suka deh, sama donatnya," ucap Carisa.
Setiap hari, Carisa biasa membuat camilan untuk keluarga. Dan kebetulan, Tata sangat menyukai kue donat.
Setelah selesai membuat camilan, Carisa kemudian keluar dari rumahnya untuk menemui Tata yang sedang bermain di halaman depan rumah.
Carisa terkejut saat tidak melihat Tata ada di depan rumah. "Ya ampun, ke mana anak aku."
Carisa kemudian mencari Tata. Dia berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
"Tata...Tata...!" seru Carisa.
"Bik Ijah...! Bik Ijah...!" Carisa memanggil-manggil Bik Ijah pembantunya.
Beberapa saat kemudian, Bik Ijah menghampiri Carisa.
"Ada apa Non?" tanya Bik Ijah.
"Ke mana Tata? apa Bibik melihat Tata?" tanya Carisa.
"Bibik nggak lihat tuh Non. Bukannya Non Tata sama Non ya."
"Kata siapa. Aku kan dari tadi ada di dapur buat kue. Dan Tata tadi aku lihat dia ada di halaman depan Bik. Lagi main sendiri."
"Duh, ke mana ya Tata. Jangan-jangan, dia diculik lagi Non."
"Apa! diculik? jangan sembarangan bicara Bi! siapa yang mau nyulik Tata. Bik, ayo Bik. Bantu aku untuk nyari Tata."
"Iya Non."
Carisa dan Bik Ijah kemudian mencari Tata bersama. Setelah mereka muter-muter tidak menemukan Tata di sekitar rumah, mereka kemudian pergi ke luar dari gerbang rumah.
__ADS_1
"Tata...! Tata...! di mana kamu sayang...!" seru Carisa.
Carisa dan Bik Ijah menghentikan langkahnya setelah mereka berjalan cukup jauh dari rumahnya.
"Bik. Tata ke mana ya Bik. Apa Tata benar-benar diculik."
"Non, apa Non udah telpon Den Andre?"
Carisa menggeleng.
"Coba aja, Non telpon Den Andre."
"Aku takutnya nggak diangkat Bik. Dia kan kalau jam segini, lagi sibuk di kantor."
"Oh, gitu ya Non."
"Ya udah deh. Aku telpon aja."
Carisa kemudian mencoba untuk menelpon Andre. Dan benar saja, kalau Andre tidak mau mengangkat telpon dari Carisa.
"Tuh kan Bik. Nggak di angkat," ucap Carisa.
"Ya udah Non. Kita cari sendiri aja."
"Kita harus cari pakai mobil Bik. Barang kali, Tata itu dibawa jauh oleh penculiknya."
"Iya Non."
Bik Ijah dan Carisa kemudian berjalan kembali ke rumah untuk mengambil mobil.
"Eh Bu. Kami lagi nyari Non Tata. Non Tata hilang Bu."
"Apa!" Bu Alya menatap Carisa tajam. "Benar Tata hilang?"
Carisa hanya mengangguk.
"Kamu gimana sih Carisa. Jagain anak satu aja nggak becus. Ke mana Tata heh...!"
"Tata tadi mainan di sini Ma. Tata minta aku buatin donat untuk dia. Tapi, setelah donatnya matang, Tata malah hilang entah ke mana."
"CK ck ck... dulu Vino juga hilang. Sekarang Tata, anak kamu sendiri. Kamu itu memang wanita yang nggak becus ngurus anak. Pantas aja, sampai saat ini Tuhan nggak mau ngasih kamu keturunan. Kamunya aja begitu sih..."
Carisa yang disindir Bu Alya, hanya diam saja. Bagi Carisa, omongan tidak mengenakan dari mertuanya itu hanya angin lalu untuknya.
Carisa tidak mau menghiraukan ucapan ibu mertuanya. Dia malah menatap Bik Ijah.
"Bik. Ayo Bik. Masuk mobil. Kita cari Tata sama-sama."
"Bik Ijah nggak akan ke mana-mana Carisa. Dia masih punya banyak kerjaan di sini," ucap Bu Alya dengan tegas.
Carisa menatap ibu mertuanya tajam.
"Tapi kerjaan bibik kan udah beres semua Ma."
__ADS_1
"Kata siapa? kalau bibik pergi, mama sama siapa? kalau mama butuh apa-apa gimana?" ucap Bu Alya.
Carisa sudah tidak bisa membantah lagi ucapan ibu mertuanya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri mencari Tata.
Carisa sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Carisa masih menyetir sembari berderaian air mata. Dia tidak tahu, ke mana dia akan mencari Tata.
"Tata, di mana kamu Nak. Kenapa kamu pergi tinggalin Mama. Mama nggak bisa hidup tanpa kamu Nak, hiks...hiks...hiks..."
Sejak tadi Carisa mencoba untuk menghubungi Andre. Namun, Andre tidak mau mengangkat telponnya. Membuat Carisa merasa lelah dan lemah.
Bagi Carisa, Tata adalah satu-satunya yang menjadi penyemangat hidupnya saat ini. Karena Carisa merasa kalau semua orang sudah tidak mau perduli pada Carisa termasuk ibu mertua dan suaminya.
Carisa tiba-tiba saja teringat dengan Alena adiknya.
"Aku tahu, pasti Alena yang sudah membawa Tata. Aku harus cari Alena sampai ketemu. Aku harus cari tahu semua tentang Alena."
****
***
Di sebuah rumah sederhana, Tata masih bersama Alena. Alena memang sengaja mengajak Tata untuk ikut dengannya. Dia sudah ingin sekali menceritakan yang sebenarnya pada Tata.
"Kenapa Tante Lena ngajak aku ke sini? katanya Tante mau ngajak aku jalan-jalan?" Tata menatap Alena lekat.
Alena tersenyum.
"Iya sayang. Tante cuma kangen sama anak Tante," ucap Alena.
"Kangen sama anak Tante ? emang anak Tante ke mana?"
"Tante sudah dipisahkan lama dengan anak Tante. Tante sedih banget sayang. Tante kangen sama anak Tante. Tante pengin peluk dia dan cium dia."
"Emangnya anak Tante ke mana? dia masih hidup?"
"Iya sayang dia masih hidup. Dan dia dekat sekali dengan Tante sekarang."
"Oh iya? di mana Tante?"
Setetes air mata Alena membasahi pipinya. Dia harus sanggup mengatakan yang sebenarnya kalau dia adalah ibu kandungnya Tata. Alena sudah tidak sanggup menahan kerinduannya selama ini.
"Tante, kenapa Tante nangis?" tanya Tata.
"Tante nggak apa-apa sayang," ucap Alena sembari mengusap air matanya.
Alena tiba-tiba saja memeluk Tata.
"Sayang, mama kangen sayang sama kamu."'
Tata bingung. Untuk yang ke dua kalinya Alena memeluknya Tata dan bilang kalau Tata adalah anak kandungnya. Namun, kali ini Tata tidak melepas pelukannya. Justru pelukan Alena membuat Tata merasa nyaman.
"Aku tahu, Tante kangen sama anak Tante. Tante sabar ya, aku yakin , suatu saat nanti Tante akan dipertemukan dengan anak Tante. Dan aku akan doain Tante agar Tante bisa berkumpul lagi dengan anak Tante."
__ADS_1
Alena melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap lekat anaknya.
'Sebenarnya, anak Mama itu kamu sayang. Tapi Mama bingung, bagaimana menjelaskan ke kamu kalau kamu adalah anak kandungku. Mama takut kamu akan syok saat mendengar semua kenyataannya sayang. Kamu belum cukup dewasa untuk mendengar cerita dari mama. Tapi Mama juga harus jujur sama kamu dan mengatakan yang sebenarnya. Agar kamu tidak terlalu kecewa nantinya,"