Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Dinner


__ADS_3

Tok tok tok...


Suara ketukan sudah terdengar dari pintu ruangan Andre. Andre yang sejak tadi masih berkutat dengan laptopnya menatap ke arah pintu.


"Masuk..." seru Andre.


Seorang lelaki berkacamata, masuk ke dalam ruangan Andre.


"Ada apa?" tanya Andre.


"Pak Andre. Ada wanita yang ingin bertemu dengan anda," ucap lelaki berkacamata itu.


"Siapa?" Andre menatap lelaki itu tajam.


"Katanya sih, anaknya almarhum Pak Seno."


"Oh. Suruh dia masuk."


"Baik Pak."


Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan ruangan Andre untuk memanggil Ersa.


Beberapa saat kemudian, Ersa masuk ke dalam ruangan Andre.


Ersa tersenyum menunjukan gigi putihnya.


"Selamat pagi Pak Andre," ucap Ersa.


Andre menatap Ersa tanpa berkedip.


"Pak Andre, ada apa? apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Ersa.


"Nggak ada yang salah dari kamu Er. Salahnya, karena kamu cantik," ucap Andre yang membuat Ersa tersipu.


"Ayo duduk Er." Andre mempersilahkan Ersa duduk.


"Makasih Pak."


Ersa kemudian duduk di depan Andre.


"Aku fikir, kamu nggak akan ke sini," ucap Andre sembari membuka berkas-berkasnya.


"Semalam kan aku sudah bilang, kalau aku mau ke sini Pak."


"Kemarin, aku sudah suruh kamu, membawa berkas-berkas dan surat lamaran kerja untuk melengkapi data karyawan di kantor aku. Sekarang, mana surat lamaran kerja kamu?" tanya Andre.


Ersa menyodorkan berkas-berkas yang dia bawa kepada Andre. Andre kemudian membacanya.


"Bagus Er. Mulai besok, kamu sudah bisa kerja di sini."


Ersa tersenyum..


"Benarkah Pak?"


"Iya. Benar."


"Ya udah. Saya ke sini, cuma mau mengantar berkas-berkas itu doang kok Pak. Setelah itu, saya mau pulang."


"Pulang? mau ngapain di rumah?"


"Ya, nggak mau ngapa-ngapain. Kan semua kerjaan rumah, sudah beres semua."


"Kenapa kamu nggak temani aku aja di sini. Toh, di rumah atau di sini sama aja kamu nggak ada kerjaan."


Ersa tampak bingung.


"Em... temani bapak?"


"Iya. Duduklah! Nanti aku yang akan langsung ajari kamu kerja."


Ersa tersenyum.


"Ya udah deh."

__ADS_1


****


Malam ini di sebuah cafe, tampak Erin sedang berbincang-bincang dengan suaminya.


Tatapan Erin terpaku pada mantan bosnya yang sedang bersama seorang wanita memasuki cafe.


"Mas Adi, itu bukannya Pak Andre?" ucap Erin sembari menunjuk seorang lelaki dan seorang wanita yang tampak sedang berjalan masuk ke dalam cafe.


Adi menoleh ke arah di mana Erin menunjuk.


"Iya. Tapi sama siapa ya Pak Andre. Kok bukan Bu Carisa yang dia bawa," ucap Adi.


"Em, siapa ya. Aku juga nggak tahu. Rasanya aku juga baru pernah melihat wanita itu. Jangan-jangan..." Erin menggantungkan ucapannya.


"Jangan-jangan apa?" tanya Adi.


"Jangan-jangan, itu selingkuhannya Pak Andre lagi."


"Sssttt. Jangan sembarangan kamu Rin. Mungkin itu temannya. Tapi, aku seperti nggak asing sama wanita itu," ucap Adi.


Adi tampak berfikir.


"Oh, iya. Aku ingat sekarang."


"Apa yang kamu ingat Mas?" tanya Erin penasaran.


"Aku pernah lihat wanita itu."


"Di mana? dan kapan?"


"Itu kan wanita yang tadi pagi ke kantornya Pak Andre. Katanya sih, dia itu putrinya almarhum Pak Seno."


Erin terkejut saat mendengar ucapan suaminya."Almarhum?"


"Iya. Pak Seno itu sudah meninggal. Sudah satu mingguan lah."


"Kok kamu nggak pernah bilang sama aku Mas?"


"Iya sayang. Aku lupa. Waktu itu, aku kan lagi banyak kerjaan. Makanya, aku juga nggak sempat ikut ke pemakaman Pak Seno."


*


Setelah sampai di cafe, Andre menarik kursi dan mempersilahkan Ersa duduk.


"Duduk Er."


"Iya Pak. Makasih."


Ersa kemudian duduk. Begitu juga dengan Andre yang mengikuti Ersa duduk dan dia duduk di sisi Ersa.


"Kamu mau pesan Apa Er?" tanya Andre.


"Apa aja deh Pa. Di samain aja juga nggak apa-apa sama bapak."


"Oke."


Andre kemudian memanggil pelayan. Setelah itu dia memesan dua porsi makanan dan minuman untuk hidangan dinnernya malam ini bersama Ersa.


Beberapa saat Andre dan Ersa menunggu, akhirnya pesanan yang dia tunggu datang juga.


"Silahkan Mbak, Mas," ucap pelayan itu sembari meletakan dua porsi makanan dan minuman di atas meja.


"Makasih ya Mbak," ucap Andre dan Ersa bersamaan.


Andre dan Ersa kemudian mulai menyantap makanan mereka. Andre memang sengaja mengajak Ersa makan malam. Karena entah kenapa setelah kematian Pak Seno, Andre jadi merasa iba pada gadis itu. Atau mungkin saja, Andre sudah mulai mempunyai perasaan sayang ke Ersa. Andre juga tidak tahu dengan perasaannya saat ini.


Sejak tadi, Andre masih menatap Ersa.


"Manis," ucap Andre tiba-tiba.


Ersa mengernyitkan alisnya.


"Apanya Pak yang manis?" tanya Ersa.

__ADS_1


Andre tersenyum.


"Makanannya agak manis. Mungkin kebanyakan gula kali ya."


"Masa sih Pak, perasaan makanannya enak kok Pak. Bukan manis, tapi pedas."


"Iya mungkin ya."


Andre kembali menatap Ersa.


'Bukan makanannya yang manis, tapi senyuman kamu yang manis Er,' batin Andre.


Andre masih memperhatikan Ersa. Andre terkejut saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


'Ah, sial kenapa Carisa harus nelpon sih, di saat-saat aku lagi asyik seperti ini'


Andre tampak kesal saat tahu istrinya menelpon. Andre sejak tadi, sama sekali tidak mau menyentuh ponselnya.


"Kenapa Pak Andre. Kok nggak di angkat? " tanya Ersa.


"Biarin aja. Nggak penting."


"Dari siapa sih? angkat aja Pak. Siapa tahu penting."


"Dari istri aku."


"Duh, benarkan. Pasti istri bapak sekarang lagi nungguin deh. Duh, aku jadi nggak enak nih Pak. Bapak sih, ngajak aku ke sini. Kan tadi aku udah minta pulang."


"Nggak apa-apa. Cuekin aja udah."


Sesaat, ponsel itu diam. Setelah itu ponsel itu kembali berdering.


"Pak, angkat aja Pak. Kasihan dia."


"Iya deh."


Andre kemudian mengangkat panggilan dari Carisa.


"Halo..."


"Mas, kamu ada di mana? kenapa lama sekali pulangnya? Tata udah nungguin nih dari tadi. Katanya kenapa Papa nggak pulang-pulang."


"Tata apa kamu yang nungguin?"


"Ya, dua-duanya."


"Masih lama aku pulangnya Carisa. Nggak usah di tungguin. Bilang sama Tata. Kalau mau tidur, tidur aja. Kamu juga kalau udah ngantuk tidur aja sama Tata. Bisanya juga gitu."


"Tapi Mas..."


"Carisa. Aku masih sibuk. Di kantor kerjaan aku lagi banyak banget."


"Ya udah deh. Tapi, jangan malam-malam ya Mas. Jaga kesehatan."


"Iya."


Andre kemudian buru-buru menutup saluran telponnya.


"Kenapa kamu bohong sama istri kamu Pak?"


"Biarin aja. Kalau aku jujur, aku lagi makan bareng kamu, pulang-pulang, aku bisa di sate sama dia."


"Hehe...masa sih, sampai segitunya?" Ersa terkekeh saat mendengar ucapan Andre.


Setelah makan malam, Andre dan Ersa kemudian keluar dari cafe. Mereka berjalan menuju ke tempat parkir.


"Pak Andre," ucap seseorang dari belakang Andre.


Andre dan Ersa menoleh bersamaan ke belakang.


Andre terkejut saat melihat Erin dan Adi, yang ternyata ada di cafe itu juga.


"Siapa Pak Andre, cantik juga," ucap Erin. Andre menatap Ersa.

__ADS_1


'Duh, kenapa harus ada mereka sih di sini. Gimana kalau mereka lapor ke Carisa soal aku udah jalan bareng sama cewek.'


__ADS_2