
Carisa mengusap peluh yang ada di keningnya. Dia masih memegang stop map yang berisi surat-surat lamaran kerja.
Dari kemarin, belum ada satu pun kantor yang mau menerimanya kerja. Langkah kaki Carisa terhenti tepat di depan sebuah gedung besar yang tampaknya adalah perusahaan baru milik seorang pengusaha yang baru membuka cabangnya.
"Aksara Group. Aku baru pernah melihat kantor ini. Sebenarnya ini kantor milik siapa sih," ucap Carisa.
"Apakah ada lowongan di kantor ini," ucap Carisa lagi.
Carisa mendekat ke arah satpam yang sedang berjaga di pintu gerbang utama.
"Pak, permisi. Saya mau numpang tanya. Apakah di sini ada lowongan?" tanya Carisa pada satpam itu.
"Kalau untuk saat ini, kantor ini belum membuka lowongan Mbak. Mungkin bulan depan akan membuka lowongan besar-besaran. Kalau mau melamar kerja, bisa bulan depan aja Mbak."
"Ini perusahaan baru ya. Sebenarnya milik siapa sih ini perusahaan."
"Milik Pak Remon."
Carisa terkejut bukan main saat mendengar ucapan satpam.
'Apakah Remon suaminya Fatia yang punya perusahaan ini. Atau Remon yang berbeda. Apakah aku masih punya kesempatan untuk kerja di sini'
"Ya udah ya Pak. Terimakasih untuk informasinya. Kalau begitu saya pergi dulu."
Satpam itu mengangguk. Setelah itu Carisa pun pergi meninggalkan kantor itu.
**
Malam ini, Fatia tidak bisa tidur. Sejak tadi dia masih memegangi perutnya yang sakit. Sepertinya dia sudah mulai kontraksi. Dari tadi sore, Fatia sudah merasakan sakit perut. Dan malam ini, perut Fatia sangat sakit. Mungkin dia akan melahirkan sekarang.
"Aduh, perut aku sakit banget Mas," ucap Fatia sembari memegangi perutnya.
Remon yang masih terlelap di atas tempat tidurnya, mengerjapkan matanya dan menatap istrinya.
"Fatia. Apa kamu akan melahirkan?"
"Mungkin Mas."
"Ya udah. Kalau gitu, aku akan panggil mama."
Remon turun dari ranjangnya. Setelah itu dia pergi keluar dari rumahnya untuk memanggil ibunya.
Tok tok tok ..
Remon mengetuk pintu kamar Bu Rima . Beberapa saat kemudian, Bu Rima keluar dari kamarnya.
"Ada apa Remon?" tanya Bu Rima.
"Ma, sepertinya Fatia akan melahirkan deh Ma. Apa mama bisa ikut aku ke rumah sakit?" tanya Remon.
"Iya. Sekarang di mana Fatia?"
"Dia ada di kamarnya Ma."
"Ya udah kita ke sana. Apa kamu sudah menyiapkan persiapan persalinan?"
"Belum Ma."
"Ya udah. Cepat dong siapkan!"
"Iya Ma."
Remon dan Bu Rima berjalan cepat ke kamar Fatia. Setelah itu mereka masuk kedalam kamar Fatia.
Bu Rima dan Remon menghampiri Fatia.
"Aduh Ma, perut aku sakit banget."
"Iya Fatia. Kamu sabar ya. Kita akan bawa kamu ke rumah sakit. Remon, cepat kamu siap-siap."
"Iya Ma."
"Siapkan baju-baju ganti untuk Fatia dan anak kamu."
Remon kemudian mengambil tas dan memasukkan perlengkapan persalinan ke dalam tas.
__ADS_1
"Mama ikut aku ya Ma," ucap Remon.
"Lho, terus Vino bagaimana."
"Kan ada Bik Ning di rumah. Kita titipkan Vino sama Bik Ning aja."
"Ya udah. Kamu tunggu di sini. Mama mau panggil Bik Ning."
Bu Rima kemudian keluar dari kamarnya untuk memanggil Bik Ning.
Bu Rima ke kamar Bik Ning dan mengetuk pintu kamar Bik Ning.
"Bik Ning... Bik Ning..."
Beberapa saat kemudian, Bik Ning membuka pintu kamarnya.
"Eh Bu. Ada apa?"
"Fatia mau melahirkan. Kamu tolong jaga Vino ya. Saya mau menemani Remon ke rumah sakit."
"Oh. Baik Bu. Den Vino biar sama saya saja."
"Ya udah. Kamu sana tidur di kamarnya Vino. Takut Vino nyariin mamanya."
"Iya Bu."
Setelah itu, Bik Ning kemudian bergegas untuk ke kamar Vino. Sementara Bu Alya masuk kembali ke kamar Fatia.
"Remon, sana kamu siapkan mobil."
"Iya Ma."
Remon keluar untuk menyiapkan mobil. Sementara Bu Rima menghampiri menantunya dan mengajaknya berdiri.
"Ayo Fatia. Kamu masih kuat jalan kan?" tanya Bu Rima.
"Iya Ma."
Fatia turun dari ranjangnya. Bu Rima terkejut saat melihat kasur Fatia basah.
Fatia menatap sepreinya yang tampak basah.
"Iya mungkin Ma."
"Remon...! Remon ..! cepat Remon ...!"
Beberapa saat kemudian, Remon menghampiri Fatia dan ibunya. Setelah itu Remon memapah tubuh istrinya sampai ke luar.
Remon, Fatia, dan Bu Rima masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan rumah untuk ke rumah sakit.
Jam 12 malam, mobil Remon sudah sampai di rumah sakit. Remon membuka pintu mobil untuk Fatia. Dia kemudian membopong tubuh Fatia sampai masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter...! Dokter ...! suster...!"
Beberapa saat kemudian, dua orang perawat laki-laki mendekat ke arah Remon.
"Ada apa Pak?" tanya mereka.
"Istri saya mau melahirkan."
Kedua perawat itu kemudian mengambil ranjang dorong untuk mendorong Fatia masuk ke dalam UGD.
"Kalian bisa tunggu di sini. Biar kami para medis yang akan menanganinya."
"Iya Dok," ucap Remon.
Beberapa saat kemudian, suara tangis bayi terdengar. Tidak sampai satu jam Bu Rima dan Remon menunggu Fatia.
"Remon, kamu dengar suara bayi?" tanya Bu Rima pada anaknya.
"Iya Ma. Aku mendengarnya."
"Anak kamu sudah lahir Remon.".
"Iya Ma."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Selamat ya, Bu Fatia sudah melahirkan dengan selamat. Dan bayinya juga selamat."
"Bayinya apa Dok?" tanya Bu Riam penasaran.
"Perempuan Bu."
Bu Rima dan Remon tersenyum.
"Alhamdulillah, Remon bayi kamu perempuan."
"Iya Ma. Untuk teman Vino di rumah."
"Iya."
"Dokter, apakah boleh kami masuk ke dalam."
"Maaf Pak. Belum bisa. Kalian boleh masuk nanti kalau Bu Fatia sudah dipindahkan di ruang rawat.
"Oh. Iya Dok."
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Remon mengejutkan Remon. Remon mengambil ponselnya yang ada di bajunya.
"Siapa yang nelpon?" Bik Ning.
"Mau ngapain dia nelpon?"
Remon menggeleng.
"Angkat aja Remon."
Remon kemudian mengangkat panggilan dari Bik Ning.
"Halo Bik. Ada apa?"
"Halo Den Remon. Den Vino nangis. Dan minta ikut ke rumah sakit."
"Sekarang,mana Vino nya? biar saya yang bicara dengannya."
"Iya Den."
Beberapa saat kemudian, suara Vino sudah terdengar.
"Halo ayah. Kenapa ayah tinggalin aku. Aku kan pengin ikut ke rumah sakit ayah."
"Vino. Kamu sama Bik Ning dulu. Di sini nggak ada anak kecil. Di rumah sakit anak kecil nggak boleh masuk."
"Tapi aku pengin lihat dedek bayinya ayah."
"Iya. Nanti ayah video call ya kalau ayah udah ketemu sama dedek bayinya."
"Emang adik aku udah lahir?"
"Udah Vino. Adik kamu perempuan."
"Yahh, kok cewek sih. Kenapa nggak cowok."
"Ya nggak apa-apa cewek. Nanti kalau dia besar, dia bisa masakin kamu kayak mama."
"Iya deh nggak apa-apa. Aku akan tunggu sampai atau dan Mama pulang."
"Ya udah. Vino tidur lagi gih. Masih malam sayang. Besok Vino harus sekolah. Nantinya kesiangan."
"Oma di situ juga ya?"
"Iya. Besok Oma akan papa antar pulang, untuk jagain kamu di rumah. Biar papa aja yang jagain mamanya Vino dan dedek bayinya."
"Ya udah. Kalau gitu. Vino mau tidur lagi deh."
"Iya sayang selamat tidur ya."
"Iya ayah."
__ADS_1
****