Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kejujuran Andre pada Tata


__ADS_3

"Apa! kamu bicara apa sayang? kamu anaknya mama dan papa kok. Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" tanya Andre menatap dalam putri kecilnya.


"Papa pasti bohong kan?" ucap Tata.


Andre tersenyum, tampak santai menanggapi ucapan anaknya.


"Sayang, siapa yang bilang kalau kamu bukan anak kandung papa. Siapa yang bilang?" tanya Andre.


"Nggak ada yang bilang Papa. Tapi aku dengar sendiri waktu mama dan papa bicara di kamar. Dan jika aku dibawa ibu kandung aku, pasti Papa dan mama akan cari anak angkat lagi. Apa mama dan papa sudah nggak sayang sama Tata? makanya mama dan papa ingin mengadopsi anak lagi?"


Duh, apa Tata mendengar semua obrolanku dengan Carisa. Aku harus bilang apa sama Tata.


"Tata. Itu semua nggak benar sayang. Mama sama papa sayang sama Tata. Dan Tata anak kandung Mama dan papa kok."


"Papa, Tata pengin papa jujur. Apa benar, kalau Tata ini anaknya Tante Lena?"


"Tante Lena siapa? kamu kenal sama Tante Lena?"


"Aku kenal banget sama Tante Lena. Kata Tante Lena, aku ini anak kandung dia. Apa betul itu Papa?"


Andre sangat bingung. Apa yang harus dia katakan pada Tata sekarang. Tata sudah tahu semuanya. Dan Andre baru tahu kalau ternyata selama ini, anaknya itu sudah dekat dengan ibu kandungnya sendiri.


"Papa, jangan diam aja. Tolong jelasin ke aku."


"Tata, kamu masih terlalu kecil Nak untuk mendengar cerita Papa. Tapi papa juga nggak bisa membohongi kamu terus. Sebenarnya memang benar kalau kamu itu anak kandungnya Alena. Dan Alena itu adalah adik kandung dari Carisa mama kamu."


"Tante Lena udah pernah cerita kok ke aku soal itu."


"Oh iya? Kamu kapan bertemu Tante Lena?" tanya Andre penasaran.


"Sering banget Papa. Tante Lena sering banget datang ke sekolah aku dan dia sering menemani aku. Dan kita juga udah ngobrol banyak."


"Oh, begitu? tapi walaupun Tata bukan anak kandung Mama dan Papa, Tata akan tetap kami sayang. Karena kami yang sudah merawat Tata dari kecil. Papa juga sudah menganggap Tata seperti anak kandung Papa sendiri. Dan Tata bukan orang lain. Tapi Tata masih keponakannya mama Carisa," ucap Andre sembari menangkup pipi Tata.


Andre akhirnya menjelaskan semuanya pada Tata kalau Tata memang bukan anak kandungnya.


Tapi Andre masih ingin meyakinkan Tata, kalau Andre akan selalu sayang sama Tata, karena dia sudah menganggap Tata anak kandungnya sendiri.


Dan Tata walaupun dia masih berusia enam tahun, namun cara berfikirnya memang sudah seperti orang dewasa. Dia anak yang cantik, pintar dan penurut, walau sampai saat ini, belum ada yang tahu siapa ayah biologisnya.


"Ya udah Tata. Kalau begitu, Papa berangkat kerja dulu ya. Tata mau sekolah apa nggak? kalau Tata mau berangkat sekolah, nanti papa antar. Soalnya mama Tata nggak bisa antar Tata. Dia lagi nggak enak badan."


"Udah siang Papa. Aku nggak mau papa terlambat berangkat ke kantor. Aku berangkat sekolahnya besok aja. Nunggu mama sembuh."

__ADS_1


Andre tersenyum. Dia sangat kagum pada anak perempuannya itu. Walau Tata bukan anaknya, tapi Andre tetap sayang dan tidak ingin membedakan antara Vino dan Tata.


Sebelum pergi, Andre mengecup kening Tata.


"Salim dulu sayang," ucap Andre sembari mengulurkan tangannya.


Tata langsung mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Andre.


"Hati-hati ya Papa."


"Iya sayang."


Andre kemudian keluar dari kamar Tata. Dia menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan.


"Kak Andre, mana Kak Carisa dan Tata?" tanya Dinda." Mereka nggak ikut turun?"


"Nggak Din. Tata nggak mau berangkat sekolah. Karena nggak ada yang ngantar."


"Emang Kak Carisa nggak mau ngantar"


"Nggak tahu tuh, aku juga bingung sama dia. Dari tadi, dia ngurung diri terus di kamar," ucap Andre sembari menghempaskan tubuhnya di kursi meja makan.


"Ya udah, Tata ikut aku aja kalau begitu," Dinda mengusulkan.


"Tatanya nggak mau. Dia maunya sama mamanya. Sama aku aja dia nggak mau," ucap Andre.


Andre kemudian bangkit berdiri.


"Andre, kamu udah mau langsung berangkat?" tanya Bu Alya menghampiri meja makan.


"Iya Ma," jawab Andre.


"Nggak mau sarapan dulu?"


"Aku udah sarapan susu sama roti kok Ma. Aku lagi ada janji sama seseorang."


"Oh. Ya udah. Hati-hati ya Andre."


Sebelum pergi, Andre mencium punggung tangan Bu Alya. Setelah itu dia pergi keluar dari rumahnya.


Andre masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia meluncur ke luar dari gerbang rumahnya. Andre akan ke rumah Ersa. Karena semalam udah janjian akan berangkat ke kantor bareng Ersa.


****

__ADS_1


Sejak tadi Ersa masih berdiri di teras depan rumahnya. Dia sejak tadi memang sedang menunggu Andre. Sudah hampir setengah jam Ersa menunggu. Namun Andre belum juga muncul.


"Pak Andre ke mana sih. Katanya dia mau jemput aku. Tapi pas di telpon, malah istrinya yang ngangkat," gumam Ersa.


Ring ring ring...


Deringan ponsel Ersa mengejutkan Ersa. Ersa mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Setelah itu Ersa mengangkat panggilan dari Andre.


"Halo Pak.."


"Halo Er. Aku lagi meluncur ke rumah kamu nih. Kamu belum berangkat kan?"


"Belum Pak. Aku masih di teras nungguin bapak."


"Oh, maaf ya. Tadi aku lagi di kamar mandi, jadi nggak dengar kamu nelpon. Jadi tadi istri aku yang ngangkat."


"Nggak apa-apa Pak. Aku juga nggak bicara apa-apa sama istri bapak kok."


"Iya. Ya udah. Kalau begitu, kamu tunggu aku ya."


"Iya Pak."


Ersa menutup saluran telponnya.


"Ersa. Kamu kok masih ada di sini?" Bu Meta keluar dari dalam rumah dan menghampiri anaknya.


Ersa menoleh ke arah ibunya.


"Mama. Aku lagi nunggu Pak Andre. Katanya dia mau jemput aku," jelas Ersa.


"Ersa, mama cuma mau ingatin kamu. Jangan terlalu dekat dengan bos kamu. Karena dia itu sudah punya istri. Nggak enak, Ersa dilihatnya. Mama nggak mau, anak mama menjadi bahan gunjingan tetangga," ucap Bu Meta.


Bu Meta sering kali menasihati anaknya agar dia tidak terlalu dekat dengan Andre. Karena Andre masih punya istri. Karena yang Bu Meta lihat selama ini, Andre dan anaknya sudah sering jalan bareng dan hubungan keduanya juga semakin hari, semakin dekat saja.


Bu Meta khawatir akan terjadi hal yang tak diinginkan menimpa anaknya. Bu Meta tidak mau Andre dan Ersa sampai khilaf menjalin hubungan. Bu Meta tidak mau, Ersa anaknya sampai merusak hubungan rumah tangga Andre dan istrinya.


"Mama tenang aja. Aku bisa jaga diri kok. Walaupun saat ini aku masih jomblo, tapi aku nggak akan tergoda sama Pak Andre. Setampan dan sekaya apapun lelaki kalau masih beristri, aku tetap nggak mau Ma. Aku juga bisa jaga harga diri keluarga kita.


"Iya Nak. Mama percaya kok smaa kamu," ucap Bu Meta sembari mengusap-usap bahu anaknya.


"Apalagi Papa kan sekarang juga sudah nggak ada. Siapa lagi Ma, kalau bukan aku yang kerja. Mama juga sudah tua. Dan aku kan anak satu-satunya Mama. Aku ingin seperti Papa. Punya kerjaan yang lumayan gajinya. Ya, seperti sekarang ini. Aku dekat dengan Pak Andre, juga hanya sebatas atasan dan bawahan."


Deru mobil sudah terdengar dari depan rumah Ersa. Ersa tersenyum saat melihat mobil Andre berhenti tepat di depan rumahnya.

__ADS_1


"Udah siang Ma. Aku berangkat dulu ya."


Ersa mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu dia buru-buru masuk ke dalam mobil Andre. Mereka kemudian meluncur pergi untuk ke kantor.


__ADS_2