Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Pertengkaran kecil


__ADS_3

Deru mobil dari luar rumah Fatia terdengar. Fatia yang sejak tadi masih berada di dalam kamarnya, mengintip dari luar jendela.


"Mobil siapa sih," gumam Fatia.


Fatia terkejut saat melihat Vino keluar dari mobil itu bersama seorang lelaki yang sangat dikenalnya.


"Itu, bukannya Pak Daren. Lho, Vino kok bisa sama Pak Daren?" ucap Fatia.


Fatia yang penasaran, buru-buru keluar dari kamarnya. Dia kemudian berjalan menuju ke depan rumahnya. Fatia membuka pintu depan. Fatia terkejut saat Vino dan Daren sudah sampai di depan pintu rumahnya.


"Mama..." seru Vino sembari merentangkan kedua tangannya.


Vino buru-buru memeluk mamanya.


"Vino, kamu dari mana aja Nak? kenapa kamu baru pulang ?" tanya Fatia.


Vino menatap Fatia lekat. Fatia mensejajarkan tubuhnya dengan Vino. Setelah itu, Fatia menciumi wajah Vino.


"Mama kangen Nak, sama kamu," ucap Fatia sembari memeluk Vino. Setetes air mata Fatia terjatuh dari pelupuk matanya. Fatia langsung mengusapnya kasar.


"Mama, kenapa nangis?" tanya Vino sembari melepas pelukannya. Vino kemudian menatap Fatia.


"Sayang, mama nggak apa-apa kok sayang. Mama cuma sedih aja. Dari kemarin, mama belum bisa menemukan kamu Nak."


"Sekarang, mama nggak boleh nangis. Aku sudah ada di sini Ma." Vino mengusap air mata Fatia dengan jempol tangannya.


Daren sejak tadi, masih menatap Fatia.


'Wanita ini, aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana ya.' batin Daren.


Daren tampak mengingat-ingat pernah ketemu di mana dia dengan ibunya Vino.


"Kamu kan, pelayan restoran yang itu, " ucap Daren setelah mengingat wajah Fatia.


Fatia menatap Daren.


"Pak Daren ya. Kok, bapak bisa sama anak saya?" tanya Fatia berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Daren.


"Kemarin, saya menemukan Vino di jalan. Vino tersesat dan nggak tahu jalan pulang. Sudah empat hari dia ada di rumah saya. Dan setelah saya tahu dari surat kabar berita orang hilang, saya bawa Vino ke sini," jelas Daren.


"Ya ampun, makasih banyak ya Pak Daren. Sudah membawa anak saya pulang."


"Iya. Sama-sama Fatia. Jadi, ternyata Vino ini anak kamu?"


"Iya Pak. Untung saja dia ketemu sama bapak. Saya tidak tahu bagaimana jika anak saya bertemu dengan orang jahat di jalan," ucap Fatia.


Daren hanya manggut-manggut.


"Masuk dulu yuk Pak! kita ngobrol-ngobrol dulu di dalam!" Fatia mempersilahkan Daren masuk ke dalam rumahnya.


"Oh, maaf. Saya tidak bisa mampir. Lain kali aja ya. Soalnya saya juga masih punya banyak urusan. Dan saya mau buru-buru pergi," ucap Daren.


Vino meraih tangan Daren.


"Om. Jangan pergi dulu Om. Kita masuk dulu ke dalam!" ajak Vino.


"Em...gimana ya Vino. Om nggak bisa. Om masih banyak urusan." Daren masih menolak.


"Om. Kita teman kan sekarang. Tolong dong Om. Aku pengin kenalin Om sama Tante, Oma dan Opa aku juga," ucap Vino yang sejak tadi masih tampak membujuk Daren.


Fatia tersenyum.


"Pak Daren. Bapak dengarkan anak aku bicara apa? bapak masuk aja dulu!" Pinta Fatia.

__ADS_1


Daren tampak bingung. Dia tidak tega juga melihat Vino. Akhirnya, Daren mengiyakan juga ucapan Vino.


"Baiklah. Tapi Om cuma bisa mampir sebentar aja ya," ucap Daren.


"Makasih ya Om." Vino tersenyum.


Daren kemudian masuk ke dalam rumah Fatia.


"Duduk Pak!" ucap Fatia mempersilahkan Daren duduk.


"Makasih."


Daren kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah Fatia.


Beberapa saat kemudian, Nessa datang menghampiri Vino, Fatia dan Daren.


"Vino," ucap Nessa menghampiri Vino.


Nessa kemudian duduk di dekat Vino.


"Tante, ini Om Daren. Orang yang udah nolong aku." Vino memperkenalkan Vino pada Tantenya.


Nessa tersenyum.


"Makasih ya, sudah nolong Vino," ucap Nessa.


"Iya sama-sama." Ucap Daren.


"Pak Daren, ini adik saya. Namanya Nessa." Fatia memperkenalkan Nessa pada Daren.


"Oh. Senang bisa kenal dengan kamu Nessa."


"Adik saya ini, sudah punya anak satu. Anaknya usianya masih dua tahun," jelas Fatia.


"Jadi, dia tinggal di sini sama suaminya?" tanya Daren.


Fatia dan Nessa saling menatap . Ada rasa sedih di hati mereka saat Daren menanyakan tentang suami Nessa.


"Kalian kenapa?" tanya Daren


"Suami saya sudah meninggal," ucap Nessa dengan mata berkaca-kaca.


"Oh, maaf. Saya nggak tahu. Saya nggak bermaksud untuk mengingatkan kamu kembali pada mendiang suami kamu," ucap Daren yang merasa bersalah karena sudah mengingatkan Nessa kembali pada suaminya.


"Suami Nessa, memang sudah meninggal sejak Nessa hamil delapan bulan," jelas Fatia.


"Kalau boleh saya tahu, meninggal kenapa?" tanya Daren.


"Kecelakaan," jawab Fatia.


"Astaghfirullah. Jadi, Nessa itu sekarang sudah nggak punya suami. Dan dia yang mengurus anaknya sendiri."


"Iya Pak Daren," jawab Nessa.


"Terus, anak kamu kemana?" tanya Daren.


"Anak aku namanya Aya. Dia lagi tidur di kamar Pak."


"Oh..."


****


Setelah tahu, kalau Vino sudah ditemukan dan sudah kembali ke rumah Fatia, Andre ingin buru-buru ke rumah Fatia. Dia ingin melihat kondisi Vino saat ini, sekaligus dia ingin minta maaf pada Vino dan Fatia, karena Andre yang sudah membuat Vino menghilang.

__ADS_1


Andre sudah tampak rapi pagi ini. Dia sudah mengenakan baju kantornya. Andre menuruni anak tangga dan menghampiri istri dan anaknya yang sudah berada di ruang makan.


"Pagi semua..." ucap Andre.


"Mas, kamu udah mau berangkat? tumben Mas, pagi-pagi banget begini ke kantornya?" tanya Carisa yang sejak tadi, masih menyiapkan makanan di atas meja.


"Papa. Aku boleh nggak ikut papa?" tanya Tata tiba-tiba.


"Mau ngapain ikut papa? papa kan mau ke kantor. Biasanya kamu juga berangkat sama mama kan?" Andre menatap lekat Tata.


"Papa. Aku pengin, sekali ini aja diantar papa. Papa kan nggak pernah ngantar aku ke sekolah," ucap Tata.


"Papa nggak bisa. Papa mau ke rumah Vino sekarang." Andre menuang segelas air putih dan langsung meminumnya. Setelah itu, Andre pun meletakan gelasnya kembali di atas meja.


Carisa sejak tadi masih menatap Andre tajam.


"Mas. Kamu mau ke rumah Vino? emang Vino ada di sana? apa jangan-jangan, kamu mau ketemu Fatia ya?" ucap Carisa yang sudah tampak jengkel saat tahu, kalau Andre akan ke rumah Fatia.


"Kamu bicara apa sih Carisa. Aku nggak mau ketemu Fatia. Aku ke rumah Fatia mau ketemu Vino. Katanya kemarin , Vino itu udah ada yang ngantar pulang ke rumah. Dia sudah ditemukan," jelas Andre.


"Nggak. Aku nggak akan pernah ngizinin kamu ke rumah Vino. Kamu itu memang pilih kasih tahu nggak sama Tata. Kamu lebih sayang sama Vino ketimbang sama Tata," ucap Carisa


Andre diam. Dia sebenernya malas kalau harus bertengkar dengan Carisa. Apalagi di depan Tata anak yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Andre takut keceplosan bilang kalau Tata itu bukan anak kandungnya dan Carisa.


"Carisa. Kamu nggak bisa halangi aku untuk ketemu dengan Vino. Tata itu, sudah punya segalanya. Kebutuhannya sudah terpenuhi. Tata tinggal di rumah mewah, setiap hari dia makan enak, dia di sayang oleh Mama dan Dinda. Sementara Vino, dia cuma tinggal di rumah sederhana, jarang dapat perhatian dari aku. Kurang baik apa aku sama Tata Carisa," ucap Andre panjang lebar.


Carisa hanya bisa diam. Ya memang semenjak menikah dengan Andre, Carisa dan Tata langsung diboyong ke rumah Andre. Andre sudah memberikan segalanya untuk Carisa dan Tata.


Sementara, Andre hanya sesekali mengajak Vino ke rumahnya dan jalan-jalan bersamanya. Karena , kadang Fatia jarang mengizinkan Vino untuk ikut dengan Andre.


"Tata dan Vino itu anak aku. Mereka tidak ada yang aku beda-bedakan. Dan aku juga sudah memenuhi segala kebutuhan kamu. Kenapa kamu harus iri sama Fatia. Aku dan Fatia nggak punya hubungan apa-apa. Dan Fatia juga sekarang milik Remon. Jadi, apa yang kamu takuti Carisa."


Carisa sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Begitu juga dengan Tata.


Beberapa saat kemudian, Bu Alya menghampiri meja makan, sembari membawa satu mangkuk sup buntut buatannya.


"Andre, Carisa. Ada apa ini? Mama dengar, dari tadi kalian ribut. Lagi ngeributin apa sih?" tanya Bu Alya sembari meletakan semangkuk sup itu di atas meja.


"Nggak apa-apa kok Ma," ucap Carisa.


Andre menatap Bu Alya lekat.


"Aku mau ke rumah Fatia. Katanya Vino udah ditemukan."


"Kamu nggak mau sarapan dulu?" tanya Bu Alya.


"Nggak Ma. Aku mau langsung berangkat aja."


"Ya udah. Hati-hati di jalan ya Ndre."


Andre mencium punggung tangan Bu Alya. Setelah itu, Andre menyodorkan tangannya ke arah Carisa.


"Hati-hati ya Mas." Carisa mencium punggung tangan suaminya.


Andre menatap Tata.


"Tata, Papa berangkat dulu Ya. Tata berangkat sekolahnya sama mama aja. Papa mau ke rumahnya Kak Vino," ucap Andre.


Tata mengangguk.


"Iya. Hati-hati ya Pa."


"Iya sayang." Andre mengecup kening Tata. Setelah itu, dia berjalan ke luar dari rumahnya.

__ADS_1


Andre ke garasi mobil untuk mengambil mobilnya. Setelah itu, dia meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


__ADS_2