Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Talak


__ADS_3

Ersa menatap sekeliling. Dia benar-benar sangat malu, karena perlakuan Carisa padanya. Ersa berlari ke jalan raya. Dia kemudian menyetop taksi di sana.


Setelah taksi datang, Ersa kemudian naik ke dalam taksi itu.


"Jalan Pak," ucap Ersa.


Taksi itu kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor Andre.


Hiks...hiks...hiks...


"Kenapa tiba-tiba Bu Carisa nyerang aku. Apa salah aku. Aku benar-benar malu banget. Apa yang akan orang-orang katakan tentang aku," ucap Ersa di sela-sela tangisannya.


****


Malam ini, Andre masih diam. Dia sama sekali tidak menyapa Carisa. Andre mulai berfikir.


'Aku sudah benar-benar muak dengan sikap Carisa. Aku sudah nggak mau mempertahankan dia lagi. Benar-benar memalukan," geram Andre.


Andre benar-benar kesal dengan istrinya yang tiba-tiba saja datang ke kantor dan memaki-maki Ersa. Sudah sejak dulu Andre benci dengan sikap Carisa. Andre sudah bersabar menghadapi istrinya. Namun kesabaran manusia ada batasnya. Begitu juga dengan kesabaran Andre. Kesabaran Andre juga ada batasnya.


Awalnya dia ingin mempertahankan Carisa karena dia masih punya rasa kasihan pada Carisa. Jika Andre sampai mengusir dan mentalak Carisa, itu sama saja dia akan menyakiti hati Tata anaknya.


Walau Tata bukan anak Andre dan Carisa, tapi Tata sudah Andre anggap seperti anak kandung Andre sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Andre.


Andre mengambil ponselnya. Setelah itu dia menelpon Alena.


"Halo..."


Suara Alena dari balik telpon sudah terdengar.


"Halo..."


"Halo Alena. Ini aku Andre."


"Oh, Kak Andre. Ada apa?"


"Alena bisa kamu datang ke rumah ku?"


"Aku ada di luar kota Kak. Ada apa?"


"Alena. Kamu seorang ibu. Seharusnya kamu itu tidak membiarkan anak kamu di asuh orang lain."


"Maksud kakak apa?"


"Alena. Aku yakin kalau kamu wanita yang baik. Aku fikir, jika Tata ikut denganmu, itu akan lebih baik dari pada Tata ikut dengan Carisa."

__ADS_1


"Kenapa Kak Andre bilang seperti itu?"


"Aku sudah mengambil keputusan. Kalau aku akan menceraikan kakak kamu. Dan jika perceraian itu benar-benar terjadi, aku sudah tidak punya tanggung jawab lagi terhadap Tata. Karena Tata itu masih punya kamu ibu kandungnya. Aku minta kamu bawa Tata. Rawat dia dan asuh dia. Aku tidak yakin, kalau Tata akan menjadi anak baik, selama dia dalam asuhan Carisa."


"Apa! kakak mau cerai sama Kak Carisa."


"Iya. Sudah tidak ada jalan lain lagi Alena. Aku sudah lelah menghadapi sikap kakak kamu. Sepertinya, aku sudah tidak ada kecocokan lagi dengan kakak kamu."


"Ya udah. Jika Kak Andre sudah merasa tidak nyaman dan tidak ada kecocokan, itu sih terserah Kak Andre saja. Kalau Kak Carisa, masih ada aku, mama dan papa. Mungkin Kak Carisa bisa kembali lagi ke luar negri ikut mama dan papa."


Setelah bertelponan dengan Alena, Andre kemudian berjalan ke luar dari kamarnya.


Andre melangkah ke ruang tengah di mana Carisa, Dinda, dan Bu Alya duduk.


Andre kemudian duduk di sisi mereka.


"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kalian semua," ucap Andre.


Dinda, Bu Alya, dan Carisa saling menatap.


"Kak Andre mau ngomong apa?" tanya Dinda.


"Aku sudah mengambil keputusan. Aku sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan aku dengan Carisa. Aku sudah merasa tidak nyaman dengan Carisa. Sejak aku menikah dengan Carisa, aku juga tidak pernah mencintai dia," ucap Andre.


Carisa membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata suaminya.


"Aku berikan kamu waktu satu hari untuk mengemasi semua barang-barang kamu, dan pergilah dari rumahku Carisa. Karena saat ini, aku talak kamu Carisa!"


Akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Andre. Dinda, Bu Alya dan Carisa terkejut saat mendengar ucapan Andre.


"Mas, kamu nggak sungguh-sungguh kan bicara seperti itu. Kamu nggak akan ceraikan aku kan?"


"Carisa. Aku sudah lelah dengan sikap kamu. Apalagi waktu di kantor kamu sudah membuat aku malu. Dan aku nggak mau punya istri yang kasar seperti kamu."


Carisa sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ketika kata talak itu sudah terucap dari bibir seorang suami, itu artinya perceraian itu sudah benar-benar terjadi.


Dan Carisa sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia bersujud-sujud di kaki Andre, dan meminta Andre untuk mencabut ucapannya itu juga percuma. Tidak akan ada gunanya. Itu malah akan membuat Andre semakin besar kepala dan akan membuat harga diri Carisa jatuh sejatuh-jatuhnya.


Andre juga sudah memikirkan ini sejak lama. Dia ingin mencari istri yang baik seperti Fatia. Dia ingin mencari wanita yang lembut, yang sayang sama anaknya. Karena menurut Andre, Carisa itu tidak pernah sayang dengan anaknya.


"Apa karena gadis itu, kamu menceraikan aku. Kenapa kamu tega sekali Mas," ucap Carisa.


"Sudahlah Carisa. Aku males untuk berantem. Tidak usah kamu bicara lagi denganku," ucap Andre. Setelah itu dia pergi meninggalkan Carisa, Bu Alya dan Dinda.


"Dinda, Mama, kenapa semua ini jadi seperti ini."


"Itu semua karena kesalahan kamu sendiri Carisa. Dan mama nggak bisa berbuat apa-apa. Itu semua sudah keputusan Andre. Dan seorang ibu, hanya ingin yang terbaik untuk anaknya."

__ADS_1


****


Satu minggu Ersa tidak berangkat lagi ke kantor. Dia masih malu dengan kejadian itu.


Sore ini, Ersa masih berada di ruang tengah bersama ibunya. Dia masih tampak santai menonton acara tivi.


"Er, kamu nggak ke kantor lagi? bagaimana kalau Pak Andre nyariin?" tanya Bu Meta.


"Aku nggak mau ke kantor itu lagi Ma. Aku mau pindah kerja aja," ucap Ersa.


"Kenapa Er?" tanya Bu Meta yang sama sekali tidak tahu dengan kejadian itu. Karena anaknya itu sangat tertutup. Ersa tidak pernah cerita apapun pada ibunya.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan sudah terdengar dari luar rumah Ersa.


"Ada tamu Er. Kamu tunggu di sini ya, biar Mama yang melihat ke depan."


Bu Meta kemudian berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.


Bu Meta kemudian membuka pintu depan.


Dilihatnya Andre sudah berdiri di depan pintu.


"Permisi Tan. Ersanya ada?"


"Ada di dalam Pak Andre. Ada apa? pasti Pak Andre lagi nyariin Ersa ya?"


"Iya. Kenapa dengan Ersa? kenapa dia nggak ke kantor?"


"Saya juga nggak tahu Pak Andre. Saya fikir, di kantor lagi ada masalah ya dengan Ersa. Mungkin Pak Andre yang lebih tahu."


"Boleh panggilkan Ersa Bu?"


"Iya. Tunggu sebentar ya Pak Andre."


Bu Meta kemudian berjalan pergi untuk menemui anaknya.


"Ersa, ada Pak Andre di depan. Dia nyariin kamu."


"Aku nggak mau ketemu dia Ma."


"Er, temui dulu lah. Kasihan dia. Sudah jauh-jauh datang ke sini."


"Tapi aku lagi malas ma ketemu dia. Bilang aja aku nggak ada."


"Tapi mama udah bilang kalau kamu ada di dalam Er. Kalau ada masalah jangan seperti ini. Selesaikan dengan cara baik-baik. Temui Pak Andre dan bilang baik-baik sama dia."


Ersa akhirnya mau juga menemui Andre.

__ADS_1


__ADS_2