
Prang...
Suara pecahan kaca terdengar dari lantai bawah. Carisa yang sejak tadi masih tampak membaca-baca majalah, menutup majalahnya. Dia menatap sekeliling.
"Suara apa itu," ucap Carisa. Carisa bangkit dari duduknya. Dia yang penasaran, kemudian mencari di mana letak suara tadi.
"Bik Ijah... Bik Ijah..."seru Carisa.
Bik Ijah yang dipanggil buru-buru mendekat ke arah majikanya.
"Iya Non. Ada apa?"
"Bik Ijah, tadi aku dengar ada suara piring pecah. Apa bibik memecahkan piring?" tanya Carisa.
Bik Ijah menggeleng.
"Bibik juga dengar kok Non. Tapi, bukan bibi Non. Bibi sih, dengarnya dari lantai atas. Mungkin di kamar Non."
"Oh ya. Coba aku mau cek ke sana. Barang kali itu kucing atau jangan-jangan, orang mau maling."
Carisa buru-buru berjalan naik ke lantai atas. Dia masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Carisa saat melihat di kamarnya cermin yang ada di meja riasnya pecah.
"Ya ampun ... siapa orang yang sudah berani mecahin cermin riasku." Carisa menatap sekeliling. Dilihatnya sebuah bola tergelak di sisi tempat tidurnya.
"Vino...! Vino...!" seru Carisa.
Vino yang di panggil tidak menyahut. Sepertinya dia takut dengan kemarahan Carisa. Vino sejak tadi masih bersembunyi di balik korden jendela kamarnya.
Carisa menatap sekeliling untuk mencari Vino. Akhirnya dia menemukan Vino juga yang bersembunyi di dekat jendela.
"Dasar anak nakal. Berani sekali kamu mecahin cermin riasku."
Carisa menyeret tangan Vino dan mengeluarkan Vino dari persembunyiannya.
"Maaf Tante, aku nggak sengaja." Vino hanya bisa menundukan kepalanya takut untuk menatap Carisa.
"Nggak sengaja kamu bilang. Kamu sebenarnya punya fikiran nggak sih Vino. Ini tuh kamar. Bukan lapangan sepak bola. Kalau mau main bola bukan di sini. Tapi di luar...!" ucap Carisa dengan nada tinggi.
"Dasar anak nakal, anak bandel, kapan sih kamu mau berubah Vino. Kamu itu mirip sekali seperti mama kamu. Menyebalkan dan selalu bikin orang susah."
Carisa yang masih emosi, sejak tadi masih memarahi Vino habis-habisan. Makian demi makian dia lontarkan kepada Vino. Sampai-sampai, nama Fatia pun dia sebut-sebut.
Carisa yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Tiba-tiba saja, mencubit lengan Vino dengan keras, sampai cubitan itu membekas di lengan Vino.
Vino yang merasa kesakitan, menangis dan langsung ke luar dari kamar ayahnya. Vino berlari pergi meninggalkan rumah ayahnya.
****
__ADS_1
Andre sejak tadi masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sesekali menatap ke arah ibunya yang duduk di belakang mobil.
"Ma, mama yakin, udah mama bawa semua barang-barang belanjaan kita di toko tadi?"
"Udah Andre."
Minggu pagi, Andre mengantarkan Bu Alya belanja ke pasar. Bu Alya memang jarang belanja ke pasar tradisional. Biasanya yang belanja Bik Ijah. Namun, karena Bik Ijah repot, sementara kebutuhan dapur sudah habis, jadi Bu Alya yang belanja ke pasar diantar Andre.
Sementara Vino, mereka tinggal di rumah bersama Carisa.
Sesampainya di depan rumah, Bu Alya dan Andre turun. Mereka masuk ke dalam rumah dan memanggil Bik Ijah.
"Bik Ijah...!" seru Bu Alya.
Bik Ijah buru-buru menghampiri majikannya.
"Iya Bu."
"Tolong, bawakan barang-barang di mobil masuk."
"Baik Bu."
Bik Ijah ke luar untuk mengambil barang-barang belanjaan majikannya. Sementara Bu Alya menatap Andre.
"Ke mana Vino Ndre?" tanya Bu Alya
"Panggil dia Ndre. Mama udah belikan dia kue."
"Iya Ma."
Andre berjalan pergi untuk mencari Vino.
"Vino...! Vino...!" seru Andre.
Namun, Andre tidak mendengar sahutan dari anaknya. Andre mencari ke halaman depan sampai ke halaman belakang. Namun, dia belum juga menemukan keberadaan anaknya.
"Ke mana ya Vino. Kemana dia," ucap Andre sembari mencari Vino ke setiap sudut rumah.
"Cari Den Vino ya Den?" tanya Bik Ijah.
"Iya. Bibi lihat Vino nggak?"
"Dari pagi, bibi nggak lihat Den Vino. Tapi, kalau Non Tata sama Non Carisa mah, ada di atas Den. Sepertinya mereka ada di kamar."
"Oh. Makasih ya Bik."
Andre kemudian naik ke lantai atas untuk mencari Vino di sana. Andre membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kamarnya sudah berantakan dan cermin rias di dalam kamarnya juga pecah menjadi berkeping-keping.
__ADS_1
"Apa-apaan ini. Siapa yang sudah berantakin kamar aku. Dan ke mana Carisa, Vino dan Tata "
Andre kemudian berjalan ke kamar Tata. Dia membuka kamar Tata.
Tata tersenyum saat melihat ayahnya.
"Papa. Papa udah pulang?" tanya Tata sembari menghampiri Andre.
"Kamu sendirian aja? mana Mama?"
"Mama lagi di kamar mandi Pa?"
"Mana kakak kamu?"
"Kak Vino pergi Pa, tadi dia udah mecahin cermin rias mama. Dan dia dimarahi mama. Makanya dia pergi."
"Apa! kamu tahu Tata, ke mana Vino pergi?"
Tata menggeleng." Aku nggak tahu Pa."
"Carisa...! Carisa...!" seru Andre. Sepertinya Andre sangat marah saat mendengar penjelasan dari Tata.
Carisa sudah memarahi Vino sampai Vino pergi dari rumah.
"Carisa...!" seru Andre.
Beberapa saat kemudian, Carisa ke luar dari kamar mandi.
"Mas, ada apa sih? kenapa teriak-teriak."
"Mana Vino? apa benar kalau Vino pergi dari rumah?" tanya Andre menatap Carisa tajam.
Carisa diam. Dia bingung, apa yang harus dia jelaskan pada suaminya. Vino memang sudah pergi dari rumah karena dimarahin Carisa. Namun, Carisa tidak berusaha mengejarnya. Dia malah membiarkan Vino pergi.
"Carisa...! kenapa kamu diam aja? jawab aku Carisa...! "
"Mas, aku bisa jelasin semuanya Mas. Jangan marah-marah dulu sama aku. Vino tadi pergi dari rumah. Dan aku nggak tahu ke mana dia pergi. Kamu coba deh, lihat di kamar kita. Kaca lemari rias aku pecah gara-gara Vino. Vino udah main bola di dalam kamar. Dia itu nakal banget kan Mas. Sudah berapa kali aku bilang ke kamu. Jangan bawa Vino untuk tinggal di sini. Biarkan dia ikut ibunya saja."
"Diam kamu Carisa! aku nggak butuh ceramah kamu. Sekarang aku cuma mau tanya sama kamu. Apa yang sudah kamu lakukan sama Vino? Kata Tata, kamu udah marahin dia dan terus kamu biarkan dia pergi. Begitu?"
"Mas, maafkan aku Mas. Aku nggak bermaksud marahin dia. Tadi aku cuma emosi saja Mas. Aku udah berusaha kejar dia. Tapi, dia udah keburu jauh larinya"
"Kamu itu benar-benar ibu tiri yang kejam Carisa. Kamu tega membiarkan anak aku pergi. Dan sekarang, kamu malah santai-santai di sini tanpa mencarinya?"
"Lalu, aku harus cari Vino ke mana Mas?"
"Ya cari Vino sampai dapat...! kalau ada apa-apa sama Vino, aku nggak akan pernah memaafkan kamu Carisa...!"
__ADS_1