Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kegeraman Carisa.


__ADS_3

Nada alarm dari ponsel Fatia berdering. Fatia mengerjapkan matanya dan meraba sampingnya tidur untuk mengambil ponselnya.


Hoaaammm...


Fatia menatap layar ponselnya.


"Sudah jam lima ternyata," ucap Fatia yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.


Setelah melihat jam, Fatia kemudian beringsut duduk dan turun dari tempat tidurnya.


Fatia berjalan untuk mengambil handuk. Setelah itu, dia lekas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Fatia kemudian mandi. Selesai mandi, dia melakukan aktivitas rutinnya setiap pagi. Yaitu melakukan sholat subuh.


Selesai sholat. Fatia ganti baju dan keluar dari kamarnya.


"Aku nggak boleh telat lagi. Nanti Pak Darwin bisa marah-marah lagi sama aku. Karena kemarin aja, aku udah bolos satu hari," ucap Fatia.


Fatia buru-buru berjalan ke arah dapur. Di dapur, sudah tampak Bu Dewi yang sedang memasak.


"Pagi Ma," ucap Fatia setelah sampai di dapur.


Bu Dewi menoleh ke belakang.


"Fatia. Tumben kamu jam segini udah siap?" tanya Bu Dewi yang melihat Fatia sudah tampak rapi.


"Iya Ma. Hari ini aku mau ke rumahnya Mas Andre," jelas Fatia.


"Mau ngapain?"


"Vino kan ada di sana. Aku khawatir sama dia Ma. Aku takut, kejadian yang dulu akan terulang lagi. Aku nggak tega sama Vino, kalau Vino sampai dimarahin sama Carisa. Aku nggak mau, kalau Vino sampai buat ulah lagi Ma," ucap Fatia panjang lebar.


"Kamu mau nyusulin dia?" tanya Bu Dewi.


"Ya nggak juga sih. Aku juga mau kerja. Aku cuma mau pastikan aja, kalau Vino baik-baik aja di rumah Mas Andre."


"Kamu nggak mau makan dulu? ini masakannya sebentar lagi matang lho," ucap Bu Dewi sembari mengaduk-aduk masakannya.


"Nggak Ma. Aku mau langsung berangkat aja," ucap Fatia.


Bu Dewi menghentikan aktifitasnya. Setelah itu dia menatap Fatia.


"Kamu mau naik apa?" tanya Bu Dewi lagi.


"Aku mau naik taksi aja Ma. Karena kaki aku masih sakit, waktu jatuh dari motor kemarin."


"Ya udah. Hati-hati ya di jalan "


"Iya Ma."


Fatia mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu Fatia buru-buru pergi meninggalkan rumahnya.


Fatia menuju ke halaman depan rumahnya untuk menunggu taksi. Beberapa menit kemudian, taksi pun datang. Fatia langsung masuk ke dalam taksi. Taksi itu kemudian meluncur pergi ke arah rumah Andre.


"Pak, turun di depan aja ya Pak," ucap Fatia.


Fatia kemudian turun setelah sampai di depan rumah Andre. Setelah membayar taksi, Fatia kemudian masuk ke dalam halaman depan rumah Andre yang luas.


Sebelum sampai di teras, Fatia terkejut saat melihat Carisa tiba-tiba saja, membuka pintu depan. Seakan-akan Carisa sudah tahu kalau Fatia akan datang ke rumah suaminya.


Carisa juga sama terkejutnya saat melihat Fatia.

__ADS_1


"Fatia. Mau ngapain kamu datang ke sini?" tanya Carisa menatap Fatia tajam.


"Aku ke sini, cuma mau ketemu Vino. Di mana Vino?"


Carisa menyilangkan tangannya ke dada.


"Vino nggak ada," jawab Carisa ketus.


"Carisa. Jangan bohong kamu. Vino pasti ada di dalam kan. Cepat panggilkan Vino! aku mau ketemu sama dia," ucap Fatia dengan tegas.


"Aku kan udah bilang, kalau Vino nggak ada!" ucap Carisa dengan nada tinggi.


"Terus Vino ke mana. Ini kan masih pagi banget. Nggak mungkin dong, dia dan ayahnya sudah berangkat. Jam enam aja, belum."


"Fatia. Kamu itu seharusnya sadar diri dong. Mas Andre itu sekarang sudah punya istri. Kamu nggak usah deketin Mas Andre lagi. Apalagi untuk mendekatkan anak kamu dengan suamiku," ucap Carisa dengan nada jengkel.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" Fatia menatap Carisa tajam.


"Ya karena aku nggak suka Vino ada dalam kehidupan aku dan Mas Andre. Karena Mas Andre akan jauh lebih sayang sama Vino dari pada sama Tata anak aku," jawab Carisa.


"Carisa. Mas Andre itu ayah kandung Vino. Dan aku nggak mungkin melarang Vino untuk ketemu ayah kandungnya sendiri!"


"Halah, itu sih cuma alasan kamu saja Fatia. Aku tahu kok, niat busuk kamu sebenarnya. Kamu dekatin Vino ke Mas Andre, karena ada maunya. Iya kan?" Carisa sudah melotot ke arah Fatia.


Tampaknya Carisa sangat tidak suka dengan kedatangan Fatia ke rumah suaminya. Sejak tadi, Carisa selalu membuat Fatia naik darah.


"Kamu ingin, diam-diam merebut Mas Andre dariku kan. Kamu iri sama aku, karena sekarang aku dan Mas Andre sudah bahagia. Dan kamu mendekati Mas Andre lagi, karena kamu ingin menguasai hartanya," ucap Carisa.


Fatia terkejut saat mendengar ucapan Carisa. Sebenernya, Fatia ingin sekali menghajar wanita itu. Tapi Fatia sadar, kalau sekarang sudah siang. Tidak ada waktu l untuk main-main lagi. Dia harus buru-buru ke tempat kerjanya.


"Kamu itu bicara apa sih Carisa?"


"Kamu sengaja peralat anak kamu, karena kamu tahu, kalau Vino adalah darah daging Mas Andre. Dia akan menjadi pewaris satu-satunya di keluarga ini. Tapi, aku nggak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karena sebentar lagi, aku akan punya anak dari Mas Andre. Dan aku akan singkirkan anak kamu dari Mas Andre. Mengerti! jadi jangan macam-macam kamu ya Fatia!" lanjut Carisa, berucap panjang lebar.


Vino tersenyum saat melihat ibunya.


"Mama..." Vino langsung memeluknya ibunya.


"Sayang. Kamu betah Nak tidur di sini?" tanya Fatia sembari melepaskan pelukan Vino.


"Betah banget Ma. Kamar Papa luas banget. Rumah papa juga bagus banget ya Ma. Kapan ya Ma, Vino bisa punya rumah seperti ini?"


Andre dan Fatia saling menatap. Andre tersenyum saat mendengar ucapan anaknya.


"Kalau Vino mau rumah, nanti kalau udah besar, Papa akan belikan rumah untuk Vino," ucap Andre.


"Yang benar Pa? tapi aku pengin tinggal sama mama Pa."


"Ya nggak apa-apa, kalau Vino mau ajak mama Vino untuk tinggal bareng."


"Wah, aku sayang banget sama papa. Papa baik banget sama aku dan mama."


Carisa hanya bisa menatap kesal Fatia. Carisa sebenarnya merasa takut, kalau Fatia sampai merebut Andre dari Carisa.


Carisa tidak mau, kalau kehadiran Vino, akan menjadikan penyebab hancurnya rumah tangganya bersama Andre. Carisa tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu rumah tangganya termasuk Fatia. Carisa juga tidak mau tersingkir dari kehidupan Andre karena dia tidak punya keturunan dari Andre.


Carisa yang tidak bisa menahan lagi emosinya, segera masuk kembali ke dalam rumah. Sementara Andre, mendekat ke arah Fatia.


Andre tersenyum.


"Fatia, kamu cantik," ucap Andre setelah kepergian Carisa.

__ADS_1


Andre tiba-tiba saja meraih tangan Fatia, yang membuat Fatia terkejut. Vino hanya bisa menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Maaf, Mas. Jangan begini. Nggak enak dilihatin Vino. Dan aku nggak mau, Carisa salah paham sama kita."


"Oh. Maaf Fatia," ucap Andre yang tampak salah tingkah.


"Mama, Papa, kenapa kita tidak bisa tinggal bersama. Aku pengin kayak teman-teman yang lain. Tinggal dengan mama dan papanya. Aku ingin Mama dan papa tidur bareng sama aku," ucap Vino yang membuat Andre dan Fatia terkejut.


Fatia tampak bingung untuk menjelaskan ke Vino kalau mama dan papanya tidak bisa tinggal bersama. Namun, Vino anak kecil itu, tidak mau diberi pengertian. Dia masih saja berharap kalau suatu saat nanti, dia bisa tidur bersama mama dan Papanya di kamar yang sama.


"Sayang, kamu mau ke sekolah kan? Mama juga mau kerja. Ayo kita berangkat sayang. Nanti kesiangan." Fatia mengalihkan topik pembicaraan. Dia kemudian menggandeng tangan anaknya.


"Kamu ikut mama aja ya, naik taksi."


"Fatia. Biarkan aku yang ngantar Vino. Lagian, ada mobil, kenapa harus naik taksi sih. Kalau kamu mau ikut aku, tinggal ikut aja. Nanti aku antar kamu, ke tempat kerja kamu."


"Em, nggak usah Mas."


Vino meraih tangan mamanya.


"Ma, sekali-kali dong, kita naik mobil bareng sama papa. Aku pengin kita bareng-bareng terus. Aku pengin kayak anak-anak yang lain, bisa main dan jalan-jalan sama mama dan papanya," ucap Vino dengan wajah memelas. Membuat Fatia tidak tega harus menolak keinginan Vino.


"Ma, please. Kali ini aja ya kita naik mobil bertiga," ucap Vino.


"Tuh kan, anak kamu yang meminta kita naik mobil bareng. Kamu mau kan Fatia? demi Vino," ucap Fatia.


Fatia tampak berfikir. Dia kemudian melihat jam tangannya.


Duh, udah jam segini. Pak Darwin pasti marah nih, kalau tahu aku kesiangan lagi. Apa aku, terima aja ya tumpangan dari Mas Andre. Batin Fatia.


"Fatia. Gimana?" tanya Andre yang masih berharap kalau Fatia mau menuruti keinginan Vino.


Fatia tidak tega juga, saat melihat Vino merengek. Akhirnya, Fatia mau juga untuk satu mobil bareng Andre.


"Baiklah. Untuk kali ini aja sayang. Dan mama, juga udah kesiangan."


Vino tersenyum.


"Ya udah. Kalian tunggu di sini. Papa mau ambil mobil sekarang," ucap Andre.


Andre buru-buru pergi meninggalkan Fatia dan Vino untuk mengambil mobilnya.


Andre kemudian mengambil mobil yang ada di garasi rumahnya. Setelah itu Andre melaju ke arah di mana Fatia dan Vino berdiri.


"Ayo masuk! kalian berdua, duduk di belakang aja. Biar papa aja yang duduk di depan," ucap Andre.


"Iya Mas."


Fatia membuka pintu mobil. Setelah itu, Fatia dan Vino masuk ke dalam mobil itu. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah.


Pagi ini, Andre akan mengantar Fatia kerja dan Vino sekolah. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.


*


Di dalam rumah, Carisa sudah mengepalkan tangannya geram. Ternyata sejak tadi, dia mengintip dan menguping dari jendela pembicaraan Vino, Fatia, dan Andre.


"Benar kan dugaan aku. Kalau Fatia itu diam-diam mau merayu Mas Andre lagi. Dan anak kecil itu, bisa-bisanya dia ingin tidur bareng Fatia dan Mas Andre. Apa dia tidak tahu, kalau cuma aku yang boleh tidur dengan Mas Andre," geram Carisa.


Aku nggak akan pernah membiarkan Fatia dan Mas Andre bersama lagi. Dan anak itu, harus bisa aku singkirkan. Karena anak itu, yang akan menjadi penghalang untuk aku bisa menguasai hartanya Mas Andre. batin Carisa.


Setelah menghilangnya mobil Andre dari hadapan Carisa, Carisa kemudian masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke kamarnya. Carisa benar-benar sudah dibuat marah lagi pagi ini. Untunglah, Carisa masih bisa menahan emosinya saat bertemu dengan Fatia tadi. Jika tidak, mungkin Carisa dan Fatia akan berantem.

__ADS_1


"Hah, benar-benar menyebalkan. Fatia dan anaknya itu. Kalau seperti ini terus, aku yakin Mas Andre pasti bakalan luluh lagi sama Fatia. Dan aku nggak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku harus bertindak," ucap Carisa setelah sampai di dalam kamarnya.


Carisa sudah tidak bisa menahan cemburu yang ada di hatinya. Dia kemudian luapkan emosinya di dalam kamarnya. Carisa membuang semua benda yang ada di meja riasnya.


__ADS_2