
"Maaf Pak. Kayaknya aku nggak bisa jadi istri ke dua bapak," ucap Ersa yang membuat Andre terkejut.
"Kenapa?" tanya Andre.
"Aku nggak mau aja, kalau aku dibilang pelakor oleh orang-orang di luar sana. Bagaimana tanggapan karyawan-karyawan di kantor tentang aku. Aku juga nggak mau dimusuhi sama Bu Carisa jika aku menjadi istri ke dua."
"Lho, untuk apa kamu mikirin kata-kata orang. Ini tuh kehidupan kamu Ersa. Kamu bebas menjalani kehidupan kamu. Kalau kamu cinta sama aku juga, kenapa kita tidak melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius."
"Tapi ini terlalu cepat untuk aku Pak."
"Ya aku nggak akan memaksa kamu untuk langsung menerimanya. Aku akan memberikan kamu waktu untuk berfikir. Aku itu cinta sama kamu Er. Aku sungguh-sungguh ingin menikahi kamu."
"Aku akan fikirkan dulu Pak soal ini. Aku juga harus bilang ini dulu sama mama aku. Aku harus minta restu dari mama."
"Iya. Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap Ersa."
Beberapa saat kemudian, mobil Andre sudah sampai di depan kantornya. Andre melajukan mobilnya sampai ke tempat parkir. Andre kemudian memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
"Aku turun dulu ya Pak," ucap Ersa.
Ersa akan turun dari mobilnya. Namun Andre buru-buru mencekal tangannya.
"Ada apa Pak?" tanya Ersa.
"Ada yang ketinggalan"
"Apa yang ketinggalan?" tanya Ersa sembari menatap ke sana ke mari.
Andre tersenyum. Dia kemudian meraih wajah Ersa dan mencium kening Ersa.
"Sudah, sekarang kamu boleh pergi."
Ersa mengusap keningnya. Andre sudah terlalu berani mencium kening Ersa. Namun Ersa diam saja. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap Andre. Mungkin karena Ersa juga cinta sama Andre dan Andre juga bosnya. Ersa tidak akan bisa menolak apapun yang Andre perintahkan selama itu masih dalam hal kebaikan
***
Sore ini, Remon sudah pulang kerja. Dia sekarang sudah berada di dalam kamarnya bersama Fatia istrinya. Sejak tadi Remon masih memperhatikan istrinya.
Fatia masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela.
Remon tersenyum dan mendekat ke arah istrinya. Dia kemudian memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu fikirkan sayang?" tanya Remon.
"Aku cuma masih heran aja sama Mas Andre. Kenapa dia mau nikah lagi ya," ucap Fatia.
"Kenapa kamu masih memikirkan Andre. Apa kamu juga nggak rela kalau Andre mau nikah lagi."
Fatia melepaskan pelukan suaminya. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Remon.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? aku cuma kasihan aja sama Carisa. Apa dia sanggup hidup di madu."
"Ya biarkan saja mereka. Kenapa kamu harus mikirin Carisa. Belum tentu juga Carisa mikirin kamu."
"Iya Mas. Aku tahu. Tapi sebagai sesama wanita aku juga tahu perasaannya Carisa seperti apa. Pasti sakit banget deh. Apalagi Carisa itu kan cinta banget sama Mas Andre. Andai aku jadi Carisa, nggak tahulah akan seperti apa perasaanku. Aku nggak sanggup hidup di poligami."
Remon tersenyum. Dia kemudian menyibak rambut Fatia.
"Kamu lupa apa kata dokter. Kalau kamu nggak boleh banyak fikiran. Dan sekarang, kenapa kamu harus memikirkan keluarganya orang lain. Kenapa kamu harus mikirin mantan suami kamu. Padahal di sini ada aku, suami kamu."
Fatia tersenyum.
"Mas, aku nggak lagi mikirin keluarga orang. Aku cuma masih heran aja sama Mas Andre. Mas Andre itu sudah memberikan contoh yang buruk untuk setiap lelaki. Kalau Mas Andre nikah lagi, bisa-bisa banyak nanti laki-laki yang ikut-ikutan poligami. Termasuk kamu."
"Lho, kok aku. Aku tidak termasuk dong sayang. Poligami Itu tergantung lelakinya sayang. Kalau lelakinya itu aku, pasti aku akan setia sampai mati sama istri aku. Buktinya dari dulu aku tidak pernah berhenti mencintai kamu dan tidak pernah mengkhianati kamu"
Remon meraih tangan Fatia. Dia kemudian mencium kening Fatia dan membawa tubuh Fatia ke dalam pelukannya.
"Aku cinta sama kamu Mas. Jangan pernah kamu khianati cinta kita Mas," ucap Fatia yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang. Aku janji, aku akan selalu setia sama kamu. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung calon anak aku," ucap Remon sembari mengusap-usap rambut Fatia.
Remon dan Fatia semakin mengeratkan pelukannya masing-masing. Mereka tidak menyadari akan kehadiran Vino dalam kamarnya.
"Mama, Ayah. Kenapa kalian cuekin aku," ucap Vino tiba-tiba. "Kalau seperti ini terus, mending aku kembali lagi aja ke rumah Papa."
Fatia dan Remon melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap ke arah Vino.
Fatia tersenyum dan mendekat ke arah Vino.
"Vino, adik kamu yang minta mama untuk peluk ayah."
"Yang benar? emang adik aku yang ada di dalam perut udah bisa bicara?"
__ADS_1
"Udah dong. Dan hanya mama yang dengar," ucap Fatia.
Vino kemudian memegang perut Fatia dan menciumnya.
"Dek, kakak kangen sama adek. Cepat keluar dong dek. Kakak kesepian. Kakak pengin ada temannya," ucap Vino.
Remon tersenyum. Dia merasa bahagia dengan kehadiran Vino dan Fatia. Kehadiran Vino di rumahnya, membuat rumah Remon terasa ramai.
Walau Vino bukan anak kandung Remon, namun kasih sayang Remon ke Vino begitu besar. Melebihi rasa sayang Andre pada Vino. Makanya, Vino lebih memikirkan ikut tinggal di rumah Remon dari pada tinggal di rumah Andre atau rumah Bu Dewi. Karena Vino sudah merasa nyaman dengan Remon.
"Mama, kita udah lama ya nggak ketemu Aya. Aku pengin deh main ke rumah Oma Dewi. Aku kangen sama Tante Nessa dan Aya."
Fatia menatap anaknya. Dia kemudian menatap Remon.
"Mas, kamu mau antar aku ke rumah mama?" tanya Fatia. "Benar apa kata Vino. Udah lama kita nggak main ke rumah mama."
"Iya Ayah. Antarkan kita main ke rumah Oma dan Opa. Aku kangen sama mereka. Aku juga kangen sama Tante Nessa dan kangen sama Aya."
"Iya. Nanti ya kalau ayah libur. Hari minggu nanti ayah antar Vino ke rumah Oma dan Opa."
Vino tersenyum. Dia kemudian bersorak gembira saat mendengar kalau ayahnya akan mengantarnya ke rumah Oma dan Opanya.
"Oh iya. Ayah sampai lupa. Ayah kan punya kue pemberian karyawan di kantor. Masih ada di mobil. Ayah lupa ngambilnya Vino."
"Kue apa?" tanya Fatia.
"Ya banyak. Ada donat, ada kue tart dan kue macam-macam Fatia."
"Emang ada acara apa di kantor kamu Mas?"
"Tadi pagi kan di kantor ada karyawan aku yang merayakan hari ulang tahunnya. Dan dia pesan kue banyak banget. Dan lebihannya dia berikan ke aku. Katanya buat istriku, biar nanti bayinya nggak ngiler."
"Oh.Hehe... baik banget karyawan kamu itu Mas."
"Ya, semua karyawan aku baik-baik banget sama aku."
"Ya karena kamu baik sama mereka. Dan kamu nggak sombong. Makanya karyawan kamu, banyak yang sayang sama kamu Mas."
"Iya. Mungkin ya. Kalian tunggu sebentar di sini ya. Aku mau ambil kuenya dulu."
"Iya Mas."
__ADS_1
Remon kemudian keluar dari kamarnya untuk mengambil kue yang ada di mobilnya.