
Andre dan Remon berjalan bersamaan ke luar dari ruangan Vino. Mereka menghentikan langkahnya setelah mereka sampai di depan ruangan Vino. Remon dan Andre saling menatap.
"Remon, maafkan semua kesalahan-kesalahan aku selama ini," ucap Andre.
Ada angin apa, Andre minta maaf sama aku, batin Remon.
"Aku sudah pernah menghancurkan kehidupan kamu dengan Fatia. Tapi aku senang sekarang. Karena kamu sudah bersatu lagi dengan wanita yang sangat kamu cintai. Aku cuma bisa berdoa, semoga kamu dan Fatia dipanjangkan jodohnya dan rumah tangga kamu, menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah."
Remon hanya tersenyum. Dia melihat ada sesuatu yang berubah dalam diri Andre. Tidak biasanya Andre berubah lembut sikapnya sama Remon. Biasanya, ngobrol dengan Remon saja dia enggan.
"Iya Andre. Setiap manusia itu, tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Namun, Tuhan itu maha pengampun. Jika kita merasa punya banyak dosa, segera bertaubatlah dan kembali pada Tuhan kita."
Andre mengangguk.
"Aku yakin, kamu adalah jodoh yang tepat untuk Fatia. Dan aku yakin, kamu pasti bisa menjaga Fatia dan membahagiakan dia. Aku harap, kamu juga mau menerima Vino seperti anak kandung kamu sendiri."
"Kalau itu sih, sudah dari dulu Andre. Bahkan, waktu Vino masih berada di dalam kandungan ibunya, Aku sudah menganggap anak Fatia itu anak aku. Karena aku sangat mencintai ibunya Vino. Dan selamanya nggak akan berubah."
Andre tersenyum. Walau hatinya merasa sesak. Karena cinta Andre bertepuk sebelah tangan. Namun, dia sekarang sadar, kalau cinta itu tak harus memiliki. Dan dia juga sadar, kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur.
"Aku tahu, kamu itu lelaki yang baik Remon."
"Ya udah. Kalau begitu aku titip Fatia dan Vino. Aku pergi dulu ya," ucap Andre sembari menepuk-nepuk bahu Remon.
Remon mengangguk. Setelah itu, Andre pun pergi meninggalkan Remon.
Fatia yang sejak tadi masih mengintip dari balik pintu, merasa heran dengan perubahan sikap Andre.
'Mas Andre aneh banget. Apa mungkin, dia sudah mau berubah.' batin Fatia.
****
Pagi ini, Andre masih duduk di ruang Keluarga. Dia sesekali menyeruput teh manis hangat buatan Carisa.
Sementara sejak tadi, Carisa masih duduk di sisi suaminya menonton siaran tivi.
Ring ring ring ..
Ponsel Andre tiba-tiba saja berdering. Andre mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian mengangkat panggilan dari karyawan kantornya.
"Halo..."
"Halo Pak Andre. Ada kabar buruk untuk kita."
"Kabar buruk apa?"
"Pak Seno meninggal dunia."
"Apa! meninggal dunia. Emang kenapa dengan dia?"
"Tadi malam, katanya dia kecelakaan. Dan hari ini, dia meninggal dunia."
"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Ya udah. Terima kasih untuk informasinya. Jadi kapan Pak Seno akan dimakamkan?"
"Mungkin hari ini Pak. Dan dia akan dimakamkan di rumah kediamannya."
"Baiklah. Saya akan ke rumah Pak Seno sekarang."
Tut Tut Tut..
Andre mematikan saluran telponnya. Dia sangat syok mendengar orang kepercayaannya meninggal dunia.
__ADS_1
Pak Seno adalah karyawan kepercayaan Pak Daniel, yang Pak Daniel pekerjakan untuk menjadi sekretaris pribadi Andre sewaktu pertama kali Andre kerja di kantor.
Andre masih diam dengan fikiran kosong. Dia masih tidak menyangka dengan kabar buruk tentang sekretarisnya itu. Jika saja kabar itu benar, berarti Andre sudah kehilangan orang kepercayaannya.
Andre sangat menyukai Pak Seno karena kinerjanya sangat bagus. Dia juga orang yang sangat jujur.
Carisa mematikan saluran tivinya. Dia kemudian menatap suaminya lekat.
"Mas, ada apa? siapa tadi yang nelpon?" tanya Carisa.
"Orang kantor yang nelpon. Dia ngabarin, kalau Pak Seno tewas dalam kecelakaan semalam."
Carisa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Carisa juga sudah tahu, siapa Pak Seno. Karena Carisa pernah kerja juga di kantor Andre.
"Pak Seno sekretaris kamu kan Mas?"
Andre mengangguk.
"Aku harus ke sana sekarang."
"Aku ikut Mas."
Andre menatap tajam Carisa.
"Untuk apa ikut?"
"Ya, aku juga mau ikut melayat."
"Nggak perlu. Biar aku aja. Kamu kan harus antar Tata sekolah."
"Baiklah. Aku turut berduka cita Mas, atas meninggalnya Pak Seno."
Andre mengangguk. Dia kemudian pergi berjalan naik ke lantai dua untuk ke kamarnya.
Andre bersiap-siap untuk ke rumah Pak Seno.
Setelah siap, Andre kemudian ke luar dari kamarnya dan turun ke bawah.
"Andre, kamu mau ke mana? buru-buru banget?" tanya Bu Alya.
"Ma, aku lupa ngasih tahu Mama. Ada kabar buruk Ma."
"Kabar buruk apa?"
"Pak Seno, meninggal dunia karena kecelakaan."
"Apa! inalillahi. Terus, sekarang kamu mau ke sana?"
"Iya Ma."
"Mama ikut ya Andre. Mama juga pengin lihat bagaimana kondisi yang sebenarnya."
"Iya Ma. Aku tunggu di depan Ma."
Andre ke luar dari rumahnya untuk menunggu ibunya di sana.
Tata, yang sudah mengenakan seragam lengkap berjalan ke arah ibunya.
"Mama, Papa kenapa sih? kok Papa buru-buru banget begitu?" tanya Tata.
"Ada karyawan Papa kamu yang meninggal sayang. Dan Papa harus ke sana."
__ADS_1
"Oh, gitu ya Ma."
Tata menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Beberapa saat kemudian, Bu Alya ke luar dari kamarnya. Dia berjalan menuju ruang tengah.
"Carisa. Dinda mana? dia belum ke luar dari kamarnya?" tanya Bu Alya.
"Belum Ma. Mama mau ke mana? rapi banget?"
"Mama mau ke rumah Pak Seno. Katanya dia meninggal karena kecelakaan."
"Aku udah tahu kok Ma."
"Ya udah. Mama pergi dulu ya. Kamu nggak sudah ikut. Kamu kan mau ngantar Tata sekolah."
"Iya Ma."
Bu Alya kemudian keluar dari rumah untuk menghampiri Andre yang sudah berada di salam mobil.
Bu Alya masuk ke dalam mobil. Sementara Andre sudah menunggu di mobil.
"Maaf ya Andre. Udah nunggu lama. Sekarang kita mau ke mana? mau langsung ke rumahnya Pak Seno, atau ke rumah sakit?" tanya Bu Alya.
"Jenazah Pak Seno mungkin sebentar lagi akan sampai rumah. Atau mungkin, sudah sampai rumah. Kita langsung ke rumah Pak Seno saja Ma."
"Iya Andre."
Andre kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
"Andre, kamu nggak mau ngasih tahu Fatia. Fatia kam pernah kerja di kantor kamu. Dia juga pasti kenal Pak Seno. Barang kali, Remon dan Fatia mau ikut melayat juga."
"Ma, Fatia itu masih di rumah sakit."
"Apa! di rumah sakit? siapa emang yang sakit?"
"Vino Ma. Kemarin dia kecelakaan."
"Astaghfirullah. Mama kok, sampai lupa ya sama cucu Mama. Jadi, Vino sekarang ada bersama Fatia? dia kecelakaan? lalu, bagaimana kondisinya?
"Iya Ma. Kemarin kan Vino kabur dari rumah karena dimarahin Carisa. Dan dia keserempet motor. Untunglah dia nggak kenapa-kenapa. Dia sudah berkumpul lagi dengan Remon dan Fatia sekarang. Kondisinya juga baik Ma. Cuma luka-luka ringan aja."
"Ya syukurlah. Jadi sekarang mereka masih di rumah sakit?"
"Iya Ma."
"Apa kamu sudah menjenguk Vino?" tanya Bu Alya.
"Udah Ma. Semalam aku sudah ke rumah sakit. Tapi katanya Vino nggak apa-apa. Dan hari ini, dia sudah boleh pulang. Mungkin, Fatia akan membawa pulang Vino."
"Duh, kasihan ya Vino. Nanti siangan, mama pengin ketemu Vino. Antarkan mama ya untuk ketemu Vino."
"Iya Ma."
Setelah menempuh waktu beberapa menit dari rumah sampai ke rumah Pak Seno, Andre akhirnya sampai juga di rumah Pak Seno.
Rumah Pak Seno tampak ramai oleh para pelayat. Dari teman-temannya, rekan kantornya, kerabat dan juga tetangganya. Mereka semua ikut melayat.
Pak Seno memang orang yang baik semasa hidupnya. Makanya banyak orang yang rela berbondong-bondong ke rumah Pak Seno untuk melayat.
"Turun yuk Ma."
__ADS_1
"Iya Andre."