Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Madu untuk Carisa


__ADS_3

Malam ini, Andre mengajak Vino dan Ersa pulang ke rumahnya.


Carisa terkejut saat melihat kehadiran Ersa.


"Mas, dia siapa?" tanya Carisa yang masih berdiri di depan pintu.


"Dia Ersa. Anaknya almarhum Pak Seno," jawab Andre.


"Pak Seno sekretaris kamu?" tanya Carisa.


"Iya Carisa. Dan Ersa sekarang jadi sekretaris di kantor aku."


Deg.


Carisa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Benarkah kalau Ersa wanita yang sekarang sedang dekat dengan suaminya.


'Benarkah, wanita ini yang sedang dekat dengan suamiku. Kenapa bisa aku nggak tahu, Mas Andre punya sekretaris secantik dan semuda ini. Mudah-mudahan, ucapan Mas Andre tadi pagi, nggak seriusan. Aku yakin, Mas Andre masih mencintai aku dan setia sama aku.'


Sejak tadi Carisa masih mencoba menguatkan dirinya sendiri. Dia tidak ingin membuat kesalahan lagi di depan suaminya.


Carisa tersenyum saat melihat Vino.


"Hai Vino. Kamu kenapa nggak pernah main ke sini. Mama kangen sama kamu Vino," ucap Carisa yang sudah berpura-pura baik pada anaknya Fatia.


Carisa mendekati Vino. Namun Carisa terkejut karena Vino malah lari darinya dan mendekat ke arah Ersa.


"Aku nggak mau sama mama," ucap Vino yang membuat Carisa tampak malu di depan Andre.


"Ersa, ayo kita masuk. Aku mau kenalkan kamu sama mama aku dan Dinda adik aku," ucap Andre pada Ersa.


Andre tiba-tiba saja menggandeng tangan Ersa dan mengajaknya masuk. Sementara Carisa hanya bisa diam menahan cemburu.


Di ruang tengah, Dinda terkejut saat melihat wanita yang di bawa kakaknya. Wanita itu tampak masih muda dan dia masih sepantaran Dinda.


Dinda bangkit dari duduknya.


"Kak Andre, siapa dia?" tanya Dinda.


Andre tersenyum.


"Dia Ersa, sekretaris Kakak. Dan Ersa, ini Dinda. Ini adik aku."


Ersa mengulurkan tangannya yang disambut uluran tangan Dinda. Setelah mereka kenalan, Andre menyuruh Ersa dan Vino duduk di dekat Dinda.


"Kalian tunggu di sini, aku mau ganti baju dulu," ucap Andre.


Andre kemudian berjalan menuju ke lantai atas. Sementara sejak tadi Carisa masih mengikuti Andre dibelakang Andre. Andre dan Carisa kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Mas, siapa sebenarnya wanita itu? kenapa kamu bawa wanita itu ke sini?" tanya Carisa


Andre menatap Carisa tajam.

__ADS_1


"Kamu mau tahu dia siapa?"


"Iya. Kamu punya hubungan apa sama dia? apakah kamu punya hubungan khusus dengan wanita yang bernama Ersa itu."


"Kamu mau tahu siapa Ersa. Ersa itu calon istri aku. Dia wanita yang akan menjadi madu kamu."


"Apa! apa aku nggak salah dengar? kamu yakin Mas, dengan ucapan kamu. Kamu mau menduakan aku dengan Ersa. Kamu serius mau poligami?"


Andre tersenyum.


"Kalau aku mau poligami emang kenapa Carisa? aku cuma lelaki biasa yang punya batas kesabaran. Ustadz atau kyai saja bisa poligami. Kenapa aku yang orang biasa nggak bisa. Aku tampan, punya banyak uang, untuk menafkahi lima istri saja aku sanggup, apalagi cuma dua istri. Dan dalam agama kita, nggak apa-apa seorang lelaki punya lebih dari satu istri. Asal dia bisa adil dengan istri-istrinya."


Carisa menghela nafas dalam yang di iringi dengan air mata yang menetes deras dari pelupuk mata Carisa.


Tubuh Carisa mendadak melemas dan dia terduduk lemah di sisi ranjang kamarnya.


"Tapi aku nggak mau hidup di poligami Mas," ucap Carisa dengan air mata yang sudah mulai bercucuran.


Andre tidak peduli lagi dengan Carisa. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Hiks..hiks...kamu jahat Mas. Apa kurangnya aku selama ini. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku bersaing dengan Fatia untuk mendapatkan kamu. Tapi, apa yang aku dapatkan. Kamu lebih mencintai Fatia dari pada aku. Dan sekarang, setelah Fatia menikah, kamu malah mencintai wanita lain. Terus, Kamu anggap aku ini apa Mas. Aku wanita, juga punya perasaan. Aku juga ingin kamu cintai Mas," ucap Carisa.


****


Bu Alya menghampiri ruang tengah. Dia terkejut saat melihat Ersa.


"Dinda, siapa dia? teman kamu?" tanya Bu Alya.


"Ini anaknya almarhum Pak Seno Ma. Karyawan terbaik Papa," ucap Dinda.


"Ya ampun, cantik sekali kamu Nak. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Bu Alya sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Ersa langsung mencium punggung tangan Bu Alya. Dia kemudian duduk kembali di samping Dinda.


"Bagaimana kabar ibu kamu Nak?" tanya Bu Alya.


"Mama baik kok Bu."


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Bu Alya lagi.


"Sama Pak Andre."


"Oh."


"Sekarang, Ersa ini kerja Ma, di kantor Kakak," ucap Dinda menjelaskan.


Bu Alya hanya manggut-manggut mengerti.


"Oma," ucap Vino yang sejak tadi masih merasa dicuekin.


Bu Alya menatap Vino.

__ADS_1


"Eh, cucu Oma juga ada di sini," ucap Bu Alya.


Vino bangkit dari duduknya. Setelah itu dia duduk di pangkuan Bu Alya.


"Apa kabar kamu Vino?" tanya Bu Alya.


"Baik Oma."


"Mama kamu apa kabar sayang?"


"Mama baik. Dan sekarang Vino mau punya adik," ucap Vino yang membuat Bu Alya dan Dinda terkejut.


"Apa! Kak Fatia hamil. Cepat banget dia hamil. Perasaan baru kemarin dia nikah," ucap Dinda


"Oh iya. Cepat banget kamu udah mau punya adik," ucap Bu Alya.


"Iya Oma."


"Mama kamu kenapa nggak di ajak main ke sini. Oma kangen sama mama kamu. Oma pengin ngobrol-ngobrol sama mama kamu."


"Lain kali ya Oma aku ajak Mama main ke sini. Kalau sekarang Mama lagi pergi sama ayah.


"Pergi ke mana?" tanya Bu Alya.


"Nggak tahu Oma."


****


Selesai mandi, Andre keluar dari kamar mandi. Dia kemudian menatap istrinya yang masih tampak menangis.


"Mas, kamu nggak serius kan? kamu nggak mau nikah lagi kan?" tanya Carisa menatap lekat ke arah suaminya.


"Kapan aku pernah bercanda Carisa."


Carisa bangkit dari duduknya.


"Tapi Mas, aku nggak mau kamu nikah lagi. Dan kamu nggak akan bisa nikah lagi tanpa izin aku."


"Itu sih, terserah kamu Carisa. Yang penting aku mau nikahin Ersa, apapun yang terjadi. Karena aku cinta sama dia "


"Jahat banget sih Mas. Apa salah aku sama kamu, sampai kamu menghukum aku seperti ini."


"Kamu nanya apa salah kamu? salah kamu itu banyak Carisa. Dan kamu mau tahu apa salah kamu? mau aku hitung satu persatu kesalahan kamu?"


Carisa diam. Dia tidak mau mendengar lagi ucapan suaminya.


"Kesalahan kamu adalah pertama. Kamu udah nggak sayang sama Vino, ke dua kamu sudah bohongin aku, ketiga aku kurang puas dengan pelayanan kamu sebagai istri, ke empat kamu egois, ke lima..." Andre menggantungkan ucapannya saat Carisa memotongnya.


"Cukup Mas. Nggak usah disebutin lagi. Aku nggak sanggup jika aku harus hidup di madu. Aku lebih milih cerai dari pada hidup dipoligami."


"Itu sih, terserah kamu saja Carisa. Itu pilihan kamu. Yang pasti aku akan nikah dengan Ersa. Dan tidak ada satupun yang bisa menghalangi keinginan aku."

__ADS_1


__ADS_2