
Sejak kepergian orang-orang yang akan mengambil alih rumah keluarga Eleanor, penghuni rumah itu tidak dapat makan dan tidur dengan tenang. Terutama Ivy, yang sejak tadi pagi mengurung diri di kamar.
"Ivy, boleh aku masuk?" tanya Cansu yang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuklah," jawab Ivy dari dalam. Cansu membuka perlahan pintu kamar berwarna putih itu. Manik matanya melihat saudara tirinya sedang duduk di atas ranjangnya di tengah cahaya lampu yang temaram.
"Kau belum tidur?" Cansu menghampiri Ivy dan duduk di depan wanita itu.
"Aku tidak bisa tidur, Cansu. Setiap kali aku memejamkan mataku, aku selalu melihat ayahku." Ivy menangis sambil memeluk album fotonya.
Cansu memeluk Ivy dengan erat. Ia juga pernah mengalami ini ketika ayah kandungnya meninggal dua belas tahun yang lalu. Dirinya masih seorang gadis kecil waktu itu.
Putri Sophia itu mengusap linangan air mata yang membasahi pipi Ivy. "Meskipun aku belum lama mengenal ayahmu. Tapi aku tahu, Victor adalah ayah yang hebat."
"Ayahmu pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Tidurlah. Kau butuh istirahat," ucap Cansu sambil mengusap punggung tangan Ivy.
Ivy menatap sendu wajah Cansu yang akan beranjak pergi dari hadapannya. Perlahan saudara tirinya itu keluar meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
Malam semakin larut, Ivy menarik selimutnya dan berusaha untuk memejamkan matanya. Malam yang panjang itu hanya ada di dalam cerita dongeng. Hari begitu cepat berlalu, ketika setiap insan memulai kembali aktivitas mereka.
Suara bel rumah berbunyi, ketika Sophia sedang memasukkan barangnya ke dalam kardus besar. Sudah ada lima kardus besar memenuhi ruang tamu itu. Tinggal dua hari lagi mereka harus meninggalkan rumah ini.
Nyonya rumah itu segera berjalan menuju ke pintu rumah. Ia melihat dari balik kelambu, siapa gerangan tamunya yang datang. Seorang pria dengan pakaian kerjanya berwarna hijau, pria itu menekan ulang tombol bel.
"Selamat pagi Nyonya Eleanor," sapa seorang pria ketika melihat Sophia sudah berdiri di depannya. Pria muda berumur sekitar tiga puluh lima tahun, dengan model rambut klimis berwarna hitam tersenyum kepada wanita itu.
"Ya. Selamat pagi," balas Sophia. Salah satu tangannya masih berpegangan pada daun pintu.
"Saya turut berdukacita atas meninggalnya Tuan Eleanor," ucap pria tersebut. "Boleh saya membicarakan sesuatu dengan Anda, Nyonya?"
"Silahkan masuk." Sophia segera membuka pintu rumahnya lebih lebar dan membawa pria itu untuk duduk di ruang tamu.
Kedua orang itu duduk di satu sofa panjang berwarna krem. Sophia memiringkan tubuhnya untuk memudahkannya berbicara dengan tamunya. Pria itu mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tas kerjanya yang berwarna hitam. Membuat pikiran Sophia bertanya-tanya tentang berkas yang ada di dalam genggaman pria itu.
"Maaf, keadaan rumahku sedang kacau," kata Sophia datar.
"Anda dan keluarga akan pindah rumah?" Pria itu menopang kedua tangannya di atas berkas yang ia bawa.
"Ya. Rumah ini mengingatkan kami pada almarhum. Kami akan memulai hidup kami di tempat baru," jawab Sophia yang tidak mengatakan alasan sebenarnya. "Apa yang ingin Anda bicarakan?"
__ADS_1
"Nyonya Eleanor, saya Murat dari perusahaan asuransi. Semasa hidupnya almarhum Tuan Victor mengasuransikan dirinya dan perusahaannya. Apa Nyonya mengetahui hal ini?" Murat memberikan berkas itu kepada Sophia.
"Aku tidak mengetahuinya." Sophia menerima berkas asuransi itu dan membacanya. Manik matanya menatap angka uang pertanggungan asuransi yang ada di kertas itu.
"Tuan Victor menunjuk nona Ivy Eleanor sebagai penerima asuransinya. Bisa saya bertemu dengan nona Ivy?" Sophia membalikkan badannya ke belakang, ia tidak melihat Ivy ataupun orang lain di sana.
"Ehm... Ivy sedang menenangkan dirinya saat ini. Kemungkinan ia tidak akan bisa mengurus hal ini. Kematian ayahnya yang mendadak membuat dia terpukul." Raut wajah Sophia berubah menjadi sendu.
Murat hanya menganggukkan kepalanya seolah ia memahami apa yang telah terjadi di dalam keluarga ini.
"Apa bisa jika aku mewakili Ivy untuk mengurus asuransi ayahnya?" bisik Sophia sambil tersenyum kepada Murat.
"Bisa saja, Nyonya. Tapi harus ada persetujuan dan tandatangan dari nona Ivy," jawab Murat yang mengeluarkan berkasnya yang lain. Ia memberikan surat kuasa itu kepada lSophia dan menunjukkan bagian mana yang harus ditandatangani oleh Ivy.
"Baiklah, besok kau bisa mengambil berkas ini."
Murat pun bangkit berdiri dan berpamitan kepada Sophia. Sebuah senyuman mengembang dengan lebar dari bibir merah Sophia ketika petugas asuransi itu telah pergi dari rumahnya. Kali ini ia harus memikirkan cara bagaimana mendapatkan tandatangan Ivy.
Uang asuransi Victor bisa membuatku keluar dari masalah ini.
Sophia mengintip dari balik pintu kamar Ivy. Dilihatnya anak tirinya itu sedang berdiri menghadap jendela membelakangi dirinya. Ia segera menuruni anak tangga dan pergi menuju ruang makan.
Piring di meja Ivy masih ada. Berarti dia belum sarapan pagi ini.
"Nyonya belum sarapan?" suara Nur mengejutkan Sophia yang sedang membawa nampannya.
"Ini untuk Ivy. Aku lihat piringnya masih ada di meja, dia pasti belum sarapan," jawab Sophia yang langsung pergi meninggalkan Nur.
Pelayan itu tampak bertanya-tanya dalam hatinya.
Tidak biasanya wanita itu membawakan sarapan untuk Ivy.
"Ivy," panggil Sophia dengan lembut ketika ia sudah memasuki kamar anak tirinya.
"Ya." Ivy membalikkan badannya. Ia mengernyitkan keningnya ketika melihat ibu tirinya masuk sambil membawa makanan.
Sophia meletakkan nampannya di atas nakas, kemudian ia mengajak Ivy untuk duduk di atas ranjang. Ibu dan anak tiri itu duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku akui akhir-akhir ini hubungan kita kurang baik karena aku dan ayahmu sedang memikirkan masalah keuangan keluarga kita," ucap Sophia sambil memegang telapak tangan Ivy.
"Cansu sudah menceritakan padaku, bahwa tidak ada yang terjadi antara kau dan teman pria mu itu. Ya sejujurnya aku sangat senang dan aku minta maaf karena telah memarahimu waktu itu." Sophia melanjutkan perkataannya. Raut wajahnya berubah sedikit memohon.
"Sudahlah. Kau tak perlu minta maaf. Aku yang telah berbohong saat itu." Ivy membalas perkataan ibu tirinya dengan sebuah senyuman.
Sophia mengambil piring yang berisi baklava dan memberikannya kepada Ivy. "Makanlah ini. Kau belum sarapan, setidaknya kau perlu tenaga untuk hari ini."
Ivy mengambil piring tersebut dari tangan Sophia. Ia memandang ibu tirinya sambil tersenyum.
Sudah lama wanita ini tidak memberikan perhatiannya kepadaku.
Setengah potong baklava sudah masuk ke dalam mulut Ivy. Ia menikmati roti pastri buatan Nur.
"Ivy, orang yang kemarin mengambil barang-barang kita meminta tandatangan kita untuk tanda terima. Aku sudah memberikan tandatangan ku, tinggal kau dan Cansu. Sedangkan Deniz masih dibawah umur, kau bisa mewakilinya," tutur Sophia yang memberikan berkas asuransi dan sebuah pena kepada Ivy
Ivy meletakkan kembali piringnya di atas ranjang dan memangku bantalnya. Ia membubuhkan tandatangannya di berkas itu kemudian menyerahkannya kepada Sophia.
"Baiklah, sayang. Habiskan sarapanmu," kata Sophia yang langsung keluar dari kamar Ivy. Wanita cantik itu bersorak kegirangan di dalam hatinya, begitu mudahnya ia mengelabui anak tirinya.
Kau terlalu baik dan naif, Ivy ku sayang.
Ketika dilihat Nur, bahwa istri almarhum tuannya itu telah turun dari kamar Ivy, ia segera masuk ke dalam kamar anak majikannya itu.
"Apa yang dilakukan wanita itu?" tanya Nur ketika Ivy telah memasukkan potongan terakhir baklava nya.
"Ia memberikanku ini dan minta tandatangan ku," jawab Ivy sambil mengangkat piring kosongnya kemudian berjalan mendekati nakas dan meminum susunya.
"Apa kau membaca surat yang kau tandatangani?" tanya Nur sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak. Katanya surat itu hanya tanda terima dari orang-orang yang kemarin mengangkut barang kita." Ivy kembali menghabiskan susunya.
Nur menatap wajah Ivy tanpa ekspresi, ia hanya menghela napasnya dalam-dalam. "Semoga benar apa yang dikatakan wanita itu."
"Kau tahu, Nur. Untuk pertama kalinya Sophia minta maaf padaku," cerita Ivy dengan senyumannya.
Nur tercengang mendengar cerita Ivy. Wanita gembul itu menepuk keningnya agar ia tersadar dari mimpinya. "Wanita itu minta maaf padamu?"
Ivy hanya berdeham dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
* Bersambung *
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏