
Daun-daun kering itu beterbangan ketika kendaraan roda empat yang di tumpangi Kenan melibasnya dengan kecepatan tinggi. Manik mata abu-abu gelap itu menatap jalan raya yang ada di depannya. Ia mengusap wajahnya dengan keras berulang kali.
Kenan menggeser layar ponsel yang ada di standing car nya. Ia mencari nama Ivy di panggilan terakhirnya.
"Halo," Suara Ivy terdengar di layar ponselnya.
"Kau masih di sana?" tanya Kenan dengan nada dan raut wajahnya yang cemas.
"Ya. Aku ada di dalam sekolah."
Kenan menghela napasnya dalam-dalam setelah ia mendengar jawaban Ivy. Berarti tidak ada yang membahayakan di sana.
"Jangan keluar dari sekolah, sebelum aku datang. Oke?" Kenan menekankan suaranya pada kata-katanya yang terakhir, seakan ia hendak mengatakan jangan bantah perkataanku.
"Aku akan menunggumu."
Pembicaraan mereka berdua pun terputus. Kenan kembali fokus mengemudikan mobilnya. Lima belas menit kemudian, mobil Kenan sudah berada di depan gedung sekolah yang dimaksud oleh Ivy.
Pria itu berjalan memasuki lapangan olahraga yang berbentuk persegi panjang dengan ring bola basket yang saling berhadapan di sisi yang berbeda. Manik matanya menatap gedung sekolah dengan jendela-jendelanya yang terbuka.
"Kenan!" panggil Ivy ketika ia melihat punggung pria itu dari kejauhan. Punggung tegap dari seorang laki-laki dengan tinggi 188 sentimeter.
Putra Harun itu membalikkan badannya ke belakang. Ia melihat Ivy keluar dari pos satpam yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang. Wanita itu terlihat sangat manis dengan rok merahnya di atas lutut dan atasannya berwarna krem yang terbuat dari kain sifon yang tipis.
"Ivy...." Kenan segera melangkahkan kakinya menuju ke pos satpam yang ada di samping pintu gerbang sekolah. Ia ingin memeluk Ivy, setelah dilihatnya bahwa wanita itu baik-baik saja. Tapi ia terpaksa mengurungkan niatnya, karena Ivy masuk kembali ke pos satpam.
Ivy mengajak Deniz keluar dari pos yang berwarna putih biru. Mereka berdiri berhadapan di tengah-tengah lapangan. Guratan senyum manis tergambar jelas di bibir Kenan dan Ivy.
"Hai." Mereka saling menyapa bersamaan. Rasa kikuk menjalar di seluruh tubuh kedua orang muda ini.
Ivy tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana setelah ia mengucapkan kata hai. Dirinya bukanlah wanita pendiam, tapi sejak kejadian permainan puzzle itu, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada pria itu.
"Ayo, kak. Aku sudah lapar." Deniz mengayunkan lengan Ivy beberapa kali.
"Mobilku ada di luar. Ayo kita berangkat," ucap Kenan sambil memainkan kunci mobilnya. Ia langsung berjalan di samping Deniz. Bocah itu ada di tengah-tengah antara Ivy dan Kenan.
Deniz langsung melompat masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang dan membiarkan kakaknya untuk duduk di samping Kenan.
"Apa kau keberatan untuk duduk di sampingku?" tanya Kenan yang melihat Ivy tidak segera masuk ke dalam mobil.
"Tidak. Hanya saja, biasanya Deniz lebih suka duduk di depan." Ivy segera masuk ke mobil. Ia merutuki sikapnya saat ini yang tidak bisa rileks saat ini.
Kenan segera melajukan kendaraannya menuju ke tepi pelabuhan. Di tempat yang bernama Eminonu ini terkenal dengan penjual sandwich ikannya. Dari kejauhan sudah terdengar suara klakson kapal dan aroma air laut yang khas. Terlihat kapal-kapal besar yang di gunakan oleh penjual Balik Ekmek bersandar di tepi dermaga.
__ADS_1
Bendera Turki tampak berkibar di ujung kapal yang bergoyang-goyang terkena sapuan ombak kecil. Puluhan hingga ratusan orang memenuhi daerah itu hanya untuk mencicipi makanan laut yang masih segar.
Ivy membuka kaca jendelanya, aroma asap pembakaran ikan itu menyambut kedatangan mereka. Cuaca mendung dan angin yang berhembus kencang membuat Ivy menutup kembali jendela mobilnya.
"Kurasa aku harus menemani Deniz di dalam mobil. Udara di luar sangat dingin. Kami tidak membawa jaket," ujar Ivy setelah Kenan memarkirkan mobilnya.
"Aku akan segera kembali," kata Kenan sambil melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil.
Putri Victor itu memperhatikan Kenan yang masuk ke tengah-tengah antrian dan mendekati tepi kapal untuk memesan roti lapis berisi ikan tuna makarel. Ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela, memikirkan pria itu. Pria asing yang baru di kenalnya beberapa minggu lewat kejadian yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Apa dia selalu baik pada setiap wanita?
Lamunannya mendadak terhenti, ketika ada seseorang yang mengetuk kaca jendela yang ada di samping kursi kemudi. Kenan memberi isyarat agar Ivy membuka pintu mobilnya.
"Ini untukmu Deniz." Kenan memberikan sepotong sandwich ikannya.
"Apa aku boleh tambah lagi?" tanya Deniz dengan wajahnya yang memelas, seakan ia belum makan untuk beberapa hari.
"Habiskan dulu makananmu, Deniz!" Ivy menoleh ke arah adiknya dan memasang raut wajahnya yang galak.
"Kau boleh tambah sebanyak apapun. Ini masih ada banyak," jawab Kenan sambil mengangkat kantong plastik yang berisi enam potong roti lagi. Pria itu tersenyum lebar. Rambut hitamnya berdiri melambai terkena terpaan angin laut.
Deniz dan Kenan tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Ivy yang terlihat semakin galak. Kenan justru semakin gemas melihat bibir tipis Ivy yang mengerucut, ingin rasanya ia menyesap dan menikmati bibir merah tanpa polesan lipstik itu.
Ketiga orang itu melahap roti yang ada di tangan mereka. Udara dingin membuat perut mereka semakin cepat terasa kosong. Tak terasa sandwich yang berjumlah tujuh potong itu habis tak bersisa. Kenan memberikan dua botol air mineral untuk Ivy dan Deniz.
"Aku ingin...." Deniz tidak berani melanjutkan perkataannya ketika kakaknya itu menoleh ke belakang dan melebarkan kelopak matanya.
Bocah itu menutup mulutnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Perutnya terasa penuh saat ini. Rasa kantuk mulai membuat kelopak matanya terasa berat.
"Lebih baik kita pulang. Tidak baik untuk Deniz jika dia kecapekan." Ivy memasang sabuk pengamannya.
Kenan segera mengatur persneling mobilnya, memundurkan roda kendaraannya dan mulai mencari jalan untuk keluar dari tempat itu.
Putra Harun itu mengambil arah memutar untuk pulang kembali ke rumah Nur. Mereka memasuki daerah pemukiman penduduk kalangan kelas menengah, di daerah Istanbul barat. Deretan rumah minimalis modern tersebut berjejer dengan model yang sama hanya warna mereka yang berbeda.
"Kenan, berhenti!" seru Ivy yang melihat sebuah mobil kecil berwarna merah yang sangat ia kenal. Mobil itu terparkir di depan rumah berwarna putih dengan dengan dinding batu berwarna cokelat.
Kenan menghentikan mobilnya di depan rumah dengan dua lantai. Ia memandangi rumah itu sama seperti Ivy dan Deniz. "Rumah siapa ini?"
"Aku tak tahu. Tapi itu mobil Sophia?" jawab Ivy tanpa menoleh menghadap Kenan, manik matanya masih memperhatikan rumah yang tidak terlalu besar, tapi terlihat cukup mewah.
"Sophia? Siapa Sophia?" tanya Kenan yang mencondongkan tubuhnya ke punggung Ivy.
"Dia ibu tiriku," jawab Ivy yang langsung menoleh ke belakang.
__ADS_1
Ia tak menyadari Kenan berada tepat di belakangnya. Kedua bibir itu saling bergesekan dengan cepat, membuat wajah Ivy memerah. Ia merasakan kumis tipis Kenan yang menyentuh pipi dan bibirnya.
"Maaf. Aku membuatmu terkejut." Kenan segera memundurkan tubuhnya.
Sejak tadi aroma tubuh Ivy telah merasuki pikirannya. Ia bukanlah pria yang suka mencuri kesempatan, tapi sungguh kejadian tadi diluar perkiraannya.
Seorang wanita berambut merah keluar dari rumah sambil menenteng tas tangannya berwarna kuning gading sesuai dengan warna gaun pendek yang dikenakannya.
"Ivy, bukan maksudku...," ucapan Kenan mendadak berhenti ketika Deniz tiba-tiba memanggil wanita berambut merah itu dengan panggilan ibu.
Ivy segera membalikkan badannya ke arah pintu mobil dan berteriak memanggil adiknya, tetapi bocah laki-laki itu sudah berlari ke arah Sophia dan memeluk wanita itu. Dengan terpaksa Ivy dan Kenan keluar dari mobil untuk mengajak Deniz kembali masuk ke dalam.
"Ibu," ucap Deniz dengan lirih. Ia memegang pakaian Sophia dengan erat. Wanita itu tampak terganggu mendapat pelukan dari anak tirinya.
"Deniz!" seru Ivy yang berdiri di belakang adiknya beberapa langkah. Ia tidak mengucapkan salam kepada ibu tirinya.
"Kembalilah kepada kakakmu," kata Sophia sambil memasukkan pinggiran rambutnya ke belakang telinganya. Manik mata itu hanya melirik sekilas ke arah Ivy dan Kenan.
"Kenapa Ibu tidak pernah mengunjungiku di rumah Nur? Apa kau tak sayang lagi padaku?" rengek Deniz tanpa mengeluarkan air matanya.
Anak laki-laki itu menarik ke bawah baju Sophia, membuat tangan wanita itu dengan spontan mendorong kedua pundak Deniz ke belakang.
"Deniz!" pekik Ivy dan Kenan yang segera menangkap tubuh kecil yang hampir saja terjatuh di aspal. Kenan membantu Deniz untuk bangkit berdiri.
"Kenapa kau mendorong Deniz?" teriak Ivy dihadapan Sophia. Bocah itu tampak ketakutan dengan manik matanya yang memerah.
"Aku tidak bermaksud mendorongnya. Aku hanya menyingkirkan tangannya, karena dia terus menerus menarik bajuku," jelas Sophia yang berjalan menghampiri Deniz sambil memasang senyuman manisnya.
Bocah laki-laki itu sembunyi di belakang Kenan sambil memegang tangan pria itu. Ia mengintip dari balik pinggang Kenan.
"Lagipula aku kan ibunya, bagaimana mungkin aku menyakitinya," ucap Sophia yang mengulurkan tangannya hendak memegang wajah Deniz.
Ivy segera menjauhkan tangan Sophia dari wajah adiknya. "Jangan pernah sebut dirimu sebagai ibunya! Ibunya sudah lama meninggal!"
Sophia tersentak mendengar perkataan Ivy yang terdengar kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Telapak tangannya menggenggam erat pegangan tas kulitnya.
"Jangan lupa, bahwa aku adalah istri almarhum ayahmu! Siapa yang membesarkanmu dan adikmu yang sakit-sakitan ini?"
Ivy menatap tajam wajah Sophia, ia mencoba menahan amarahnya di hadapan Deniz.
"Tentu saja aku ingat, bagaimana Nyonya Eleanor menendang anak tirinya untuk keluar dari rumah! Sejak saat itu, kau melepaskan tanggung jawab mu dari kami!" seru Ivy yang langsung menggandeng tangan Deniz untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Sophia menatap geram anak tirinya itu. "Ia telah menjadi kucing liar sejak tinggal dengan pelayan itu!"
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Di tunggu like, komentar, rate bintang lima dan votenya 🥰 terimakasih 🙏