Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Sebuah Ironi


__ADS_3

Seorang pria paruh baya sedang membetulkan letak kacamata bacanya ketika ia membaca sebuah surat. Surat itu baru saja ia terima sekitar tiga menit yang lalu. Pandangannya memperhatikan setiap deretan kalimat yang tertera di kertas putih itu kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada jaksa andalannya—Hazal Aksal.


“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanya Jaksa Kepala—Onur dari balik kacamatanya, “jika aku sudah menandatanganinya, kau tidak bisa kembali ke tempat ini lagi. Pikirkan baik-baik. Aku hanya merasa sayang dengan karir yang kau bangun selama ini.”


“Aku tahu dan aku yakin akan melakukannya. Setelah kasus ini selesai, aku akan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anakku sendiri.” Manik mata coklat itu berbicara tanpa keraguan sedikitpun.


“Baiklah, jika kau sudah yakin.” Jaksa Kepala itu membubuhkan tanda tangannya dan mengembalikan surat itu kepada Hazal, ia sangat paham bahwa wanita itu tidak akan pernah menarik perkataannya, “kini kau sudah bukan lagi seorang jaksa. Mungkin saja, suatu hari nanti kita akan menjadi lawan di ruang pengadilan.”


“Aku mengerti, Tuan Onur. Terimakasih atas bimbingan dan kepercayaan Anda selama ini. Aku permisi,” pamit Hazal yang langsung meninggalkan ruang atasannya.


Jaksa Kepala itu masih terus menatap kepergian Hazal. Ia merasa sangat kehilangan bawahan  sekaligus rekan kerjanya. Hampir setiap kasus yang ditangani Hazal selalu berakhir dengan kemenangan. Di sepanjang karirnya, jaksa wanita itu sudah banyak menjebloskan para terdakwa ke dalam penjara dan tiang gantungan. Hanya karena masalah pribadinya, dia memilih jalan lain.


......................


“140984 dan 140985!” teriak petugas polisi memanggil dua nomor tahanan.


Seluruh penghuni hotel prodeo melihat nomor tahanan yang terjahit di saku kemeja mereka. Ada yang mengingat nomor identitas mereka namun ada juga yang melupakan deretan angka-angka tersebut. Dua orang berperawakan tinggi sang pemilik nomor, bangkit berdiri mengikuti petugas polisi yang akan membawa mereka ke ruang besuk.


“Ada yang mengunjungi kalian!” Petugas pembuka pintu itu menunjuk seorang wanita yang memunggungi mereka. Wanita yang mengenakan setelan formal berwarna hitam dengan rambut coklatnya tergelung terangkat ke atas. Menyisakan beberapa anak rambut yang ada di belakang kepalanya.


“Siapa dia?” tanya Mehmet kepada petugas berseragam biru tersebut.


“Mana aku tahu!” hardik petugas itu dengan gusar.


Pada awalnya kedua pria itu saling memandang dan mengernyitkan dahi mereka, sebuah tanda tanya yang besar wanita mana yang mengunjungi mereka. Keduanya pun berjalan menghampiri wanita tersebut. Derap langkah kaki mereka, membuat wanita muda itu membalikkan badannya.


“Hazal?” Sebuah pertanyaan itu keluar dari mulut Mehmet, tetapi bibir coklat di sampingnya itu hanya diam membisu. Pria itu sepertinya masih terlihat canggung, bertemu kembali dengan mantan istrinya.


“Halo Kenan… Mehmet,” sapa Hazal yang langsung menyerahkan dua buah berkas kepada mereka, “aku kemari hanya ingin meminta persetujuan kalian. Jika kalian setuju, tandatangani berkas ini.”


Dua pasang bola mata itu bergerak dari kiri ke kanan guna membaca deretan-deretan kalimat yang tertulis di berkas itu. Isi berkas itu sama, hanya beda nama pemiliknya. Setelah selesai membaca isi berkas tersebut, mereka menghela napasnya dengan panjang dan menatap Hazal.

__ADS_1


“Kenapa kau memilih jalan ini?” tanya Kenan.


“Karena dengan cara ini, aku bisa membantu kalian. Jika aku tetap menjadi jaksa, maka akulah lawan kalian,” jawab Hazal dengan ekspresi wajahnya yang datar.


"Well… aku ikut jalan mu.” Mehmet membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah halaman. Begitu juga dengan Kenan, entah apa rencana Hazal, saat ini kelangsungan hidupnya berada di tangan wanita itu.


“Kini aku resmi menjadi pengacara kalian,” ucap Hazal dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat ke atas, “sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di gudang tua itu. Jangan menyembunyikan apapun dariku.”


Mereka menceritakan dari awal kejadian mereka bermasalah dengan Ferit Kozan. Mulai dari masalah penenggelaman Kenan, masalah pemerkosaan Cansu, penculikan Ivy hinga berakhir dengan kematian Ferit dan orang-orang yang bersamanya. Hazal mencatat dan merekam setiap penjelasan mereka.


“Aku mau ke toilet.” Pria berkulit gelap itu langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Kenan dan Hazal


di ruang besuk.


Dua bola mata itu saling menatap permukaan meja. Dua bibir itu saling tertutup untuk beberapa detik lamanya. Mereka seperti dua orang asing yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, karena sejak tadi mereka hanya membahas masalah pekerjaan.


“Jika tidak ada lagi yang kau tanyakan, aku kembali ke dalam.” Kenan bangkit berdiri dan menatap sekilas manik mata coklat yang masih tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu.


“Kenan….” Putra Harun itu menghentikan langkahnya ketika suara Hazal memanggil namanya. Dari ekor matanya, ia bisa melihat Hazal bangkit berdiri di belakangnya. “Apa sikap dinginmu ini karena kau ingin menghukumku? Jujur, aku merasa tidak nyaman dengan semua ini.”


Sebenarnya aku hanya ingin menjalin hubungan pertemanan denganmu. Tapi sepertinya, kau memasang tembok yang terlalu tinggi untuk bisa aku panjat.


Di balik ruangan itu, Kenan menyandarkan tubuhnya pada salah satu dinding. Putra Harun itu menghembuskan napasnya dalam-dalam sambil memejamkan kelopak matanya. Bayangan kenangan bersama Hazal kembali mengusik pikirannya.


Kenapa kau kembali, Hazal? Disaat aku sudah terbiasa tanpa dirimu, kenapa kau mengusik ketenangan yang sudah aku bangun selama ini? Seharusnya sejak awal kau menolak permintaan Ivy! Kau tahu, aku tidak bisa menghukummu… aku juga tidak bisa berbuat baik padamu.... Sama seperti ketika aku tidak bisa menarik pelatuk


pistolku untuk membunuhmu waktu itu. Kau juga tidak mampu melakukan hal yang sama. Kita tidak bisa saling menyakiti tetapi juga tidak bisa saling memiliki, ironis sekali bukan? Jika aku bisa kembali ke masa lalu, maka aku akan membawamu pergi dari Istanbul meninggalkan semuanya dan membantumu untuk melupakan keinginan balas dendammu.  Tetapi  semua sudah berakhir. Ya… kau dan aku sudah berakhir….


Kepalan tangan itu membentur dinding keramik dengan sangat keras. Ia meletakkan keningnya pada lengan yang menempel di dinding. Diusapnya wajah persegi itu dengan kasar.


“Tapi siapa yang memberitahu Ivy untuk menghubungi Hazal? Aku sudah menghapus nomor Hazal dari ponselku,” gumamnya.

__ADS_1


“Aku yang menyuruh Ivy untuk menghubungi Hazal.”


Suara itu sontak membuat Kenan mengalihkan pandangannya ke samping. Ia menarik kerah seragam tahanan Mehmet dan menempelkan pria gundul itu di dinding.


“Kau? Kenapa kau memberikan ide gila ini?” Manik mata abu-abu gelap itu melotot menatap lawan bicaranya.


“Sabar kawan… sabar. Ini bukan ide gila. Kau dan aku sudah menunjuk Hazal sebagai pembela kita, maka terima saja! Kau selamanya tidak bisa menghindari orang-orang yang ada di masa lalu mu! Jika kau belum selesai dengannya, lanjutkan setelah kasus ini selesai. Bunuh dia! Tembak dia! Agar kau puas melampiaskan amarahmu dan kekecewaanmu karena dia hanya menjadikanmu alat!”


Sebuah pukulan melayang dan mendarat merobek sudut bibir Mehmet. Pria berkulit gelap itu tidak membalas. Ia hanya berdiri di depan Kenan dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


“Ayo pukul aku! Anggap aku adalah Hazal! Kau tidak bisa melakukannya, hah? Karena kenyataannya, kauyang  tidak bisa menerima semua ini!”


Mendengar hal itu, Kenan langsung menjatuhkan Mehmet ke lantai dan memukuli sahabatnya itu berulangkali, hingga beberapa orang petugas memisahkan mereka. Tak sekalipun Mehmet membalas pukulan Kenan, ia benar-benar menjadikan dirinya sosok Hazal. Ia hanya ingin sahabatnya itu sadar dan keluar dari keterpurukannya.


Dada bidang itu naik turun ketika dua orang petugas memegangi kedua tangannya. Dilihatnya wajah bulat itu telah berhiaskan noda merah. Bola mata itu menyorot tajam saat melewati pria yang menjadi korban kekesalan hatinya. Setelah berhasil memisahkan keduanya, petugas polisi menempatkan Kenan di sel isolasi sedangkan Mehmet di rawat di ruangan dokter polisi.


“Masuk!” perintah petugas polisi kepada Kenan. Petugas itu mendorong tubuh berotot itu untuk masuk ke dalam ruangan 2x1 meter. Ruang yang hanya muat diisi satu orang. “Hukuman sudah di depan mata, masih saja berulah! Kau tidak akan mendapatkan jatah kunjungan sampai tiga hari ke depan!”


Sebuah rantai besi itu mengunci ruangan kecil yang ditempati Kenan saat ini. Pria itu membenturkan keningnya pada jeruji besi. Kedua telapak tangannya menggenggam erat barisan besi yang terasa dingin di kulitnya.


Aku memang sangat kecewa dan marah, tapi aku juga tidak bisa menghukumnya, menyakitinya atau mencintainya.


......................


Di tempat lain, setelah berbicara dengan Kapten Polisi Cenk tentang status dirinya sebagai pengacara Kenan dan Mehmet, Hazal mencari bukti-bukti yang bisa meringankan hukuman kliennya. Ia juga berusaha mencari saksi yang melihat kejahatan Ferit kepada mereka.


Waktu hukuman Kenan di ruang isolasi pun berlalu dan interogasi juga sudah selesai di lakukan selama beberapa hari. Putra Harun itu kembali lebih tenang setelah pertemuannya dengan Hazal berlangsung beberapa kali.


"Sidang pertama kalian, akan dimulai dua hari lagi. Persiapkan diri kalian. Aku juga akan mempersiapkan diriku," ucap Hazal memberitahu Kenan dan Mehmet.


"Apa kami akan bebas di sidang pertama?" tanya Kenan dan Mehmet bersamaan.

__ADS_1


Hazal menggelengkan kepalanya. "Bebas tanpa hukuman itu sangat sulit, tapi aku akan berusaha meringankan hukuman kalian."


...****************...


__ADS_2