Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Korban Tusukan Sophia


__ADS_3

Salah satu mempelai pria yang lain—Mehmet baru saja tiba di rumah Cansu. Atas anjuran Kenan, ia membawa beberapa pemain musik perkusi dan pemain musik tiup untuk menjemput mempelai wanitanya. Bunyi tabuhan itu terdengar hingga ke ujung jalan, membuat para tetangga sekitar melongok ke luar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Tak terlintas dalam benak Mehmet sesuatu akan terjadi ketika pria itu tidak mendapati seorang pun di sana. Entah calon ibu mertuanya atau pun pihak keluarga Cansu yang lain, yang seharusnya menerima mahar pemberiannya. Mehmet mendeham di depan pintu kemudian membetulkan letak dasinya. Ketua group pemain musik itu meminta Mehmet untuk mengetuk pintu rumah calon istrinya.


Sekitar satu menit pria berkulit gelap itu mengetuk dan membunyikan bel pintu, tetapi tidak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Ia mencoba menghubungi ponsel calon istrinya. Namun, yang terdengar hanyalah suara merdu dari petugas operator seluler. Suara operator itu sudah terdengar sejak semalam.


Sekali lagi Mehmet masih belum menyadari kenapa Cansu tidak bisa dihubungi sejak semalam. Entah mungkin karena hatinya yang terlalu gembira ingin segera mempersunting wanita pujaannya atau ia memang ingin menimbun rasa rindunya.


Di dalam rumah, Cansu mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia sudah tidak berharap lagi pada pernikahannya. Di tengah keputusasaannya, Cansu mengambil sebuah kursi dan meletakkannya tepat di bawah teralis besi yang menempel pada langit-langit kamar mandinya. Ia menaiki kursi kayu berbentuk lingkaran dan mengalungkan kain slayer-nya pada teralis besi yang kini berada di atas kepalanya. Dibentuknya kain itu menjadi sebuah lingkaran yang cukup untuk memasukkan kepalanya.


Kedua tangannya menggenggam erat kain berwarna putih tersebut. Ia menangis dengan sangat kuat, membuat garis-garis matanya tertarik ke belakang. Ia tidak ingin hidupnya berakhir seperti ini, tapi apa daya. Hidup pun juga tidak berguna untuknya.


Aku akan menjadi bahan cemoohan saja. Untuk apa aku hidup? Semuanya telah berakhir, pernikahanku, cintaku, dan masa depanku….


Cansu memasukkan kepalanya pada lubang kain yang telah dibuatnya. Tanpa seorang pun tahu, ia mengalungkan kain itu di lehernya dan menendang kursi kayunya. Membuat tubuhnya tergantung antara langit dan bumi.


“Cansu!” teriak Mehmet dari halaman rumah.


Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang menjawab teriakannya. Beberapa tetangganya mengatakan bahwa semalam juga tidak ada acara Malam Henna.


“Kenapa tidak ada?” tanya Mehmet yang mulai mencurigai ada sesuatu yang tidak beres.


“Yang kami dengar, mempelai wanitanya tidak pulang semalam,” jawab seorang wanita yang tidak dikenal oleh Mehmet.


“Apa?” Mehmet mengernyitkan keningnya.


“Tidak, kau salah!" bantah tetangganya yang lain, "tadi aku lihat Cansu sudah pulang, tapi entah apa yang terjadi dengannya. Penampilannya awut-awutan."


“Iya, aku tadi juga melihatnya masuk ke dalam rumah dengan memakai handuk kimono. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengannya,” tambah tetangga yang tinggal di depan rumah Sophia.


Mendengar selentingan dari para tetangga, pria gundul itu mencoba melihat keadaan di dalam melalui jendela yang kelambunya terbuka. Ia hanya melihat keadaan rumah itu seperti sedia kala. Tidak ada siapa pun di dalam rumah itu.


“Cansu!” Mehmet mengarahkan teriakannya ke arah balkon kamar wanita muda itu. Namun, hatinya kembali berkecamuk ketika ia mendapati ruangan di lantai atas itu tidak memunculkan sosok wanita yang dicarinya.


“Kemana dia? Seharusnya dia menungguku datang. Ini sudah pukul sepuluh lewat,” gumam Mehmet sambil melihat jam tangannya.


Pria berkulit gelap itu mengarahkan pandangannya ke arah jendela kamar Cansu, sekilas ia melihat sebuah gaun putih melalui jendela kamar Cansu yang terbuka.


“Sepertinya itu gaun pengantin Cansu! Berarti dia belum pergi ke tempat pernikahan.”


Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Mehmet langsung mendobrak pintu rumah kekasihnya. Lembaran kayu itu pun langsung terbuka setelah berbagai tendangan dan hantaman yang telah diterimanya. Sepasang sepatu pantofel hitam itu langsung menaiki tangga yang ada di sudut ruangan dan membawanya ke kamar kekasihnya.


“Cansu!” teriak Mehmet.


Ruang tidur bernuansa pastel itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Hanya sebuah patung manekin yang terbungkus gaun pengantin yang berdiri menyambut kedatangan Mehmet.


Seluruh perabot tampak rapi tersusun pada tempatnya. Hanya terlihat beberapa butir mutiara yang tercecer di lantai. Ia memangil kekasihnya kembali sambil berjalan dan membuka pintu kamar mandi.


“Cansu…!” teriak Mehmet.


Pria yang memakai jas abu-abu itu langsung membelalakkan mata hitamnya ketika ia melihat calon istrinya tergantung pada sebuah kain putih yang terikat di langit-langit.


Untuk beberapa detik ia melihat pemandangan yang tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam pikirannya.

__ADS_1


Kedua kelopak mata wanita itu telah tertutup, ketika Mehmet berusaha menurunkan tubuh kekasihnya. Tubuh ramping yang masih terasa hangat itu, kini terbaring di atas ranjang dengan sebuah bekas jeratan kain yang tergaris di lehernya menutupi luka lebam akibat bekas gigitan yang di tinggalkan oleh Ferit.


“Bertahanlah, Sayang. Bertahanlah…. Kumohon jangan membuatku takut,” ucap Mehmet yang berusaha memompa dada Cansu. Ia kemudian memberikan napas buatan untuk kekasihnya.


Habis sudah usaha yang Mehmet lakukan, tubuh ramping itu tidak bergerak. Ia mengusap peluh yang membasahi kepalanya yang plontos.


“Aku akan berusaha! Bangun, Cansu! Kau tidak boleh mati! Kita akan menikah!”


Mehmet langsung mengangkat tubuh Cansu dan membawanya turun ke bawah. Ia berteriak kepada semua orang untuk memberikannya jalan. Setelah memasukkan tubuh kekasihnya itu ke dalam mobil, pria gundul itu langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


......................


Ivy menatap pantulan dirinya di cermin dengan seulas senyum di wajahnya. Di kamar apartemennya yang berada di lantai tujuh, ia menunggu kedatangan Kenan yang akan menjemputnya.


Seperti kebiasaan adat orang Turki, bahwa mempelai pria akan menjemput mempelai wanitanya di rumah keluarga sang wanita. Berhubung keduanya sudah tidak memiliki orang tua, Kenan berangkat dari apartemen Mehmet.


Sampai pagi ini, menjelang beberapa jam sebelum acara pernikahan, Ivy belum mengetahui apa yang telah dialami oleh saudara tirinya itu. Sejak kemarin malam, setelah mereka berpisah di Istanbul Mall, Ivy belum menghubungi Cansu. Pikirnya nanti mereka akan bertemu di tempat pernikahan—Istanbul Café.


Dengan rambutnya yang tergelung dan beberapa anak rambutnya yang dibiarkan terurai di depan, Ivy mengambil slayer yang ada di belakang kepalanya dan menutup wajahnya. Diambilnya sarung tangan yang dibuat dengan tangannya sendiri yang berasal dari kain tile berwarna putih. Kini kedua telapak tangannya telah terbungkus dengan sempurna hingga pergelangan tangan.


Saat Ivy sedang memainkan gaun pengantinnya di depan cermin, ia mendengar suara bel apartemennya berbunyi dan suara permainan alat musik.


“Itu pasti Kenan,” gumamnya.


Beberapa kali Ivy memutar tubuhnya di depan cermin dan menatap wajahnya sendiri hanya sekedar untuk melihat penampilannya. Diambilnya buket bunga mawar merah yang tersusun membentuk lingkaran, ia berdiri di tengah ruangan menunggu ketukan pintu kamarnya.


Suara bel apartemen kembali berbunyi, dengan sepatu pantofel bertumit rendah, Nur melangkah menuju pintu apartemen. Wanita paruh baya nan gembul itu terpukau begitu melihat penampilan Kenan. Dalam semalam, ia tidak melihat pria muda itu, tetapi kini penampilan putra Harun itu berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan laksana seorang pengusaha muda.


“Dimana Ivy?” tanya Kenan kepada Nur setelah wanita gembul itu membukakan pintu untuknya.


Kedua orang itu masuk ke dalam dengan tujuan yang berbeda. Kenan langsung melangkah menuju ke kamar Ivy. Sebelum ia mengetuk pintu kayu yang ada di depannya, ia sedikit melonggarkan ikatan dasinya. Bukan hanya Ivy yang sedang dilanda kegugupan, namun dirinya juga mengalami hal yang sama.


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Ivy yang sejak tadi diam berdiri menunggu langsung membuka pintu kamarnya. Mulut kedua sepasang pengantin itu terbuka lebar melihat sosok yang ada di depannya.


“Kau sangat cantik, Sayang,” puji Kenan dengan tulus.


“Kau juga sangat tampan,” balas Ivy dengan senyumnya yang tampak malu-malu.


“Kau sudah siap?” tanya Kenan yang memberikan lengan kanannya kepada Ivy.


Dengan senyuman yang mengembang dan kerlingan di matanya, Ivy mengalungkan lengannya di lengan calon suaminya.


Nur mengiringi langkah mereka keluar dari apartemen. Di depan gedung telah bersiap mobil pengantin yang di sewa oleh Kenan yang akan membawa mereka menuju Istanbul Café. Beberapa pemain musik yang disewa Kenan mengiringi perjalanan sepasang calon pengantin itu menuju tempat pernikahan.


Waktu hampir mendekati pukul sepuluh pagi, Kenan dan Ivy telah tiba di tempat pernikahan. Mereka tidak mengundang banyak orang. Ruangan itu hanya diisi oleh teman dan tetangga dekat mereka. Ada juga beberapa kerabat Sophia dan kerabat almarhum ayah Ivy.


Detik demi detik berjalan namun Mehmet dan Cansu tak kunjung menampakkan batang hidung mereka. Para tamu dan perwakilan kota yang bertugas menikahkan dua pasang mempelai itu sudah mulai resah dan bertanya-tanya. Kenan mencoba menghubungi Mehmet, sedangkan Ivy mencoba menghubungi Cansu. Namun ponsel keduanya tidak bisa dihubungi.


“Bagaimana? Apa kalian menikah dulu?” tanya seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu perwakilan Kota Istanbul kepada Kenan dan Ivy. “Sekarang sudah pukul sepuluh lebih.”


“Bagaimana menurutmu?” tanya Kenan kepada Ivy. Keduanya juga melihat para tamu yang saling berbisik. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan.


“Tapi…, kita sudah berjanji untuk menunggu mereka,” ucap Ivy yang membalas pertanyaan Kenan dengan sedikit keraguan.

__ADS_1


“Mereka bisa menunggu dulu, jika mereka terlambat. Aku akan menunggu sampai pukul dua belas siang,” imbuh sang perwakilan kota.


Kenan dan Ivy pun menyetujui perkataan pria paruh baya itu. Keduanya berjalan menuju meja yang terletak di samping piano besar yang ada di sudut ruangan. Meja itu telah dihiasi dengan taplak meja berwarna putih dan rangkaian bunga. Di atas meja tersebut sudah terbuka dua buah buku. Sepasang calon pengantin itu duduk


di kursi yang telah tersedia menghadap para tamu yang berdiri memenuhi ruangan.


Sang perwakilan kota pun menanyakan kesediaan Kenan dan Ivy untuk menerima satu sama lain sebagai suami istri.


“Ya,” jawab Kenan dengan penuh keyakinan dan tatapan matanya yang ia arahkan kepada Ivy.


“Ya.” Jawaban yang sama, yang di berikan oleh Ivy langsung disambut dengan tepukan tangan yang menggema di seluruh ruangan.


Setelah mereka menandatangani buku pernikahan mereka, Kenan menyematkan sebuah cincin pernikahan di jari manis Ivy. Begitu juga dengan Ivy, yang memasukkan cincin pernikahan di jari manis Kenan.


Suara tepuk tangan kembali terdengar ketika Kenan mencium kening Ivy kemudian mencium bibir wanita yang kini sah menjadi istrinya. Ia memberikan sebuah kotak yang berisi beberapa keping koin emas sebagai maharnya. Nur langsung melilitkan sebuah kain panjang berwarna merah ke pinggang Ivy.


Namun, siapa sangka di antara kumpulan para tamu ternyata Sophia sedang memperhatikan kedua pengantin tersebut. Manik matanya melotot melihat semua prosesi pernikahan Ivy.


Kenapa bisa begini? Kenapa anak pembangkang itu selalu mendapatkan yang terbaik dibandingkan Cansu? Seharusnya dia yang hancur di tangan Ferit, bukan putriku!


Wanita paruh baya itu pun maju ke depan dengan manik matanya yang menyorot tajam menatap Ivy yang sedang berdansa memeluk Kenan. Tak seorang peduli ketika langkahnya mulai mendekati Ivy.


Semua orang berpikir, mungkin wanita paruh baya itu akan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Ketika jarak di antara mereka hanya terpaut sekitar lima langkah kaki orang dewasa, Sophia langsung berteriak memanggil nama Ivy.


Putri Victor itu terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari leher Kenan tatkala melihat wanita paruh baya itu berjalan cepat ke arahnya. Namun, yang dilihat Kenan adalah sebuah benda berkilat yang ada di tangan Sophia. Dalam hitungan beberapa detik, Kenan langsung menarik Ivy ke dalam pelukannya.


Suara teriakan orang-orang di dalam kafe pun terdengar seiring dengan bunyi pecahan gelas yang jatuh di lantai. Seorang wanita yang berdiri di belakang Ivy, ambruk dengan cairan merah yang keluar dari perutnya, sementara itu gunting yang sudah berlumuran darah itu masih tergenggam erat di tangan Sophia. Wanita paruh baya itu terkejut karena serangannya tidak mengenai Ivy, malah mengenai seorang pelayan kafe.


“Cepat panggil ambulans dan polisi!” teriak Kenan kepada semua orang. “Jangan biarkan wanita itu pergi dari sini!”


Mendengar kata polisi, wajah Sophia mendadak pucat pasi. Gunting yang ada di tangannya pun terlepas begitu saja, perlahan-lahan ia memundurkan langkahnya dan pergi meninggalkan kafe.


Semua orang begitu syok melihat apa yang baru saja terjadi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, membuat mereka hanya bisa menutup mulut tanpa bertindak untuk mencegah kepergian Sophia.


“Kau tunggu di sini, aku akan mengejarnya!” perintah Kenan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Ivy.


Putra Harun itu pun mengejar Sophia yang sudah keluar beberapa meter dari kafe. Dengan rasa paniknya, Ivy menghubungi polisi dan ambulans. Tidak ada yang berani mendekati korban dan senjata tajam tersebut.


“Bertahanlah,” ucap Ivy lirih sambil berjongkok di dekat pelayan itu. Ia juga tidak berani memindahkan wanita itu di kursi.


Pelayan wanita itu memegangi seragamnya yang basah karena cairan merah yang keluar dari tubuhnya. Kelopak matanya terbuka dan terpejam bergantian menahan rasa sakit pada luka tusukan yang baru saja dialaminya.


“Ku mohon bertahanlah. Tidak… kau jangan mati,” ucap Ivy dengan panik. Pelayan kafe itu hanya memandangi Ivy dalam diam, kemudian pandangannya ia arahkan ke langit-langit kafe.


Beberapa menit kemudian, petugas polisi dan tenaga medis datang bersamaan di lokasi kejadian. Petugas medis langsung membawa pelayan kafe itu ke rumah sakit. Sedangkan polisi mengamankan gunting yang digunakan Sophia. Aparat keamanan itu meminta keterangan Ivy dan beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut.


Sementara itu di jalan raya, Sophia terus berlari dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya.


“Aku harus kemana ini? Aku harus kemana? Tidak… aku tidak ingin di penjara… aku tidak ingin di hukum,” gumamnya dengan kalut.


“Aku tidak bersalah… aku tidak bersalah!” teriak Sophia sambil mengacak-ngacak sendiri rambutnya di tengah jalan.


Setelah mendengar keterangan dari Ivy dan beberapa tamu di Istanbul Cafe, polisi pun mengerahkan pasukannya untuk menangkap Sophia.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2