
Kemilau cahaya lampu memenuhi sebuah ruang makan yang ada di salah satu rumah di kawasan kota Istanbul. Rumah dua lantai dengan pagar depannya yang hanya setinggi lutut orang dewasa. Suara riuh tawa dan obrolan para sosialita menyaingi bunyi dentingan peralatan makan yang ada di tangan mereka.
Nampak sang nyonya rumah duduk di salah satu kursi makan. Dengan lincah ia memotong lembaran daging sapi panggang yang sudah dilumuri dengan saos BBQ, ia memasukkan daging merah itu ke dalam mulutnya. Sesekali ia tampak tersenyum lebar setiap kali temannya memuji rumah barunya. Entah itu pujian yang tulus atau hanya sekedar basa-basi, Sophia tidak peduli.
Piring-piring besar yang berisi hidangan laut, daging sapi, daging ayam, dan sayuran ludes tak bersisa. Sendok, garpu dan sebilah pisau sudah mengistirahatkan dirinya di atas piring. Lembaran tisu yang lusuh berisi noda merah membentuk garis bibir tertumpuk di setiap piring kosong yang ada di depan para wanita itu.
Kelima wanita yang sudah memasuki usia setengah abad itu mulai membicarakan kehidupan mereka. Obrolan mulai dari perawatan diri hingga urusan ranjang menggelitik di telinga Sophia. Bagaimana mereka tak menyadari bahwa ada salah satu dari mereka yang telah menjanda?
"Sebaiknya kita pindah ke ruang tengah saja, tidak enak ngobrol di sini... banyak piring kotor," kata Sophia yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan tentang lelaki mereka.
Keempat wanita itu bangkit berdiri dan mengikuti Sophia. Manik mata mereka memandangi setiap sudut rumah itu. Hiasan dinding berbentuk ornamen dan bunga-bunga plastik yang di tata rapi di dalam sebuah vas bunga polos tanpa warna selalu ada di setiap sudut ruangan.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka di atas sofa panjang dan sebuah sofa tunggal berwarna hijau pupus. Ditemani oleh sebuah standing lamp yang berdiri di sudut sofa dan sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang dengan hiasan aneka kerang dan bintang laut di atasnya.
Obrolan itu berganti topik. Sophia tampak lega, teman-temannya sudah tidak membahas soal suami dan kehidupan ranjang mereka. Kini mereka sedang membanggakan pekerjaan anak-anak mereka.
"Dimana Cansu dan Ivy?" tanya seorang wanita dengan rambut pendeknya yang berwarna coklat kemerahan. "Sejak tadi aku tidak melihat mereka."
Air muka Sophia mendadak berubah, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya sudah mengusir Ivy hanya sekedar untuk mendapatkan uang asuransi jiwa suaminya. Sejauh ini ia berhasil menutupi masalah kebangkrutan dan hutang-hutang suaminya.
"Biasa... anak muda zaman sekarang, mereka lebih suka menghabiskan waktu di luar bersama dengan teman-temannya," jawab Sophia yang mencoba tersenyum di depan mereka.
Sophia teringat kepada putrinya, Cansu. Ia melihat jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ini sudah lewat jam pulang kantor dan jam makan malam.
"Sebentar aku ke kamar mandi dulu," kata Sophia kepada teman-temannya.
Langkah kakinya menapaki setiap anak tangga yang ada di belakang ruang tengah. Ia berjalan memasuki kamarnya yang berada di samping kamar Cansu. Tangannya sibuk mencari nama putrinya di layar ponsel. Nada sambung itu berbunyi cukup lama, tapi tidak ada suara yang menjawab panggilannya.
Kemana anak itu?
__ADS_1
Ponsel hitam itu terlempar di atas sebuah ranjang dengan bagian pinggirnya yang berumbai. Ia tak mungkin lama-lama berada di dalam kamarnya hanya untuk menelepon Cansu dan membiarkan teman-temannya menunggu di bawah. Mereka pasti akan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
Sophia bergegas menuruni anak tangga yang berbentuk siku dengan sebuah pijakan di tengah tangga. Ia mengarahkan pandangannya ke bawah, memperhatikan keempat tamunya yang sedang memegang sebuah kartu.
"Sophia, ini kartu undanganmu," panggil salah satu temannya ketika ia sudah berada di lantai bawah.
Ia menghampiri mereka dan mengambil sebuah amplop berwarna merah tanpa nama penerima. Ia membuka amplop tersebut dan diambilnya sebuah kartu berbentuk persegi panjang berwarna kuning keemasan.
"Acara pergelaran busana musim panas tahun ini." Sophia membaca judul undangan yang tertulis pada kepala kalimat.
"Acaranya besok malam di hotel bintang lima di kawasan Bosphorus. Kudengar ada banyak perancang muda berbakat yang bergabung di acara ini," jelas teman Sophia yang telah memberikan undangan itu.
"Kalian tahu... sponsor utamanya adalah perusahaan Sarte, mereka punya desainer baru,"" timpal teman Sophia yang lain.
"Oh ya?" Manik mata Sophia menatap huruf-huruf yang berbaris membentuk kata Sarte di belakang kertas undangan.
Pikirannya teringat akan cerita Cansu sekitar semingu yang lalu. Putrinya itu mengatakan bahwa sepulang membeli roti, ia bertemu dengan Ivy. Kini anak tirinya itu bekerja di perusahaan Sarte. Mendadak Sophia menutup mulutnya.
"Ada apa, Sophia? Kau bisa datang, kan?" tanya seorang teman Sophia yang duduk di depannya.
"Tentu... tentu aku pasti datang." Rasa gugup menjalar di wajah Sophia saat ini.
Di satu sisi ia tidak ingin ketinggalan model pakaian terbaru dan ia ingin menjaga gengsinya di hadapan teman-temannya. Sementara di sisi lain ia harus memberi sambutan kepada anak tirinya yang telah bersikap kurang ajar waktu itu. Jikalau benar desainer baru Sarte itu adalah Ivy.
"Jangan lupa datang ya. Aku sudah susah payah mendapatkan undangan ini. Sophia, aku pulang dulu. Terimakasih atas jamuan makan malam mu hari ini," kata seorang wanita berambut pendek.
"Ya. Terimakasih juga kau mau datang ke rumahku," sahut Sophia. Mereka saling berciuman pipi.
Kelima wanita itu berjalan menuju ke halaman depan rumah. Sepanjang jalan mereka terus mengobrol. Suara mesin mobil berhenti tepat di depan pagar rumah, membuat Sophia dan teman-temannya mengalihkan pandangannya ke arah mobil Jeep berwarna hijau tentara.
"Apa kau ada tamu malam ini, Sophia?" tanya temannya yang menggunakan setelan celana panjang berwarna hitam.
__ADS_1
Sophia hendak menjawab pertanyaan temannya, tapi kedua pintu mobil itu telah terbuka. Cansu keluar dari kendaraan besi dengan pijakannya yang sangat tinggi. Seorang laki-laki menghampirinya, memegang lengannya untuk membantunya turun.
Kelopak mata Sophia terbuka lebar ketika salah satu temannya mengatakan bahwa laki-laki itu pasti kekasih Cansu.
"Terimakasih kau sudah menemaniku malam ini," ucap Cansu kepada Mehmet. Keduanya berdiri di depan pagar. Ia belum menyadari kehadiran kumpulan ibu-ibu yang sedang membicarakannya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kau bersedia menerima undanganku. Masuk dan istirahatlah." Mehmet membantu membukakan pagar besi tersebut. Ia tersenyum menyapa para ibu-ibu yang sedang mengamatinya dari puncak kepala hingga ujung sepatunya.
"Selamat malam."
"Selamat malam."
Kedua insan berbeda warna kulit itu melambaikan tangannya. Mehmet segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Cansu.
"Ibu?" Cansu terkejut melihat manik mata ibunya yang sedang melotot ke arahnya.
"Sophia, kami pulang dulu," pamit keempat wanita paruh baya yang segera meninggalkan halaman depan rumah. Mereka tidak ingin terlibat perdebatan antara ibu dan anak yang bakal terjadi.
Dengan satu gerakan kepalanya, Sophia memberi isyarat kepada Cansu agar masuk ke dalam rumah.
"Siapa laki-laki hitam dan gundul itu?" tanya Sophia begitu mereka sudah berada di belakang pintu.
"Temanku. Dia tidak hitam, hanya sedikit gelap." Cansu melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke ruang dalam.
"Siapa namanya? Apa pekerjaannya? Apa nama perusahaannya?" cecar Sophia dengan berbagai pertanyaan. Ia mencegah Cansu untuk tidak naik ke lantai atas.
"Namanya Mehmet Gunez. Dia seorang pengusaha kafe. Nama kafe nya Istanbul Cafe. Apa sudah cukup pertanyaannya, Bu?" Cansu menurunkan salah satu tangan Sophia yang membentang di pagar tangga. "Aku mengantuk. Selamat malam."
Wanita muda itu segera menapaki deretan anak tangga dan menghilang ke lantai atas. Sophia memandang bayangan itu dengan raut wajahnya yang kesal.
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏