
Dua hari sebelum pernikahan. Kenan, Ivy, Nur dan Deniz telah menempati apartemen mereka yang baru. Tetap di gedung yang sama, tetapi dengan lantai yang berbeda. Mereka memilih lantai tujuh, lantai paling atas dari gedung tersebut.
“Ivy, tunggu!” seru Kenan seraya menarik tangan kekasihnya ketika mereka hendak keluar dari lobi apartemen.
“Ada apa?” tanya Ivy yang mengikuti langkah kaki Kenan yang sembunyi di balik dinding yang ada di samping lift.
Dari tempat mereka bersembunyi, Kenan mengarahkan telunjuknya ke arah pintu lobi.
“Oh tidak, mereka datang lagi!” Ivy bersembunyi di belakang tubuh Kenan dan memegang erat lengan pria itu.
Kenan menunjukkan punggung tangannya kepada Ivy, memberi isyarat agar wanita itu berhenti bicara karena Hasan dan anak buahnya telah berdiri di depan pintu lift. Ketika ketiga orang itu masuk ke dalam, Kenan langsung menarik tangan Ivy agar mengikutinya masuk ke dalam ruang tangga darurat.
Dua pasang kaki itu berhenti di lantai lima, mereka membuka pintu ruang tangga darurat. Kenan memasang badannya di depan Ivy, ia terus menggenggam telapak tangan kekasihnya. Keduanya berjalan perlahan-lahan mendekati pintu apartemen mereka yang lama.
Ternyata Hasan dan kedua anak buahnya telah sampai lebih dulu, tepat seperti dugaan Kenan. Orang-orang suruhan Ferit itu datang lagi, untuk mencari dan menangkap Ivy. Mereka berdua pun memilih untuk bersembunyi di balik dinding yang berjarak sekitar lima meter dari tempat Hasan berdiri.
“Apa ini apartemen yang sama seperti yang kita datangi beberapa hari yang lalu?” tanya Hasan kepada dua orang anak buahnya, karena ia tidak melihat papan nama FALEA menempel pada daun pintu.
“Sepertinya begitu, ini apartemen yang ada di pojok,” jawab pria dengan perawakan tubuhnya yang pendek. Ia hanya mengingat bahwa apartemen itu berdekatan dengan sebuah jendela besar yang ada di sudut koridor.
Hasan menghela napasnya. Pria berhidung bengkok itu ingin memastikan kegamangannya. Hingga akhirnya ia memilih untuk menekan tombol bel yang ada di atas kepalanya, tidak mendobraknya seperti beberapa hari yang lalu.
Bunyi bel terdengar hingga di depan pintu. Beberapa detik kemudian, pintu kayu berwarna coklat kemerahan itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu tersebut.
“Kalian mencari siapa?” tanya wanita tersebut kepada tiga orang pria yang ada di depannya dan tidak ia kenal sebelumnya.
Hasan terdiam dan menatap wanita yang memakai penutup kepalanya dan bajunya yang panjang menutupi kedua lututnya. Ia tidak pernah melihat wanita itu dan wanita yang di depannya juga bukan Nur, pelayan keluarga Eleanor.
“Dimana Ivy Eleanor?” Hasan bertanya balik pada wanita itu.
“Ivy Eleanor? Siapa dia? Aku belum pernah mendengar namanya.” Wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya menatap satu per satu wajah pria yang ada di depannya.
“Nyonya, kau jangan bercanda! Dua hari yang lalu, kami datang ke tempat ini! Ini perusahaan Falea’kan?” Seorang anak buah Hasan mengangkat salah satu lengannya dan menempelkan anggota tubuhnya yang berotot itu pada kusen pintu.
“Kalian ini siapa? Aku tidak tahu siapa itu Ivy Eleanor dan Falea! Aku baru pindah di sini dua hari yang lalu,” jawab wanita paruh baya itu sambil membetulkan letak penutup kepalanya.
“Sepertinya wanita itu telah pindah. Ayo kita pergi dari sini!” Hasan menggerakkan kepalanya ke arah koridor.
Kenan dan Ivy langsung menempelkan tubuh mereka di dinding, ketika Hasan dan anak buahnya akan melewati mereka. Napas mereka seolah-olah tertahan begitu Hasan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Kenan langsung menarik tangan Ivy ke bawah, mereka berdua berjongkok saat ada petugas kebersihan mendorong tempat sampahnya di depan mereka.
“Apa kita akan ketahuan?” bisik Ivy dengan gerakan bibirnya.
Kenan menutup bibirnya dengan jari telunjuknya, agar putri Victor itu tidak mengeluarkan suaranya kembali.
“Sepertinya ada orang yang mengawasi kita,” gumam Hasan yang melihat sekelilingnya.
“Tidak ada siapa-siapa, Bos,” ujar anak buah Hasan yang pendek perawakannya. Ia juga ikut membalikkan badannya.
“Hanya ada petugas kebersihan saja, Bos,” sahut anak buahnya yang lain.
“Tanpa kau bicara, mata ku juga bisa melihat!” Hasan mendengus kesal. Ferit mengatai dirinya bodoh, tetapi anak buahnya itu malah lebih bodoh dari dirinya.
Petugas kebersihan itu melanjutkan langkahnya, tepat saat pintu lift terbuka. Detik demi detik berjalan, membuat jantung Kenan dan Ivy berdegup kencang. Ketika tempat sampah besar yang menutupi tubuh mereka bergerak, di saat itulah Hasan dan kedua anak buahnya masuk ke dalam ruang pengangkut tersebut.
“Bos, kita akan mencari wanita itu dimana?”
“Kita masih punya satu orang yang bisa diandalkan. Besok adalah hari terakhir, kesempatan terakhir kita, jika kalian tidak ingin habis dikuliti oleh Tuan Ferit!” seru Hasan dengan tatapannya yang penuh dengan tipu muslihat.
Sepasang kekasih itu menghembuskan napas mereka dalam-dalam. Beberapa detik yang lalu seperti hari kiamat untuk mereka. Dilihatnya petugas kebersihan itu masih menjalankan tugasnya untuk mengambil sampah di setiap pintu apartemen.
“Ayo kita turun.” Kenan berkata sambil menggandeng tangan Ivy untuk menunggu di depan pintu lift.
Tanpa melewati pintu depan lobi, Kenan dan Ivy langsung meneruskan perjalanannya menuju ruang basement tempat parkir mobil mereka. Mobil jenis SUV itu melaju kencang membelah lalu lintas Kota Istanbul di siang hari.
“Aku akan menunggu di mobil,” ujar Kenan di balik setir kemudinya. Pria itu sedang mencari tempat parkir di dalam
gedung.
“Kau tidak ikut turun?” Ivy memalingkan wajahnya ke arah Kenan. Dilihatnya kekasihnya itu hanya mengatupkan kedua rahangnya sambil memundurkan mobilnya untuk masuk ke area parkir yang tersedia.
“Ayolah, kita sudah sampai sini.”
“Aku sudah memberimu ijin untuk melanjutkan kerjasama ini. Kurasa itu sudah lebih dari cukup!” seru Kenan sambil melepas sabuk pengamannya.
Ivy menggelengkan kepalanya kemudian menggenggam erat tangan kasar yang duduk di sampingnya.
“Aku membutuhkanmu. Aku tidak ingin berjalan sendiri dan meninggalkanmu jauh di belakang. Aku tidak ingin kau hanya jadi penonton.”
__ADS_1
Kenan menatap manik mata Ivy sangat dalam. Bibir coklat itu masih tertutup rapat.
“Aku percaya padamu. Jika seandainya nanti kita bertemu Hazal di dalam, aku tetap mempercayaimu,” lanjut Ivy yang membuka telapak tangannya di depan Kenan.
Untuk beberapa detik, putra Harun itu mencerna perkataan Ivy. Namun akhirnya ia memilih untuk keluar dari ketakutannya. Ia menutup telapak tangan Ivy dengan telapak tangannya sendiri.
Putri Victor itu pun melebarkan sudut bibirnya kemudian berkata, “Aku lebih suka menjadi wanita yang ada di balik kesuksesan seorang pria. Panggung ini milikmu, aku akan selalu mendukungmu.”
Kenan langsung mendaratkan bibirnya di kening Ivy. “Baiklah, ayo kita menemui si Erhan itu.”
Pemilik Perusahaan Falea itu pun berjalan memasuki gedung tinggi nan megah yang ada di pusat Kota Istanbul. Gedung Perusahaan Puzulla. Setelah Ivy menghubungi Huri untuk menanyakan keberadaan Erhan, keduanya langsung menuju ke lantai delapan.
Kenan tampak memperhatikan setiap sudut ketika sepasang sepatu pantofelnya melangkah memasuki ruangan yang ada di lantai delapan.
Ruangan ini tidak ada yang berubah, sama seperti setahun yang lalu. Apa Hazal sengaja tidak merombak ruangan ini? Oh shit! Untuk apa aku memikirkannya….
“Selamat siang, Nona. Apa bisa kami menemui Tuan Erhan?” sapa Ivy yang meminta ijin kepada sekretaris sang CEO.
“Nama Anda?” tanya sang sekretaris yang hendak bersiap menghubungi atasannya.
“Ivy Eleanor dari Perusahaan Falea,” jawab Ivy.
“Tunggu sebentar, saya akan menghubungi Tuan Erhan.” Pekerja wanita itu mempersilahkan Ivy dan Kenan untuk duduk di sebuah sofa yang melingkar berwarna merah.
Kedua orang itu belum sempat mendaratkan tubuh mereka di atas sofa, tetapi sang sekretaris sudah lebih dahulu memanggil mereka.
“Silahkan masuk ke dalam. Tuan Erhan sudah menunggu, Anda.”
“Terimakasih, Nona.” Ivy menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada sang sekretaris. Ia pun mengajak Kenan untuk masuk ke dalam ruangan sang CEO.
“Seperti apa CEO nya? Apa dia pria muda atau sudah tua? Waktu itu dia tidak menggodamu’kan?” bisik Kenan dengan ayunan langkahnya mengiringi langkah Ivy.
Putri Victor itu memelototinya dan mencubit perut Kenan.
“Auw!” teriak Kenan dengan suara kesakitannya yang tertahan. “Kenapa kau mencubitku? Aku hanya bertanya.”
“Kau akan melihatnya nanti. Dia pria yang sangat tampan, gagah bahkan lebih muda darimu. Entahlah, kurasa mataku ada kesalahan hingga memilih pria sepertiga abad sepertimu,” jawab Ivy yang sudah berdiri di depan pintu sang CEO.
“Apa? Sepertiga abad? Katakan saja kalau diriku sudah tua! Aku masih tiga puluh dua tahun. Begini-begini, aku masih bisa memberimu anak,” jawab Kenan dengan asal.
__ADS_1
Ivy menahan tawanya mendengar perkataan Kenan, ia menutup wajah kekasihnya dengan telapak tangannya. “Jangan membuatku tertawa, sebentar lagi aku akan membuka pintu ini.”
...****************...