Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Bagaimana Aku Bisa jatuh Cinta Padamu


__ADS_3

“Ayo lekas bawa dia ke rumah sakit terdekat!” seru pengemudi perahu motor itu kepada Mehmet dan Ivy setelah mereka membawa Kenan ke darat. Ketiga orang pria itu memasukkan tubuh Kenan ke dalam mobil. Tubuh setengah basah itu kini ada di atas pangkuan dan rengkuhan Ivy.


Mendekati tengah malam mereka tiba di sebuah rumah sakit terdekat. Rumah Sakit milik pemerintah yang tidak jauh dari dermaga. Sebuah bangunan tua berlantai satu yang menjorok ke belakang. Roda brankar itu menggelinding di atas permukaan lantai keramik. Perlahan-lahan tirai putih itu tertutup memisahkan Kenan dari kedua orang yang sedang menunggunya di luar.


Tubuh ramping itu hanya bisa bersandar pada sebuah dinding yang terlihat kokoh, sementara bibir tipisnya terkatup dengan rapat. Ia berharap bahwa semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan berlalu begitu dirinya bangun.


Manik mata hijau itu mulai memerah ketika menatap sebuah lukisan yang tergantung di hadapannya.


Sebuah biji benih yang berada di dalam tanah. Biji benih itu kecil, lemah dan tak berdaya. Sinar matahari yang selalu menyinarinya setiap pagi hingga sore telah memberikan biji benih itu sebuah kehidupan. Biji kecil itu mulai mengeluarkan tunas daunnya. Tunas itu kini berubah menjadi sebuah batang dengan kelopak bunganya yang terlihat cantik dan berwarna-warni.


Tanpa terasa lukisan itu mampu menghibur Ivy. Ia berusaha mengatakan kepada dirinya sendiri tentang Kenan.


Pria itu akan hidup, dia akan baik-baik saja karena dia pria yang kuat. Dia pasti sanggup bertahan.


Kedua orang yang sejak tadi menunggu di depan Emergency Room mendadak menengadahkan wajahnya saat tirai putih itu terbuka dari dalam.


Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Pria berjubah putih itu mengatakan kepada mereka bahwa ia sudah berhasil mengeluarkan air yang masuk ke dalam paru-paru Kenan, keadaannya sekarang sudah stabil, hanya tinggal menunggu masa pemulihannya untuk beberapa hari.


“Beruntung kalian cepat menemukannya, jika terlambat sedikit kalian bisa kehilangan nyawanya,” ucapnya yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Tiga orang petugas medis memindahkan Kenan ke ruang rawat inap. Dua pasang kaki itu melangkah memasuki kamar berbentuk persegi yang ada di tengah lorong. Sebuah mesin ventilator berdiri tegak di samping Kenan, mesin itu menampilkan angka dan garis yang tidak dimengerti oleh mereka.


Ivy berjalan mendekati ranjang besi tersebut, ia menggenggam telapak tangan yang sudah terasa hangat di dalam genggamannya. Ia menatap wajah berkumis tipis yang sudah mulai sedikit berwarna.


“Aku percaya bahwa kau akan bangun. Aku percaya bahwa matamu itu akan terbuka.”


“Kau selalu ingin mendengarkan permintaan tolongku, kan? Kali ini aku akan mengatakannya… Tolong, buka matamu. Kumohon….”


“Kumohon beri aku kesempatan untuk mengatakan padamu, bahwa kau sangat berarti bagiku. Aku membutuhkanmu. Bagaimana aku bisa memberitahumu bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Bangunlah, Kenan.”


Mehmet, pria humoris itu mulai meneteskan air matanya ketika ia mendengar perkataan Ivy. Dirinya bukanlah pria melankolis, tetapi untuk malam ini… ya hanya malam ini, ia akan menangis melihat kisah cinta sahabatnya.


Hidupmu benar-benar tragis sobat. Aku tidak akan menyebut dirimu berada di atas sebuah papan luncur, tapi kau telah terlempar dari sebuah roller coaster. Namun malam ini, kau sungguh beruntung. Bahkan lebih beruntung dariku, sebuah kepingan hati telah membuka dirinya untuk menerima kejatuhanmu. Kejatuhan yang seharusnya membuat seluruh duniamu hancur, tapi kepingan hati itu bagaikan sebuah permata yang akan membuat duniamu kembali bersinar. Bangunlah sobat…, dia menunggumu…jemput kebahagianmu….


Ivy menghapus wajahnya yang basah, ia melihat sekilas Mehmet sedang menyeka sudut matanya.


“Mehmet, terimakasih atas bantuanmu,” ucap Ivy yang menghampiri pria berkepala plontos tersebut.


“Kau tak perlu mengucapkan terimakasih kepadaku. Aku akan melakukan apapun untuk kehidupannya, karena ia layak mendapatkan semua itu,” balas Mehmet. Sekilas ia mengalihkan pandangannya menatap wajah Kenan.


“Jika kau lelah, pulanglah. Aku akan menjaganya malam ini.” Mehmet tersenyum setelah mendengar perkataan Ivy.

__ADS_1


Tengah malam sudah berlalu, Mehmet melangkahkan sepasang kakinya dengan gontai di dalam lorong rumah sakit. Setelah sampai di halaman depan, ia menengadahkan wajahnya ke atas menatap para penghuni langit malam. Sebuah harapan tersirat dari kedua pupil hitamnya dan sebuah kata tanpa suara yang keluar dari bibir coklatnya.


Ivy meletakkan kepalanya di atas ranjang, beberapa jam sekali ia membuka kelopak matanya hanya sekedar untuk


melihat apakah kelopak mata yang terpejam itu sudah terbuka atau belum. Sebuah telapak tangan menyentuh pundaknya, ia membuka matanya melihat seorang suster tengah berdiri di sampingnya.


“Nona, tidurlah di sofa. Ini ada selimut untukmu,” ucap perawat tersebut.


“Tak apa, Suster. Aku hanya ingin berada di dekatnya.”


Langit telah berubah warna. Kemilau cahaya putih kekuningan telah menelisik masuk ke dalam ruang kamar.


Sebelum mengurus pekerjaannya, Mehmet menyempatkan dirinya untuk melihat keadaaan Kenan. Tampak di dalam kamar itu seorang pria dengan selang infusnya sedang terbaring lemah di atas ranjang besi, sementara seorang wanita sedang membaringkan kepalanya di samping lengan pria tersebut. Dua pasang kelopak mata


itu masih terpejam meskipun hari sudah terang.


Mehmet meletakkan sebuah kotak makan dan botol minuman di atas meja. Ia menempelkan secarik kertas di bawah botol plastik tersebut.


Ini untukmu, Ivy. Terimakasih kau mau menjaga kawanku yang keras kepala ini. Aku pergi dulu.


Hari menjelang siang, Ivy baru membuka kelopak matanya. Ia merasakan punggung dan lehernya mulai terasa nyeri karena beberapa jam ia membungkukkan lehernya di samping Kenan. Namun rasa nyeri itu sedikit berkurang ketika ia melihat wajah berkumis tipis itu sudah mulai memancarkan auranya. Bibir coklat itu sudah tidak terlihat pucat lagi.


“Aku tahu kau pasti mendengar suaraku, aku percaya kau pasti selamat. Kau akan sembuh dan sehat kembali,” bisik Ivy di telinga Kenan.


Jarum dinding itu bergerak tanpa henti. Langit yang semula terang kini telah berubah menjadi gelap.


Bagi Ivy, waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap jam ia melihat Kenan yang tak kunjung membuka kelopak matanya. Hampir dua puluh empat jam, pria itu tidak bangun dari tidur panjangnya.


“Mehmet, aku akan keluar untuk minum kopi dan mengambil obat Kenan,” ucap Ivy saat ia melihat pria itu masuk ke dalam kamar.


Pria berkulit gelap itu membawa sebuah paper bag dan meletakkannya di atas meja. Ivy mencium aroma makanan yang ada di dalam tas tersebut.


“Pergilah. Aku akan menjaganya. Oh iya, aku minta kopi juga,” balas Mehmet setelah ia melepaskan jaketnya. Wanita berbibir tipis itu merespon dengan senyumannya.


Setelah selesai mengambil obat, Ivy membelokkan dirinya ke kafetaria yang ada di belakang gedung rumah sakit. Dua gelas kertas berukuran kecil telah terisi penuh dengan kopi instan. Ivy kembali melangkah memasuki lorong yang berisi kamar dengan fasilitasnya yang standar.


Dengan sikunya ia membuka pegangan pintu tersebut. Sayup-sayup ia mendengar suara erangan dari dalam, seperti suara Kenan. Hatinya ingin melonjak kegirangan ketika ia mendengar erangan pria itu. Ia segera melangkah masuk ke dalam.


“Hazal….”


“Aku mencintaimu….”

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Hazal….”


“Hazal….”


Namun apa yang di dengarnya jauh dari harapan Ivy. Manik mata hijau itu kembali meleleh.


Dua gelas kopi dan plastik pembungkus obat itu terlepas begitu saja dari tangannya, setelah ia mendengar perkataan Kenan. Kedua tangan itu segera menutupi hidung mancungnya.


“Ivy… bukan seperti itu. Dia hanya mengigau,” ucap Mehmet yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Ia juga mendengar perkataan Kenan dan merutuki ucapan pria itu.


“Bukankah perkataan orang yang tidak sadar itu adalah ungkapan isi hatinya? Kebenarannya adalah dia masih mencintai wanita itu!” Nada suara Ivy mulai meninggi.


Wajahnya terasa panas seperti ujung kakinya yang terkena cipratan kopi panas.


Mehmet hanya menghela napasnya melihat wajah Ivy dan cairan kopi yang tumpah di lantai. Apa yang dikatakan Ivy memang benar, tetapi itu hanya setengahnya dari sebuah kebenaran.


“Bisa kau ceritakan…kepadaku… siapa Hazal…itu?” Suara wanita itu mulai bergetar.


“Dia mantan istri Kenan, tetapi pernikahan mereka tidak lebih dari satu jam. Wanita itu adalah seorang jaksa dan pemilik perusahaan Puzula," jawab Mehmet.


"Wanita... seperti apa... dia?" Ivy masih melanjutkan pertanyaannya meskipun ia tahu setelah ia mendengar jawaban Mehmet, hatinya akan terasa sakit.


Mehmet mengunci mulutnya, ia tidak ingin menambah kesedihan Ivy.


"Katakan padaku! Kenapa... kau diam saja?" Ivy menatap tajam wajah bulat yang berdiri di depannya. Di belakang tubuh pria itu, Kenan masih belum sadar dari tidur panjangnya.


"Dia wanita yang cantik, menarik dan cerdas. Wanita itu seperti tantangan bagi Kenan untuk mendapatkan hatinya.”


Putri Victor itu hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangan dan menggelengkan kepalanya. Ia memundurkan langkahnya pelan-pelan kemudian berbalik lari meninggalkan kamar itu.


Apalah diriku jika dibandingkan dengan wanita itu yang terlihat sempurna di mata Kenan.


“Ivy! Tunggu!” Mehmet berusaha mencegah kepergian Ivy, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan Kenan sendirian.


Wanita itu terus berlari sambil menangis dan merutuki dirinya sendiri. Ia mengusap cairan yang membasahi wajahnya. Gambaran yang menggantung di dinding rumah sakit itu seakan mengejek dan menertawakan kebodohannya.


Betapa bodohnya aku mencintai pria yang telah memberikan hatinya untuk wanita lain. Aku menganggap diriku spesial di hati Kenan, ternyata aku hanyalah orang yang cukup mendapatkan belas kasihannya saja, bukan cintanya. Dia masih mencintai mantan istrinya. Dia masih mencintai wanita itu….


“Kenan! Aku mencintaimu!” jerit Ivy ketika langkah kakinya menginjak tepi dermaga, selangkah di depannya adalah perairan Selat Bosphorus. Ia menangis sejadi-jadinya di tempat terbuka itu.


* Bersambung *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2