Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Sebuah Cinta Di Bawah Langit Istanbul


__ADS_3

Beberapa menit setelah kepergian Ivy, Kenan membuka kelopak matanya. Ia mengedipkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya lampu kamarnya.


“Air…air…,” ucapnya serak.


“Untung kau masih hidup, sobat. Apa si keparat Ferit itu yang melakukan semua ini?” tanya


Mehmet. Tangannya mengambil segelas air dan memberikannya kepada Kenan.


Setelah meneguk habis minumannya, kini sorot matanya sedang mencari sesuatu. Manik mata itu berputar mengelilingi kamar kecil tersebut. Dilihatnya selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Ia tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, tetapi ia mengarahkan pandangannya pada sebuah dinding yang membatasi dirinya dengan kamar mandi, berharap seorang wanita berambut cokelat gelap keluar dari sana.


Namun ia merasa tidak mendengar gemericik air di balik dinding putih tersebut. Ia mulai bertanya kepada Mehmet, “Apa Ivy tahu kalau aku berada di rumah sakit?”


Mehmet menghela napasnya dengan panjang dan berkacak pinggang di depan putra Harun itu.


“Dia bukan hanya tidak tahu, tapi dia yang menjagamu dan memberi napas buatan untukmu. Bahkan dia yang memberitahuku, kalau sesuatu yang buruk akan menimpa dirimu. Tapi apa yang telah kau lakukan? Kau menyakiti hatinya dengan perkataanmu!”


Kenan mengernyitkan dahinya di hadapan pria gundul itu. Ia berusaha bangun, mengganjal punggungnya dengan sebuah bantal. “Tunggu, apa yang aku katakan?”


“Sekarang aku bertanya padamu. Apa saat ini kau masih mencintai Hazal?” Mehmet memajukan langkahnya, mendekatkan dirinya di samping ranjang. Sudah sejak tadi ia ingin menanyakan hal ini kepada Kenan. Jika kawannya itu menjawab iya, maka ia akan segera meninggalkan pria itu sendirian.


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa hubungannya semua ini dengan Hazal?” Raut wajah Kenan mulai tegang. Ia mencoba mengingat setelah kejadian anak buah Hasan melemparkan dirinya ke laut, akan tetapi ia tidak dapat mengingat apapun.


“Jawab saja pertanyaanku! Apa kau masih mencintai Hazal Aksal?” Mehmet melebarkan kelopak matanya, seakan manik mata hitam itu akan keluar dari sarangnya.


Kenan mengacak-acak rambutnya sendiri, ia benar-benar tidak mengerti kenapa Mehmet menuduhnya seperti itu. “Tentu saja tidak!”


“Apa kau yakin bahwa kau benar-benar telah melupakannya dan tidak mengharapkan jaksa wanita itu lagi?” Mehmet mulai menyudutkan Kenan dengan pertanyaannya.


Mendengar pertanyaan pria gundul itu, emosi Kenan mulai meningkat. Ia mendengus dan menghela napasnya. Ia melemparkan bantal yang ada di belakang punggungnya ke wajah Mehmet.


“Persetan dengan pertanyaanmu! Aku mencintai Ivy! Hanya wanita itu yang aku cintai!”


Melihat kemarahan kawan baiknya, malah membuat Mehmet tertawa terpingkal-pingkal.


“Kenapa kau tertawa? Sekarang katakan dimana Ivy?” Kali ini manik mata abu-abu gelap itu melotot ke arah Mehmet.


“Dia telah pergi sambil menangis,” jawab pria gundul itu dengan santai. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa yang panjangnya setengah tinggi badannya.


Jawaban Mehmet semakin membuat Kenan bingung. Ia berusaha mengubah posisi duduknya untuk berhadapan dengan pria berkulit gelap tersebut.

__ADS_1


"Dalam tidurmu, kau memanggil nama Hazal dan mengatakan bahawa kau mencintai jaksa wanita itu!  Perkataanmu jelas membuat dia sedih, marah dan pergi meninggalkanmu." seru Mehmet dengan sedikit emosinya. Padahal ia ingin mengompori Kenan, agar pria itu pergi mencari Ivy.


“Aku tidak akan membiarkannya pergi.” Kenan segera melepas jarum infusnya dari punggung tangannya. Beberapa tetes darahnya keluar mengenai pakaiannya. Ia bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Mehmet.


Aku akan mencarimu, Ivy. Aku akan menemukanmu. Aku akan menyelesaikan kesalahpahaman ini.


Dalam keadaan setengah pusing dan pandangannya yang sedikit buram, ia terpaksa berlari untuk mencari Ivy. Ia mengelilingi taman yang ada di tengah bangunan rumah sakit. Hanya kumpulan tanaman perdu dan cahaya kunang-kunang yang bersinar menerangi taman itu.


Ia mengucek kelopak matanya dan mengusap wajahnya saat ia melihat wajah Ivy ada di beberapa balok pilar yang berbaris di depannya.


Dia yang menjagamu dan memberikan napas buatannya untukmu… tapi kau malah mengatakan hal yang menyakiti hatinya.


Perkataan Mehmet itu bagaikan cambuk yang menyemangati Kenan untuk mencari wanita yang telah membuat hatinya keluar dari masa lalunya. Langkah kakinya membawanya menuju ke dermaga.


Hembusan angin dini hari hampir saja membuat tubuhnya limbung, baju rumah sakit yang dikenakannya tidak dapat menahan rasa dinginnya tiupan angin laut. Ia menatap cahaya lampu mercusuar yang bergerak ke kanan dan ke kiri menyinari perairan dan beberapa kapal yang tertambat di tempatnya.


Dari tempatnya berdiri, cahaya rembulan turun menyinari sebuah tubuh yang sedang duduk di ujung jembatan. Kenan memajukan langkahnya untuk memastikan apakah orang yang sedang menekuk kedua lututnya itu adalah Ivy. Semakin mendekat ia semakin melihat bahwa sosok itu adalah seorang wanita berambut panjang. Dari pakaiannya ia yakin bahwa wanita itu adalah Ivy.


Jika aku mengejutkannya, maka dia akan jatuh ke laut.


Putra Harun itu hanya membuat langkahnya sedikit bersuara kemudian dia berhenti tepat di belakang punggung Ivy. Bulu kuduk wanita itu mendadak berdiri, seakan ia merasakan ada seseorang yang sedang mengamatinya dari belakang.


Perlahan-lahan Ivy bangkit dari posisi duduknya dan menoleh ke belakang, sebuah sorot mata yang sangat ia kenal sedang menatapnya. Sebuah sosok wajah yang telah mengisi sekaligus menghancurkan hatinya.


“Ivy! Tunggu! Dengarkan penjelasanku!” seru Kenan yang mencoba menahan kepergian Ivy dengan ucapannya.


Ivy memberanikan dirinya untuk menoleh menatap wajah Kenan. “Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan. Aku sudah mengetahui semuanya.”


“Apa yang aku ucapkan tadi itu salah,” ucap Kenan yang melangkah mendekati Ivy.


“Cukup Kenan!” Ivy memberi isyarat dengan tangannya agar Kenan berhenti mendekatinya. Pria itu pun berhenti.


“Kau hanya merasa kasihan padaku dan Deniz. Kau hanya ingin menolong kami, dua orang anak yatim piatu yang terusir dari rumahnya sendiri. Betul’kan perkataanku?” Ivy berjalan mundur ke belakang perlahan-lahan.


Kenan hanya berdiri mendengar semua perkataan wanita itu. Ia tidak ingin mendebatnya karena mereka berdua kini berada di atas jembatan tanpa pagar pembatas.


“Aku tahu… aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Jika dibandingkan dengan Hazal, wanita yang kau cintai. Siapa aku…?”


“Aku bukan seorang jaksa, bukan pula wanita cerdas yang bisa kau banggakan. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa, yang merepotkanmu dan selalu membuatmu celaka!” seru Ivy dengan isak tangisnya. Sinar rembulan itu menyinari wajahnya yang memerah.

__ADS_1


Air mata itu akhirnya tumpah di pelupuk mata Kenan. Pria itu terpaku mendengar perkataan Ivy.


“Aku hanyalah wanita bodoh, karena yang aku punya hanyalah cinta. Aku hanya bisa mencintaimu, Kenan! Aku tak punya apapun untuk membalas pertolonganmu!” teriak Ivy di atas jembatan kayu tersebut.


Ia ingin segera lari, pergi meninggalkan tempat itu. Ia sangat malu mengatakan seluruh isi hatinya di depan Kenan. Namun tangan kekar itu menghentikan langkahnya, menarik tubuhnya hingga membuatnya menoleh ke belakang.


Kenan langsung menutup bibir Ivy dengan bibirnya. Sebuah ciuman itu menutup bibir tipis yang telah basah karena air mata.


Bibir coklat itu telah menciumnya sekarang, tanpa perkataan dan tanpa persiapan. Ia merasakan sentuhan kumis tipis itu menggelitik di atas bibirnya.


Ciuman pertama mereka itu terasa sangat lembut, ia merasakan adanya suatu perasaan di dalam diri pria itu. Namun Ivy sedikit ragu untuk mengalungkan tangannya ke leher Kenan. Satu detik kemudian, Kenan menyudahi ciumannya.


Kedua tangan pria itu masuk di belakang lehernya. Kini kedua kening itu saling bersentuhan. Sepasang manik mata abu-abu gelap itu tengah menatapnya.


“Kenapa kau tak memberikan kesempatan pada pria bodoh ini untuk mengatakan isi hatinya?” Manik mata hijau itu bergerak-gerak. Ia tidak mengerti dengan perkataan Kenan.


Melihat reaksi Ivy yang tampak kebingungan itu membuat Kenan semakin gemas. Ia menempelkan batang hidungnya di hidung Ivy. Ia mulai menatap manik mata hijau itu dengan lembut. “Aku mencintaimu, Ivy.”


“Apa?” Bibir tipis itu hanya terbuka tanpa mengeluarkan suara.


“Aku sangat mencintaimu, Ivy Eleanor.”


Ivy tertegun mendengar perkataan Kenan. Beberapa waktu yang lalu, ia baru saja mendengar bahwa pria itu mengatakan mencintai Hazal.


“Kau tak percaya dengan perkataanku? Baiklah aku akan berteriak.” Kenan melepaskan tangannya yang sejak tadi ia kalungkan ke leher Ivy. Ia serius dengan perkataannya.


“Ivy Eleanor…! Aku mencintaimu!” teriak Kenan dengan keras. Membuat Ivy menutup kedua telinganya.


Perlahan-lahan senyuman manis itu terukir dari sudut bibir Ivy. Kini telinganya telah mendengar isi hati pria itu.


“Kenan Fallay…! Aku juga mencintaimu!” balas Ivy yang berteriak dengan lantang.


Dengan tertawa kecil, putri Victor itu segera masuk ke dalam rengkuhan Kenan. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu. Kenan memasukkan kedua tangannya di belakang lehernya, mendaratkan ciumannya kembali.


Kedua bibir itu saling bersentuhan saling berbagi udara di bawah sinar sang rembulan. Seluruh penghuni langit malam dan jembatan sederhana yang mereka pijak itu menjadi saksi cinta mereka.


Kedua kelopak mata itu saling tertutup merasakan setiap sentuhan demi sentuhan yang mereka berikan. Hati mereka terasa lega setelah mereka saling mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Mereka saling berpelukan dengan erat, bahkan lebih erat dari sewaktu mereka hanya sebagai teman.


Sebelumnya kami berdua hanyalah seorang anak yatim piatu yang tidak saling kenal. Dua orang asing yang dipertemukan dalam suatu insiden kecil, akan tetapi melalui kejadian itu membuat kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan dan saling mengisi satu sama lain. Membuat kami menjadi pribadi yang saling melengkapi dan mengubah cara pandang kami, bahwa kami tidak sendirian di dunia ini. Meskipun kami ditinggalkan…..

__ADS_1


* Bersambung *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2