Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Final Battle Part 2


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Mehmet dan Kenan tiba di tempat persembunyian Ferit.


Ferit yang telah mengetahui keberadaan mobil Jeep yang berhenti di dekat rumahnya, mulai menatap awas kendaraan besi itu dari balik jendela. Ia sudah mempunyai rencana sebelumnya kenapa dirinya memilih untuk tinggal di kota kecil yang letaknya jauh dari Istanbul.


Begitu sang penjaga pergi, maka aku akan mengambil tuan putri mereka!


Malam semakin larut, Ferit juga tak pernah keluar dari rumah itu. Matanya hanya mengawasi mobil Jeep itu dari balik jendela. Ketika dilihatnya tidak ada pergerakan dari dalam mobil itu, ia pun memutuskan untuk keluar rumah. Perlahan-lahan ia membuka pintu kemudian menuruni tangga kayu yang sudah lapuk dan melengkung di bagian tengahnya. Suara langkahnya hampir tidak terdengar.


Pria berambut coklat itu tersenyum menyeringai ketika dilihatnya penghuni mobil Jeep itu tertidur lelap. Dengan kedua langkahnya ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Kumpulan bintang dan cahaya rembulan mengiringi perjalanannya kembali ke Kota Istanbul.


Di dalam gudang tua milik Ferit, sekitar sepuluh orang telah menunggu kedatangan tuan besar mereka. Pria itu telah berhasil mengumpulkan anak buahnya kembali yang tercerai berai. Menjelang subuh, mobil mewah berwarna hitam itu menggelindingkan rodanya memasuki bangunan tersebut.  Ia hanya perlu menunggu waktu untuk menyambut Kenan di sarangnya.


Di Apartemen Falea


Waktu pun berjalan dengan cepat. Semua orang bangun dari tidur mereka seperti hari-hari sebelumnya. Begitu juga dengan penghuni Apartemen Falea. Nur masih disibukkan dengan kegiatan memasaknya sedangkan Deniz baru saja membuka kelopak matanya.


Di dalam kamar, Kenan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengambil setelan pakaian kasualnya yang telah disediakan Ivy di atas tempat tidur mereka. Semalam mereka telah membahas rencana Mehmet untuk mendatangi tempat persembunyian Ferit yang ada di luar kota.


“Sayang, apa sebaiknya kita serahkan semuanya kepada polisi. Biar mereka yang menangkap Ferit dan memenjarakannya,” ucap Ivy setelah selesai menyisir rambutnya. Dari pantulan cermin, ia melihat Kenan datang menghampirinya.


Suaminya itu hanya menggelengkan kepalanya kemudian memeluk dirinya dari belakang. Pria berhidung mancung itu membenamkan wajahnya di belakang leher Ivy, menghirup aroma tubuh istrinya, yang entah kapan ia bisa merasakan keharuman ini kembali.


Putri Victor itu hanya menghembuskan napasnya di dalam dekapan Kenan, kemudian ia melepaskan pelukan tangan suaminya dan membalikkan badannya. “Aku hanya mengkhawatirkan mu. Bagaimana jika Ferit melukaimu atau dia membunuhmu? Kau tahu seperti apa pria itu. Pria itu sedikit gila."


Kenan menarik tubuh istrinya agar semakin menempel di tubuhnya, membuat dua pasang manik mata berbeda warna itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.  “Percayalah padaku, aku akan pulang dengan selamat.”


Manik mata hijau itu hampir meleleh ketika Kenan berjongkok di depannya kemudian pria itu mengusap dan mencium perutnya yang masih terlihat rata.


“Selama Ayah pergi, jaga Ibumu dengan baik. Ayah janji padamu, Malaikat kecil. Ayah akan pulang dengan selamat.”


Setelah selesai menyelesaikan sarapan paginya, Kenan memeluk Ivy di ruang tamu. Pelukan itu terasa lebih erat dari biasanya. Sentuhan kedua bibir membuat kepergian itu terasa berat bagi mereka. Namun, Kenan juga tidak bisa berpangku tangan melihat sahabatnya berjuang sendirian.


“Aku pergi dulu, Sayang.”


Ivy menyunggingkan senyum manisnya kemudian berkata, “Hati-hati. Aku akan menunggumu pulang.”


Selepas kepergian Kenan, Nur dan Deniz juga pergi meninggalkan rumah. Kedua orang itu mengatakan kepada Ivy bahwa mereka akan pergi ke toko buku kemudian pergi ke Apartemen Mehmet hingga sore.

__ADS_1


Seraya mengalihkan pikirannya dari rasa khawatir atas kepergian Kenan, Ivy memilih untuk menyibukkan dirinya dengan mengurus pekerjaannya. Wanita itu memberikan beberapa lembar kain kepada karyawannya untuk dijahit menjadi beberapa potong pakaian pesanan Mandellion.


Sementara dirinya tengah membuat desain terbaru untuk Perusahaan Puzulla. Pesanan Puzulla semakin bertambah setiap bulan begitu juga pesanan Mandellion, kedua perusahaan itu telah menyita waktunya mulai pagi hingga sore hari.


Hampir dua jam, Ivy menorehkan ujung pensilnya ke atas kertas gambarnya. Kepalanya mendadak sedikit berputar melihat hasil rancangannya. Ia memejamkan kedua kelopak matanya untuk beberapa detik dan mengurut keningnya. Ia langsung berlari menuju kamar mandi, begitu rasa mual mulai menyeruak dari dalam perutnya.


“Oh… seperti inikah rasanya hamil?”’ gumam Ivy. Tubuhnya kini hanya bisa bersandar pada dinding keramik kamar mandi.


Namun, suara dering ponselnya membuat Ivy tidak bisa berlama-lama mengistirahatkan dirinya hanya untuk sesaat. Wanita hamil itu memaksakan kedua kakinya untuk melangkah menuju ruang kerjanya. Ia melihat nama Nur tertera pada layar ponselnya yang berkedip-kedip.


“Halo, Nur,” sapa Ivy yang memilih untuk mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.


“Deniz… Deniz….”


Putri Victor itu langsung bangkit berdiri begitu mendengar nama adiknya disebut. “Ada apa dengan Deniz? Katakan padaku dengan jelas!”


“Dia… dia tertabrak. Sekarang… sekarang kami ada di rumah sakit.”


Lampu bohlam yang tergantung di langit-langit itu seakan jatuh dan pecah mengenai kepala Ivy begitu ia mendengar berita tersebut. Dipegangnya dadanya yang terasa sesak. “De…Deniz.”


Setelah meneguk segelas air putih, istri Kenan itu langsung mengambil tasnya dan menitipkan apartemennya kepada para pekerja. Rasa paniknya mulai melanda dirinya, membayangkan bahwa ia akan kehilangan adiknya. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya.


“Lepaskan aku!” teriak Ivy yang berusaha melepaskan dirinya.


“Diam! Atau aku akan menembak kepala mereka berdua!” seru pria misterius yang tadi menarik tangan Ivy.


Manik mata hijau itu membulat begitu melihat Nur dan Deniz berada di dalam mobil. Kedua tangan mereka terikat ke belakang dan mulut mereka tertutup dengan selembar lakban. Nur dan Deniz mencoba berbicara dengan kondisi mulut mereka yang tertutup. Disamping mereka ada dua orang lain lagi yang menodongkan senjata apinya ke pelipis mereka.


“Jadi kalian….” Perkataan Ivy terhenti ketika pria misterius itu memukul tengkuk lehernya. Seketika itu juga, tubuh wanita hamil itu lemas dan berada dalam dekapan pria yang tak bernama itu.


“Turunkan mereka di sini!” seru sang pria misterius itu kepada kedua temannya. Komplotan itu meninggalkan Nur dan Deniz di halaman depan rumah sakit dan membawa Ivy pergi dari sana.


Penampilan Nur dan Deniz yang yang terikat dan mulut mereka yang tertutup lakban menarik perhatian orang-orang yang berada di area rumah sakit. Beberapa pengunjung dan petugas keamanan membantu melepaskan ikatan mereka dan membuka lembaran lakban tersebut. Semua orang bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi Nur tidak tahu harus bercerita darimana.


......................


Mobil Van itu melaju dengan kencang membawa Ivy masuk ke dalam sebuah gudang tua yang ada di pinggiran Kota Istanbul. Di dalam gudang itu sudah menunggu tuan besar mereka yang berdiri sambil menikmati minuman alkoholnya.

__ADS_1


Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di depan Ferit. Pria itu langsung mengibaskan telapak tangannya sendiri ketika salah satu anak buahnya hendak mengangkat tubuh Ivy yang belum siuman.


Dengan sekali rengkuhan Ferit mengangkat tubuh ramping itu dan mendudukkannya di sebuah kursi kayu. Ia sendiri yang mengikat kedua tangan Ivy pada pegangan kursi. Kelopak mata itu masih tertutup rapat tatkala ia membelai wajah wanita yang menjadi obsesinya selama ini. Ujung jari telunjuknya menyentuh bibir tipis yang selalu menarik perhatiannya.


“Semua kekacauan ini tidak perlu terjadi, jika waktu itu kau tidak meninggalkanku. Tapi sudahlah, kini kau ada bersamaku. Aku akan membawamu pergi jauh dari Istanbul, jauh dari semua orang yang mengenal kita.”


Kelopak mata Ivy langsung terbuka begitu Ferit mencium punggung tangannya. Rasa ngeri mendadak menjalari hatinya ketika ia melihat pria yang sedang berjongkok di depannya itu mengangkat kepalanya.


“Kau?”


“Panggil namaku! Apa kau sudah melupakanku?” Ferit mencondongkan tubuhnya, membuat Ivy dapat mencium bau alkohol yang keluar dari embusan napas pria itu.


“Mau apa kau? Lepaskan aku!” teriak Ivy yang berusaha melepas ikatan tangannya.


“Melepaskanmu? Susah payah aku mencarimu dan kini kau ingin aku melepaskanmu?” Ferit menegakkan tubuhnya dan sedikit memundurkan langkahnya menjauhi Ivy.


“Ferit, sekarang aku sudah menikah! Apa lagi yang kau mau? Kau bisa mencari wanita lain yang bisa mencintaimu. Kalian bisa menikah dan membangun keluargamu sendiri.


Pria berambut coklat itu tertawa terbahak-bahak mendengar nasihat Ivy. “Wanita yang aku mau itu adalah kau! Bukan wanita lain di luar sana!”


“Tapi aku tidak pernah mencintaimu baik dulu maupun sekarang. Cinta tidak bisa dipaksakan! Aku mencintai Kenan.”


“Cukup!” teriak Ferit yang langsung menjepit kedua pipi Ivy dengan tangannya. Manik mata coklat itu langsung melotot menatap Ivy. “Jangan pernah menyebut nama montir sialan itu di depanku!”


Wajah Ivy langsung terlempar setelah Ferit melepas jepitan tangannya. Sambil berkacak pinggang pria itu berjalan mondar-mandir di depannya dan sesekali ia menatap Ivy, wanita itu juga memperhatikan gerak-geriknya di tempat duduknya.


“Aku akan membunuh montir sialan itu di hadapanmu, setelah itu aku akan membawamu pergi jauh dari Istanbul dan kita akan menikah,” ujar Ferit yang membeberkan rencananya kepada Ivy.


“Kumohon, Ferit… jangan lakukan itu. Jangan bunuh Kenan. Aku sedang mengandung anaknya!” Ivy menjerit dengan keras disertai dengan isak tangisnya.


Pria itu langsung menjambak rambut panjang Ivy kemudian berkata, “Apa yang kau katakan barusan? Kau mengandung anak montir sialan itu?”


Tubuh dan bibir Ivy tampak bergetar ketika kepalanya terangkat ke atas akibat jambakan tangan Ferit. Cairan bening itu langsung mengalir dari sudut matanya. “Kumohon, Ferit.... Aku sedang hamil.”


Tarikan tangan Ferit semakin kuat menjambak rambut Ivy, membuat kepalanya semakin mendongak ke atas.


“Sekalian saja aku membunuh ayah dan anaknya di tempat ini…. Bagaimana?” Ferit tertawa terbahak-bahak menertawai perkataannya sendiri.

__ADS_1


Melalui ekor matanya, Ivy menatap nanar wajah monster yang masih menarik rambutnya. Ia berusaha mengatur napasnya dan membalas perkataan Ferit, “Aku… akan memilih mati... menyusul… mereka.”


...****************...


__ADS_2