
Sepuluh tahun kemudian….
“Paman, tendang bolanya!” teriak Filan yang sedang berdiri di tengah halaman belakang rumahnya. Pandangannya mengikuti kemana bola berwarna putih itu menggelinding dan berhenti di depan kaki Deniz.
“Aye... aye…, Paman Deniz datang!” teriak bocah perempuan yang memainkan ujung roknya di depan Filan sedang di tangannya, ada sebuah boneka beruang berwarna coklat.
Gadis kecil bermata biru sapphire itu melompat kegirangan begitu melihat paman kesayangannya datang ke rumah Filan. Baju kecilnya melambai terkena tiupan angin seiring dengan langkah kaki kecilnya yang berlari menghampiri Deniz. Tak lupa boneka beruangnya yang selalu berada dalam genggaman tangannya yang mungil.
“Hap!”
Pemuda berusia dua puluh tahun itu langsung menangkap keponakan tirinya dan menerbangkan tubuh kecil itu ke udara. Membuat rambut ikal Meliz membumbung tinggi di angkasa. Seakan anak perempuan itu adalah permen kapas yang akan terbang dengan sekali tiupan.
“Yeay… Tuan Putri Dundar terbang!” seru Deniz dengan tawanya.
“Aku mau lagi, Paman,” rengek Meliz dengan kerlingan di matanya. Dua pasang bola mata yang bening dan sejernih air di lautan.
Deniz mengulangi gerakannya sekali lagi. Ia mengangkat tubuh gadis kecil itu ke atas dan membuatnya berputar tiga ratus enam puluh derajat. Meliz merentangkan kedua tangannya saat pamannya kembali menerbangkan dirinya.
“Lihat Filan, aku terbang!”
Putra Kenan itu hanya menggelengkan kepalanya dihadapan sepupu tirinya dan pamannya. Kedua kakinya yang terbungkus dengan sepasang sepatu bola itu berjalan melewati mereka. Diambilnya bola putih yang berada tidak jauh dari kaki Deniz. Dengan sekali tendangan bocah kecil itu berhasil memasukkan bolanya ke dalam gawang buatan ayahnya.
“Wow… lihat itu, Paman. Filan hebat! Filan hebat!” seru Meliz setelah ia turun dari gendongan Deniz.
Gadis kecil itu bertepuk tangan sambil melompat ala pemandu sorak saat ia melihat Filan berlari mengitari halaman rumah dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Mungkin dia akan jadi pemain bola jika sudah besar nanti,” sahut Deniz sambil mengacak-ngacak rambut Meliz yang berwarna hitam legam.
Namun, matanya masih memandang ke arah Filan yang mencoba peruntungannya sekali lagi. Bocah laki-laki berambut coklat itu sedang bersiap untuk menendang bolanya kembali.
“Tidak-tidak! Itu tidak boleh, Paman! Aku tidak mau Filan jadi pemain bola!”
Seruan Meliz dan hentakan kaki kecil itu langsung membuat Deniz mengernyitkan dahinya. Ia membungkukkan tubuhnya yang jangkung untuk membuatnya setara dengan tinggi badan Meliz yang hanya mempunyai tinggi seratus sepuluh sentimeter. “Memangnya kau ingin Filan menjadi apa?”
Meliz membisikkan sesuatu di telinga Deniz yang langsung membuat pemuda itu tertawa terpingkal-pingkal. Dirinya saja tidak punya pemikiran seperti itu, tetapi bocah berusia lima tahu itu malah memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang dewasa.
“Kenapa Paman tertawa? Aku’kan hanya ingin Filan menemaniku sampai aku besar, sama seperti ayah dan ibuku yang selalu bersama.” Meliz menempelkan kedua ujung jari telunjuknya yang imut di depan Deniz dan bibir mungilnya yang mengerucut.
“Kau dan Filan itu masih kecil. Sudah jangan pikirkan yang aneh-aneh. Paman punya hadiah untukmu.”
“Eh… dengarkan aku dulu, Paman!” Meliz menarik tangan Deniz ketika pemuda itu akan bangkit berdiri, “kata ibuku, aku dan Filan itu bukan saudara kandung. Jadi kami bisa bersama sampai tua. Kalau Filan dan Paman itu baru namanya saudara kandung, jadi kalian tidak bisa bersama.”
“Meliz… Meliz….” Deniz tergelak mendengar penjelasan gadis kecil itu.
__ADS_1
Tanpa mereka duga, sebuah tangan menjitak kepala Meliz dengan sedikit keras, membuat gadis kecil itu meringis kesakitan dan mengusap kepalanya. “Auww, sakit tahu!"
“Hei, siapa yang ingin bersama anak manja seperti mu?” tanya Filan. Bocah berusia sepuluh tahun itu langsung pergi meninggalkan Meliz setelah membuat sepupu tirinya itu hampir menangis.
“Filan!” teriak Meliz dengan keras.
“Wek!” Filan menjulurkan lidahnya di hadapan Meliz setelah jarak diantara mereka hanya berkisar dua meter.
“Dasar Filan jelek!”
Namun, putra Kenan itu tak menghiraukan teriakan Meliz. Bocah laki-laki itu terus berjalan sambil memasukkan kedua tanganya di dalam saku celananya. Gaya berjalannya mirip seperti langkah kakeknya daripada ayahnya.
......................
Kenan membawa beberapa pucuk surat yang baru saja diambilnya dari dalam kotak surat yang ada di depan rumahnya.Dilihatnya sekilas pengirim surat itu yang berasal dari berbagai tempat. Namun, ada satu surat yang menarik perhatiannya. Sebuah surat yang pengirimnya berada di New York.
“Sayang, apa kau sudah mengirim kartu pos untuk Hazal?” tanya Kenan kepada Ivy, ketika dilihatnya istrinya itu sedang memasukkan sebuah adonan ke dalam mesin pemanggang.
“Ya, sekitar dua atau tiga minggu yang lalu. Aku khusus mendesain kartu pos itu seperti foto keluarga kita. Ada apa?” Ivy memutar salah satu tombol mesin pemanggangnya.
“Sepertinya ini ada surat balasan dari Hazal,” sahut Kenan yang melambaikan sepucuk amplop surat yang berwarna biru muda ketika istrinya itu membalikkan badannya.
Ivy langsung mengambil amplop yang ada di tangan Kenan. Dilihatnya nama pengirim surat itu—Hazal Aksal dengan sebuah alamat yang ada di kota New York, Amerika Serikat. Jari tangan itu merobek bagian tepi amplop tersebut. Dikeluarkannya seluruh isinya.
Halo, Ivy….
Selamat tahun baru juga untukmu dan Kenan. Maaf, aku baru bisa membalas kartu pos yang kau kirim beberapa waktu yang lalu, karena saat ini kesehatan ayah Emir sedang memburuk. Oh iya, sesuai janjiku padamu… aku juga mengirimkan foto anak-anakku. Aku tidak tahu, kapan aku akan pulang ke Turki karena Yafet masih sibuk mengurus bisnisnya di sini. Jika aku pulang, aku akan menghubungimu lewat ponsel. Sampaikan salam ku dan Yafet untukmu, Kenan dan Filan. Bye-bye….
Ivy mengambil satu lembar foto yang menghadap dirinya. Foto seorang bocah laki-laki dengan rambutnya yang berwarna gelap dan manik matanya yang berwarna coklat. Bocah laki-laki yang menurut Kenan adalah duplikat Yafet, tetapi menurut Ivy anak itu berbeda. Aslan hanya mewarisi wajah Yafet tetapi warna matanya mirip seperti milik Hazal. Dibalik foto itu tertulis ASLAN AKSAL—11 tahun.
Kemudian Kenan mengambil satu lembar foto lain yang tertutup. Suami Ivy itu membalik foto tersebut dan tampaklah seorang gadis kecil dengan rambut dan manik matanya yang berwarna coklat. Wajah gadis mungil itu bagaikan pinang dibelah dua dengan Hazal. Keduanya sangat mirip dan mempunyai belahan dagu yang sama.
“Dia sangat cantik seperti ibunya,” sahut Ivy yang membuat Kenan membalikkan foto gadis cilik itu. Pria itu ingin mengetahui nama putri Hazal. Dibalik foto itu tertulis sebuah nama yaitu, AZRA AKSAL—5 tahun.
“Azra Aksal,” gumam Kenan yang memandangi kembali foto putri Hazal dan Yafet, “gadis yang cantik seperti namanya, bagaimana kalau kita jodohkan saja anak ini dengan Filan.”
Tawa Ivy langsung meledak begitu mendengar perkataan suaminya.
“Kenapa kau tertawa? Apa kau tak setuju?” Kenan memalingkan wajahnya yang semula menatap foto Azra kini tatapannya ia arahkan kepada Ivy.
“Ini zaman apa, Sayang. Lagipula mereka masih anak-anak.”
“Ini juga zaman apa? Ada begitu banyak ponsel, email dan panggilan video, tapi kau dan Hazal malah saling berikirim surat seperti zaman perang dulu,” celoteh Kenan yang memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplopnya.
__ADS_1
Pria itu tak pernah mengerti jalan pikiran wanita yang rumit. Jelas-jelas menulis surat hanya membuang waktu. Waktu untuk mengirim dan menunggu balasannya.
"Lebih menyenangkan menulis surat. Kami seperti sahabat pena," balas Ivy.
“Jika kau tak setuju dengan anak Hazal, bagaimana dengan Meliz?"
Sekali lagi Ivy kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Kenan. “Tidak-tidak…. Aku tidak akan menjodohkan Filan dengan gadis manapun. Biarkan Filan mencari cintanya sejatinya sendiri. Berjuang seperti ayahnya.”
“Bisa saja kau,” sahut Kenan yang langsung menarik tubuh Ivy ke dalam dekapannya.
“Benar’kan perkataanku? Wanita mana yang tidak terharu melihat perjuanganmu,” balas Ivy sambil mengedipkan salah satu matanya dihadapan Kenan.
“Kau memang selalu benar, Nyonya,” kekeh Kenan, “itu sebabnya kau kabur dari perjodohanmu dan memilihku.”
Keduanya pun tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalu mereka yang telah belasan tahun berlalu.
...****************...
(TAMAT)
Author :
Kali ini beneran tamat. Hehehehe.....
Aku mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah membaca cerita ini sampai tamat. Btw..., rencananya aku mau buat buku ketiganya. Aku belum buat judulnya (mungkin judulnya Dangerous Love - Next Generation) hahahha....
Kayak gak ada judul lain lagi aja, Thor? wkkwkw...
Belum ada judul yang pas, karena aku juga belum mulai ngetik. Ceritanya masih menggantung di awan-awan.
Boleh minta kritik dan sarannya dong teman-teman semua.... Mungkin ada yang belum puas dengan cerita nya, boleh banget kasih masukan buat aku.
Readers : Thor, harusnya Kenan itu begini... begini....
Thor : Yuhuu.... ketik aja di kolom komentar.
Atau kalau ada ide cerita untuk buku ketiga ku. Boleh banget, ketik di kolom komentar ya.
Semoga cerita ini bermanfaat dan menghibur kalian semua.
See you next time... Sampai jumpa di tahun 2021
Bye2 semuanya. Sehat selalu dimana pun kalian berada.
__ADS_1