Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Aku, Kau dan Deniz. Kita Bertiga Akan Saling Memiliki


__ADS_3

Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran Hasan, mobil SUV itu melaju dengan kencang membelah lalu lintas


kota Istanbul yang masih bernyawa di tengah malam. Bar dan beberapa kafe mulai menyatukan napas mereka dengan sang rembulan yang tampak bersinar mengulum senyuamannya.


"Kita akan kemana sekarang?" tanya Ivy yang duduk di setir kemudi. Sekilas ia melihat Kenan yang terpaku menatap jalan raya.


"Ke tempat tinggalku. Aku butuh pakaianku saat ini," jawab Kenan yang disambut dengan anggukan kepala


Ivy.


Kendaraan roda empat itu bergerak menuju daerah Balat. Tempat tinggal Kenan. Tepat saat akan memasuki daerah Istanbul yang kaya akan warna itu, beberapa mobil polisi tampak berpatroli dan menutup akses jalan menuju daerah tersebut.


"Oh, tidak! Kita tidak bisa pulang, Kenan!" seru Ivy yang menghentikan mobilnya secara mendadak kemudian


memutar balik kendaraan tersebut.


"Oh shit! Ini sudah lewat jam tidur, kenapa polisi-polisi itu masih juga sibuk bekerja? Apa mereka tahu tempat tinggalku?" Kenan memukul bagian atap mobilnya. "Kita juga tidak mungkin ke rumah sakit, dalam keadaan


diriku seperti ini!"


Manik mata hijau itu melihat Kenan dalam keadaan bertelanjang dada hingga pingggangnya. Ivy tidak tahu harus mengatakan apa kepada pira itu.  Apa dia harus diam atau mengatakan kepada Kenan, betapa seksinya dirimu malam ini.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Kenan yang memperrpadahatikan sudut bibir Ivy yang terangkat ke atas tetapi tatapan matanya mengarah ke jalan raya.


Ivy hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tersenyum. Mungkin... kau salah lihat," ucap Ivy dengan gugup. Ia menatap sekilas manik mata abu-abu gelap itu kemudian pandangannya beralih kembali ke jalan raya.


Cahaya gelap di dalam mobil tersebut mampu menyelamatkan rasa malu Ivy saat ini. Kenan tidak melihat bagaimana kedua pipinya terasa panas dan bersemu merah.


Ivy membelokkan mobilnya ke arah Fener, tempat tinggal Nur. Petugas polisi mungkin memperkirakan akan mendapatkan tangkapan yang besar, mereka berpatroli dan menutup seluruh pintu masuk menuju distrik-distrik di daerah Istanbul. Petugas polisi itu juga menutup akses menuju ke distrik Fener.


Kini Ivy hanya bisa memutar-mutar mobilnya tanpa arah. Hari sudah semakin larut, tengah malam pun sudah terlewat. Bagaikan sebuah kapal yang berlayar hanya mengikuti arah mata angin, Ivy mengemudikan mobilnya menyusuri jalan raya yang ia lewati. Jalanan itu menuju ke Jembatan Martir.


Dari kejauhan Ivy dan Kenan melihat cahaya lampu kecil-kecil berwarna ungu yang berbaris cantik membentuk pola


garis ke atas dan ke bawah. Ia memandang jembatan panjang itu dengan perasaan tertegun, membuat Ivy menurunkan kecepatan mobilnya.


"Sangat indah." Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir tipisnya.


"Hentikan mobilnya!" seru Kenan yang membuat Ivy tersadar kembali tetapi wanita itu malah menancapkan gasnya membuat mobil itu memasuki jembatan yang menghubungkan Turki bagian Eropa dengan Turki bagian Asia.


"Jika kau ingin melihat jembatan itu, turunlah." Kali ini suara Kenan terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Membuat Ivy menghentikan mobilnya di tepi jalan. Sementara kendaraan-kendaraan lain sedang berlalu lalang di sana.


Wanita berambut coklat gelap itu membuka pintu mobil. Ia melihat dirinya berada di atas jembatan dengan pancaran cahaya ungunya yang menerpa wajah ovalnya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat cahaya lampu yang ada di menara mercusuar. Cahaya suar itu tampak berputar mengelilingi perariran tersebut.


"Ayah!


"Ibu!


"Deniz!"


Ivy berteriak di atas perairan tersebut. Dari dalam mobil, Kenan bisa melihat jelas senyum kerinduan itu terlukis dari wajah wanita itu.

__ADS_1


"Setidaknya kau lebih beruntung dariku, Ivy. Kau masih memiliki Deniz," gumam Kenan yang memindahkan posisi duduknya di kursi kemudi. "Tapi aku berharap, kita bertiga bisa saling memiliki."


Sebuah cahaya dari belakang tampak menyorot ke arahnya. Kenan melihat dari kaca spionnya, sebuah mobil berwarna gelap sedang menuju ke arahnya. "Oh shit! Itu mobil yang tadi!"


"Ivy, naik ke mobil!" teriak Kenan yang langsung menyalakan mesin mobilnya.


Putri Victor itu segera berlari masuk melalui pintu belakang. Belum sempat Ivy mendudukkan dirinya. Mobil hitam yang ada di belakangnya itu membentur mobil Kenan dengan keras. Membuat Ivy terjungkal ke depan, keningnya mengenai pendingin udara yang ada di depannya. Rasa pusing menjalar hingga ke puncak kepalanya. Akibat benturan keras tersebut, membuat mobil SUV itu melaju dengan sendirinya, menuruni jalan raya yang landai.


"Kenan!" teriak Ivy yang melihat mobil yang oia tumpangi itu meluncur ke jalur tengah. Ada sebuah mobil yang melaju dari arah yang berlawanan.


Pria berambut hitam itu segera membanting setir kemudinya ke kanan untuk menghindari tabrakan yang akan terjadi. Mobil SUV itu kembali berjalan dengan normal, tetapi mobil hitam itu masih terus mengikuti mereka bagaikan sebuah teror yang mengancam di malam hari.


"Itu mobil Ferit! Dia menemukan kita!" pekik Ivy setelah ia kembali ke tempat duduknya di samping Kenan. Pria itu memberikan selembar tisu kepada Ivy setelah ia melihat goresan luka pada kening wanita itu.


Putra Harun itu segera menaikkan kecepatan mobilnya untuk pergi meninggalkan mobil hitam tersebut. Kali ini mereka telah sampai di ujung jembatan yang ada di daerah Asia, sedikit lagi mereka akan meninggalkan kota Istanbul dan memasuki kota lain.


"Kurasa Hasan sudah jauh tertinggal, sebaiknya kita bersembunyi di suatu tempat," ujar Kenan yang memasukkan mobilnya di sebuah gudang di daerah pinggiran kota Uskudar. Kota ini letaknya paling dekat dengan Kota Istanbul.


Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menyusuri gudang yang terlihat luas. Ruangan tersebut sangat gelap. Ivy mengapit lengan Kenan, seakan ia tidak ingin tertinggal sendirian di belakang. Kenan menyalakan lampu senter yang ada di ponselnya. Cahaya berwarna kuning itu menyapu ruangan besar tersebut.


"Kenan, sepertinya di sana ada kardus bekas." Ivy mengarahkan cahaya senter itu ke salah satu sudut ruangan yang berisi tumpukan-tumpukan kardus dan kotak bekas. Mereka mengambil beberapa lembar kardus dan mencari lantai yang kosong untuk meletakkan kardus tersebut.


"Apa kau tak keberatan jika malam ini kita tidur di sini?" tanya Kenan kepada Ivy setelah mereka selesai meletakkan lembaran kardus itu di atas lantai.


"Tak apa. Asal kita bisa selamat dan keluar dari sini," jawab Ivy yang memberikan selembar kardus lagi kepada Kenan. Untuk membungkus tubuh pria itu agar tidak kedinginan.


"Tidurlah," ucap Kenan sambil tersenyum kepada Ivy. Meskipun wanita itu tidak bisa melihat senyumannya karena ia telah mematikan senter ponselnya.


Mereka hanya memejamkan kelopak matanyaselama beberapa jam saja. Dengan cepat waktu telah berlalu. Suara aktivitas di luar gudang mulai terdengar menyentuh telinga mereka. Sinar mentari sudah mulai menerobos masuk mencari celah yang bisa di lalui. Dua pasang manik mata itu mulai terbuka perlahan-lahan. Entah apa yang terjadi semalam, sewaktu mereka terbangun kelima jari tangan mereka saling bertautan.


Perlahan-lahan Ivy dan Kenan melepas genggaman tangan mereka. Kedua insan berbeda jenis ini mulai menebarkan senyum pertama mereka di pagi ini. Manik mata mereka saling beradu di sudut kemiringan yang sama.


"Bagaimana tidurmu?" tanya Kenan yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Ivy. Manik mata hijau itu mulai berkedip membalas tatapan matanya.


"Cukup nyenyak, hanya saja aku masih mengantuk," jawab Ivy yang membalas tatapan Kenan dengan sorot matanya yang lembut.


"Tidurlah kembali," ucap Kenan yang melihat Ivy bangun dan mendudukkan dirinya.


"Ini sudah pagi. Bisakah kau menghubungi Nur? Aku ingin tahu keadaan Deniz." Kenan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas kepalanya.


Sebelum mereka menghubungi Nur, sebuah nada dering berbunyi. Kenan melihat nama Mehmet tertulis di layar ponselnya.


"Halo," jawab Kenan setelah ia menggeser tombol warna hijau pada layarnya.


"Dimana kau?" Suara Mehmet terdengar menggema di ponsel Kenan.


"Aku dan Ivy ada di sebuah gudang di daerah Uskudar. Gudang ketiga setelah kau turun dari jembatan Martir," jelas Kenan yang mendudukkan dirinya di samping Ivy.


"Aku akan kesana sekarang," balas Mehmet yang langsung mematikan panggilan ponselnya.


Setelah memutuskan panggilannya dengan Mehmet, putra Harun itu mencari nama Nur pada layar ponselnya. Ia mendudukkan dirinya di samping Ivy. Panggilan video itu segera tersambung.

__ADS_1


"Kenan...! Ivy...!" seru Nur yang terkejut melihat kedua orang muda itu ada di depan layar ponselnya. "Oh, syukurlah, kau  telah bebas."


"Nur, bagaimana Deniz hari ini?" tanya Ivy. Ia merapatkan dirinya di samping Kenan, membuat wajah mereka berdua masuk ke dalam satu layar.


"Hari ini Deniz akan di operasi, tapi bocah itu masih memejamkan matanya," jawab Nur. Sepertinya wanita itu masih berada di dalam kamar inap Deniz.


"Bisa aku bicara dengan Deniz?"


Nur memberikan ponselnya kepada bocah laki-laki yang masih terbaring di atas ranjang. "Deniz. kakakmu ingin bicara denganmu."


"Ivy!" serunya yang langsung membuka kelopak matanya dan mengambil ponsel tersebut. Ia bisa melihat Ivy dan Kenan ada di layar ponselnya.


"Kakak tua itu sudah menemukanmu," ucap Deniz dengan perkataannya yang polos. Membuat Ivy tertawa dan melirik ke arah Kenan.


"Aku sudah berhasil menemukan kakakmu. Tepati janjimu, jagoan." Kenan berkata dengan tawanya, karena Deniz telah mengatainya dengan sebutan kakak tua. Ia merasa dirinya tidak setua itu.


"Aku seorang laki-laki. Aku akan menepati janjiku. Nur, ayo kita ke ruangan dokter! Kakak tua, kau harus membawa kakakku ke rumah sakit. Jika setelah operasi aku tidak melihat Ivy, aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Deniz dengan suara anak-anak berumur sepuluh tahun.


"Semoga operasimu berjalan lancar. Sampai jumpa, jagoan kecil." Kenan dan Ivy memberikan senyumannya kepada bocah itu.


Panggilan video itu pun terputus. Layar ponsel kembali menghitam. Tepat saat Ivy akan mengembalikkan ponsel tersebut, ia memalingkan wajahnya ke samping. Disaat itulah pandangan mereka saling bertemu di garis lurus yang sama. Hidung mancung mereka kembali bersentuhan. Manik mata hijau itu menjatuhkan pandangannya ke bibir coklat dengan kumis tipisnya yang menggoda, sedangkan manilk mata abu-abu gelap itu menjatihkan pandangannya ke bibir tipis milik Ivy.


Jantung mereka saling berdegup dengan kencang. Tangan Kenan bergerak mengikuti naluri kelakiannya, ia memasukkan beberapa helai rambut Ivy ke belakang telinga wanita itu. Membuatnya bisa melihat jelas wajah cantik yang ada di depannya. Kenan mulai memiringkan kepalanya saat ia melihat Ivy memejamkan matanya menikmati hembusan napas pria itu. Kedua bibir itu saling mendekat dan hampir bersentuhan.


Dari kejauhan terdengar suara mobil memasuki gudang tersebut, membuat Kenan segera memundurkan tubuhnya menjauhi Ivy. Ia mulai mengusap wajahnya dengan kesal ketika dilihatnya mobil Jeep itu sudah ada di depannya.  Putri Victor itu segera membuka kembali kelopak matanya. Ciuman itu tidak terjadi.


"Kenapa kau datang secepat ini?" tanya Kenan yang langsung bangkit berdiri. Nada suaranya masih terlihat betapa ia sangat terganggu dengan kedatangan Mehmet.


"Aku sudah ada di Jembatan Martir ketika aku menghubungimu," balas Mehmet.


Pria berkulit gelap itu mengeluarkan sebuah koper besar pemberian Ferit dan sebuah tas milik Kenan dari belakang mobilnya. "Ini milikmu! Uang taruhan dan pakaianmu!"


"Kau menyelamatkan uang taruhan ini?" Manik mata Kenan tampak bersinar ketika ia membuka koper besar itu dan melihat 500.000 USD ada di sana.


"Tugasku sudah selesai. Sekarang aku akan mencari orang yang telah melaporkan pertandingan itu ke polisi. Dia telah membuatku rugi ratusan ribu Lira!" teriak Mehmet yang langsung masuk ke dalam mobil Jeepnya, meninggalkan Kenan dan Ivy.


Setelah kepergian Mehmet, Kenan seegra mengganti pakaiannya di belakang mesin besar. Sementara Ivy masih terbengong dengan uang dolar yang ada ada di dalam tas koper yang dibawa Ferit semalam.


"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Kenan yang langsung menggandeng tangan Ivy menuju mobilnya. Sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menarik koper besar itu dan tas pakaiannya.


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima, dan vote kalian. Terimakasih.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2